
"Sayang," Dimas langsung memeluk Lala dengan erat, bahkan baru beberapa jam tidak berjumpa membuat konsentrasi nya seketika hilang begitu saja.
Sepulang kuliah Lala dan Dimas memang tidak bertemu, bahkan Lala pulang bersama dengan Rika. Telinga Lala hampir bengkak karena curhatan Rika, mulut sahabatnya itu terus komat kamit menceritakan tentang seorang pria yang membuat hidupnya yang bahagia seketika berubah membosankan dan itu membuat nya sangat terganggu.
Dan kini Lala tengah mencuci tangan nya di wastafel, tapi Dimas langsung masuk ke kamar mandi dan memeluknya begitu erat. Wajah Lala merah seketika karena terkejut, menikah dengan Dimas baru tiga hari membuat Lala masih saja merasa canggung. Bahkan ia baru tahu ternyata Dimas sangat mesum, Lala yang awam dalam hal dewasa kini mulai mengerti. Namun tetap saja ia sering di buat gugup oleh Dimas.
"Sayang, Aa kangen," bisik Dimas di telinga Lala.
Glek.
Lala meneguk saliva, dan melihat Dimas dari pantulan kaca yang cukup besar terpasang di hadapannya. Perlahan ia mulai berbalik sambil melepaskan pelukan Dimas.
"Kangen?" tanya Lala dengan bingung, bahkan ia sedikit menjauh, bukan tidak ingin di peluk Dimas. Tapi ia masih merasa gugup sekali.
Dimas tidak membiarkan Lala jauh, ia kembali menari Lala mendekat padanya.
"Kamu enggak kangen?" tanya Dimas balik, bahkan ia tidak membiarkan Lala jauh sedikitpun.
"Aa mesum banget sih?" tanya Lala dengan polosnya, "UPS...." sedetik kemudian Lala tersadar, cepat-cepat ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hehehe...." Dimas tertawa kecil mendengar kata-kata Lala, "Mesum sama istri sendiri itu dapat pahala, nilai plusnya dapat surga dunia," kata Dimas sambil mengangkat Lala duduk di atas wastafel.
"Ish...." Lala kini beralih menutup mulut Dimas, "Lala masih di bawah umur," Lala terus berusaha agar Dimas tidak berbicara aneh yang akhirnya membuat Lala merasa malu.
Dimas tidak hentinya tertawa, karena tingkah Lala yang sangat menggemaskan, "Enggak nyesal jilat ludah sendiri," gumam Dimas.
"Aa ngomong?" tanya Lala yang samar-samar mendengar.
Dimas mengangguk.
"Ngomong apa?"
"I love you!!!" kata Dimas.
"Enggak dengar," Lala melihat arah lainnya, karena ia sedang berusaha untuk tetap tenang.
"Aku cinta pada mu!" kata Dimas mengulangi nya lagi.
Lala memutar leher ke arah lainnya, ia berpura-pura tidak mendengar.
"Kau dengar tidak?" tanya Dimas.
"Enggak!" jawab Lala.
"Aku cinta padamu!!"
Lala menutup telinga nya, "Enggak dengar!"
Dimas bukannya kesal pada Lala tapi malah gemas, dengan cepat Dimas menggelitik Lala. Karena tingkah istri bocahnya yang sangat menggemaskan.
"Aa geli AA!!!" seru Lala.
"Makanya jangan nakal," ujar Dimas sambil terus menggelitik Lala.
Rika ingin kembali menemui Lala, dan pintu kamar Lala setengah terbuka. Rika perlahan masuk. Tapi ia malah merasa geli karena mendengar teriakannya Lala dari dalam kamar mandi.
"Aa.....udah....geli banget!!!" teriak Lala.
Rika meneguk saliva, dan ia merasa suasana menjadi horor, "Apa nya yang geli?" gumam Rika, "Ya ampun!" Rika mengetuk kepalanya, "Dan di antara kami, hanya aku yang belum dewasa," kesal Rika, setelah itu ia cepat-cepat keluar dari kamar Lala, karena tidak ingin otaknya terus terkontaminasi.
Dreet...
Ponsel Dimas berdering, dan itu panggilan dari Arka. Karena mereka akan segera berangkat ke Bali.
Dimas kembali melihat Lala, dan menurunkan Lala dari atas wastafel, "Kita ke Bali, ayo siap-siap, atau Aa yang bantu?" tanya Dimas dengan menggoda Lala.
"Enggak!" dengan cepat Lala keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya, karena ia takut nantinya Dimas malah benar-benar membantunya mengganti pakaiannya.
"Ya ampun, dasar bocah," kata Dimas sambil terkekeh melihat kelucuan istrinya.
Liburan kali ini bukan hanya Lala dan Dimas saja yang pergi, tapi semua anggota keluarga. Termasuk Mentari, dan juga Arka. Tidak terkecuali para orang tua juga, sebab ini adalah liburan yang nantinya akan mengukir sejarah yang sangat membahagiakan.
"Tari sayang," seru Lala yang juga langsung memeluk Tari.
"Hiks....hiks....hiks....!" Rika malah menangis, hingga semua mata tertuju pada nya.
"Kamu kenapa?" tanya Oma Linda.
"Mami, Rika di cuekin!!!" adu Rika.
Kata-kata Rika mengundang gelak tawa, karena ia memang tidak dihiraukan sama sekali.
"Ahahahhaha....."
"Apes banget dah gue!" gerutunya.
Semua duduk manis di atas jet pribadi milik keluarga Anggara Wijaya, bahkan dengan pasangan masing-masing. Tapi tidak dengan Rika, ia duduk dengan memeluk sang Ayah, karena tidak memiliki pasangan. Dan bosan di ejek terus-menerus.
1 jam 50 menit sudah berlalu, kini mereka sampai di Bali wisata terindah di Indonesia. Pemandangan alam yang seakan menawarkan keindahan surga, bahkan terlihat indah hingga bisa membuat siapa saja betah berlama-lama berada di sana.
"Welcome to Bali!!!!" seru Rika dengan bahagia.
"Ahahahhaha...." tawa yang lainnya pecah, karena tingkah Rika yang lucu.
"Kamu bahagia banget nyampek di sini, padahal cuman jadi nyamuk...." goda Mami Linda.
"Ish....Mami!!" seru Rika kesal.
"Ahahahhaha......" Mama Ranti tidak bisa menahan tawa melihat wajah kesal Rika.
"Oh....Tuhan, aku lelah di ejek terus menerus!!! Turunkan satu jodoh untuk ku!!!!" teriak Rika sambil berjalan dengan mundur, sesaat kemudian ia berbalik karena akan memasuki lobby hotel.
Bruuk!!!
Rika yang berjalan tidak melihat jalanan, tiba-tiba menabrak seseorang. Dan akhirnya ia terjatuh di lantai.
"Maaf," ujar pria tersebut sambil mengulurkan tangannya, untuk menolong Rika.
Semua mata anggota keluarga langsung menatap Rika yang tiba-tiba menabrak seseorang pria.
"Doa mu cepat sekali terkubul," kata Lala yabg tiba-tiba berbicara, karena sepanjang perjalanan ia hanya diam saja.
Rika menepis tangan Sandy, kemudian ia berdiri sambil menatap Sandy kesal, "Kenapasih dimana-mana ada lu!!!" geram Rika, lalu ia pergi begitu saja. Bahkan tanpa mendengar jawaban dari Sandy sekalipun.
"Maaf Tante," kata Sandy menatap Mama Linda.
"Mama masuk duluan ya," pamit Mami Linda, yang di ikuti Mama Nina dan juga Mama Ranti.
"Kapan kembali ke Indonesia?" tanya Radit.
"Udah lumayan lama," jawab Sandy.
"Udah enggak gila kan? Kan udah jadi psikiater," seloroh Radit lagi.
"Memang nya dokter Sandy pernah gila Aa?" tanya Lala dengan polosnya.
Dimas ingin tertawa mendengar pertanyaan Lala.
"Dia ini bukan hanya gila, tapi lebih dari gila!!" timpal Arka.
"Sialan!" kesal Sandy sambil terkekeh, "Udah taubat sekarang kayaknya," tambah Sandy sambil mengingat wajah Rika.
"Yakin?" tambah Radit.
"Untuk kali ini yakin," jawab Sandy lagi.
Sedangkan Dimas langsung pergi, tanpa berpamitan pada yang lain apa lagi Sandy. Entah mengapa Dimas mulai curiga pada Sandy yang sedang berusaha mendekati adiknya.
*
Like dan Vote ya Kakak