Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Pisah


"Sayang, kamu makan dulu ya."


Lala menggeleng, mendorong tangan Dimas yang memegang sendok di tangannya.


"Lala, sedikit saja," pinta Dimas dengan nada memohon.


Lala menutup mulutnya, kepalanya kembali menggeleng.


Dengan terpaksa Dimas meletakan piring di tangannya pada meja nakas, kemudian kembali melihat wajah pucat Lala.


"Kamu mau makan apa?"


Dimas berharap Lala meminta sesuatu padanya, tetapi Lala hanya diam sambil membaringkan tubuhnya.


Dimas naik keatas ranjang, kemudian memeluk Lala dengan erat. Tetapi tiba-tiba tangis Lala pecah, sampai membuat Dimas bingung.


"Sayang ada apa?" tanya Dimas panik.


Lala terus menangis tanpa henti, tangis sedari tadi ia tahan seketika lepas begitu saja.


"Lala ada apa?" Dimas semakin panik, ia takut jika salah mengenai tubuh Lala hingga terasa sakit, "Apa perut mu terbentur kaki Aa? Atau ada yang sakit?"


"Aa, obat Lala di mana?" tanya Lala dengan suara bergetar.


"Obat?" tanya Dimas, karena dokter tidak memberikan obat apapun. Selain dari suntikan pada selang infus.


"He'um, Lala takut. Pagi tadi Dimitri ngejar Lala. Wajahnya serem banget," jelas Lala dengan berlumur peluh yang kian semakin membasahi seluruh tubuhnya.


"Dimitri?"


Dimas terperangah, ternyata Dimitri benar-benar masih mencoba mendekati Lala.


"Mana? Lala mau tidur aja," Lala berusaha bangun, untuk mencari obatnya.


"Sayang," Dimas memeluk Lala dengan erat, tidak ingin istrinya semakin ketakutan. Apa lagi terus meminum obat penenang, "Aa, di sini. Tidak perlu minum obat, Aa janji bakalan lindungi kamu," jelas Dimas.


Lala mendorong Dimas agar menjauh darinya, "Aa bohong, Lala enggak percaya lagi sama Aa. Buktinya tadi pagi aja Dimitri ngejar Lala, untung ada Sandy. Bahkan Sandy yang ngantar Lala pulang," ujar Lala sambil terus menangis.


Lagi-lagi Sandy yang ada untuk menolong istrinya, mendiamkan Lala beberapa hari ini ternyata banyak yang terjadi pada istrinya. Sesal tinggal sesak di dada, Dimas takut kehilangan istrinya.


"Maaf," Lirih Dimas.


"Turun!"


Dimas terpaksa harus mengikuti keinginan Lala, takut terlalu banyak bergerak nantinya membuat keadaan Lala malah semakin memburuk.


"Aa, jahat! Lala mau pisah aja!" seru Lala.


"Lala, kamu ngomong apa? Ada anak ku dalam rahim mu."


"Mana ada!" elak Lala.


"Sayang, maaf," lirih Dimas.


"Lala mau pisah aja, Lala mau hidup sendiri aja. Lala mau hidup tanpa ada masalah rumah tangga lagi," ujar Lala berapi-api.


Dimas menahan sesak di dada, perasaan takut kehilangan semakin terasa. Apa lagi keinginan Lala yang ingin berpisah.


"Ayo kita cerai, bukannya dari kemarin Aa maunya cerai?"


"Sayang."


"Aku sendiri setiap malam menahan sakit, mencari makanan sendiri, mual muntah ke kamar mandi berkali-kali. Sampai aku pikir kau pulang untuk menjemput ku, tapi tidak! Kau jahat, semua lelaki sama saja! Cinta mu palsu! Dan aku tidak perduli lagi!" cecar Lala berbalut amarah yang kian membuncah.


Dimas hanya diam mendengar setiap keluh Lala, membuatkan Lala mengeluarkan semua isi hatinya selama ini. Dimas memang salah, tapi sebenarnya Dimas hanya ingin Lala menghargai dirinya. Tetapi Dimas juga tidak menyangka jika Lala begitu menderita.


"Kenapa kau diam!!!" seru Lala.


"Sayang," Dimas terus berusaha untuk memeluk Lala, sekalipun Lala menolak.


Tangisan Lala terus saja terdengar, perasan Ibu hamil itu tidak menentu. Terkadang ia menangis, terkadang marah karena Dimas terlalu mengacuhkan dirinya.


Dimas masih mencoba meluk Lala, menutup telinga akan apapun yang dikatakan oleh Lala. Sadar dengan kesalahan yang di buat, sampai akhirnya Dimas berhasil memeluk Lala dengan erat. Mengecup kening Lala hingga berkali-kali.


"Maaf, aku bersalah. Aku berjanji tidak akan mengecewakan mu lagi," tutur Dimas penuh penyesalan.


Lala memeluk Dimas, terisak dalam pelukan suami yang sangat ia cintai. Sekalipun bibirnya mengatakan membenci Dimas, tapi kenyataannya cintanya pada Dimas tidak goyah sedikitpun.


Rika langsung masuk, bibir nya tersenyum saat melihat Dimas dan Lala sedang berpelukan. Rasa bersalah Rika perlahan terobati, karena Lala tidak lagi tersiksa akan rumah tangganya.


Tapi Rika kembali menutup pintu, memberikan waktu bagi Dimas dan Lala untuk bersama. Duduk di kursi tunggu, sesekali mengusap wajah mengingat Sandy seakan menganggapnya asing.


"Rika," suara Mama Yeni menyadarkan Rika dari lamunannya.


"Ma."


"Kamu kenapa Dek?"


Mama Yeni duduk di samping putrinya dengan penuh tanya.


Bersamaan dengan itu Sandy bersama dengan dua orang dokter lainnya melintas di depan Rika, tidak ada sapaan, senyuman, apa lagi perhatian. Semua seakan berubah dalam sekejap saja.


Mama Yeni juga dapat melihat Sandy yang hanya berjalan tanpa melirik mereka, apa lagi pada Rika.


"Kamu enggak papa?" tanya Mama Yeni mengusap punggung Rika.


Rika tersenyum, "Lho, memangnya Rika kenapa?" tanya Rika seakan tidak mengerti.


"Em," Mama Yeni mengangguk lemah, hatinya masih bingung melihat raut wajah Rika yang terlihat biasa saja, "Masuk yuk," Mama Yeni segera masuk.


Huuuufff


Rika menarik napas, mengusap dada lalu masuk ke ruangan Lala.


"Lala kamu kenapa menangis?"


Mata sembab Lala membuat Mama Yeni berapi-api, seketika ia berkacak pinggang menatap Dimas.


"Jangan bilang kamu memarahi Lala!!"


Api amarah benar-benar menyala, apa lagi saat melihat wajah Dimas. Ingin sekali Mama Yeni menelan putranya hidup-hidup detik itu juga.


"Ma," Dimas menatap Mama Yeni dengan wajah lesu.


"Awas kalau berani!" ancam Mama Yeni.


"Sayang, ayo tidur," Dimas tidak perduli pada Mama Yeni, yang ia takuti saat ini adalah Lala. Lebih memilih diam dan kembali naik keatas ranjang, sambil memeluk Lala agar tertidur lelap.


Lala tidur dengan lelap, setelah itu Dimas segera menuju ruangan Sandy.


Tok tok tok.


Dimas mengetuk pintu ruangan Presiden Direktur Rumah Sakit Pelita Bunda, seorang asisten Sandy membuka pintu.


"Tuan Dimas?" perawat tersebut sangat tahu siapa Dimas, karena Sandi dan Dimas sudah bersahabat cukup lama.


Dimas memasang wajah datar, ia masuk dan melihat Sandy juga tengah menatap dirinya. Keduanya terlihat asing, sangat jauh dari kata sahabat.


"Terima kasih," Dimas mengulurkan tangannya.


Sandy berdiri dengan meja yang menjadi pemisah keduanya, sejenak menimbang. Kemudian Sandy membalas uluran tangan Dimas, sambil mengangguk dengan pasti.


"Aku harap kita masih bisa berteman," tawar Dimas.


"Iya, kita memang teman," lanjut Sandy sambil tersenyum renyah, "Tapi satu hal yang aku katakan, ada seorang pria yang terus mengikuti istri mu. Aku tidak tahu siapa? Sampai pagi tadi," jelas Sandy.


Dimas mengangguk, tidak berselang lama seorang pria tiba-tiba masuk. Sandy dan Dimas langsung melihat Arka.


"Ternyata benar kalian di sini."


Arka dan Mentari langsung menuju rumah sakit, saat mendengar kabar Lala yang sempat pendarahan. Setelah mengantarkan Mentari keruang rawat Lala, Arka segera menuju ruangan Sandy.