Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Kau harus di hukum dulu


Setelah semalam beristirahat dengan cukup, pagi ini Lala, Rika dan Tari merasa lebih segar ketiga nya keluar dari kamar masing-masing. Dan berjanji akan bertemu di depan kamar, karena kamar ketiganya saling bersebelahan.


"Mana ya Rika, sama Tari?" Lala yang berdiri di depan pintu melihat pintu kamar Tari masih tertutup rapat, kemudian ia memutar lehernya ke kiri. Namun sama saja kamar Rika pun masih tertutup dengan rapat.


Gagang pintu kamar Tari mulai bergerak, begitu juga dengan Rika dan keduanya keluar bersamaan.


"Lala," seru Tari segera berlari dan menghambur ke dalam pelukan Lala.


"Aku juga!!!" Rika juga seketika memeluk Lala dan Tari yang tengah berpelukan.


"Are you ready?!!" seru Rika.


"Ready!!!" seru Tari dan Lala dengan bahagia.


Tiga wanita cantik, usia masih 19 tahun tapi kecantikan tidak usah di ragukan lagi. Ketiga nya segera berjalan menuju pandai, bikini yang dengan kain penutup melilit di pinggang ramping ketiganya. Topi indah dipadu kaca mata hitam untuk memperlengkap kecantikan mereka. Dengan berlenggak-lenggok ketiganya berjalan menuju pantai, berjalan di atas pasir tanpa menggunakan alas kaki adalah kesenangan bagi ketiganya.


Lalu di mana Dimas dan Arka, mereka sedang melaksanakan rapat perihal hotel yang baru selesai di bangun. Namun ketiga wanita itu sudah mendapatkan ijin dari para suami mereka, kecuali Rika yang hanya mendapatkan ijin dari sang Kakak sebab ia belum menikah.


Lalu bagaimana dengan bikini yang mereka kenakan, tentu saja para dua lelaki tampan itu tidak tahu sama sekali.


Banyak mata yang memandang ketiga nya, bahkan para pria yang sudah beristri sekalipun tidak bisa beralih dari ketiganya. Tidak peduli dengan tatapan kagum orang-orang di sekitar, mereka tetap berjalan cantik mendekati ombak. Dan setelah itu mereka akan berjemur, dengan santai.


Di sisi lain dua orang pria tengah sibuk dengan pembahasan pekerjaan mereka, namun tiba-tiba keduanya sangat terkejut saat tahu jika tiga wanita itu sedang di pantai hanya dengan bikini.


"Ini tidak bisa di biarkan!!!!" geram Arka.


"Ini di luar dugaan ku," gumam Dimas yang langsung bangun dari duduknya, bahkan kakinya begitu terburu-buru ingin segera menyeret adik dan juga istrinya untuk kembali ke kamar.


Mata Arka dan Dimas mulai menatap pantai yang terbentang indah di hadapan nya, keduanya bukan ingin melihat pantai. Tapi sedang mencari keberadaan wanita-wanita cantik yang tengah memakai bikini.


"Arka," Dimas menepuk pundak Arka.


Hingga kemudian Arka mengikuti arah pandang Dimas, "Ternyata mereka di sana!" geram Arka.


Dengan cepat Arka menarik telinga Tari, hingga Tari terkejut dengan kedatangan Arka yang tiba-tiba, "Kakak," suara Mentari bergetar, karena ia tengah ketakutan.


Mata Arka terus menatapnya dengan tajam, dengan cepat Arka melepaskan kain yang terikat di pinggang Tari. Cepat-cepat ia menutupi tubuh istrinya, dan memeluknya agar tidak ada yang melihat, "Kembali ke hotel!" titah Arka.


"Kakak!!!" rengek Mentari, bahkan ia ingin menangis.


"Rika, kau benar-benar sedang menguji kemarahan ku. Kau masih gadis, semua pria di sini menatap tubuh mu, dan yang menatap mu itu adalah para bajingan," geram Dimas, ia melepaskan jasnya dan menyelimuti Rika, "Kembali ke hotel!!!" titah Dimas.


"Tapi Kak," Rika tidak ingin kembali ke hotel saat ini ia hanya ingin bermain di bibir pantai, sambil bermain pasir dan bermain ombak.


"Pakai dulu baju mu, setelah itu kau boleh kembali ke sini lagi!!" kata Dimas lagi, kemudian Dimas menatap istrinya Lala. Dengan pandangan yang tajam Dimas membuka kain yang di lilitkan pada pinggang Lala. Dan menyelimuti Lala dengan kain tersebut, "Kembali ke hotel!" titah Dimas dengan pandangan yang marah.


"Tapi Aa, Lala sama Tari, Rika baru aja ke sini," kata Lala dengan suara kecil bahkan hampir hilang karena takut pada Dimas.


"Aku tidak suka di bantah!" tegas Dimas lagi, kemudian ia kembali menatap Rika, "Ayo kembali ke hotel dan pakai baju mu, lihat pria hidung belang itu terus menatap mu!" titah Rika.


Dengan kesal Rika kembali ke hotel, ia terpaksa melakukan apa yang di katakan sang Kakak. Karena ia bisa melihat kemarahan Dimas.


"Jalan, tunggu apa lagi!"


"Iya," jawab Lala dengan geram.


Dengan terus memeluk Lala, Dimas terus berjalan di samping istrinya. Sampai di hotel Lala terus mengerucutkan bibirnya, karena ia sangat kesal pada Dimas.


"Sudah berapa lama tadi kau di pantai dengan pakaian haram itu?" tanya Dimas.


Lala langsung menatap Dimas dengan penuh kesal, "Ini bikini Aa," jawab Lala.


"Ish Aa enggak gaul," jawab Lala dengan bibir manyun.


Dimas duduk di sofa, kemudian ia terus memperhatikan penampilan Lala, "Buka kain penutup nya, dan cepat lakukan saat kau tadi tebar pesona di pantai!!" titah Dimas tidak ingin di bantah.


Mata langsung melebar sempurna karena keinginan Dimas.


"Ayo buka, dan berlenggok-lenggok di hadapan ku!" kata Dimas lagi.


"Tapi Aa," Lala tanpanya sangat berat hati mengikuti keinginan Dimas.


"Atau kita pulang saja sekarang!!" ancam Dimas.


"Kok pulangsih?"


"Apa lagi? Cepat!"


Dengan berat hati Lala melepaskan kain penutup tubuhnya, kemudian berjalan berlenggok-lenggok di hadapan Dimas.


Mata Dimas tidak berkedip sama sekali, tubuh mulus istrinya seakan menjadi tontonan yang membuatnya panas dingin.


Dreett.


Ponsel Dimas berbunyi dan tertulis nama Arka di sana.


"Ya Bos," jawab Dimas setelah panggilan teleponnya terhubung.


"Aku tidak bisa lanjut rapat, kau saja," kata Arka di seberang sana.


Dimas merasa tidak adil sama sekali, ia juga sedang menikmati indahnya pemandangan di hadapannya, "Halo bos....halo....halo bos, jaringan sepertinya tidak bagus bos," kata Dimas seolah-olah suara Arka tidak jelas ia dengar.


BIP.


Dimas memutuskan panggilan sepihak dan ponsel nya kembali berdering, Dimas kembali menjawab panggilan tapi sesat kemudian ia kembali melakukan hal yang sama. Seolah jaringan memang sedang buruk.


"Tapi kan jaringan bagus Aa," kata Lala yang tahu Dimas barusan berbohong.


"Siapa yang menyuruh mu berbicara, cepat lakukan yang Aa minta!"


"Ish...." Lala menghentakkan kakinya, bikini berwarna merah sungguh pas di tubuh nya hingga Dimas merasa betah berlama-lama di kamar.


"Sayang aku mengijinkan mu memakai bikini ini," suara Dimas kali ini terdengar lembut.


"Aa serius?" tanya Lala dengan bahagia.


"Ia setiap kali dengan ku, kau harus seperti ini!" lanjut Dimas.


Lala mendesus kesal, "Itu sih enggak Aa ijinin jua namanya!" gerutu Lala.


"Cepat kemari!" Dimas menari Lala untuk duduk di atas pangkuan nya.


"Tapi Lala mau ke pantai Aa."


"Kau harus di hukum dulu!"


*


Jangan lupa like dan Vote ya Kakak.