
Rika menatap keanehan pada Lala, sebab sepanjang perjalanan tadi Lala hanya diam duduk di belakang. Bahkan saat ia berbicara duluan pun Lala sama sekali tidak mendengarkan, bahkan sampai kini mereka sudah sampai dan Lala masih saja tidak menyadari nya.
"La!!!" Rika yang dari tadi sudah membuka helmnya mulai menaikan nada suara, agar Lala bisa mendengar suara nya.
Lala tersentak, sekatika Lala tersadar dari lamunannya dan ia mulai melihat sekitarnya, "Udah nyampek?" tanya Lala terkejut, karena ia merasa baru saja naik motor di bonceng oleh Rika.
"Huuuufff....." Rika menarik nafas, dan keduanya kini sudah turun dari atas motor, "Lu Napa sih?" tanya Rika.
"Aku?" tanya Lala balik.
"Yailah....siapa lagi coba!" kesal Rika, kemudian tangannya dengan refleks menarik lengan Lala agar keduanya berjalan beriringan.
"Sssst....." Lala yang tidak baik-baik saja langsung terjatuh, sebenarnya itu biasa di lakukan Rika padanya. Namun Lala tidak pernah sampai terjatuh, bahkan Lala pun dulunya sering menarik Rika dengan kuat dan tiba-tiba. Namun kali ini semua seakan terasa berbeda, rasa sakit pada tubuhnya seakan membuatnya menjadi lemah.
Rika terkejut karena Lala terjatuh, dengan rasa bersalah ia mulai berjongkok, "Lala maaf ya, aku nariknya kuat banget ya?" tanya Rika dengan rasa bersalah.
Lala masih tertunduk menikmati rasa sakit yang semakin menjalar di sekujur tubuhnya, tapi apa yang bisa ia katakan pada Rika saat ini.
"Lala kamu nyari apa?" tanya Rika yang bingung, sebab Lala kini malah mencari sesuatu pada tasnya tanpa ingin bangun terlebih dahulu.
Setelah mendapat apa yang ia cari Lala mengambilnya satu butir, dan ia langsung menelannya. Lala tidak ingin kehilangan kesadaran, biarlah dirinya hancur secara perlahan. Namun ia harus tetap bertahan demi bisa bertemu kembali dengan sang Ayah, tidak perduli dengan rasa sakit lahir maupun batin. Kini Lala kembali mencoba berdiri tegak, tanpa ada yang tahu luka yang tengah ia rasakan.
"Masuk yuk," Lala langsung berjalan beriringan dengan Rika yang berjalan di samping nya, bagi Lala rasa sakit adalah hal yang sudah biasa. Bahkan Lala tidak ingin lagi menyusahkan siapapun.
Sepanjang kelas berlangsung Lala hanya tertidur sambil menelungkup kan kepalanya pada meja, tidak mendengar apa lagi melihat wajah sang dosen yang berdiri di depan sana. Obat yang ia telan seperti bekerja dengan baik, hingga ia tidak menangis atau histeris.
"Lala," pak Bimo mulai membangunkan Lala yang tertidur lelap.
"La....." Rika juga ikut menggoyangkan tubuh Rika, dan berharap Lala segera bangun.
"Sssstttt...." Lala mulai memegang kepalanya, ia perlahan bangun dan melihat Pak Bimo yang tengah menatapnya, "Maaf Pak, saya ketiduran," ujar Lala lagi.
Pak Bimo melihat wajah Lala sangat pucat, ada rasa iba yang ia rasakan saat melihat Lala, "Saya tunggu di ruangan saya," ujar Pak Bimo dan ia pergi begitu saja, sebab materi sudah selesai.
Lala mulai menyandarkan kembali tubuhnya, masih seperti tadi pagi ia kembali membuka tas dan menelan satu butir pil, percayalah tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahkan semua harus di bayar dengan cara apapun juga, dan kini ia benar-benar harus bisa berpijak di atas kakinya sendiri. Walaupun bergetar.
"Lala, lu udah nelan berapa pil hari ini?!" tanya Rika yang mulai panik.
Lala tersenyum, "Enggak papa, memang aturan obatnya yang seperti itu," bohong Lala agar Rika tidak panik, "Aku keruangan Pak Bimo dulu," pamit Lala.
"Aku ikut," kata Rika dan ia dengan cepat berdiri, "Aku nunggu di depan ruangan Pak Bimo."
Lala tidak melarang Rika ikut bersamanya, lagi pula niat Rika cukup baik.
Tok tok tok.
"Masuk!!!"
Lala mulai mendorong pintu dengan perlahan, dan setelah ia masuk tangannya kembali menutup pintu. Sementara Rika menunggu di luar ruangan saja, seperti janjinya tadi.
"Permisi Pak," sapa Lala.
"Duduk," Pak Bimo menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
Lala dan Pak Bimo kini duduk saling berhadapan, dengan meja yang menjadi pembatas keduanya.
Lala mengangguk, dan pikirannya saat ini bukan tentang pekerjaan. Melainkan saat kejadian semalam.
"Pak Dimas!!!!" teriak Lala dan ini entah sudah untuk yang ke berapa kalinya ia berteriak.
Dimas yang di kuasai obat dan tidak sadar benar-benar memperlakukan nya selayaknya seekor hewan, tanpa belas kasih sekalipun. Bahkan pagi tadi pun Lala melihat wajah Di as sana sekali tidak berdosa, bahkan yang ada Dimas duduk dengan Zea di sebelahnya. Ini sungguh sangat menyakitkan bagi Lala, ia sadar ia hanya seorang wanita yang tidak pantas untuk di cintai. Tapi ia juga manusia ia ingin sedikit di hargai, tidak perduli ia sudah kotor atau tidak. Yang jelas ini sangat menyakitkan.
Pak Bimo yang melihat Lala hanyut dalam pikir nya mulai bingung.
"Lala!!!"
"Lala!!!"
"Lala!!!"
Entah untuk yang ke berapa kalinya, tapi panggilan yang terakhir dengan nada yang cukup tinggi membuat Lala tersadar dari lamunannya.
"Iya Pak Bimo."
"Kau kenapa?" tanya pak Bimo.
Lala menggeleng tanpa menjawab dengan bibit nya.
"Ya sudah," Pak Bimo tampaknya dapat menebak jika Lala tengah tidak baik-baik saja, tapi ia pun tidak akan menyiksa Lala dengan pertanyaan nya, "Ini," pak Bimo memberikan sebuah kotak berukuran cukup mungil pada Lala, "Ini sebagai permintaan maaf saya," lanjut Pak Bimo lagi.
Lala melihat kotak ponsel yang ada di hadapannya, tangan Lala memegang kotak tersebut, "Maaf Pak, tapi saya tidak bisa menerimanya," Lala mengembalikan kotak tersebut pada Pak Bimo.
"Kenapa?"
"Saya tidak mau hutang budi, dan saya tidak tahu harus membayar pakai apa nantinya," jelas Lala.
"Tidak..... tidak, ini tidak harus di bayar. Ini aku berikan untuk mu."
"Tapi maaf Pak," Lala tetap menolak, bukan ia tidak butuh atau sombong. Tapi ia tidak ingin nantinya harus membayar ini semua dengan dirinya, sudah cukup Dimas yang memakai tubuhnya sebagai bayaran.
"Tolong, dan saya tidak ingin ada penolakan. Lagi pula kau membutuhkan ini, anggap saja ini sebagai gaji mu saat kemarin kau menjadi karyawan di cafe," kata Pak Bimo yang terus memaksa Lala agar menerima ponsel darinya.
Lala menatap kotak ponsel tersebut, dan ia masih sangat ragu.
"Ayo, dan kalau kau kamu kau bisa kembali bekerja."
Lala mengangguk, dan ia menerima ponsel tersebut. Karena rasa tidak enak, lagi pula mungkin ia bisa kembali bekerja itu ada hal yang paling menarik untuk Lala.
"Terima kasih Pak, dan saya permisi."
Lala memutar gagang pintu dan melihat Rika masih setia menantinya di sana, "Yuk!" kata Lala pada Rika.
"Yuk!" jawab Rika.
Saat keduanya akan melangkah tiba-tiba ada sebuah pria bertubuh kekar berdiri di hadapan Lala, dengan cepat Lala mendongkak.
Butir-butir air mata mulai meluncur dari mata hitam pekat itu, rasanya sangat sakit bagai di tusuk ribuan belati.