
"Mulai besok kau, tidak perlu pergi ke kampus ataupun keluar dari rumah tanpa ijin dari ku. Kalau sampai kau berani melanggarnya, kau akan menerima akibatnya!" tegas Dimas.
Rika duduk di sofa, dengan Lala yang mulai mengompres lebam pada wajah Rika. Hati kini terasa bingung, karena Dimas juga malah memberikan hukuman padanya.
"Kak Dimas, kenapa aku harus di rumah saja?" tanya Rika bingung, "Aku salah apa?" tanya Rika lagi.
"Kau tidak salah, hubungan mu dengan Sandy yang salah. Jangan pernah berani untuk menemuinya lagi, jangan pernah lagi kau untuk berpacaran dengan Sandy!" tegas Dimas.
"Kak, Rika enggak salah, Mas Sandy juga salahnya di mana? Apa salahnya kalau kami memiliki hubungan?"
"Salah! Sekali aku katakan tidak boleh, artinya kau tidak boleh berhubungan dengan Sandy!"
Mama Yeni yang baru saja pulang dari mall melihat kedua anaknya yang tengah terlibat ketegangan, Rika dan Dimas memang terbiasa cekcok. Akan tetapi kali ini terlihat berbeda, bahkan Mama Yeni bisa melihat ada kemarahan yang tertahan pada Dimas.
"Dimas, Rika ada apa ini Nak?" Mama Yeni berjalan ke arah Rika, kemudian matanya melihat wajah lebam Rika, "Itu kamu kenapa?" Mama Yeni semakin panik, ia duduk di samping Rika. Dengan tangan yang menangkup kedua pipi putrinya, "Ini kenapa bisa memar begini?" tanya Mama Yeni lagi.
"Ingat, jangan ada yang mengijinkan nya keluar rumah sebelum aku ijinkan!" kata Dimas menatap Mama Yeni, kemudian ia langsung pergi.
Mama Yeni semakin penasaran, ia belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya, "Rika, Lala ini kenapa?"
"Ma, Lala ke kamar dulu ya," pamit Lala, ia juga tidak berani berbicara apa lagi saat melihat Dimas yang tengah marah besar.
Mama Yeni mengangguk lemah, lalu Lala ikut menyusul Dimas ke kamar. Meninggalkan Mama Yeni dan juga Rika yang berada di ruang tamu.
"Rika ini ada apa? Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan Mama?"
"Ma," Rika langsung memeluk Mama Yeni, ia mulai menceritakan apa yang barusan ia alami sampai pipinya membiru, sekaligus penyebab Dimas marah besar.
Mama Yeni mengusap punggung Rika, ia terus memeluk Rika dengan begitu erat, "Mama juga setuju dengan apa yang di katakan Kak Dimas, tolong jauhi Sandy ya," pinta Mama Yeni.
Rika seketika menjauh dari Mama Yeni, wajahnya terlihat begitu kesal pada Mama Yeni yang malah setuju dengan kata-kata Dimas, "Mama apaan, sih. Mas Sandy kan enggak salah, yang nampar Rika itu wanita tadi," kesal Rika.
Mama Yeni menggeleng, ia pun tidak bisa terlalu keras pada Rika. Usia yang masih begitu muda dengan perasaan cinta yang baru di rasa membuat nya mengerti akan perasaan Rika, bahkan di usia nya yang masih 20 tahun itu akan sangat sulit untuk membuat Rika mengerti akan maksud nya, "Rika, cinta itu tidak semanis yang kamu bayangkan. Jika hubungan antara kalian berdua penuh dengan penentang itu artinya akan ada konsekuensi yang nantinya merugikan mu, jadi cobalah mengerti," kata Mama Yeni dengan nada yang lembut.
"Mama ish....." Rika langsung bangun dari duduknya, ia sangat kesal sekali karena tidak ada yang mengerti akan dirinya.
"Rika, semuanya demi kebaikan kamu Dek," kata Mama Yeni lagi.
"Tapi kebaikan Rika sama Mas Sandy Ma," jawab Rika dengan wajah memohon.
Mama Yeni hanya terdiam, ia pun tidak tahu bagaimana caranya agar Rika mengerti. Rasa cinta yang membara membuat Rika tidak akan menerima apapun yang di katakan oleh orang sekitarnya, padahal Mama Yeni juga takut jika Rika nantinya kecewa.
"Ya udah, kamu istirahat di kamar ya, mau Mama masakin apa?" Mama Yeni merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Rika, karena anaknya itu masih dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Apa aja, Rika kesel sama Mama sama Kak Dimas!" Rika langsung pergi ke kamar, ia masih belum mengerti mengapa keluarnya tidak menyetujui hubungannya dengan Sandy.
***
Dimas melihat Lala yang berdiri di depan nya, tangannya menarik Lala untuk duduk di sampingnya. Dimas kemudian menjadikan paha Lala sebagai bantal, mungkin dengan begitu ia bisa meredam sedikit amarah nya.
"Aa, jangan marah lagi dong," Lala menyisir rambut Dimas dengan jari-jari tangan nya, dan melihat mata Dimas yang terpejam.
"Ya, tapi Rika dan Sandy tidak boleh ada hubungan."
"Memangnya salah ya Aa?"
"Tidak, tapi Rika akan mendapatkan banyak masalah kedepannya. Memangnya kau mau kalau nanti mereka menikah dan tiba-tiba wanita hamil lainnya datang dan meminta pertanggungjawaban Sandy?"
Lala terdiam, ia juga bingung jika memang apa yang dikatakan oleh Dimas benar artinya apa yang dilakukan oleh Dimas saat ini memang sudah sangat benar sekali.
"Terus kalau pikiran Aa salah?"
"Itu bagus, artinya Rika tidak tersakiti."
Lala mangguk-mangguk, "Terus kalau ternyata mereka berdua nantinya tetap bersama gimana?"
"Biarkan Sandy yang berjuang untuk Rika, kalau memang dia mencintai Rika!"
Hari-hari terus berlalu, Rika kini benar-benar hanya di rumah tanpa bisa pergi ke luar dari rumah. Bahkan ia juga kuliah online, padahal Rika juga ingin bertemu dengan Sandy.
Ting.
Ponsel Rika berdering, dan tertulis nama Sandy di sana.
[Sayang,] Mas Sandy.
Rika tersenyum dan jarinya mulai bergerak untuk membalas pesan dari Sandy.
[Rika masih belum di bolehin ke luar rumah Mas,] Rika.
[Sabar ya, Mas sedang menyelesaikan permasalah ini. Nanti setelah permasalahan Mas selesai Mas yang akan menemui Dimas langsung,] Mas Sandy.
[Iya,] Rika.
Walaupun keduanya tidak bertemu secara langsung, tapi keduanya tetap saling memberikan kabar satu sama lainnya. Sampai akhirnya satu Minggu sudah Rika dan Sandy tidak bertemu hingga rasa rindu terasa semakin membuncah. Hari ini Sandy memutuskan menemui Dimas ke perusahaan nya, karena ia sudah tidak lagi bisa menahan untuk tidak bertemu dengan Rika.
Mata Sandy melihat Dimas yang tengah duduk di kursi kebesaran nya. Namun, setelah menyadari ada yang masuk ke ruangannya Dimas sejenak beralih dari komputer nya dan melihat kearah depan. Wajah Dimas berubah dingin saat melihat orang yang kini sangat ia benci.
"Aku mohon, ijinkan aku dan Rika menikah," pinta Sandy dengan to the point.
Dimas tersenyum miring, semua tidak semudah yang dibayangkan oleh Sandy. Karena ia tidak akan memberikan restu pada Sandy, "Keluar dari sini!" Dimas menunjuk pintu, karena ia tidak ingin berlama-lama melihat wajah Sandy.