Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 121


"Sayang, kamu jangan sedih lagi ya, kasihan anak kita, sama kasihan Ayah juga," Dimas memeluk istrinya erat, berusaha membuat sedikit ketenangan.


"Ya ampun, berasa dari tadi manekin kali ya. Dunia serasa milik berdua," Rika seketika turun.


Dengan sengaja Rika berucap demikian, agar Lala kesal padanya dan melupakan kesedihannya.


"Ayo kita turun."


Lala dan Dimas juga segera turun dari mobil, sampai di ruang keluarga Lala melihat Atmaja.


"Ayah udah makan?"


Lala duduk di samping Atmaja, memeluk nya dengan erat.


"Udah, gimana acara berbuka nya?" Tanya Atmaja sambil terus memeluk putrinya.


"Asik Yah, tadi Mentari juga ikut," jelas Lala.


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu ya. Muka kamu pucat sekali, kamu puasa Nak?"


"Iya Yah."


Atmaja mengangguk lemah, Lala sama persis seperti Sarika. Saat hamil Zira pun ia tetap berpuasa, padahal ada keringanan bagi mereka yang tengah berbadan dua.


"Yah Lala ke kamar dulu ya," pamit Lala.


"Iya," Atmaja mengangguk merasa bersyukur bisa berkumpul lagi bersama dengan putri nya.


Setelah Lala masuk kedalam kamar Dimas duduk di sofa saling berhadapan dengan Atmaja, ada hal yang ingin di bahas mengingingat keadaan Atmaja sudah lebih baik.


"Om, saya ingin membicarakan tentang perusahaan," Dimas memulai nya terlebih dahulu, walaupun tidak tahu bagaimana cara untuk memulainya.


"Sebelum nya saya ucapkan terima kasih tetapi, kamu itu menantu saya, dan Om?" Atmaja terkekeh melihat wajah Dimas.


Dimas juga tidak tahu harus manggil Atmaja apa, mengingat selama ini hanya memanggil tuan.


"Apa perusahaan itu bermasalah?" Tanya Atmaja.


Atmaja juga sangat merindukan perusahaan miliknya yang di bangun nya dari nol.


"Tidak, semua sudah membaik dan saya minta maaf sebelumnya karena semua aset milik Ayah sudah berpindah atas nama saya," Dimas tidak ingin ada salah paham, sehingga malam ini ia harus menjelaskan.


Uang bukan segalanya bagi Dimas, sudah di beri restu untuk menikahi Lala saja sudah cukup.


"Saya sangaja melakukan nya agar memiliki kekuatan dalam mempertahankan dari orang-orang yang ingin mengambilnya mengingat Ayah sedang sakit lalu, Lala adalah seorang wanita yang tidak mengerti dunia bisnis," jelas Dimas lagi.


Atmaja tidak mempermasalahkan sama sekali, justru saat ini ia bersyukur dengan adanya Dimas.


"Saya tidak masalah, dan saya sangat berterima kasih sudah menjadi dewa penolong untuk putri saya," ujar Atmaja penuh haru.


"Saya tidak sendirian dalam bergerak, ada orang lain di belakang saya, seorang wanita yang mengetahui seluk-beluk tentang kekayaan Ayah, Ibu Sarika," papar Dimas.


Atmaja terdiam, tidak menjawab sama sekali. Hanya diam dalam pikirannya sendiri.


"Semua aset itu akan saya kembalikan pada Ayah."


"Tidak usah, semua itu milik Lala dan kalau kamu ingin mengembalikan nya kamu bisa merubahnya menjadi nama Lala saja, sedangkan perusahaan itu biar kamu saja yang memegang kendali, Ayah sudah tua dan ingin menikmati masa tua bersama cucu-cucu Ayah," jawab Atmaja dengan senyuman membayangkan sebentar lagi akan menjadi seorang Kakek.


"Baiklah, saya akan melakukan nya, saya ke kamar dulu," Dimas bangun dari duduknya dan menyusul Lala.


***


"Kakak ipar!!!" Rika mengetuk pintu kamar Lala dengan suara keras, tidak perduli apa yang tengah terjadi di dalam sana.


Lala membuka pintu dengan malas dan melihat adik Ipar yang menjengkelkan.


"Apa?"


"Ye, ketus amat sih!" Rika memanyunkan bibirnya menatap Lala.


"Apa?" Tanya Lala lagi dengan ketus.


"Aku mau sholat tarawih, kamu ikut enggak?"


"Ikut!" Jawab Lala cepat.


Brak!


Lala menutup pintu kamar dengan cepat, padahal Rika masih berasa di sana.


"Sialan! Dasar Kakak Ipar enggak ada akhlak!" Geram Rika.


"Ya sudah, ayo kita berangkat ke mesjid."


Jarak masjid dan rumah tidak terlalu jauh, Mama Yeni, Lala, Rika dan Dimas memutuskan untuk berjalan kaki.


Setelah sampai keempat nya langsung masuk dan duduk.


Sudah beberapa rakaat semua masih baik-baik saja, sampai akhirnya tiba-tiba perutnya terasa mual padahal sedang melakukan sholat.


Dengan sekuat tenaga menahan rasa mual, sampai akhirnya Lala langsung berlari keluar dengan menutup mulutnya.


"Huuueekkk!!!"


Makanan yang masuk seketika keluar semua, tepat berada di halaman masjid.


Dengan kaki yang bergetar Lala duduk di atas rerumputan dan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Huuueekkk."


Terus saja berulangkali terjadi sampai akhirnya Rika juga keluar menyusul Lala bertapa shock melihat Lala yang duduk di atas rerumputan.


"Huuueekkk."


Tidak sanggup menahan, bahkan mukenah nya pun sampai terkena cairan muntah.


"Lala, kamu baik-baik aja kan?"


Rika panik saat melihat wajah pucat Lala, di tambah keringat dingin yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


Selang beberapa saat kemudian Mama Yeni juga penasaran, dengan segera ia keluar dari masjid untuk menyusul Lala dan Rika.


"Astaghfirullah, Nak, kamu kenapa?"


Mama Yeni tidak kalah panik melihat menantunya yang duduk di atas rerumputan, dengan muntah-muntah tanpa henti.


"Ma?" Rika bingung harus melakukan apa, bahkan Dimas tidak pernah membawa ponselnya jika sedang ke mushola ataupun ke mesjid.


"Mang Ujang," Mama Yeni melihat seorang satpam yang bekerja di rumahnya keluar dari mesjid, mungkin akan menuju toilet.


Mang Ujang langsung berlari ke arah majikannya, ikut penasaran melihat Lala yang terus muntah-muntah tanpa henti.


"Ada apa Bu?"


"Tolong kamu panggilkan Dimas, bilang istrinya muntah-muntah," pinta Mana Yeni.


Dengan segera mang Ujang kembali masuk kedalam masjid, mencari keberadaan Dimas di antara jamaah lainnya.


Sampai akhirnya Mang Udin melihat Dimas, seketika ia berjalan masuk sebelum sholat kembali di mulai.


Dengan perlahan ia berbisik pada Dimas, menyampaikan sesuai perintah Mama Yeni.


Dengan segera Dimas keluar, menuju halaman masjid dengan rasa khawatir.


"Lala," dengan cepat Dimas berjongkok dan shock melihat istrinya sudah tidak sanggup lagi berdiri.


"Dimas, sebaiknya kita bawa saja Lala pulang," usul Mama Yeni.


"Iya Ma."


"Huuueekkk."


Lala merasa sangat mual dan lemah, dengan segera Dimas mengangkat dan membawanya pulang ke rumah.


Sampai di rumah Dimas langsung membuka mukenah yang masih di pakai Lala, mengoles minyak angin agar membuat istrinya sedikit lebih baik.


Lala ingin turun dari ranjang tetapi belum sampai ia menginjak lantai, sudah kembali muntah.


"Huuueekkk."


"Sayang, kau kenapa? Wajah mu pucat sekali," Dimas semakin ketakutan saat merasa tubuh istrinya mendadak dingin, dengan wajah memutih karena pucat.


Lala tidak menjawab sama sekali, bahkan untuk membuka matanya pun sangat sulit.


Dimas mengambil ponselnya dan menghubungi Radit, memintanya datang kerumahnya setelah memberitahu keadaan Lala.


"Lala, kamu minum dulu ya," Mama Yeni membawakan secangkir air hangat.


"Huuueekkk."