Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Memohon


"Itulah mengapa Dimas tidak mengijinkan mu dekat dengan Mas," jelas Sandy.


Rika terdiam sambil mencerna setiap cerita dari Sandy, "Tapi kenapa Kak Dimas sangat tidak suka dengan hubungan kita Mas?" tanya Rika lagi penasaran.


Sandy mengangguk, "Mas selalu bergonta-ganti pasangan, dan," Sandy menjeda ucapannya sambil melihat raut wajah Rika, ia takut jika Rika akan meninggalkan dirinya.


"Dan?" tanya Rika penasaran.


"Rika, Mas dan wanita itu tidak pernah melakukan hubungan di luar batas," jelas Sandy sambil menarik nafas, "Bukan begitu juga," Sandy bingung bagaimana cara menceritakan nya pada Rika, tapi bagaimana pun ia tidak ingin Rika mendengar dari orang lain, "Mas selalu berpacaran dengan gaya yang bebas," jelas Sandy dengan susah payah.


Deg.


Rika langsung melepaskan tangan Sandy yang memegang tangannya, ia menunduk dan mengerti mengapa Dimas melarangnya berhubungan dengan Sandy.


"Rika enggak bisa lagi," Rika ingin membuka pintu lalu turun.


"Rika," Sandy cepat-cepat memegang tangan Rika, dan tidak mengijinkan Rika untuk turun, "Dengarkan Mas dulu," pinta Sandy dengan perasaan takut.


Rika terdiam sambil menitihkan air mata, hatinya benar-benar takut. Perasaan yang tidak ingin di sakiti membuatnya lebih memilih pergi saat ini juga, sebelum perasaan yang semakin dalam dan nantinya ia akan semakin terluka.


"Dengarkan Mas dulu," lirih Sandy penuh harap.


Rika mencoba diam dan mendengarkan kata-kata Sandy, walaupun hatinya mulai gusar.


"Mas mohon," pinta Sandy lagi.


Rika mengangguk sambil terus berusaha menahan air mata.


"Di sinilah letak kekeliruan itu Rika, Mas selalu membawa setiap perempuan ke apartemen Mas. Mas akui Mas berpacaran bukan hanya sekedar cumbuan saja, tapi terkadang seperti bayi yang kehausan. Namun, semua itu tidak pernah lebih dari itu. Mas tidak pernah menyentuh wanita layaknya suami istri, tapi tidak ada yang percaya Rika. Mungkin karena mereka melihat Mas selalu bergonta-ganti pasangan, membawa mereka ke apartemen juga, tidak perduli waktu siang atau malam," jelas Sandy.


Rika hanya diam sambil mengangguk, apakah ia bisa percaya dengan kata-kata Sandy atau tidak, "Selalu membawa wanita?" tanya Rika bingung, "Tapi tidak melakukan apa-apa? Apa itu mungkin?" tanya Rika lagi.


Sandy sudah yakin ia akan di sulitkah dengan hal seperti ini, sebab semua orang juga meragukan akan hal itu, "Mas berani bersumpah Rika, untuk yang satu itu tidak pernah Mas lalukan. Tapi jika memegang, memainkan dada wanita itu hampir pada semua mantan pacar Mas. Apakah Mas terlalu hina untuk memiliki mu? Mas hanya ingin mencari kenyamanan dari mereka, tapi ternyata Mas tidak bisa nyaman seperti saat bersama mu, apa Mas sangat tidak layak untuk menjadi imam mu?" tanya Sandy dengan raut wajah penuh kepiluan.


"Apa ada lagi yang Mas ingin ceritakan?" tanya Rika lagi, menurut Rika tidak masalah jika Sandy selama melakukan hal tersebut. Rasa cinta Rika mengalahkan rasa benci, hingga ia tetap menerima Sandy.


"Ada, malam itu Mas bersama dengan kekasih Mas namanya Azela. Dia selalu minta Mas menikahinya, tapi Mas selalu menolak karena Mas tahu dia selalu pergi bersama laki-laki yang berbeda-beda. Sampai satu malam dia datang ke Apartemen dan entah apa sebabnya pagi itu kami tidur di atas ranjang yang sama, dan....." Sandy menatap wajah Rika.


"Dan?" tanya Rika dengan suara yang bergetar.


"Tapi Mas yakin kami tidak melakukan hal apapun, Mas mencoba membuka rekaman cctv. Tapi tidak bisa, karena rekamannya sudah di hilangkan. Dan Mas sekarang sedang mencari bukti, karena dia mengaku hamil anak Mas," jelas Sandy.


Rika perlahan melepaskan tangan Sandy, ia menghapus jejak air mata dan menatap keluar.


"Rasa kemanusiaan atau Mas yang takut anak Mas yang hilang nantinya?" tanya Rika dengan air mata yang semakin basah di pipinya.


"Sayang, Mas mohon. Untuk apa Mas terus berusaha untuk dekat dengan mu jika Mas merasa kau bukan segalanya?" tanya Sandy kembali.


Rika kembali melihat Sandy, menatap manik matanya dengan penuh rasa tanya.


"Tolong beri Mas kesempatan, Mas mohon. Mas akan melakukan apapun asalkan kau jangan pernah meninggalkan Mas," pinta Sandy dengan mata yang berkaca-kaca.


Perasaan Sandy pada Rika sudah sampai pada puncaknya, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Sandy tidak bisa kehilangan Rika hingga ia harus meluruskan semuanya.


"Mas mohon Rika, apa Mas harus mencium telapak kaki mu?" tanya Sandy dengan yakin.


Rika terkejut dengan kata-kata Sandy, apakah harga diri Sandy sudah tidak ada di hadapannya hingga mulutnya mudah sekali mengatakan demikian.


"Rika jangan diam saja, Mas takut."


Rika hanya diam sambil menatap wajah Sandy, ada cinta dan bimbang yang membuatnya merasa tidak baik-baik saja.


"Apa Mas menganggap wanita itu yang salah?" tanya Rika, "Jika memang itu anak Mas, sebaiknya nikahi dia."


"Tapi itu bukan anak Mas Rika, Mas yakin dan sedang mencari bukti. Jika memang itu anak Mas kapan Mas melakukan itu, apa ada orang bercinta dalam keadaan tidak sadarkan diri?" tanya Sandy bingung, "Sebanyak apapun obat perangsang, siapapun yang meminumnya pasti ingat minimal sedikit saja. Atau potongan-potongan ingatan kecil pasti ada, dan Mas sudah berusaha mengingat tapi tidak ada. Mas seorang dokter Rika, tidak segampang itu Mas di bodohi ini hanya tentang bukti yang harus Mas cari, dan Mas butuh kepercayaan mu, bahkan selisih antara usia kandungan dan hari kejadian itu sangat jauh," pinta Sandy.


Rika mengangguk, ia yakin jika Sandy tidak seburuk yang dipikirkan oleh orang-orang di luar sana. Termasuk Dimas, "Tapi kalau ternyata Mas bohong," Rika menatap Sandy dengan wajah penuh rasa sedih, "Mas akan menyesal, karena Rika akan bunuh diri," kata Rika lagi dengan tersenyum getir.


Sandy terkejut dengan kata-kata Rika, "Sayang kamu bicara apa?"


"Karena Rika bakalan berhadapan dengan Kak Dimas, dan Mama. Dan kalau sampai mereka benar Rika enggak akan punya muka lagi di hadapan mereka, jadi lebih baik Rika akhiri semuanya saja," jelas Rika.


"Enggak, Mas enggak akan sia-sia kan kamu. Mas juga bakalan buktikan kalau Mas tidak pernah melakukan itu sampai wanita itu mengandung," kata Sandy dengan pasti, "Saat itu Mas hanya mencari ketenangan. Namun, tidak ada yang bisa membuat hati Mas tenang. Sampai akhirnya kita bertemu dan Mas merasa kau adalah wanita yang bisa membuat Mas merasa tenang," jelas Sandy.


"Mas enggak bohong?" tanya Rika penuh harap.


Sandy mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam dasboard, dan memberikan nya pada Rika, "Tetap bersama Mas, atau bunuh Mas," kata Sandy pada Rika.


"Mas," Rika langsung memeluk Sandy, ia yakin Sandy benar-benar mencintai dirinya. Lagi pula jika bukan karena Sandy mungkin saja ia sudah tenggelam saat berada di lautan saat itu.


"Mas mencintai mu, dan tunggu sampai Mas membuktikan semua itu," pinta Sandy dengan terus mendekap Rika.


Sandy merasa lebih baik setelah menceritakan semua pada Rika, kini ia akan berjuang untuk membuktikan jika ia tidak seburuk yang di pikirkan orang diluar sana. Demi Rika apapun akan di lakukan oleh Sandy