
Jam menunjukkan pukul 09:00 Sandy membuka matanya dan menatap ke samping, ternyata Rika masih tertidur pulas sambil memeluk dirinya.
Berulang kali Sandy mengecup bibir Rika tapi tak mengusik tidurnya sedikitpun, mungkin karena terlalu lelah membuatnya tidur begitu lelap.
Sandy segera bangun sebab, harus ke rumah sakit. Kini sudah mulai aktif lagi bekerja karena, Rika sudah dalam masa pemulihan.
Bibir bersiul dengan bahagia, semalam benar-benar membuatnya menjadi lebih berwarna.
Bahkan sampai ke dalam kamar mandi pun masih saja terdengar suara siulan kebahagiaan.
"Airnya mati?"
Kenapa harus mati, padahal harus membersihkan diri. Jika tidak bagaimana mungkin akan berangkat bekerja.
Sandy menggaruk kepalanya bingung apa yang bisa di lakukan oleh nya saat ini, seketika itu teringat ada kamar mandi di dapur.
Pilihan tepatnya saat ini adalah mandi di dapur, segera mengambil handuk dan menggantung nya di leher.
Keluar dari kamar mengendap-endap seperti maling, tapi sebenarnya Sandy tengah berusaha menghindari Mama Yeni dan Papa mertuanya.
Merasa aman sampai di dapur tak ada yang di jumpainya Sandy menarik napas lega, perlahan tangannya memegang gagang pintu dan masuk.
Bersyukur di kamar mandi dapur ada bak penampungan air sehingga Sandy bisa mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa bercinta semalaman.
Selesai mandi Sandy segera melilitkan handuk di pinggangnya lalu, membuka pintu dan berjalan sambil mengendap-endap kembali menuju kamar. Tapi sayang saat baru saja Sandy keluar Mama Yeni sudah mengapa nya.
"Sandy, kamu mandi di sini?" Tanya Mama Yeni.
Sandy terkejut dengan kehadiran Mama mertuanya yang tiba-tiba dan bahkan baru saja menyadarinya.
Tapi tunggu dulu, oh tidak.
Sandy sadar dengan dirinya yang hanya berbalut handuk saja dan di pergoki oleh Mana mertua ini sangat memalukan.
"Ngapain bro?"
Tidak berselang lama Dimas juga ikut bergabung di sana.
"Mandi pagi bro?"
Tambah Arka dengan suara mengejek Sandy, kapan kedua sahabatnya itu berada di sana.
"Sandy, kenapa mandinya di dapur?" Mama Yeni merasa aneh, sebab di dalam kamar Rika juga memiliki kamar mandi dan tidak ada masalah sama sekali.
Sehingga terasa aneh bila Sandy tiba-tiba mandi di kamar mandi dapur seperti ini.
"Air nya mati Ma," Sandy menggaruk tengkuknya.
"Mati?" Mama Yeni menatap wastafel dan menyalakan keran air, tapi air menyala dengan baik, "enggak kok, baik-baik saja," Mama Yeni semakin bingung.
"Atau sengaja ya mandi pagi di dapur?" Ejek Dimas.
"Mama permisi dulu," Mama Yeni tak mau semakin membuat Sandy malu, tau menantunya pagi ini sehabis mandi bersih karena semalam bertempur hebat.
Sehingga lebih memilih pergi dari pada membuat Sandy seperti maling ketakutan karena, ketahuan.
"Kita dengar lho, semalam," goda Arka.
"Tau nih, orang semalam gue nggak bisa tidur juga suara kalian brisik!" Dimas menyenggol lengan Sandy.
Glek!
Sandy sudah kehilangan harga diri yang bahkan di hadapan Mama mertuanya sekalipun.
"Dah, ah. Aku mau ke kamar dulu, mau pakai baju!"
Sandy ingin melarikan diri, jika tidak begitu pasti entah apa yang akan dilakukan dua sahabatnya yang amprol itu.
Sayangnya masing-masing tangan Sandy di tahan oleh Arka dan Dimas, hingga dengan terpaksa Sandy harus tetap berdiri di tempatnya.
"Mau kemana? Nanti."
"Kalian mau apa? Dasar setan!" Geram Sandy.
"Mau membuat mu mandi lagi," kata Arka sambil tertawa lebar.
"Jangan gila ya, aku harus berangkat bekerja!" Sandy bergerak dengan kuat ingin melepaskan diri dari pegangan kedua sahabatnya tapi malah handuk yang melilit di pinggangnya terlepas.
"Aaaaaa!" Teriak ketiganya melihat senjata Sandy terpampang nyata di depan mata.
Dimas dan Arka menutup mata agar tidak terus melihatnya, tapi anehnya Sandy pun malah ikut menutup mata.
"Oh, iya lupa!" Sandy baru tersadar dan dengan cepat berjongkok untuk mengambil handuknya yang terjatuh di lantai kemudian segera melilitkan nya kembali pada pinggang.
"Dasar psikiater bodoh?" Geram Dimas setelah membuka mata sebab Sandy sudah kembali melilitkan handuk nya.
"Gila!" Arka juga tak kalah kesal, mengapa Sandy bisa menjadi seorang psikiater. Sedangkan kelakuanku sama seperti tidak waras.
"Lebih cocok jadi pasien Ruman sakit jiwa, dari pada jadi psikiater lu!" Kata Dimas masih melupakan kekesalannya.
"Hehehe," Sandy menggaruk kepalanya karena menyadari kebodohannya, "maaf, namanya juga barusan nggak sadar, lagian airnya kok nyala ya. Barusan mati."
Sandy merasa ada yang janggal seketika itu juga menatap Dimas dan Arka penuh kecurigaan.
"Iya, kita yang matiin!" Jawab Dimas penuh kemenangan.
"Dasar, Kakak ipar nggak ada akhlak!" Sandy refleks langsung mengetuk kepala Dimas.
"Dasar adik ipar sialan!" Sandy pun seketika meninju perut Sandy.
"Udah! Kita mau menyaksikan persidangan Dimitri kan? Kenapa ribut?" Arka masuk di antara dua pria itu, berdiri tepat di tengah-tengah.
"Dimitri?" Tanya Sandy baru tahu.
Arka menatap tangan Sandy yang masih memegang pundaknya, seketika itu juga melepaskan dengan cepat.
"Gua masih normal!"
"Gue juga masih normal, selera gue kerang bukan terong!" Jelas Arka.
"Ngomong-ngomong soal kerang, rasanya enak banget dan gue nggak ikut di persidangan Dimitri gua bobo ganteng bareng istri aja," Sandy tersenyum sambil membayangkan wajah Rika yang manis.
"Enak aja!" Arka mengetuk kepala Sandy, membuyarkan lamunannya yang tengah traveling membayangkan seperti malam tadi.
"Sakit!"
"Cepat pakai baju dan ikut bareng kita!"
Sandy meninju udara terpaksa menyetujuinya sebab, kedua sahabatnya itu memaksanya.
"Hey, kita tunggu di depan nggak pakek lama!" Ancam Arka.
"Iya!"
Sandy segera menuju kamar, melihat Rika mulai menggerakkan tubuhnya dan sedetik kemudian matanya terbuka.
"Kamu udah bangun?"
Sandy lupa akan dua sahabatnya yang tengah menunggu di ruang tamu, kini ia kembali naik ke atas ranjang dan memeluk Rika dengan mesra.
"Mas, udah mandi?"
"Udah dong! Tapi, kalau di ajak olah raga pagi lagi Mas mau," seloroh Sandy yang sebenarnya adalah benar adanya.
"Mas ih! Apaan coba!" Rika tersipu malu sambil mencubit lengan Sandy.
"Ya ampun sayang, kamu kok ngegemesin, sih! Lanjut yang semalam ya?"
"Mas," rengek Rika.
Sandy tak perduli tangannya mulai bergerak memainkan dua gunung kembar dan menghisapnya.
"Mas," rintih Rika kembali terbawa hasrat di pagi ini.
Segera Sandy melakukan penyatuan karena, sudah menegang sejak tadi.
"Ah....Mas, pelan-pelan Mas," pinta Rika.
Sedangkan Dimas dan Arka merasa jenuh menunggu, hingga memutuskan untuk menghampiri Sandy ke kamar.
Sialnya saat akan mengetuk pintu kamar Sandy dan Rika, keduanya malah mendengar suara dari dalam sana.
"Mas, ah....Mas, pelan.... Mas."
Glek.
Dimas dan Arka saling memandang, kamar tidak kedap suara itu benar-benar membuat keduanya merasa malu sendiri.
"Di tungguin ternyata dia main!" Geram Dimas.
"Tau nih setan!" Tambah Arka tak kalah emosi.