
"Saya ingin yang terbaik Jeng, saya kira tidak ada salahnya jika kita menjadi keluarga," kata Bunda Jihan.
Mama Yeni mengangguk, ia merasa apa yang di sampaikan oleh Bunda Jihan tidak salah. Apa lagi pagi ini tanpa di duga Bunda Jihan langsung bertamu ke rumahnya, sungguh membuat Mama Yeni merasa terharu.
"Saya tidak mau ikut campur Jeng, tapi saya juga tidak menentang hubungan mereka. Jadi semua keputusan ada pada Rika dan Sandy, jika memang mereka berdua sudah siap saya hanya mengikut saja," jelas Mama Yeni dengan senyum lembut.
Bunda Jihan mengangguk, ia melihat respon Mama Yeni cukup baik, "Bagaimana jika kita resmikan hubungan mereka jeng, minimal bertunangan," pinta Bunda Jihan.
Mama Yeni terdiam sambil menimbang beberapa hal, apa lagi keputusan yang di inginan Bunda Jihan bukanlah hal main-main, "Saya tidak bisa memutuskan sendiri, karena Rika masih memiliki Kakak. Jadi saya juga harus membicarakan ini pada putra sulung saya," kata Mama Yeni.
Bunda Jihan mengangguk mengerti, tidak ada salahnya untuk datang dan membicarakan hubungan Rika dan Sandy. Sebab ia ingin melihat Sandy hanya dengan satu wanita dan memberikan dirinya seorang cucu yang nantinya bisa membuatnya tidak kesepian.
"Dimas," Mama Yeni menghentikan langkah kaki Dimas.
"Ya Ma?" Dimas menatap Mama Yeni.
"Tolong duduk dulu," Mama Yeni menunjuk sofa, "Bunda Jihan ingin bicara."
Dimas mengangguk, sedikit banyaknya ia dapat menebak apa yang kini tengah ingin di bahas oleh Bunda Jihan. Sebenarnya Dimas tidak ingin membahas perihal hubungan Rika dengan Sandy, tapi ia tetap berusaha untuk menghargai Bunda Jihan sebagai orang tua.
"Kamu apa kabar?" sapa Bunda Jihan dengan ramah, "Sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah Bunda."
Dimas tersenyum dan mengangguk, "Iya Bunda, mungkin lain waktu saja."
"Bunda datang ke sini ingin membicarakan tentang hubungan Sandy dan Rika, awalnya Bunda tidak tahu kalau Rika itu adik kamu. Tapi Bunda setuju, mungkin lebih baik kalau mereka bertunangan dulu," kata Bunda Jihan sambil menatap Dimas.
Dimas melihat Mama Yeni, kemudian ia kembali melihat Bunda Jihan, "Maaf Bunda, saya sangat menghargai maksud baik Bunda. Tapi untuk itu saya tidak mengijinkan Rika untuk menjadi istri Sandy, saya rasa Bunda mengerti," tolak Dimas secara halus.
"Dimas, apa tidak sebaiknya di pikirkan dulu Nak," Mama Yeni merasa tidak enak pada Bunda Jihan, tetapi ia juga tidak berani menentang Dimas. Mengingat Dimas adalah wali dari Rika, apa lagi Mama Yeni tahu bertapa besar rasa sayang Dimas terhadap adiknya.
"Maaf Ma, maaf Bunda, saya tidak berniat untuk menolak ataupun melukai hati Bunda karena niat baik ini. Tapi, Rika adalah harta saya yang sangat berharga, saya tidak akan melepas nya bila bukan pada lelaki yang tepat, saya permisi," Dimas langsung bangun dari duduknya dan segera menuju mobil.
Rika dan Lala tercengang dari kejauhan, keduanya mendengar dengan jelas kata-kata Dimas barusan. Di satu sisi Rika merasa terharu karena Dimas sangat menyayangi dirinya, tapi di sisi yang lain ia juga ingin hidup bersama dengan Sandy.
"Sabar," Lala menggosok punggung Rika, "Semua pasti ada jalannya," Lala terus berusaha untuk menguatkan perasaan Rika.
Rika mengangguk, ia mencoba untuk tenang dan percaya akan takdir yang sudah di tetapkan Tuhan pada dirinya.
"Ma, Rika ke kampus dulu ya," Rika mencium punggung tangan Mama Yeni, kemudian punggung tangan Bunda Jihan, "Saya ke kampus dulu Bunda," pamit Rika.
"Iya, hati-hati," Bunda Jihan tersenyum, ia merasa Rika memang wanita yang tepat untuk Sandy.
Rika terus melangkah keluar, ia melihat Dimas yang tengah menunggu Lala di halaman. Setelah Lala masuk kedalam mobil, Dimas mulai melajukan mobilnya, mungkin Lala yang tengah merayu Dimas agar duluan pergi tanpa harus menunggu dirinya.
"Kau memang Kakak Ipar terbaik, tidak seperti Ipar di luar sana," gumam Rika sambil tersenyum, setelah merasa aman Rika langsung berjalan menuju gerbang.
"Enggak naik motor Non?" tanya pak Ujang, seorang satpam yang bekerja di rumahnya.
"Enggak Pak, Rika kuliah dulu ya," Rika langsung berlari, karena Sandy sudah menunggu dirinya.
Setelah melihat mobil Sandy, ia langsung membuka pintu lalu masuk, kemudian duduk manis di samping Sandy.
"Selamat pagi Rika?" goda Sandy.
"Selamat pagi juga Rhoma," celetuk Rika.
"Kau ini ya," Sandy langsung mengacak rambutnya dengan gemas.
"Mas, rambut Rika udah di sisir," kesal Rika.
"Iya maaf," Sandy memasangkan safety belt, dan mulai melajukan mobilnya.
"Mas di rumah ada Bunda," ujar Rika.
"Bunda?" Sandy sedikit terkejut dengan kedatangan Bunda Jihan ke kediaman Rika.
"He'um," Rika mengangguk, "Bunda minta kita berdua bertunangan, tapi Kak Dimas tidak setuju," jelas Rika.
Sandy menatap Rika sekilas, "Mas yang akan menemui Dimas nanti," jawab Sandy.
Rika tidak tahu harus menjawab iya ataupun tidak, tapi ia cukup takut bila Dimas malah memusuhi Sandy.
"Rika turun ya Mas."
"Tunggu," Sandy memegang lengan Rika.
"Apa?" tanya Rika dengan malas.
"Kasih sarapan, lah sedikit."
"Emang Mas enggak makan?" tanya Rika dengan polosnya.
"Ya ampun," Sandy menggaruk kepalanya, "Sekalian gue polosin kali ya ini calon istri," gumam Sandy, "Sayang bukan makan, kiss," jelas Sandy.
Rika langsung mengerutkan bibirnya, ia mengingat kata-kata Lala beberapa saat lalu, "Mas apaan, sih."
"Sedikit saja," pinta Sandy dengan wajah memohon.
"Mas!"
"Sedikit."
Rika mengangguk, dan Sandy perlahan menarik tengkuk nya. Sandy terus berusaha melahap dengan penuh damba, tangannya memegang tengkuk Rika agar tidak menjauh. Sandy menepati janjinya, sesaat kemudian ia melepaskan Rika walaupun dengan terpaksa.
"Rika turun ya Mas," pamit Rika.
"Sayang, kamu mau kan nikah sama Mas?" tanya Sandy.
"Iya Mas, tapi kalau Mas ketahuan selingkuh Rika enggak mau," jawab Rika.
"Sayang Mas setia janji, tapi jangan tinggalkan Mas ya. Atau kamu mau Mas transfer berapa?" tanya Sandy karena ia takut di tinggalkan oleh Rika.
"Uang enggak bisa jamin bahagia, Rika cuman mau Mas setia," jelas Rika dengan senyum lembut, "Rika turun ya Mas," pamit Rika lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ya sayang, Mas juga mau ke rumah sakit."
"Iya, hati-hati," Rika tersenyum dan ia menutup pintu mobil Sandy.
Sandy menatap Rika yang terus berjalan, hatinya masih begitu takut kehilangan Rika. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu saat tidak di sengaja itu Sandy langsung tertarik pada Rika, sampai akhirnya Sandy merasa Rika adalah sebahagian dari hidup nya. Apapun caranya ia akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan Rika.