Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Tidak tergenggam


Malam terasa semakin larut, entah mengapa sepasang kelopak mata belum juga terpejam dengan nyaman. Bukankah saat malam adalah waktu yang tepat untuk melepaskan segala lelah yang ada, angin malam yang berhembus serasa menyejukkan hati yang terus dalam kegelisahan.


Gelisah dalam hidup yang tidak kunjung mendapatkan tujuan, rindu yang semakin dalam pada seorang pria paruhbaya yang biasa di panggil Ayah. Sekaligus harta satu-satunya yang paling tidak ternilai harganya, menatap langit dengan satu bulan namun penuh di kelilingi bintang.


Bibir Lala tersenyum dengan indah, mungkin saat ini dirinya adalah bulan yang bersinar dengan indah di langit yang gelap. Berdiri sendiri namun memiliki banyak kasih sayang dari orang-orang sekitarnya, hanya itu yang dapat di simpulkan oleh hati yang tengah berusaha untuk bisa berdiri dengan tegak.


Pernikahan yang tidak terduga dengan usia yang sangat muda, bahkan belum seumur jagung pun gagal dengan begitu saja. Bahkan mampu mengubah dunia nya dalam seketika, tidak pernah terbayang akan melewati masa sesulit ini dalam hidupnya. Tapi inilah nyatanya luka ini sungguh dalam, bukan hanya tentang cinta yang tidak sampai. Tapi juga pengorbanan yang tidak ber-usai, yang ada hanya meninggalkan banyak luka hingga sulit untuk di terima.


"Kenapa belum tidur."


Dimas melihat Lala yang tengah duduk di ayunan taman belakang. Awalnya Dimas melihat Lala dari atas balkon, dan kini ia menghampiri nya.


Lala tersadar ayunannya dari tadi bergerak, dan kini terhenti setelah sebuah suara yang cukup ia kenali terdengar.


Tidak pernah salah, suara itu memang sudah terbingkai indah di hatinya. Walaupun begitu ia hanya bisa menahan rasa dan mengubur semua cinta yang ada. Tidak pantas, tidak sepadan, tidak lagi indah. Namun anehnya mengapa rasa itu tidak pernah bisa hilang, mungkin orang itu seperti bintang di langit. Indah bertaburan tapi tidak tergapai, hanya bisa memandang keindahan nya saja.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Dimas tahu tanpaknya Lala tengah sibuk dalam pikirannya, Dimas ikut naik ke ayunan dan duduk saling berhadapan dengan Lala. Entahlah walaupun malam yang sangat gelap, tapi wajah wanita itu cukup meneduhkan. Kenapa baru menyadari nya sekarang? Aneh sekali.


"Bapak sendiri kenapa belum tidur?"


Lala tidak ingin Dimas tahu tentang apa yang tengah ia pikirkan, dan ia lebih memilih bertanya kembali pada Dimas. Lagi pula yang ia pikirkan mungkin bukanlah sesuatu yang penting, hingga tidak penting juga untuk di katakan.


Dimas tersenyum sambil menatap Lala, tapi benar saja ia memang belum bisa tertidur, "Entahlah, tiba-tiba saja aku ketempat ini," jawab Dimas sambil mendesus.


Lala mengangguk, kemudian ia menatap lain arah. Menurut Lala terlalu sakit bila harus menatap Dimas, entahlah. Wajah Dimas masih terlalu melekat di hati Lala, perasaan pun masih saja sama tapi tetap saja Dimas tidak bisa di miliki. Tidak ingin salah mengartikan kebaikan Dimas, hingga kini Lala benar-benar membatasi diri nya.


"Maaf," ujar Dimas tiba-tiba memecahkan keheningan di antara keduanya.


Lala beralih menatap Dimas, ia cukup bingung dengan kata maaf yang di utarakan oleh Dimas.


"Maaf karena sudah pernah berbicara kasar pada mu," lanjut Dimas yang paham akan wajah Lala yang menatapnya penuh tanya.


"Apa itu perlu Pak?" tanya Lala kembali.


Dimas mengangguk, "Aku rasa perlu, dulu aku memang sangat kasar pada mu," kata Dimas sambil menatap Lala.


Lala menunduk, Lala merasa tatapan Dimas berbeda. Tatapan itu terasa sangat dalam. Namun lagi-lagi masih dengan alasan yang sama, Dimas adalah bintang di langit yang tidak tergenggam. Hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh, hanya bisa memimpikan tanpa bisa memiliki.


Ada butir-butir cairan bening yang ingin jatuh dari kelopak mata, namun sekuat tenaga di tahan sebab tidak ingin di katakan tidak tahu diri. Sudah di tolong sampai di sini pun Lala sudah sangat bersyukur, jadi ia tidak akan meminta lebih. Biarkan semua perasaan terkubur rapat tanpa perlu di tunjukan.


Lala mengangguk, "Iya," jawab Lala. Sebenarnya bukan hanya memikirkan Ayahnya saja, tapi Lala juga memikirkan alasan Dimas siang tadi tadi yang ingin mengecup bibirnya. Sebenarnya Lala terbangun saat Dimas meletakan nya di atas ranjang, namun karena pengaruh obat yang masih menguasainya ia tidak mampu membuka mata. Sampai akhirnya tiba-tiba Lala merasa wajah Dimas hanya berjarak beberapa senti darinya, Lala tidak ingin membuat Dimas malu hingga ia berpura-pura tertidur dan tidak tahu apa-apa. Lala masih bingung dan bertanya-tanya, namun jawaban yang di dapat nya adalah saat dulu perjanjian mereka di kamar hotel. Jika ia akan membayarnya pada Dimas.


Hati seakan semakin tergores, tersayat dengan penuh luka. Rasa malu bercampur cinta seakan tercampur menjadi satu, tapi biarlah seperti ini saja. Dekat dengan nya saja sudah membuat hati Lala merasa bahagia, dia hanya bisa di impikan tanpa bisa di miliki.


"Kalau kau sudah sembuh, aku berjanji akan membawa mu ke Jerman," kata Dimas lagi.


"Terima kasih Pak," kata Lala dengan hati yang semakin bahagia, "Saya tidak mengerti harus membalas kebaikan bapak dengan cara apa."


"Sebenarnya aku ingin berbicara sesuatu, aku pun tidak mengerti, tapi," Dimas menatap wajah Lala yang tengah menatap dirinya, sejenak Dimas menjeda kata yang ingin ia lontarkan. Menimbang dengan hati yang benar-benar matang. Tapi pertanyaannya masih adakah rasa cinta yang dulu dimiliki Lala untuknya, akankah semua itu kini menghilang seiring dengan waktu dan kata-kata tajam yang sering dulunya ia lontarkan.


"Bapak mau bicara apa?" tanya Lala, sebab Dimas terlihat diam sambil menatap dirinya.


Dimas tersadar dan ia kembali menetralkan diri nya, terasa cukup sulit untuk di katakan. Tapi ini bagaikan ludah yang ia buang dan kini ia telan lagi, sangat menjijikan. Namun terasa sulit bila pun harus di lupakan.


Lala masih terus menatap Dimas, entah kata apa yang ingin keluar dari bibir Dimas hingga terlihat ia cukup berat untuk berbicara.


"Tidak ada lupakan saja, kau sekarang tidur ya. Besok kita ke kampus," kata Dimas yang tidak ingin melanjutkan kata yang ingin ia ucapkan.


Lala mengangguk, tidak ingin memaksa Dimas untuk terus berbicara.


"Dimas," panggil Mama Yeni.


Dimas dan Lala memutar leher dan menatap Mama Yeni.


"Kenapa Ma?" tanya Dimas.


"Ada Zea di ruang tamu, katanya mau ketemu sama kamu," kata Mana Yeni.


"Zea?" tanya Dimas bingung, ada apa dengan Zea yang tiba-tiba datang dan menemuinya kembali, "Saya masuk dulu," Dimas langsung kembali masuk.


Lala hanya menatap Dimas dari kejauhan, perlahan Dimas mulai menghilang karena di telan kejauhan.


"Hiks....hiks....hiks....." tangis Lala pecah, saat tak mampu lagi menahan air mata kegelisahan. Entah sampai kapan rasa ini bisa ia tahan.


*


Othor lanjut kalau vote naik, hehehe. Kala enggak Othor mau bobo sok cakep aja.