
"Kakak Ipar," Rika langsung memeluk Lala.
Lala memutar bola matanya dengan jenuh, ia bisa menebak jika adik iparnya pasti sedang butuh bantuannya lagi, "Aku lagi males," kata Lala sambil membuang wajahnya kearah lain.
Rika kembali memutar otak, ia tidak boleh menyerah untuk mendapatkan bantuan dari Lala. Karena ia ingin bertemu dengan Sandy, tentu saja tanpa Dimas tahu. Dan caranya adalah Lala yang harus bekerja keras untuk dirinya.
"Kakak ipar," panggil Lala lagi.
Lala melirik Rika dengan cuek, "Jangan bilang mau balik sama Sandy, dan aku harus buat Kak Dimas mu itu tidak tahu!" tebak Lala.
"Hehe....." Rika langsung menunjukkan giginya, "Kakak ipar aku pinter banget sih," Rika tersenyum dan langsung memeluk lengan Lala.
Lala mendesus karena ia sedang malas sekali, apa lagi ia sedang sangat lelah.
"Kakak ipar tolonglah, kamu enggak kasihan sama aku?" Rika menunjukkan wajah melasnya, ia sangat berharap agar Lala mau menolongnya.
Lala sejenak diam dan mengedarkan pandangannya, ia takut ada Dimas yang tiba-tiba saja ada di antara mereka. Namun, sepertinya setelah kelas selesai Dimas sudah benar-benar kembali ke ruangan, "Kamu enggak takut Kak Dimas tahu?" tanya Lala.
Sebenarnya Lala tidak tahu apakah yang ia lakukan salah atau benar, hanya saja ia pun tidak tahu apakah sudah benar mengambil keputusan untuk menolong Rika. Di hati kecilnya ia juga takut jika Dimas marah padanya, Lala pun takut jika Dimas pergi darinya.
"Kamu yakin sama Sandy?'
Rika mengangguk, "Aku yakin, dan aku butuh bantuan kamu La. Tolongin aku," pinta Rika dengan yakin serta ia sangat berharap agar Lala mau menolong dirinya.
Lala berdiri, menurut nya tidak salah bila menolong Rika. Lagi pula Rika dulu sangat banyak menolong dirinya, apa lagi selama ia terpuruk hanya Rika yang menjadi malaikat penolong nya.
"Ya udah, aku ke ruangan AA Dimas. Kamu jaga diri baik-baik ya," kata Lala.
Rika tersenyum, ia benar-benar bahagia saat Lala bersedia untuk menolong dirinya, "Makasih ya La," Rika benar-benar tidak menyangka jika kini ia sangat membutuhkan Lala untuk menolong dirinya, walaupun entah sampai kapan semua ini akan terus berlanjut.
"Aku bahagia kalau kamu bahagia."
Lala berdiri di depan ruang kerja Dimas, ia sedikit ragu untuk masuk. Setelah Lala menarik nafas, ia langsung memutar gagang pintu dan masuk.
Deg.
Lala terdiam saat melihat seorang dosen yang tengah duduk di atas pangkuan Dimas, Lala mendadak gagu dan air matanya langsung menetes. Setelah tersadar ia langsung mengusap nya, "Maaf," lirih Lala, ia kembali menarik pintu lalu pergi.
Dimas juga sangat terkejut dengan kejadian yang barusan terjadi, ia cepat-cepat bangun hingga seorang wanita yang tengah berada di pangkuan nya langsung terjatuh.
"Auuuu.....Dimas!!" seru Nisa.
"Apa-apaan kau ini!!" geram Dimas.
"Kau kenapa sih?" Nisa adalah salah satu dosen baru, ia dan Dimas juga sudah saling mengenal sejak beberapa bulan lalu. Dan sedikit banyaknya Nisa cukup tertarik pada Dimas, hingga ia dengan sengaja berpura-pura terjatuh di atas pangkuan Dimas. Namun, tanpa di duga seorang mahasiswi masuk, dan membuat Nisa kebingungan dengan Dimas yang mendadak panik.
"Dasar wanita gila!" geram Dimas.
Dimas tidak perduli pada Nisa, saat ini ia ingin menjelaskan pada Lala jika semuanya tidak sesuai dengan apa yang kini Lala pikiran. Ia berdiri di depan ruangan nya dan mengedarkan pandangannya, sambil mencari kemana Lala pergi. Karena merasa tidak melihat istrinya Dimas mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Lala. Namun, sepertinya Lala tidak menjawab panggilan tersebut.
"Dimas kamu kenapa sih?" Nisa berdiri di samping Dimas, ia benar-benar bingung mengapa Dimas sepertinya sangat memikirkan wanita yang memergokinya barusan, "Dia itu cuman mahasiswa, dan dia itu tidak akan berani berbicara pada siapapun!" kesal Nisa lagi.
Dimas langsung menyenggol bahu Nisa, ia benar-benar takut jika Lala marah padanya. Kakinya terus berjalan dengan mata yang berusaha untuk menemukan keberadaan Lala, karena tidak juga menemukannya akhirnya Dimas memutuskan untuk pulang ke rumah.
Langkah kaki melangkah dengan lebar, ia bahkan sampai berlari menaiki anak tangga dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sampai akhirnya Dimas melihat Lala yang tengah menangis di sudut kamar, dengan perlahan Dimas masuk dan menutup pintu. Dimas mulai berjongkok di hadapan Lala.
Dimas terdiam dan menatap wajah Lala dengan rasa bersalah, tapi ia juga tidak menduga jika Nisa duduk di pangkuan nya. Malahan saat bersamaan Lala yang juga masuk tiba-tiba, sebab biasanya Lala selalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
"Sayang, Aa tadi....." Dimas tidak bisa lagi berbicara saat mata Lala yang terus meneteskan air mata menatap dirinya, "Maaf," lirih Dimas.
"Aa, Lala kangen sama Ayah. Ayah kapan pulang ke Indonesia?" tanya Lala, ia tidak ingin membahas perihal apa yang barusan ia lihat. Karena Lala takut Dimas meninggal dirinya.
"Kamu mau ketemu Ayah?"
Lala mengangguk sambil mengusap air matanya, "Lala udah kangen banget sama Ayah," kata Lala lagi.
"Sayang," Dimas tahu istrinya kini tengah cemburu, dan itu wajar menurut Dimas, "Maaf ya, tadi itu Aa juga bingung tiba-tiba Nisa duduk di pangkuan Aa, kamu jangan mikir yang buat kamu terluka ya," pinta Dimas dengan takut.
"Terserah Aa aja mau gimana, Lala sadar Lala enggak ada apa-apanya kalau di bandingkan dengan Ibu Nisa," jawab Lala.
"Sayang," Dimas langsung memeluk Lala, ia sangat takut jika Lala kembali bersedih. Dimas terus saja memeluk Lala dengan erat, karena Dimas sedang ingin meyakinkan Lala akan cintanya yang sangat besar, "Aa cuman cinta sama Lala, gimana caranya biar kamu percaya?"
Lala memeluk Dimas dengan erat, ia yakin jika Dimas tidak berbohong, "Enggak usah pangku-pangku juga kan Aa."
"Tidak ada yang mau memangku wanita itu sayang, Aa tidak bohong. Kalau tidak ayo kita temui dia," ajak Dimas.
Lala melihat manik mata Dimas, ia yakin suaminya tidak berbohong, "Kalau sekali lagi Aa begitu Lala juga bakalan minta di pangkuin sama cowok di kampus," ancam Lala.
"Sayang," Dimas ketakutan saat mendengar ancaman Lala yang terdengar begitu mengerikan di telinga nya.
Ting.
Ponsel Lala berdering.
Lala melepaskan diri dari Dimas, ia membuka chating yang masuk.
[Kakak ipar,] Rika.
Jari Lala mulai bergerak, membalas chatting tersebut.
[Ya udah, cepat pulang ya. Jaga diri, Kakak mu udah jinak,] Lala.
"Sayang kamu sedang balas pesan dari siapa?" tanya Dimas, sebab ia di acuhkan karena Lala yang terlihat sibuk berbalas pesan.
Lala meletakan ponselnya dengan asal, ia masih memasang wajah sedihnya, "Lala kesel!"
"Kan tadi Aa udah jelasin ke kamu, Aa janji ini tidak akan pernah terulang lagi," ujar Dimas dengan pasti.
"Ish....Aa jahat! Ngomong sayang ke Lala, tapi perempuan lain di pangku-pangku!"
"Bukan di pangku-pangku! Dia yang tiba-tiba duduk di pangkuan Aa."
"Bohong!" Lala langsung duduk di sisi ranjang, ia masih sangat kesal pada Dimas.
"Sayang, Aa enggak bohong."
"Padahal Lala udah enggak marah sama Aa Dimas, tapi demi adik ipar," batin Lala.
"Sayang, begini saja. Mulai hari ini kamu jadi asisten Aa. Sekalian kamu harus belajar memimpin perusahaan Ayah, ayo ikut Aa ke kantor," Dimas langsung menarik lengan Lala, ia lebih memilih membawa istrinya pergi kemanapun. Dari pada harus melihat istrinya yang kini sangat mudah menagis.