
"Sudahlah, ayo ikut saya ke kantor!"
Dimas tidak ingin berdebat dengan Lala, karena istrinya itu tidak akan mengerti. Dan Dimas pun sedang tidak ingin berdebat.
"Pak, Lala ada kelas," kata Lala yang tidak ingin pulang.
Dimas berhenti melangkah dan Lala juga berhenti, kini Dimas menatap Lala.
"Kamu asisten saya bukan?" tanya Dimas.
"Iya, tapi......" Lala memasang wajah melas dan takut jika Dimas marah.
"Ya sudah ikut saya, dosen kamu hari ini juga Bimo si tenggil itu!" kesal Dimas dan ia menarik Lala untuk kembali ikut dengan nya.
Lala tidak lagi membantah, ia menurun saja dan ikut bersama dengan Dimas. Sampai akhirnya Dimas membuka pintu mobil dan Lala langsung masuk, kemudian duduk manis di samping Dimas.
Dimas terus melajukan mobilnya membelah jalanan, Lala duduk terdiam di samping nya. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh bocah 18 tahun itu.
Sesekali Dimas mencuri-curi pandang melihat istrinya, "Mikirin apa?" tanya Dimas. Sekilas ia melirik Lala, setelah itu ia kembali berfokus melihat jalanan.
Lala kini beralih menatap Dimas, tapi ia masih diam saja. Tanpaknya Lala ragu untuk bertanya kepada Dimas.
Dimas kembali melirik Lala, "Kamu mau ngomong apa?" tanya Dimas lagi.
"Pak Dimas, kita kan udah nikah," kata Lala dengan ragu dan suara yang kecil.
"Lalu?" tanya Dimas lagi, karena Lala hanya diam tanpaknya Dimas tahu Lala sangat sulit untuk bertanya.
"Apa kita menikah ada kontrak nya?" tanya Lala lagi dengan memberanikan diri.
Cittttttt.
Dimas langsung mengerem mendadak saat mendengar pertanyaan Lala, Dimas sangat terkejut sekali dan tidak menyangka jika pertanyaan itu keluar dari mulut Lala.
"Au....." Lala terhuyung ke depan, dan kepalanya mengenai dasbor.
Tin....tin....tin...
Suara klakson mobil dari belakang, karena Dimas berhenti di tengah jalan.
"Pak Dimas kenapa mendadak berhenti?" tanya Lala bingung.
Dimas tidak memperdulikan klakson mobil di belakang sana, ia kini hanya menatap Lala. Bahkan ia pun tidak perduli dengan pertanyaan Lala mengapa ia berhenti mendadak, yang hanya Dimas perdulikan tentang pertanyaan Lala mengenai kontrak pernikahan mereka.
"Ada!" jawab Dimas, "Ada kontrak pernikahan kita, dan kau harus menandatangani nya," lanjut Dimas lagi.
Deg.
Lala seketika terdiam sambil menatap Dimas, satu butir air mata Lala jatuh begitu saja.
"Kenapa?!" tanya Dimas.
Lala tersenyum kecut, dan menggeleng karena ia pun tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dan Dimas pun langsung melajukan mobilnya kembali.
Dimas memarkirkan mobilnya di basement apartemen, sedetik kemudian ia turun dan membuka pintu mobil untuk Lala.
Lala mulai tersadar jika kini Dimas sudah memarkirkan mobilnya, ia tidak bertanya. Karena hatinya masih berusaha berdamai dengan kata-kata Dimas barusan. Sampai akhirnya mereka sampai di lantai dua puluh, dan Dimas menarik Lala masuk ke dalam apartemen miliknya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Lala, ia hanya diam dan berdiri di ruang tamu yang berukuran lumayan besar itu.
"Kenapa berdiri di sana?" tanya Dimas.
Lala mengangguk dan seketika ia kembali merasa asing, kemudian ia duduk di sofa sambil memegang tasnya. Tidak lama kemudian Dimas membuka laci dan melemparnya dua buah buku berukuran cukup kecil, dengan warna hijau dan merah ke atas meja.
Lala menatap buku tersebut, tanpaknya ia dapat menebak itu buku apa.
"Ayo tanda tangani kontrak pernikahan kita di masing-masing buku itu, saya sudah menandatangani nya tinggal kau saja!" titah Dimas sambil melempar bolpoin pada meja.
Tangan Lala bergerak mengarah pada buku-buku tersebut, dan ia melihat ada foto Dimas di sana, lalu foto nya berada di sebelah nya lagi.
"Buku nikah?" tanya Lala.
"Cepat tanda tangan!" kata Dimas lagi.
Lala diam, tapi ia kembali memberanikan diri untuk menatap Dimas, "Bukannya tadi bapak bilang kita nikah Kontrak?"
Glek!
Lala meneguk saliva saat mendengar kata-kata Dimas.
"Cepat! Jangan main-main! Atau kau suka dengan Bimo tenggil itu!" kata Dimas lagi, yang masih geram pada Bimo yang sempat memegang lengan istri nya.
"Pak Dimas apa sih!" kesal Lala, dan dengan cepat ia menandatangani buku nikah yang kata Dimas itu adalah kontrak nikah mereka dengan waktu seumur hidup.
"Panggil Aa!"
"Aa?" tanya Lala bingung.
"Iya Sayang!" jawab Dimas.
Wajah Lala seketika memerah dengan mata yang melebar, bahkan ia masih terdiam karena terkejut dengan panggilan Dimas.
Dimas melambaikan tangan nya di depan wajah Lala, karena Lala seketika mematung.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Dimas.
Lala mengangguk, "Jantung Lala kok dek...dek gitu?" tanya Lala dengan bodohnya, sesaat kemudian ia sadar dengan pertanyaan nya. Kemudian Lala cepat-cepat menutup mulut nya.
"Hehehe....." Dimas terkekeh karena kelucuan tingkah Lala, jika wanita lain mungkin tidak akan seaneh istri yang suka sekali keceplosan, "Memangnya deg....deg...nya seperti apa?" goda Dimas.
Lala langsung menutup wajahnya dengan bantal sofa, karena Dimas kini duduk di samping nya. Lala tidak percaya mengapa bisa ia sebodoh itu, sungguh Lala merutuki kebodohannya sendiri.
"Hayo sini Aa mau denger," goda Dimas lagi.
"Pak Dimas!!!!" teriak Lala yang tidak kuat dengan Dimas yang terus menggodanya.
"Apa sayang?" jawab Dimas sambil menarik Lala kedalam pelukannya.
"Lepasin.....gerah tau Pak," kata Lala, sebenarnya bukan Lala tidak mau untuk di peluk Dimas. Tapi ia sangat malu, apa lagi Dimas kini tengah tersenyum sambil menggoda dirinya.
"Sama, Aa juga gerah! Ke kamar yuk!" ajak Dimas.
"Ngapain?!" tanya Lala dengan bodohnya.
"Ngadem lah," jawab Dimas.
Dimas tidak lagi mendengarkan penolakan Lala, karena Lala juga hanya menolak di bibir saja. Buktinya saat Dimas mengangkat tubuh nya ia tidak bergerak dengan kuat.
"Pak Dimas, bukannya tadi katanya mau ke kantor?"
Dimas kini meletakan Lala dengan hati-hati di atas ranjang, tapi ia langsung menindih Lala.
"Rencana nya begitu, tapi mendengar pertanyaan kontrak pernikahan dari mulut mu. Aku jadi tidak ingin pergi ke kantor," jelas Dimas.
"Pak Dimas!"
"Panggil Aa, aku rindu dengan panggilan mu yang manja saat dulu!" titah Dimas.
"Ish....." Lala berusaha mendorong dada Dimas, tapi tanpaknya sulit sekali.
"Ayo panggil!" pinta Dimas lagi.
"Enggak! Bangun!" teriak Lala sambil menahan malu.
"Dulu katanya Aa sarangheo....." ejek Dimas lagi.
"Mana ada!!!" kata Lala yang berusaha berdalih.
"Apa iya," goda Dimas.
"Ish....." Lala berteriak dan menutup wajahnya, "Sana jauh-jauh, katanya mau ngadem. Kalau begini bukan ngadem namanya!!" kesal Lala.
"Siapa bilang bukan ngadem?" tanya Dimas.
*
Eng ing eng....jreng....jreng....
Like dan Vote ya Kak tolonglah.