Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Pasrah


Plak!!!


Tangan Dimas melayang di udara dan mendarat di wajah Rika, seketika membuat Rika terjatuh pada sofa. Amarah Dimas sudah tidak bisa lagi dibendung, karena Rika yang semakin menjadi-jadi. Apa yang barusan di lihat oleh Dimas adalah hal yang sangat menjijikan, menurutnya tidak pantas jika wanita dan pria belum menikah yang bercumbu mesra di dalam kamar.


"Apa mau mu sekarang?!" sergah Dimas.


Rika masih terlungkup di atas sofa, perlahan bangun sambil menatap Dimas penuh kebencian. Kini Rika merasa Dimas sudah sangat keterlaluan, pertama kalinya tangan Dimas sampai pada wajahnya.


"Aku ingin menikah dengan Mas Sandy!" seru Rika.


"Keluar dari rumah ini dan pergi jangan pernah kembali lagi!" Dimas menunjuk arah pintu yang terbuka lebar.


Mama Yeni melihat kedua anaknya tengah berada dalam ketegangan, cepat-cepat kakinya berjalan kearah kedua anaknya dengan wajah panik.


"Dimas, Rika," Mama Yeni terlihat takut saat melihat wajah Dimas, di tambah lagi Rika yang juga terlihat menantang Dimas, "Tolong bicara baik-baik," lirih Mama Yeni semakin takut.


Dimas perlahan melihat Mama Yeni, "Dia sudah hampir melakukan perbuatan gila bersama Sandy," jelas Dimas sambil berusaha tetap tenang.


Mama Yeni ternganga, Ia menggeleng beberapa kali dan merasa tidak percaya, "Kau tidak serendah itu bukan Rika?" tanya Mama Yeni dengan suara pelan.


Rika tahu hati Mama Yeni tengah merasa sakit, tapi ia juga ingin mengakhiri semuanya dengan jalan pintas. Rika tetap keras ingin bersama dengan Sandy.


"Jawab Mama?" suara Mama Yeni semakin bergetar, seiringan dengan air mata yang terus tumpah begitu saja.


"Kak Dimas juga dulu melakukannya sebelum mereka menikahkan Ma?" tanya Rika.


Hati Mama Yeni seakan tercabik-cabik mendengar pertanyaan Rika, jawabannya memang tidak secara langsung. Akan tetapi pertanyaan itu mampu membenarkan apa yang di katakan oleh Dimas. Mama Yeni mengangkat tangannya mengusap dada agar tetap baik-baik saja, tangis Mama Yeni benar-benar pecah. Perlahan ia duduk di sofa, karena kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri.


"Kenapa Rika?" tanya Mama Yeni dengan penuh kepiluan.


Rika menatap Mama Yeni lalu beralih menatap Dimas, "Kau juga bejat kan Kak, sebelum menikahi Lala kau sudah terlebih dahulu tidur dengannya?"


"Cukup!" teriak Mama Yeni sambil menarik rambutnya, "Jangan kau samakan keadaan Kakak mu, dengan keadaan mu saat ini. Kalian berbeda, kau perempuan Kakak mu laki-laki bertanggungjawab!" sergah Mana Yeni.


"Mama selalu membela Kak Dimas, padahal apa yang dilakukan Kak Dimas juga salah!" Rika masih mencoba untuk membela dirinya, perasaan masih sama ingin hidup bersama dengan Sandy.


"Baiklah, mulai sekarang kau keluar dari rumah ini. Cari kebahagiaan mu sendiri, jangan pernah kembali, Mama tidak akan pernah ikut campur dalam urusan mu. Kau bebas," ujar Mama Yeni penuh luka.


"Kau juga boleh keluar dari rumah ini kalau kau mau!" Dimas menatap Lala yang berdiri di kejauhan, entah sejak kapan Lala berada di sana. Akan tetapi saat ini Dimas sudah melihat Lala berada di sana.


Deg.


"Dimas?" Mama Yeni bingung dengan Dimas yang juga berkata demi kian kepada Lala.


"Biarkan saja Ma, Dia sudah membuat aku kecewa dengan berpura-pura hamil hanya karena ingin memberitahukan kepada Sandy di mana keberadaan Rika," jelas Dimas, dengan menahan sakit hati.


Rika terbelalak mendengar kenyataan yang cukup mengejutkan, bahkan dengan membohongi Dimas demi dirinya, "Lala, kamu bohong sama Kak Dimas demi ketemu aku?" Rika diam di tempatnya sambil bertanya pada Lala.


Lala meremas dress hitam yang Ia pakai, air matanya semakin deras mengalir. Menyesal pun sudah percuma, ia tidak mengelak sedikitpun tentang kata-kata Dimas. Karena kesalahannya Rika hampir saja hancur karena bersama dengan Sandy.


"Dan kalian memang sahabat yang sejati, silahkan pergi. Cari tempat yang menurut kalian bisa bahagia, kalian bebas!" tegas Dimas.


"Aa," Lala berlari ke arah Dimas, Ia berjongkok dan memegang kaki Dimas. Lala tidak ingin pergi apa lagi berpisah dari Dimas, tidak ada yang bisa membuatnya nyaman selain bersama dengan Dimas.


Dimas sekuat tenaga mengepalkan kedua tangannya, ada air mata yang ingin tumpah tapi di tahan dengan kuat. Rasa kesal akan Lala yang berbohong padanya dengan Rika yang hampir melakukan hal gila bersama Sandy, adalah hal yang sangat membuat perasaan Dimas merasa tidak dihargai.


Rika tidak lagi membantah, Ia berjalan kearah Lala dan ikut berjongkok, "Lala," Rika tidak tahu harus melakukan apa, yang jelas rasa bersalah begitu besar di rasakan. Bahkan karena menolong dirinya rumah tangga Lala dan Dimas kini berada di ambang perpisahan.


Lala menggeleng sambil terus menangis, menyesali perbuatannya. Lala sadar, kesalahannya sudah sangat fatal tetapi Ia berharap Dimas tidak akan menceraikannya.


"Aa, maaf," lirih Lala dengan air mata yang tanpa hentinya mengalir.


"Lala, bangun," Rika berusaha untuk membantu Lala berdiri, tetapi Lala hanya menggeleng sambil terisak sambil terus berada di tempatnya.


"Kalian berdua boleh pergi, untuk apa memohon. Bukankah aku ini tidak perlu kalian hargai!" papar Dimas.


Rika tidak tega melihat Lala yang terus menangis sambil memeluk kaki Dimas, ini semua karena dirinya, "Kak Dimas, tolong maafkan Lala. Rika janji akan ikutin apapun yang Kakak bilang. Rika enggak akan ada hubungan lagi sama Mas Sandy," kata Rika dengan yakin.


Lala tercengang melihat Rika, tidak hanya Lala tapi juga Mama Yeni.


"Itu bukan urusan ku lagi, semua terserah pada mu. Kau sudah aku berikan kebebasan, silahkan!" Dimas melepaskan tangan Lala yang memegang kakinya, kemudian Ia pergi dengan membawa kemarahan yang semakin menguasai dirinya.


"Aa!!!" seru Lala, air matanya terus tumpah, seiring dengan isak tangis yang terdengar semakin pilu. Lala hanya bisa berteriak sambil memohon berharap Dimas mau memaafkan dirinya.


"Ma," Rika langsung berlari kearah Mama Yeni, "Maafkan Rika, Rika janji bakalan nurut. Enggak akan mengulangi lagi," pinta Rika.


"Iya," Mama Yeni langsung memeluk putrinya, rasa sayang Mama Yeni begitu besar. Sebesar apapun kesalahan anak-anaknya Ia akan memaafkan dengan mudahnya.


Dimas masuk keruang kerjanya, melempar saru pas bunga yang di letakkan di atas meja. Bayang-bayang saat Rika bersama Sandy terus terngiang-ngiang di kepalanya, andaikan saja Ia tidak datang mungkin semua sudah terjadi. Lalu Ia akan menjadi lelaki paling bodoh yang tidak bisa menjaga adik kesayangan.


"Kenapa harus Sandy, apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini!"