
Kakak cakep tercinta, tolong like dan Vote, terima kasih.
Selamat membaca.
***
Mama Yeni benar-benar tidak tahan lagi dengan sikap anaknya, kali ini ia harus mendapatkan jawaban yang benar.
Ini bukan Rika, putri tidak begini.
"Rika, Mama masuk ya Dek," Mama Yeni langsung memutar gagang pintu, melihat putrinya tengah sibuk dengan laptopnya.
Perlahan Mama Yeni semakin melangkah mendekati Rika.
"Dek, Mama mau bicara," Mama Yeni ikut naik ke atas ranjang.
Rika menutup laptopnya dan beralih menatap Mama Yeni dengan serius.
"Mama mau nanya serius sama kamu, kamu jawab baik-baik dan jangan ada kemarahan, Mama cuman mau kita bahagia itu aja."
Mama Yeni tidak ingin lagi terus berdebat dengan Rika, ia pun tidak mau masalah Rika dan Sandy terus saja berlarut-larut hingga hari ini semua harus di selesaikan.
Rika menarik napas, bisa menebak jika Mama nya akan bertanya masalah nya dengan Sandy.
"Sebenarnya kamu kenapa, kamu jujur ke Mama, kamu menyimpan apa dari Mama?"
Degh!
Jantung Rika serasa berdetak lebih kencang, secepatnya ia mengambil botol minumnya dan mulai meneguknya agar membuatnya lebih tenang.
"Kalau kamu tidak suka di nikahi dengan cara seperti kemarin itu, kamu kan bisa bilang ke Sandy, dia bukan tidak mungkin untuk memenuhi apapun yang kamu mau kan?" Tanya Mama Yeni dengan nada yang lembut, agar tidak ada keributan seperti sebelumnya.
Rika masih diam tanpa kata, andai saja Mama Yeni tahu alasannya.
Flash on.
Setelah selesai akad nikah Rika langsung masuk ke dalam kamar dan meluapkan kekesalannya, tiba-tiba ia menggigil dan mimisan.
Sudah berhari-hari ia selalu merasa lelah tanpa alasan, mimisan dengan begitu sering, sampai akhirnya keesokan harinya memutuskan untuk memeriksa keadaan nya sendiri.
Saat mengetahui keadaannya yang sebenarnya Rika memutuskan untuk pergi dari hidup Sandy.
Tapi sayang saat itu statusnya sudah menjadi istri, akhirnya Rika membesar-besarkan masalah yang kecil, membuat seakan ia tidak menginginkan pernikahan nya sama sekali.
Setiap hari Rika seakan membuat Sandy bersalah, karena menikahinya dengan menjebak.
Flashback off.
"Rika, kamu dengar Mama kan?" Mama Yeni menepuk pundak Rika, hingga tersadar dari lamunannya.
Rika mengangguk ia hanya tersenyum sambil menatap wajah Mama Yeni.
"Ma, mulai hari ini sering-sering lihat wajah Rika, ya," tutur Rika tanpa sadar, "sering-sering marah sama Rika juga, nanti kalau-" Rika tersadar dengan apa yang barusan di ucapkan nya.
"Kalau?" Tanya Mama Yeni penasaran.
Kata apa yang ingin di ucapkan oleh putrinya barusan.
"Rika, Mama," Lala langsung masuk saat melihat pintu kamar Rika yang terbuka lebar, apa lagi kamar mereka saling bersebelahan.
Rika dan Mama Yeni menatap pintu melihat Lala yang semakin mendekati mereka.
"Kamu udah enakan?"
"Udah Ma, sedikit masih lemas, tapi kalau tidur terus Lala tambah lemes jadinya demam."
"Ya udah, tapi kamu tidak usah kerja berat-berat ya," kata Mama Yeni memberi nasehat.
"Iya Ma, Rika kamu minta maaf gih, sama Sandy, enggak enak tahu kita serumah marahan mulu," pinta Lala.
"Enggak minat," ketus Rika.
Rika memilih membaringkan tubuhnya dan tidak ingin membahas Sandy.
"Rika, kamu tidak boleh begitu, ayo bangun kamu ke rumah sakit sekarang Mama yang siapkan rantang, ini udah sore kalian bisa makan bareng," pinta Mama Yeni.
"Enggak ah, Ma, males banget!"
"Kamu bangun sekarang, Mama sedang tidak ingin ribut, tensi Mama bisa naik," kata Mama Yeni berusaha tidak emosi.
"Ya udah, iya," Rika terpaksa menuruti keinginan Mama Yeni.
"CK!" Rika berdecak dan sangat malas sekali bertemu dengan Sandy.
Bukan malas dalam hati tidak ingin, tetapi ia hanya sedang berlatih untuk bisa hidup tanpa Sandy.
Begitu pun juga sebaliknya, Rika ingin Sandy bisa bahagia tanpa dirinya, meskipun Rika tahu Sandy sangat mencintai nya dan Rika bahagia di cintai oleh lelaki seperti ini.
"Rika," Lala duduk di sisi ranjang menatap sahabat sekaligus adik iparnya.
"Em?"
"Lu, enggak lagi nyimpen masalah dari kita sekeluarga kan?"
"Masalah apaan, gue baru sadar ternyata gue enggak cinta sama Mas Sandy dan gue enggak siap nikah muda, gue juga mau minta Kak Dimas buat pindah kuliah ke luar negeri," jawab Rika.
Setelah menjawab pertanyaan Lala Rika langsung turun dari ranjang menuju meja rias dan memakai sedikit makeup untuk menutupi wajah pucat nya.
Kemudian memakai jaket dan segera keluar dari kamarnya meninggalkan Lala yang masih diam menatap dirinya.
Setelah Rika turun dari lantai dua Mama Yeni sudah menunggu di ambang tangga memberikan rantang dengan isi makanan di dalam nya.
Rika membawa rantang tersebut dan kali ini karena hari sudah malam ia memutuskan untuk naik mobil di antar oleh supir.
Sampai di rumah sakit Rika langsung turun dari mobil, dengan membawa rantang di tangannya ia segera berjalan menuju ruangan Sandy.
***
"San, jadi Rika itu istri lu?"
"Cantik kan?" Tanya Sandy.
"Iya, tapi masih bocil," ujar Tiara, ia keluar dari ruangan Sandy tapi sedetik kemudian kembali masuk dengan terburu-buru.
"Kenapa?!"
"Dia datang!" Tiara panik.
"Dia siapa?" Sandy masih tenang.
"Psikiater sialan, istri lu bego!" Jelas Tiara.
"Rika?"
"Iya, memangnya istri mu siapa lagi?" Geram Tiara.
Pintu perlahan di dorong, Tiara yang tengah kebingungan tiba-tiba tersandung karena panik akhirnya ia terduduk di pangkuan Sandy.
Rika membuka pintu dan melihatnya, perlahan kakinya melangkah masuk dan meletakkan rantang pada meja.
"Ini masakan Mama, dan Mama minta aku buat nganterin ke sini!" Kata Rika tersenyum lembut.
Tiara segera bangun dari pangkuan Sandy, kemudian ia menatap Rika seakan bingung.
"Mama?" Tanya Tiara.
"Maaf Bu, Mama Rika tukang catering, dan ini Rika cuman ngantar aja," jelas Rika.
Sandy terdiam sambil menatap wajah Rika, tidak tahu mengapa tapi ia merasa ada yang aneh.
Jika dulu Rika akan cemburu menangis dan marah tapi, kini terlihat biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"O, iya, saya pikir kamu kenal baik sama calon suami saya," ujar Tiara tengah ber-acting padahal Sandy adalah sepupunya.
Rika menggeleng dan beralih menatap Sandy.
"Terlambat, saya sudah makan, tadi Tiara yang mengantarkan makanan," jawab Sandy cuek.
Rika tersenyum dan mengangguk.
"Ibu Tiara udah lama sama Dokter Sandy? Tapi, kalian cocok semoga secepatnya naik ke pelaminan," kata Rika.
"I-iya, terima kasih," jawab Tiara.
"Saya permisi Bu," Rika berbalik dan perlahan membuka pintu kembali.
Kakinya terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, memeluk tubuhnya yang terasa dingin.
"Cinta itu bukan melihat seseorang yang kita cintai bersama kita tapi menderita, merelakan dia, melihat dia bahagia bersama wanita yang jauh lebih baik itu lah cinta yang sesungguhnya, sudah cukup dia hampir mati karena aku, semoga bahagia ya Mas."