
Jam istirahat, saat di sekolah, Febby memberanikan dirinya menemui Bima. Ia melirik ke arah ibunya yang sedari tadi mengawasi pergerakannya. Mila bahkan menunggui Febby hanya untuk melihat anaknya apakah menuruti ucapannya atau tidak.
Bima kala itu tengah bermain sendirian. Anak laki-laki itu mendongakkan wajahnya melihat kedatangan Febby yang secara tiba-tiba.
"Bolehkah aku bergabung bersamamu?" tanya Febby yang masih memperlihatkan wajah yang datar.
Bima menganggukkan kepalanya, Febby pun menjatuhkan bokongnya tepat di kursi yang letaknya di sebelah Bima. Sesekali Febby mengarahkan pandangannya pada Mila yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Bisakah kamu pindah dari sana?" tanya Febby secara tiba-tiba. Bima langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan anak perempuan yang ada di depannya itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Bima yang merasa penasaran.
"Aku hanya ingin kamu dan keluargamu pergi jauh. Ibuku ... dia menyukai ayahmu. Ibuku terobsesi dengan ayahmu dan bahkan ia sampai lupa dengan ayahku," ujar Febby.
Bima menggaruk-garuk kepalanya. Ia belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang disampaikan oleh Febby. Namun, anak laki-laki itu mencoba untuk menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan Febby.
Tanpa sengaja, Bima melihat pergelangan tangan Febby yang sedikit memerah. "Itu ... tangan kamu kenapa?" tanya Bima sembari mengarahkan pandangannya pada tangan Febby.
Febby dengan spontan langsung menyembunyikan pergelangan tangannya. "Tidak apa-apa," ucap anak perempuan itu sesekali menatap ke arah ibunya.
Bima mengikuti arah pandang Febby. "Apakah ibumu sering memukulimu? Aku tak sengaja mendengar tangisanmu semalam," ujar Bima.
Febby bingung, apakah ia harus mengadu dan meminta pertolongan pada Bima, atau dia hanya diam saja dan membiarkan ibunya melakukan hal tersebut.
"Tidak apa-apa, katakan saja. Aku tidak akan memberitahukan pada ibumu," bujuk Bima.
Awalnya Febby menganggukkan kepalanya, akan tetapi melihat ibunya datang menghampiri, membuat Febby dengan cepat menggelengkan kepala. Ia takut, ibunya akan kembali murka kalau sampai Bima mengetahui hal tersebut.
Namun, Febby juga tak ingin terus-menerus menjadi umpan Mila saat ia ingin meluapkan semua kekesalannya. Febby kembali bungkam saat Mila menghampiri keduanya.
"Kalian berbicara apa? Sepertinya seru sekali," ujar Mila mengembangkan senyum terbaiknya. Mila mengusap puncak kepala Febby, lalu kemudian mengusap puncak kepala Bima.
Bima mengarahkan pandangannya pada Febby yang seolah tengah ketakutan. Bima pun mulai bersandiwara dan mengembangkan senyumnya. "Tidak apa-apa, Tante. Tadi Febby mau ajak Bima bermain," ujar Bima.
"Oh, begitu ... Seharusnya kalian memang saling mengakrabkan diri satu sama lain. Apalagi kita kan tetangga," ucap Mila.
Tak lama kemudian, Nana pun menghampiri kedua anak muridnya. Waktu istirahat sudah habis. "Anak-anak, ayo waktunya masuk kelas," ajak Nana pada Bima dan juga Febby.
"Baik, Bu Guru." Bima langsung beranjak dari tempat duduknya, begitu pula dengan Febby yang langsung menyusul Bima.
Sementara Mila, wanita itu memperhatikan keduanya yang mulai memasuki kelas. Ia mengembangkan senyum liciknya, karena kali ini Febby benar-benar menuruti ucapannya, yaitu mendekati Bima.
"Bagus, Nak. Sebaiknya kamu terus menempel dengan Bima seperti itu. Melihat kalian dekat, membuatku mudah untuk mendekati kedua orang tua Bima. Mungkin susah untuk menggoda Alvaro, akan tetapi aku akan menggunakan Rania sebagai alatku untuk mempermudah mendapatkan pria itu."
"Alvaro, kamu lihat saja! Sekarang kamu boleh menolakku, akan tetapi nanti, aku akan pastikan kamu tergila-gila padaku," batin Mila sembari tersenyum licik.
.....
Di lain tempat, Alvira sibuk menggendong anaknya. Abian sudah dapat melihat wajah ibunya dan bahkan sesekali ia tertawa saat Alvira memperlihatkan wajah lucunya pada sang anak.
Sesaat kemudian, datang Arumi. Ia masuk ke dalam kamar Alvira sembari membawa botol susu yang ada di tangannya.
"Si Alvaro rencananya mau pindah," celetuk Arumi menjatuhkan bokongnya di sisi tempat tidur. Ia memberikan botol susu tersebut pada Alvira.
"Pindah? Kenapa? Apakah sudah tidak betah lagi di apartemen?" tanya Alvira menyodorkan botol susu tersebut ke mulut putranya.
"Entahlah. Lagi pula sedari awal mama memang kurang setuju dia tinggal di apartemen, emang saudara kembarmu saja yang selalu keras kepala," gerutu Arumi.
Alvira mendengar hal tersebut hanya bisa terkekeh geli. Ibunya memang selalu bertentangan pendapat dengan Alvaro. Namun, Alvira kali ini memihak ibunya yang juga tidak setuju jika Alvaro dulunya tinggal di apartemen.
"Si Bima jarang sekali main ke sini. Vira jadi rindu sama celotehan Bima," ujar Alvira.
"Apa kita suruh Bima untuk menginap saja di sini? Lagi pula biarkan saja Alvaro berduaan dengan Rania. Siapa tahu setelah ini kita dapat kabar baik lagi kan?" ucap Arumi menaik turunkan alisnya.
"Iya, Ma. Coba minta Alvaro untuk tidak menjemput Bima. Suruh Pak Darman saja yang menjemput Bima ke sekolahnya," ujar Alvira.
"Ide yang bagus! Sebentar, mama telepon Varo dulu."
Arumi meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas. Ia pun mencari kontak putranya dan segera menghubungi putra semata wayangnya itu.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Alvaro dari seberang telepon.
"Varo, Bima biar Pak Darman yang jemput ya ... Mama rindu sama Bima. Lagi pula kalian jarang sekali main ke sini," ujar Arumi.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan menjemputnya. Mungkin setelah pulang dari kantor nanti saja aku menjemput Bima di sana," ucap Alvaro.
"Baiklah kalau begitu. Ah iya, apa istrimu sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan?" tanya Arumi.
"Belum, Ma. Do'a kan saja secepatnya. Untuk pertanyaan yang tadi ... aku harap mama tidak menanyakannya langsung pada istriku. Aku takut dia akan sedih dan kecewa karena sampai sekarang masih belum menunjukkan tanda-tanda apapun," tutur Alvaro.
"Kamu tenang saja, mama juga seorang wanita, jadi mama mengerti apa yang dirasakan oleh Rania nantinya jika mama bertanya langsung padanya," ujar Arumi.
"Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Mama tutup teleponnya ya ...."
"Hmmmm ...."
"Bagaimana? Apakah Varo mengizinkannya?" tanya Alvira.
"Iya. Tapi mama malas sekali turun ke bawah untuk memanggil Pak Darman," ujar Arumi.
"Besok-besok direnovasi lagi saja, Ma. Kasih lift biar tidak terlalu lelah naik turun tangga," ucap Alvira sembari terkekeh.
"Kamu benar juga. Ya sudah, kamu saja Nak yang turun ke bawah. Suruh Pak Darman jemput Bima," ujar Arumi.
"Alvira juga malas bergerak, Ma." Wanita itu langsung terkekeh. Membuat Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lagi pula kan ada nomornya Pak Darman, kenapa tidak mama telepon saja Pak Darman supaya tidak terlalu lelah naik turun tangga. Lagi pula menghemat tenaga dan waktu juga," jelas Alvira.
"Ah iya! Kamu benar! Kenapa mama tidak kepikiran dari tadi," ujar Arumi menepuk keningnya.
Wanita itu kembali mengambil ponsel yang ada di atas nakas, mencari kontak Pak Darman lalu kemudian menghubunginya.
"Pak, Tolong jemput Bima di sekolah ya."
" ...."
"Iya, sekarang. Tidak lama lagi Bima pulang," ujar Arumi melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Arumi pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia kembali meletakkan ponselnya, lalu kemudian mendekat ke arah cucunya, mencium pipi gembul Abian.
"Cepat besar ya, Sayang. Nanti nenek belikan mainan yang banyak seperti Abang. Supaya Abian bisa main sepuasnya bersama Abang Bima," ujar Arumi.
.....
Waktu pulang pun telah tiba. Bima menunggu jemputannya di taman sekolah. Matanya menangkap Febby dan ibunya berjalan ke arahnya.
"Bima kalau mau pulang ikut bersama Tante dan Febby saja, lagi pula kita kan tetangga, jadi tidak perlu sungkan," ajak Mila.
Bima melihat Febby yang seolah memberikan kode padanya. Anak perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan, pertanda bahwa Bima harus menolak ajakan dari Mila.
"Tidak apa-apa, Tante. Bima tunggu papa jemput saja," tolak Bima sembari menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa? Lagi pula ikut sama Tante juga orang tuamu tidak akan marah. Nanti Tante akan beritahukan pada ibumu bahwa Bima ada bersama Tante. Sekali-kali main sama Febby," bujuk Mila.
"Tidak usah, Tante. Sebentar lagi papa akan jemput," ujar Bima.
"Ayolah! Nanti Tante akan menghubungi orang tuamu dan meminta izin pada mereka. Kamu tidak perlu malu." Mila tak henti-hentinya membujuk Bima.
"Tidak, Tante. Terima kasih." Bima tetap memberikan penolakan atas ajakan Mila. Tentu saja karena Febby yang melarangnya.
"Ayolah, Sayang. Kamu tidak perlu malu. Lagi pula kita kan tetangga." Lagi dan lagi Mila mengatakan pada Bima bahwa mereka bertetangga. Tentu saja Febby sedikit jengah melihat tingkah ibunya yang memaksa anak orang lain untuk ikut dengannya.
Namun, gadis kecil itu tak bisa berbuat banyak. Jika ia menarik ibunya dan berkata bahwa ia malu, maka setelah pulang sekolah nanti, ia harus bisa menerima pukulan atau pun cubitan dari wanita tersebut.
Mila masih membujuk Bima. Kali ini ia sedikit memaksa pada anak laki-laki itu. Dari kejauhan, Nana melihat hal tersebut. Dengan cepat, ia pun langsung menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Nana.
"Ah, tidak ada apa-apa, Bu Nana. Saya hanya ingin mengajak Bima untuk pulang bersama," ujar Mila.
Nana berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki tersebut. "Bima mau pulang dengan mamanya Febby?" tanya Nana dengan lembut.
Bima langsung menjawab pertanyaan Nana dengan gelengan kepala.
"Bima tidak usah malu, saya dan Bima bertetangga jadi wajar jika saya menawarinya untuk ikut pulang bersama," ucap Mila yang mencoba membela dirinya.
Nana beranjak dari posisinya, ia tersenyum menatap ke arah Mila. "Bima menolak untuk ikut, Bu. Tidak apa-apa, Ibu dan Febby pulang dulu saja. Jika di sekolah, Bima menjadi tanggung jawab saya. Sebentar lagi ayahnya juga akan menjemputnya," jelas Nana.
Tak lama kemudian, Bima melihat mobil yang biasa dikendarai oleh neneknya. Pak Darman pun turun dari kendaraan tersebut untuk menjemput Bima.
"Permisi, Bu. Saya suruhan neneknya Bima untuk menjemput Bima," ucap Pak Darman pada Nana.
"Dia paman yang bekerja dengan nenek, Bu Guru." Bima menimpali, melihat keraguan pada ekspresi Nana.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu silakan!" ujar Nana.
Bima menyalami tangan Nana. Ia sedikit ragu, akan tetapi memberanikan diri untuk menyalami Mila.
"Bima pulang dulu ya, Bu Guru." Bima melambaikan tangannya.
"Iya, Nak." Nana membalas lambaian tangan Bima.
Sementara Mila, ia merasa dongkol karena usahanya gagal untuk melakukan pendekatan pada anak tetangganya itu.
"Sial!" geramnya dalam hati.
Bersambung ....