Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 142. Suami Multitalent


Alvaro memasang apron, bersiap untuk memasak. Rania yang berada di belakang Alvaro pun meraih apron satunya lagi. Saat Alvaro berbalik, melihat sang istri hendak memasang apronnya, membuat Alvaro segera menghentikan tindakan istrinya itu.


"Sayang, kamu tidak usah memakai itu," ucap Alvaro dengan lembut. Pria itu mengambil apron yang ada di tangan sang istri.


"Loh, kenapa Mas?" tanya Rania dengan ekspresi kebingungan.


Alvaro memegang kedua pundak sang istri, lalu menatap manik mata hitam pekat milik Rania. "Kamu cukup memperhatikan aku dari sana saja," ujar Alvaro sembari menunjuk ke mini bar.


"Tapi aku mau bantu Mas," ucap Rania.


"Duduk di sana terus lihat Mas, itu sudah sangat membantu," ujar Alvaro membawa istrinya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Kalau lihat bagaimana bisa membantu, Mas." Rania sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Setidaknya dengan adanya kamu, membuatku lebih bersemangat," goda Alvaro menyentuh dagu Rania. Hak tersebut tentu saja membuat Rania langsung bersemu merah karena perlakuan suaminya. Wanita itu menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.


"Kenapa?" tanya Alvaro terkekeh.


"Aku malu, Mas."


Alvaro langsung mengusap puncak kepala sang istri dan mengecupnya sekilas. Pria tersebut meninggalkan istrinya, mulai bersiap untuk memasak.


Rania perlahan menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya. Ia memperhatikan sang suami dengan seksama. Entah mengapa, hal tersebut membuat Rania kembali terpana. Melihat suaminya yang semakin lama semakin tampan, seolah ada cahaya yang mengelilingi pria itu.


"Sepertinya aku sudah jatuh cinta berkali-kali pada pria yang sudah menjadi suamiku," gumamnya sembari bertopang dagu.


Alvaro terlihat mengiris bawang dengan cepat, sesekali menatap ke arah sang istri yang melihatnya tanpa berkedip. Pria tersebut melemparkan senyuman pada istrinya, membuat Rania pun membalas senyuman itu.


Cukup lama Rania menunggu, hingga akhirnya aroma masakan itu pun tercium oleh hidungnya, membuat cacing-cacing yang ada di perutnya langsung memberontak ingin segera diisi.


Alvaro datang dengan membawa semangkuk sup buatannya. Mata Rania langsung berbinar menatap makanan yang ada di hadapannya.


"Silakan dinikmati," ucap Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya, mencicipi kuah sup tersebut lalu kemudian memejamkan mata. " Sup buatanmu benar-benar lezat," ujar Rania yang kembali menyeruputnya dengan suapan kedua.


"Ya ... itu semua karena aku adalah seorang multitalent. Masak bisa, mencari uang bisa, mengurus anak bisa, kalau tampan itu sudah pasti." Alvaro meninggikan dagunya penuh percaya diri.


"Ah iya, satu lagi. Memuaskanmu di ranjang, aku sangat bisa," Alvaro sedikit mencondongkan tubuhnya, berucap pelan pada sang istri.


Rania langsung melemparkan tatapan tajam pada suaminya. "Jaga ucapanmu! Mama dan Papa sedang berada di sini," bisik Rania memperingati suaminya.


"Tenang saja, lagi pula mereka sudah tidur. Hanya ada kita berdua," ujar Alvaro terkekeh geli.


Rania memutar kedua bola matanya. Ia benar-benar jengah dengan sikap mesum sang suami. Wanita itu memasukkan satu sendok ke mulut suaminya, menyumpalnya agar tidak berbicara yang aneh-aneh lagi.


"Sebaiknya ikut makan bersamaku saja, dan jangan membahas hal-hal yang berbau mesum!" ujarnya pelan dengan nada penuh penekanan.


Alvaro mengangguk, ia kembali membuka mulutnya untuk minta disuapi oleh istrinya. Rania pun memberikan suapan kepada suaminya, menghabiskan sup tersebut semangkuk berdua.


...----------------...


Mentari mulai merangkak, menampakkan diri. Suara burung berkicauan riang menyambut pagi. Alvaro perlahan membuka matanya, meraba ke samping, mendapati sang istri tak lagi berada di atas ranjang.


"Dia selalu saja bangun lebih awal," gumam Alvaro.


Pria itu turun dari tempat tidurnya. Berjalan ke kamar mandi, berniat untuk ikut bergabung bersama sang istri membersihkan diri.


Alvaro membuka pintunya, lalu kemudian menyingkap tirai di kamar mandi. Rania tampak tengah menikmati jatuhan air shower yang disetel hangat. Tampak terlihat jelas tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun, serta perut yang membuncit.


"Astaga!" Rania terkejut, mencoba menutupi dia squisynya dengan kedua tangan.


"Mas kenapa kamu mengintip! Pergi sana!!" usir Rania.


"Mengintip? Apakah aku tidak boleh mengintip istriku sendiri?" tanya Alvaro menggaruk-garuk kepalanya.


"Ah iya, aku lupa. Mas kan suamiku," gumam Rania.


"Apa ini? Bisa-bisanya dia melupakan aku yang sudah menjadi suaminya," batin Alvaro.


"Ya sudah, kalau begitu kenapa harus ditutupi? Biarkan aku melihatnya." Alvaro berujar dengan santainya.


Perlahan Rania pun hendak melepaskan tangannya yang menutupi kedua squisy tersebut. Namun, sesaat kemudian ia memercikkan air pada suaminya.


"Dasar mesum! Keluar!!" seru Rania yang membuat telinga Alvaro langsung berdengung.


Alvaro segera keluar dari kamar mandi. Terdengar suara pintu yang ditutup dengan sedikit dibanting, hal tersebut membuat Alvaro terlonjak kaget.


"Astaga, kenapa sejak hamil istriku sangat garang sekali," ujar Alvaro sembari mengelus dadanya. Ia pun memilih untuk kembali ke tempat tidur, melanjutkan tidurnya lagi sembari menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


Berselang 10 menit lamanya, Rania pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe berwarna putih, serta rambut yang digulung dengan handuk.


Ia melihat Alvaro memandanginya sedari tadi, membuat Rania sedikit risi dengan tatapan yang dilayangkan oleh pria itu.


"Kenapa Mas memandangiku seperti itu?" tanya Rania memperlihatkan wajah masamnya.


"Tidak apa-apa, karena kamu cantik maka dari itu aku menatapmu dengan penuh cinta," ujar Alvaro.


"Sudahlah, Mas. Aku melihat ada maksud dan tujuan dari tatapanmu. Kamu melihatku seperti singa yang tengah kelaparan," ucap Rania, berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Mengambil salah satu pakaian yang akan ia kenakan.


Alvaro mengusap tengkuknya. Jujur saja, setelah melihat tubuh sang istri di dalam kamar mandi, membuat sesuatu di dalam dirinya menjadi bangkit.


"Sebaiknya Mas mandi, dan hilangkan gejolak dalam diri Mas yang menggebu-gebu itu. Aku sedang hamil, Mas. Lagi pula belum disarankan oleh dokter untuk bermain kuda-kudaan," ujar Rania yang tentu saja membuat Alvaro menghela napasnya dengan kasar.


Alvaro bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju ke kamar mandi untuk kembali menidurkan adik kecil yang sempat terbangun.


Sementara Rania, wanita itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang suami yang selalu saja mengusik tidurnya dari semalam. Rania juga tahu, jika Alvaro merasa tersiksa karena hasratnya yang tak tersalurkan.


Namun, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin juga ia akan melayani suaminya sementara usia kandungannya masih terbilang muda. Dokter pun juga tidak menganjurkan untuk mereka melakukan hubungan tersebut.


"Tahan dulu saja, Mas. Aku tahu kamu merasa kesal karena hasrat terpendammu itu. Aku juga merasa tak enak hati bersikap seperti ini padamu. Namun, mau bagaimana lagi. Kalau aku bersikap lembut, yang ada nanti akan terjadi dan membahayakan bayi yang ada di dalam perutku," batin Rania.


Bersambung ....