
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Alvaro pun tiba di rumah. Pria tersebut segera turun dari kendaraannya. Tangannya sebelah kiri membawa tas kerjanya, sementara yang sebelah kanan membawa plastik yang berisikan senjata ampuh untuk membuat sang istri agar bisa memaafkannya. Tak lain adalah mie ayam yang ia beli saat di perjalanan pulang tadi.
Alvaro masuk ke dalam rumahnya, ia tak menemukan anak serta istrinya berada di ruang tengah. Pria itu pun membawa mie ayam tersebut ke dapur, meletakkannya di atas meja.
Alvaro menaiki anak tangga, berjalan menuju ke kamar Bima, karena ia pikir sang istri ada di kamar tersebut bersama dengan anaknya.
TOKKK ... TOKKK ...
Alvaro mengetuk pintu sejenak, lalu kemudian memutar kenop pintu. Ia menyembulkan kepalanya, mendapati Bima yang menatap ke arahnya dengan heran.
"Papa kenapa?" tanya Bima yang saat itu tengah berada di kursi belajarnya.
"Mama tidak ada di sini?" tanya Alvaro.
"Mama tadi ada di kamar, Pa." Bima menimpali.
"Oh, baiklah. Kalau begitu silakan dilanjut belajarnya," ucap Alvaro mengulas senyum. Tangannya kembali menutup rapat pintu kamar putra semata wayangnya.
Alvaro membawa langkah kakinya menuju ke kamar. Ia memutar kenop pintu kamarnya, kali ini pintu tersebut tak terkunci. Pria itu masuk ke dalam kamar, ia melihat sang istri yang tengah memainkan ponselnya di atas kasur. Rania menatap ke arah Alvaro sekilas, lalu kemudian kembali memalingkan wajahnya. Tampaknya wanita itu masih marah dengan Alvaro.
"Ehemmm ...." Alvaro mencoba berdeham. Pria tersebut meletakkan tas kerjanya, lalu kemudian mencoba duduk di sisi ranjang.
Rania yang masih marah pun membelakangi Alvaro. Tangannya masih mengotak-atik benda canggih tanpa menghiraukan keberadaan suaminya.
"Tadi aku beli mie ayam. Ku letakkan di atas meja makan," ucap Alvaro mencoba membuka suara.
"Aku sudah makan dan aku tidak lapar," timpal Rania yang terlihat sedikit angkuh.
"Oh, ya sudah kalau begitu." Alvaro memilih untuk mengalah, menutup pembicaraan saat mendengar jawaban dari sang istri.
Pria itu beranjak dari kasurnya, melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher, lalu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Saat hendak menutup pintu kamar mandi, Alvaro melirik Rania sekilas, lalu kemudian menutup rapat pintu tersebut.
"Apakah mie ayam bukan senjata yang ampuh? Sepertinya dia tak sedikit pun tergoda," gumam Alvaro.
"Sulitnya menjadi lelaki, ya seperti ini." Ia menggelengkan-gelengkan kepalanya, melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu kemudian berjalan tepat di bawah shower, menghidupkan keran air tersebut hingga sesuatu yang menyegarkan itu membasahi tubuhnya.
Rania beranjak dari tempat tidur. Wanita tersebut mendengar jatuhan air di kamar mandi, tanda bahwa Alvaro sudah memulai ritual mandinya.
Rania mengendap-endap, berjalan keluar dan menutup kembali pintu yang ia buka dengan perlahan. Setelah keluar dari kamarnya, ia segera menuju ke dapur, untuk memeriksa mie ayam yang dikatakan oleh suaminya tadi. Apakah benar adanya atau hanya bualan Alvaro saja.
Setibanya di dapur, ia melihat kantong plastik yang berisikan mie ayam. Aroma mie ayam tersebut tampak begitu menggugah selera, membuat cacing yang ada di perut Rania memberontak ingin minta diisi lagi.
Rania mengambil mangkuk, mengeluarkan mie ayam tersebut untuk di letakkan ke dalam mangkuk itu. Matanya langsung berbinar menatap mie ayam dengan potongan daging yang berlimpah, serta mie yang kenyal dan licin.
Rania mulai membuka mulutnya. Saat garpu dengan gulungan mie tersebut sudah berada tepat di depan bibirnya, wanita itu langsung menggelengkan kepala.
"Tidak boleh. Aku harus bisa menahannya. Lagi pula masih marah dengan Mas Varo." Rania mendengkus kesal. Ia memilih untuk mengurungkan niatnya memakan makanan yang dibelikan oleh sang suami.
Namun, aroma dari mie ayam tersebut seakan memanggil-manggilnya dengan merdu. Meminta untuk segera disantap dan dihabiskan. Ditambah lagi dengan cacing-cacing diperutnya seolah bernyanyi, menyiapkan sambutan kepada mie ayam yang diabaikan oleh Rania.
Rania mulai bimbang, seakan pikiran dan lambungnya yang tidak sejalan. Dan sekarang, otaknya telah terkontaminasi, membayangkan lidahnya menari-nari menikmati rasa sedap dari makanan yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Aku akan mencicipinya, hanya sedikit saja. Satu suapan!" Rania mencoba berbaik hati pada lambungnya, dengan mengambil kebijakan bahwa ia akan mencicipinya saja, setelah itu mengabaikan kue ayam tersebut.
Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Otot-otot perutnya tampak menonjol dan tercetak sempurna. Ia melemparkan pandangannya ke arah tempat tidur yang telah kosong, tak menemukan keberadaan sang istri di sana.
"Kemana dia?" gumam Alvaro seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Pria tersebut berjalan menuju lemari pakaiannya, mengenakan piyama dan kemudian menatap dirinya di depan cermin, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Alvaro keluar dari kamarnya. Ia mencari keberadaan Rania. Ia kembali masuk ke dalam kamar Bima. Dan lagi-lagi Bima memperlihatkan ekspresi bingungnya.
"Cari mama ya, Pa?" tebak Bima.
Alvaro menganggukkan kepala, " Iya, Nak. Apakah mama ada di sini?" tanya pria itu.
"Tidak ada, Pa. Apakah sedari tadi papa tidak bertemu dengan Mama?" tanya Bima lagi.
"Tidak, Nak. Tadi mama mu ada di kamar, tapi sekarang dia menghilang lagi. Kalau begitu lanjutkan belajarnya," ujar Alvaro kembali menutup pintu kamar Bima.
Bima menatap pintu yang telah tertutup rapat sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Apa mama dan papa sedang bermain petak umpet?" gumam Bima kembali memfokuskan dirinya pada buku yang ada di hadapannya.
Alvaro menuruni anak tangga, ia mendengar sesuatu dari arah dapur. "Apakah dia memakan mie ayam tadi?" gumam Alvaro.
Alvaro memelankan suara langkah kakinya. Mencoba mengendap-endap menuju ke dapur, mengintip apa yang dilakukan oleh sang istri di sana.
Setibanya di dapur, Alvaro menemukan Rania yang tengah menumpahkan satu bungkus lagi mie ayam ke dalam mangkuknya. Pria tersebut mengulum senyum, menyenderkan tubuhnya di bibir pintu sembari memperhatikan Rania yang sedang menikmati makanannya.
"Enak?" tanya Alvaro iseng menanyai istrinya.
"Iya, enak." Rania menimpali sembari memasukkan kembali mie ayam tersebut ke dalam mulutnya.
Sesaat kemudian, dengan mulut yang terisi penuh, wanita itu mematung. Matanya melirik ke arah bibir pintu, menemukan sang suami tengah menyaksikan dirinya memakan mie ayam tersebut.
"Uhukkk ...." Rania langsung tersedak sembari memukuli dadanya.
Alvaro yang melihat hal tersebut segera menghampiri istrinya, memberikan segelas air minum pada Rania. Wanita itu langsung mendorong mie tersebut dengan air yang diberikan oleh Alvaro, hingga air di dalam gelas itu pun kandas.
"Aku kira kamu benar-benar sudah kenyang tadi," celetuk Alvaro.
"Aku hanya mencicipinya saja," balas Rania yang tak mau kalah.
"Apakah rasanya hambar? Kamu bahkan mencicipinya sampai dua porsi mie ayam," ujar Alvaro sembari terkekeh geli.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan memakannya lagi." Rania mulai merajuk.
"Jangan, Sayang. Habiskanlah! Mas memang membelikannya untukmu. Tetapi dengan syarat kamu harus memaafkan Mas dan tidak boleh marah-marah lagi," ujar Alvaro.
"Ya tergantung. Kalau Mas masih menyebalkan, aku akan kembali merajuk," ucap Rania.
"Mas janji tidak akan membuatmu marah lagi. Ya sudah, habiskanlah makanannya!" titah Alvaro.
Rania pun kembali meraih garpunya, menggulung mie tersebut dan mulai menyantap lagi makanannya. Sementara Alvaro, ia hanya memperhatikan sang istri makan dengan lahap sembari bertopang dagu.
"Akhirnya berhasil juga. Hati istriku luluh dengan dua porsi mie ayam," batin Alvaro.
Bersambung ....