
Rania meraih gelas air minum yang ada di atas nakas. Wanita tersebut melihat tanggalan yang di nakas. Setelah diingat-ingat, dirinya sudah telat hampir satu Minggu dan Rania tidak menyadari hal itu.
Rania mencoba mengambil tespek yang ia letakkan di dalam laci. Mengeluarkan benda tersebut sembari menyunggingkan senyumnya.
"Semoga saja kali ini impianku benar-benar terwujud," gumam Rania penuh harap.
Ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju ke kamar mandi sembari membawa tespek yang ada di tangannya.
Rania duduk di atas closet sembari menunggu hasil dari tespeknya. Setelah lima menit, ia pun mengambil tespek yang ada di cup kecil. Rania mengangkat tespek tersebut dan memperhatikannya secara seksama.
"Kenapa satu garisnya buram? Apakah Tuhan masih ragu-ragu menitipkannya denganku?" gumam Rania.
Ia pun mengingat-ingat kembali sebelum memakai tespek. Wanita itu minum air terlebih dahulu. Biasanya, tespek akan terbaca akurat apabila di tes saat pagi hari, baru bangun tidur dan tidak dianjurkan minum air sebelum melakukan tes karena dapat mempengaruhi hormon hCG ( hormon yang dihasilkan oleh plasenta yang ada dalam janin ).
Rania beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali berbaring sembari menatap tespek yang ada di tangannya. "Ini hamil atau tidak?" gumamnya bertanya-tanya.
Namun, Rania tak ingin hanya berpatokan pada tespek saja. Ia pun meminta pelayan untuk segera menghubungi dokter keluarga. Memastikan apakah rasa mual-mual ini hanya sekedar sakit biasa/masuk angin, atau memang tengah hamil.
Rania kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menyimpan hasil tespeknya, jika memang benar bahwa dirinya positif hamil, Rania akan memperlihatkan tespek kepada sang suami. Anggap saja itu adalah sebuah kejutan untuk suaminya. Dan Rania bisa menebak, Alvaro pasti akan teramat senang mendengar kabar baik itu nantinya.
Cukup lama Rania menunggu, hingga suara pintu terketuk, melihat pelayan masuk ke dalam kamarnya bersama dengan dokter.
Dokter itu bertanya, keluhan apa saja yang Rania rasakan. Rania pun menjelaskan semuanya pada dokter.
Dokter tersebut mulai memeriksa Rania. Ia mengulas senyum, lalu bertanya pada wanita tersebut. "Terakhir datang bulan kapan?" tanyanya.
"Saya telat satu Minggu Dok. Berarti saya hamil kan?" ujar Rania yang terlihat begitu antusias. Dokter itu pun kembali mengulas senyumnya sembari menganggukkan kepala.
"Benar sekali. Saat ini anda sedang hamil. Selamat ya..."
Rania tak bisa membendung rasa bahagianya. Ia benar-benar terharu dan menangis saat mendengar dokter tersebut yang mengatakan bahwa dirinya tengah hamil. Sebuah penantian yang ditunggu oleh Rania dan kini impian mereka tercapai juga.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter tersebut.
"Terima kasih ya, Dok."
"Sama-sama," balas dokter itu lalu kemudian melangkahkan kakinya pergi dari kamar Rania. Kepulangannya tentu saja diantar oleh pelayan sampai ke depan.
Sementara Rania, ia tak henti-hentinya mengulas senyum setelah mendengar bahwa dirinya positif hamil. Kali ini ia benar-benar merasa bahagia dan akan memberitahukan pada suaminya tentang kabar gembira ini setelah Alvaro pulang kerja. Memberikan sebuah kejutan kecil untuk suaminya dan tentunya Rania bisa membayangkan, betapa bahagianya Alvaro mendapatkan kabar ini.
Rania meraih ponselnya, mencoba menghubungi ibunya yang ada di kampung. Menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Halo Nak." ujar Bu Isna dari seberang telepon.
"Halo, Ma. Aku punya kabar baik untuk mama," ucap Rania yang begitu antusias.
"Kabar baik? Apa itu sayang?" tanya Bu Isna.
"Aku hamil, Ma." Tanpa berbasa-basi, Rania pun langsung mengatakan hal tersebut pada ibunya.
"Alhamdulillah. Selamat ya Sayang. Akhirnya penantian selama ini terbayar sudah. Suamimu sudah mengetahuinya?" tanya Bu Isna.
Rania menjauhkan sedikit telepon yang ada di tangannya. Melihat nomor baru yang sedari tadi menghubunginya.
"Nak? Apakah kamu mendengarkan mama?" tanya Bu Isna.
"Iya, Ma. Aku mendengarnya. Mas Varo belum mengetahui kabar ini. Aku berencana untuk memberitahukan kabar ini setelah ia pulang nanti," ucap Rania menimpali pertanyaan ibunya.
"Kalau begitu, kamu jaga kesehatan ya. Jangan sampai terlalu kelelahan. Ingat! Sekarang di tubuh kamu bertambah satu nyawa lagi, yaitu penerus kalian nanti," ujar Bu Isna memperingati putrinya.
"Iya, Ma."
"Kalau begitu Mama tutup dulu teleponnya ya, Nak. Mama sedang membantu ayahmu untuk mengecek jumlah hasil dari panen daun teh," ucap Bu Isna.
"Baiklah, Ma."
Panggilan telepon pun terputus. Rania melihat nomor yang baru saja menghubunginya tadi. Ia memilih untuk menghubungi kembali nomor tersebut, siapa tahu ada hal penting. Namun, sesaat kemudian keningnya berkerut mendapati nomor tersebut tidak bisa dihubungi.
Rania meletakkan ponselnya, ia sedikit memijat pelipisnya yang terasa pusing dan perutnya kembali terasa mual. Tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya. Rania pun menatap layar benda pipih itu, melihat nomor yang tadi sempat menghubunginya.
"Halo, ini siapa?" tanya Rania.
"Rania, ini aku Deva," ucap seorang wanita dari seberang telepon.
Rania langsung menjauhkan sedikit ponselnya. Ia tentu saja kenal dengan Deva, salah satu wanita yang pernah berkata kasar pada dirinya, mengatai bahwa Rania adalah wanita mandul.
"Oh, Deva. Ada apa menghubungiku?" tanya Rania.
"Nia, aku ingin minta bantuan kamu. Bisakah kamu meminjamiku uang? Aku benar-benar butuh saat ini," ujar wanita tersebut dari seberang telepon.
Rania langsung memutarkan bola matanya. Ingin sekali ia mencecar wanita itu, tiba-tiba menghubunginya hanya untuk meminjam uang. Seakan ia lupa, ucapannya yang pernah menyakiti hati Rania sewaktu itu.
Rania pun memiliki ide. Ia berinisiatif untuk memanas-manasi Deva dengan caranya sendiri. Ingin memberikan pelajaran pada orang-orang yang hanya bisa menghubungi saat ingin meminta bantuan.
"Loh, memangnya teman-teman yang lain mana? Sintia, Dita, dan juga Bella. Bukankah mereka juga orang-orang yang berada? Pasti dia mau meminjamkan uang untukmu," ucap Rania.
"Aku sudah mencoba berbicara pada mereka, tetapi mereka bilang saat ini sedang tidak ada uang. Banyak pengeluaran dan segala macam mereka sebutkan. Maka dari itu, aku hanya bisa berharap padamu," jelas Deva.
Rania langsung memutarkan bola matanya saat mendengar ucapan wanita tersebut. Saat ia mengatakan bahwa 'percuma punya banyak harta kalau tidak bisa menghasilkan keturunan' kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinga Rania, dan bahkan pedihnya masih sampai sekarang.
Ia bisa saja meminjamkan uang pada Deva, akan tetapi ia bukanlah tipe orang yang mudah untuk dimanfaatkan begitu saja. Baginya, teman yang seperti itu hanyalah benalu. Memohon meminjam uang, saat ditagih justru marah-marah.
"Berarti kamu sekarang sedang hamil?" tanya Deva yang tampaknya cukup terkejut akan berita tersebut.
"Tentu saja. Kita mematahkan ucapan orang-orang yang beranggapan bahwa aku adalah seorang wanita yang tidak bisa memberikan keturunan," tukas Rania sengaja berucap demikian untuk menyindir lawan bicaranya.
"Oh, begitu. Baiklah jika kamu tidak bisa membantuku, mungkin aku akan meminta pertolongan pada teman yang lainnya. Maaf karena telah mengganggu waktunya," ujar Deva yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Rania bisa menebak, jika wanita itu merasa sangat malu setelah Rania berucap tadi. Perkataan Deva lah yang paling menyakitkan kemarin. Dan sekarang, Rania merasa rasa sakit hatinya terbayarkan dengan berbicara seperti itu pada Deva.
"Menghubungi hanya untuk meminta bantuan. Giliran kemarin, berusaha menjelek-jelekkan aku di depan banyak orang. Teman macam apa yang bertingkah seperti itu?" gerutu Rania. Wanita itu meletakkan kembali ponselnya dan bergegas menuju ke kamar mandi karena rasa mual kembali datang menghampiri.
.....
Malam itu, Alvaro baru saja hendak bersiap untuk menjemput Bima di rumah utama. Mengingat Rania yang sedang sakit, Alvaro pun memilih untuk menitipkan putranya itu pada ibunya saja.
Alvaro berjalan menuju lift. Perlahan pintu baja itu pun tertutup rapat, membawanya menuju ke lantai bawah.
Tinggg ...
Lift terbuka, Alvaro melangkahkan kakinya menuju ke parkiran. Di sana, ia melihat Juni dan istrinya saling melemparkan tatapan tidak suka.
"Ada apa kalian? Dan ... kenapa istrimu berada di sini?" tanya Alvaro mengernyitkan keningnya.
"Pak Alvaro, apakah suami saya berselingkuh? Akhir-akhir ini dia selalu saja keluar malam!" cetus istri Juni.
"Jun, apakah kamu benar berselingkuh?" tanya Alvaro menatap Juni dengan tajam. Karena Alvaro jarang sekali menyuruh Juni untuk lembur. Jadi, tidak ada alasan bagi Juni mengatakan ia keluar karena masalah pekerjaan.
"Bukan, Pak. Saya memiliki sesuatu yang penting. Tapi, sungguh saya tidak berselingkuh sama sekali," ujar Juni mengangkat kedua jarinya membentuk huruf 'V'.
"Jika kamu tidak berselingkuh, lantas kenapa kamu selalu pulang larut, hah?" tanya wanita itu yang tak mau mendengar penjelasan Juni sama sekali.
"Aku ...."
"Sebaiknya kalian pulang saja dan beristirahat lah. Malu dilihat oleh orang banyak bertengkar di sini," ucap Alvaro yang langsung menyela pembicaraan keduanya.
"Pak, bolehkah aku menumpang?" tanya Juni dengan wajah memelasnya. Istrinya berdecak sebal melihat Juni memperlihatkan ekspresinya seperti itu.
"Kamu pulanglah!" lanjut Juni pada istrinya.
"Tidak! Aku akan ikut denganmu!" tukas wanita tersebut.
"Ada hal lain yang ingin aku bahas dengan atasanku. Kamu pulanglah sendirian!" titah Juni.
"Aku tidak mau! Aku ingin ikut denganmu!" ujarnya yang tetap kekeuh.
"Biarkan saja dia ikut bersama dengan kita. Kamu bisa membicarakan hal itu di lain waktu," ucap Alvaro memberikan kunci mobilnya pada Juni.
Juni pun dengan segera membukakan pintu untuk Alvaro. Alvaro menempati kursi belakang, sementara Juni dan istrinya duduk di kursi depan.
Saat tengah dalam perjalanan, lagi lagi mereka pun adu mulut karena hal kecil. Entah apa yang telah diperbuat oleh Juni sehingga istrinya benar-benar marah pada pria itu.
Alvaro duduk di belakang seolah dianggap setan. Pria tersebut memilih untuk menatap ke luar jendela, memandangi lampu-lampu mobil yang berlalu-lalang mendahului kendaraannya.
Tringg ....
Notifikasi pesan singkat berbunyi, Alvaro mengembangkan senyumnya saat melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh sang istri.
Mas, kapan pulang? Aku rindu
Alvaro menarik kedua sudut bibirnya, lalu kemudian membalas pesan singkat untuk istrinya.
Mas lagi di jalan mau jemput Bima. Sabar ya Sayang. Mas juga rindu kamu (Diakhiri dengan emotikon kiss)
Setelah mengirimkan pesan singkat tersebut, Alvaro kembali memasukkan ponselnya ke saku. Namun, pria itu mengurungkan niatnya saat melihat Juni yang tiba-tiba melenceng dari jalurnya dan menabrak pembatas jalan. Mobil berputar-putar dan kecelakaan pun tak terelakkan.
Di lain tempat, Rania tengah menunggu kepulangan suaminya. Ia tak sabar ingin memperlihatkan hasil tespek yang ada di tangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, melihat nama sang suami yang ada di layar benda pipih tersebut membuat Rania segera mengangkat teleponnya.
"Halo Mas, kamu sudah sampai dimana?" tanya Rania.
"Apakah benar anda keluarga dari pemilik ponsel ini?"
Rania mengernyitkan keningnya saat mendengar suara yang bukan milik suaminya.
"I-iya benar, ada apa?" tanya Rania yang mulai merasakan tak enak.
"Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalan anggrek, satu meninggal dunia dan sisanya dilarikan ke rumah sakit cempaka."
Deggg ...
Seketika ponsel yang ada di genggaman tangan Rania terlepas begitu saja setelah mendengar kabar tersebut. Rongga dadanya terasa sesak, dan air matanya pun mulai jatuh bercucuran.
"Mas Varo!!" serunya berteriak histeris.
Bersambung ...