Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 50. Penggemar Rahasia


Kameranya terlalu ke selatan, sehingga cantiknya tak bisa diutarakan.


Membaca serentetan kalimat tersebut membuat Rania kembali tertegun. Ia mencoba mencari tahu, dengan mengklik username si pengguna. Namun, ia tak menemukan jawabannya. Pengguna dengan profil panda itu tidak memposting apapun. Dan bahkan pengikutnya juga masih di angka 0.


"Ini pasti akun palsu, seseorang menggunakan akun palsu ini untuk memata-mataiku," gumam Rania.


"Ada apa?" tanya Hilda yang baru saja masuk ke ruangan.


"Ini ... ada seseorang yang mengomentari fotoku, tapi aku sedikit curiga, akunnya sama sekali tak memiliki pengikut," ujar Rania.


"Mungkin bisa jadi secret admirer."


"Mana mungkin! Aku bukanlah publik figur yang memiliki penggemar rahasia," bantah Rania.


"Bu dokter, penggemar rahasia itu tidak hanya dimiliki oleh publik figur saja. Siapa tahu dia adalah seseorang yang menyukaimu, akan tetapi tidak berani mengungkapkan perasaannya," jelas Hilda.


"Benarkah?"


"Hmmm ..." Hilda mengangguk, membenarkan ucapan dari wanita tersebut.


"Kira-kira siapa dia? Tetanggaku? Tentu saja mustahil! Lagi pula pria itu selalu saja berwajah datar, mana mungkin dia pelakunya," batin Rania.


Rania menggelengkan kepalanya, ia memilih untuk tidak membuat dirinya pusing dengan berbagai dugaan yang ada. Gadis itu pun kembali fokus pada pekerjaannya, menyimpan ponselnya ke saku dan siap untuk menangani pasien selanjutnya.


.....


Di ruang tengah, Arumi sedang duduk bersama dengan Alvira dan juga Bima. Ketiga orang tersebut menonton televisi sembari memakan buah mangga yang ada di atas meja.


Kedua anak dan ibu tersebut tampak tersenyum menonton sebuah drama pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan. Sesekali Arumi dan Alvira tersenyum saat kedua pengantin tersebut saling melemparkan pandangan.


"Manis sekali," ujar Arumi sembari memegangi kedua pipinya.


"Prianya juga sangat tampan," celetuk Alvira yang lebih memperhatikan aktor prianya ketimbang momen manis tersebut.


"Nek, mereka sedang apa?" tanya Bima.


"Menikah," timpal Arumi singkat.


"Dulu mama dan papa juga seperti itu ya, Nek?" tanya pria kecil itu.


"Iya, Sayang "


"Kenapa Bima tidak di ajak ke pernikahan mama dan papa dulu?"


Pertanyaan Bima kali ini membuat Alvira dan Arumi langsung menatap pria kecil tersebut. Lalu keduanya pun saling bertukar pandangan dan tertawa terbahak-bahak.


"Bima kan belum lahir, Nak." Alvira menimpali pria kecil tersebut.


"Bima belum ada saat papa dan mama menikah," ujar Arumi.


"Bagaimana cara Bima ada, Nek?" tanya Bima lagi.


Pertanyaan Bima kali ini membuat kedua ibu dan anak tersebut hanya menggaruk-garuk tengkuk. Tak lama kemudian, Fahri pun datang membuat Arumi dan Alvira panik.


"Mana remote tadi? Ganti chanelnya, ubah film kartun!" bisik Arumi yang terlihat gusar.


"Tadi mama yang pegang," timpal Alvira.


"Nah kan? nah kan? Mulai lagi. Sudah papa katakan, kalau ada Bima sebaiknya kalian nonton film kartun, jangan film cinta-cintaan," tukas Fahri sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Arumi beranjak dari tempat duduknya, ia pun menemukan remote tersebut di bawah bantal yang ia duduki. Arumi dengan cepat mengubah chanel televisi itu, menggantikannya dengan film kartun.


Arumi tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. "Maaf, Mas."


Fahri duduk di sebelah Bima. Pria tersebut mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Kalian boleh saja menonton apapun yang kalian inginkan, tapi kalau ada Bima, alangkah lebih baiknya menonton yang sewajarnya saja. Anak seumuran Bima ini masih dalam tahap belajar. Apapun yang dilihat, pasti akan ditiru olehnya," ujar Fahri memberikan nasihat kepada anak dan istrinya.


"Maaf, Mas."


"Maaf, Pa."


"Jangan diulangi lagi," ucap Fahri memperingati keduanya.


Mereka pun menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


.....


"Astaga!" ucap Alvaro reflek.


"Hehehe, maaf Pak. Saya ingin memastikan yang tadi, apakah bapak sudah merayunya?" tanya Shinta.


"Untuk apa aku melakukan hal itu," timpal Alvaro berbohong.


"Benarkah? Ya sudah, berarti Pak Alvaro sudah siap jika wanita yang bapak sukai akan berpindah ke lain hati," ledek Shinta.


Alvaro mengerjapkan matanya beberapa kali, keningnya berkerut karena tak suka dengan ucapan Shinta yang mengatakan bahwa Rania akan direbut oleh pria lain.


"K-kamu, ... Bi-bisakah memberiku saran yang lain," ucap Alvaro yang tampak terbata-bata. Shinta yang mendengarkan ucapan Alvaro pun langsung tertawa.


"Kenapa kamu tertawa? Apakah menurut kamu itu hal yang lucu?" tanya Alvaro yang sedikit geram.


"Iya, lucu. Pak Alvaro terlalu kaku dan sok jual mahal, padahal bapak sangat takut jika kehilangan wanita itu," ujar Shinta yang masih tertawa.


"Berhenti tertawa atau gajimu akan aku potong setengahnya!" ancam Alvaro.


Shinta langsung menghentikan tawanya, karena tak ingin gajinya dipotong seperti ucapan Alvaro meskipun pria itu tak sungguh-sungguh memotong gajinya.


"Berikan aku saran lagi, dan apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" tanya Alvaro.


Shinta melihat sekelilingnya, tampak beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Alvaro mengikuti arah pandang Shinta. Ia juga merasa tak nyaman jadi tontonan beberapa karyawannya karena berbincang-bincang seperti ini pada sang sekretaris.


"Masuklah! Bicarakan hal ini saat di perjalanan," titah Alvaro membuka pintu mobilnya.


Shinta pun langsung masuk ke dalam mobil atasannya itu. Alvaro melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.


"Sepertinya semua orang di kantor salah paham dengan kita, Pak." Shinta memberanikan dirinya untuk membuka suara.


"Salah paham apa?" tanya Alvaro.


"Mereka mengira saya mencari muka dengan bapak," ucap gadis tersebut.


"Mukamu hilang kemana sampai harus dicari," celetuk Alvaro.


"Ih, si Bapak!"


"Saran apa lagi yang harus ku lakukan. Aku hanya perlu hal ini saja," tukas Alvaro.


"Sebenarnya saya heran dengan Pak Alvaro. Bukankah bapak telah memiliki anak? Lantas bagaimana pendekatan Pak Alvaro dengan istri terdahulu?" selidik Shinta.


"Saya dan istri saya yang dulu tidak terlalu memusingkan seperti ini. Kami berdua hanya berteman, setelah bosan berteman kami memutuskan untuk menikah," ucap Alvaro.


"Semudah itu kah? Apakah bapak tidak mencintai Ibu Bima?"


"Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, ketika bunga-bunga cinta itu sudah bermekaran, tiba-tiba takdir berkata lain," ucap Alvaro.


Ini adalah salah satu alasan, kenapa Alvaro sulit untuk menerima wanita lain. Saat dirinya tengah benar-benar mencintai Diara, saat pernikahan mereka dihangatkan oleh perasaan cinta yang lebih mendalam lagi, Tuhan berkehendak lain. Diara meninggalkan dia untuk selamanya dan menghadiahkan sebuah putra yang tampan yaitu Bima.


Bima adalah kado terindah yang diberikan Tuhan melalui Diara. Mungkin, Diara tidak ingin melihat Alvaro bersedih, dan menghadirkan sosok Bima sebagai menghapus rasa sedih itu walaupun tidak sepenuhnya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Alvaro, membuat Shinta menyesali ucapan yang baru saja ia lontarkan tadi.


"Maafkan saya karena telah lancang berucap yang tidak pantas," ujar Shinta sembari menunduk.


"Baguslah jika kamu menyadarinya," timpal Alvaro dengan sedikit melontarkan candaan pada gadis tersebut.


"Saran saya yang harus Pak Alvaro lakukan selanjutnya adalah memberikan sebuah tindakan ataupun hal manis yang lainnya. Memberikan sebuah perhatian yang menonjol dan berusaha untuk jujur pada diri sendiri," papar Shinta menjelaskan pendapatnya pada Alvaro.


Alvaro hanya mengangguk paham tanpa berucap apapun. Keduanya kembali diam dan fokus menatap ke arah jalanan.


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di rumah Shinta. Gadis itu mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum turun dari mobil.


Setelah memastikan Shinta turun dari kendaraannya, Alvaro kembali melajukan mobil tersebut menuju ke rumah utama, tentu saja sudah menjadi rutinitasnya menjemput Bima setelah pulang bekerja.


Bersambung ...


Bayangin aja jadi Alvaro, baru cinta banget sama istrinya, tiba-tiba dipisahkan oleh takdir🤧