Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 65. Tikus Curut


"Apakah kamu tidak mengingatnya?" tanya Rania menatap Alvaro dengan serius.


Alvaro kembali mengarahkan pandangannya ke arah pria yang menolongnya tadi. Terlihat mata mereka tak sengaja bertemu pandang, saat menyadari bahwa Alvaro menatap ke arahnya, pria mengenakan topi tersebut memilih menatap ke arah lain.


"Oh, ternyata dia. Si tikus curut itu kan?" gumam Alvaro.


Rania terperangah, lalu kemudian tertawa terbahak-bahak saat mendengar kekasihnya menyebut pria yang tak lain adalah Dion dengan sebutan Tikus Curut.


"Lagi pula kenapa kamu harus kembali memperlihatkan ekspresi wajah yang seperti itu. Dengan dia selalu memata-mataimu, kamu bisa memperlihatkan padanya bahwa kamu telah menjalani hidup yang baik," tutur Alvaro.


"Lagi pula, kamu ada-ada saja menyebutnya tikus curut," ujar Rania.


"Pa, dimana tikus curut, Pa?" tanya Bima yang memperlihatkan wajah polosnya. Ia mendengar ucapan Rania dan Alvaro saat berbincang membahas Dion tadi.


"Itu ... yang pakai topi hitam itu, Nak. Dia si tikus curut," ucap Alvaro yang sedikit memajukan bibirnya dua centi, mengarahkan pada Dion yang masih berpura-pura melihat ke arah lain.


"Om Tikus Curut!" seru Bima memanggil Dion disertai dengan kekehan kecil dari anak laki-laki tersebut.


Rania tertegun, ia mengira jika Alvaro akan memarahi anaknya karena telah lancang memanggil nama orang lain dengan sebutan itu. Namun, pemikirannya salah karena respon Alvaro seolah mendukung putranya.


"Good Boy!" Alvaro justru mengacungkan ibu jarinya kepada putranya. Saat Dion mengarahkan pandangannya ke arah mereka, Alvaro langsung memeluk Rania, sembari menanyai gadis tersebut dengan manja dan dengan suara yang sedikit lantang.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Aduh, pasti sakit sekali. Ayo kita pergi dari sini, aku tidak mau kakimu lecet akibat jatuh berulang kali," ujar Alvaro.


"Nak!" panggil Alvaro menatap ke arah anaknya.


"Iya, Papa."


"Pegangi mamamu sebelah sana, papa pegangi sebelah sini. Jangan biarkan mamamu terjatuh lagi," ujar Alvaro.


"Siap, Pa. Mama jangan jatuh lagi, ya ...." Bima memegangi tangan Rania, menatap wajah Rania menanyai dengan wajah polosnya.


Sementara Rania, ia berusaha keras menahan tawanya. Bagaimana bisa ayah dan anak se-kompak ini. Bahkan, Bima seolah memperkuat sandiwara ayahnya dengan memainkan tokoh peran pendukung.


Dari jauh, Dion sangat kesal melihat kedekatan yang ditunjukkan oleh Alvaro kepada mantan kekasihnya itu. Dion seakan belum rela lepas dari Rania. Selama ini, Dion mencari Rania kemana-mana, hingga ia menemukan informasi bahwa gadis tersebut berada di kota ini, membuat Dion pun juga pindah ke sini dengan mencari berbagai alasan dengan istrinya.


Alvaro semakin memberikan perhatian yang lebih kepada Rania saat Dion memata-matai mereka. Bahkan, pria tersebut tak segan-segan menatap wajah Rania, merapikan rambut kekasihnya, dan masih banyak lagi. Apalagi ditambah dengan Bima yang seakan bisa diajak kompromi dan ikut berpartisipasi mendukung peran sang ayah yang memperhatikan gadis yang sering dipanggilnya Bu Dokter itu.


"Tidak seharusnya kalian berlebihan seperti ini," ujar Rania pelan.


"Kenapa? Bukankah lebih senang membuat mantan yang gagal move on kebakaran jenggot. Dengan begitu, dia tidak akan mengganggu mu lagi nantinya. Sebaiknya kamu diam saja dan ikuti permainan kami berdua, ya kan Boy?" tanya Alvaro seraya melirik ke arah putranya sembari menaik turunkan alisnya.


Bima menganggukkan kepala sembari memperlihatkan ibu jarinya kepada sang ayah. Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, kelakuan anak dan ayah memang tidak jauh berbeda.


Setelah berhasil keluar dari area ice skating tersebut, ketiganya pun memilih untuk mengunjungi tempat lain. Namun, mereka memutuskan untuk singgah sebentar di salah satu food court untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


"Apa dia masih mengikuti kita?" tanya Alvaro yang mengedarkan pandangannya.


"Mungkin tidak lagi. Lagi pula nekat sekali mengikuti sampai kita di sini," ujar Rania menyesap minuman yang ada di hadapannya.


"Boy, kamu melihat tikus curut itu?" tanya Alvaro.


Bima yang baru saja memakan makanannya pun ikut mengedarkan pandangannya. Tak lama kemudian anak laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia tidak menemukan target yang dimaksud oleh sang ayah.


"Papa, kenapa om itu dipanggil tikus curut?" tanya Bima.


"Karena dia jelek dan sering bersembunyi seperti tikus curut," celetuk Alvaro. Jawaban dari pria itu sontak mengundang tawa Rania.


"Tapi om itu tidak seperti tikus curut. Badannya tinggi kekar, kulitnya putih dan wajahnya cukup tampan," ujar Bima yang berkata jujur.


"Tapi papa lebih tampan kan?" tanya Alvaro, sementara Rania hanya bisa memperhatikan keduanya.


"Tidak, Pa. Tampan om itu sedikit," ucap Bima. Rania langsung terkekeh geli mendengar jawaban dari Bima.


Seketika Alvaro langsung memasang raut wajah murungnya. Awalnya ia hendak menyantap makanannya, pria itu langsung mengurungkan niatnya.


"Sepertinya anakku memang tidak bisa menyenangkan hati papanya," ujar Alvaro.


"Bima, bagi Bu dokter papamu paling tampan sejagat raya, mengalahkan ketampanan artis papan atas," tutur Rania yang mencoba menyenangkan hati kekasihnya.


"Jika kamu memasang wajah masam seperti itu, maka aku akan menarik ucapanku lagi," lanjut Rania.


Alvaro langsung tersenyum, menatap kekasih hatinya dengan menyunggingkan senyum lebarnya. "Sehebat apapun pria lain, aku lah yang tetap menjadi pemenangnya," ujar Alvaro.


"Ketampanan papa memang sedikit terkalahkan, tetapi kehebatan yang papa miliki, tidak terkalahkan," ucap Bima yang juga ikut mengembalikan mood ayahnya.


"Jagoan ayah memang pandai menilai," ujar Alvaro.


Ketiga orang tersebut saling melemparkan senyum sembari menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.


"Dua Minggu lagi, mungkin aku akan menghadiri pesta pernikahan Om-ku. Apakah kamu mau ikut?" tawar Alvaro. Pria tersebut membuka suara.


"Apakah kamu tidak akan malu membawaku?" tanya Rania sembari mengembangkan senyumnya.


"Mungkin kamu yang malu karena mendapatkan seorang duda yang modelan tutup panci seperti ku," celetuk Alvaro.


Rania langsung tergelak tawa saat Alvaro lagi dan lagi membahas tutup panci. Gadis itu juga baru sadar, orang yang dulu ia cecar habis-habisan, sekarang menjadi kekasihnya.


"Ayolah, jangan membahas itu lagi. Aku menarik kembali ucapanku yang mengataimu dengan sebutan tutup panci," ujar Rania.


"Bagaimana? Apakah kamu mau ikut? Kebetulan harinya bertepatan dengan hari libur, jadi aku yakin kamu tidak akan sibuk karena pekerjaan," tutur Alvaro kembali menanyakan tawarannya tadi.


"Niatku mengajakmu pergi menghadiri pesta tersebut, sekaligus ingin memperkenalkan kamu dengan keluargaku, dengan kolega ataupun kenalanku," lanjut Alvaro menjelaskan niatnya mengajak Rania.


Rania pun tampak berpikir sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ajakan dari sang kekasih.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu," ucap Rania.


Alvaro melirik spion tengahnya, melihat jagoan kecilnya masih tertidur pulas. Alvaro menadahkan tangannya, mengisyaratkan agar Rania meletakkan tangannya di atas tangan Alvaro dan bisa berpegangan sekaligus menyetir menggunakan sebelah tangan.


"Apa?" tanya Rania kebingungan.


Tanpa ucapan apapun, hanya dengan sebuah kode kerlingan mata saja, Alvaro lagi dan lagi menadahkan tangan tersebut. Namun, Rania yang memang kurang mengerti dengan kode dari kekasihnya itu langsung meraba tas nya, lalu kemudian mengambil uang koin yang ada di tas tersebut dan meletakkannya di tangan Alvaro.


Alvaro menghela napasnya karena frustasi. Entah mengapa, ia berpikir Rania adalah gadis yang benar-benar polos. Bahkan kekasihnya itu tak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Alvaro.


"Sayang, ..."


"Iya, Ayang." Rania menimpali dengan wajah polosnya.


"Apakah kamu baru saja menghinaku?" tanya Alvaro.


"Menghinamu? Siapa? Aku?" Rania bertanya menunjuk dirinya sendiri.


"Sungguh, aku tidak berniat menghinamu. Aku hanya ingin memberi karena tanganmu menadah seperti itu. Bukankah ada pepatah mengatakan, jika kita meminta maka tangan kita berada di bawah itu tandanya kita meminta dan si pemberi tangannya berada di atas," jelas Rania dengan polosnya.


"Tapi ...." Alvaro meletakkan uang koin tersebut di atas dashboard. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Buka begitu juga konsepnya, Rania sayang. Wanita tercantikku, calon ibu dari anak-anakku," ujar Alvaro yang merasa geram, hingga ia mengeluarkan semua kalimat manis yang membuat pipi Rania memerah bak udang panggang.


"Hentikan! Kamu membuatku malu," ucap Rania memegangi kedua pipinya yang mulai memerah.


Alvaro awalnya yang merasa frustasi pun tiba-tiba gemas melihat wajah Rania yang kembali tersipu malu. Entah mengapa, semburat kemerahan di pipi Rania membuat dirinya ingin sekali melahap pipi gadis itu.


"Mana tanganmu," ucap Alvaro.


Rania pun mulai memberikan tangannya. Dan pria itu dengan cepat langsung menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.


"Ini yang ku maksud, Sayang. Bukan minta uang receh," jelas Alvaro.


"Maaf, aku tidak tahu jika maksudmu adalah seperti ini. Aku kira kamu membutuhkan uang koin tadi," ucap Rania.


Alvaro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mendekatkan tangan Rania ke area bibirnya, mengecup punggung tangan yang memiliki aroma mawar tersebut dengan lembut.


"Apa kita akan seperti ini terus?" tanya Rania melihat tangannya yang masih senantiasa digenggam oleh kekasihnya.


"Hmmm ...." Alvaro menimpalinya dengan singkat.


"Apa kamu yakin nyaman menyetir hanya dengan sebelah tangan?" tanya Rania lagi yang seolah merasa tak yakin.


"Apa kamu sedang meragukan kemampuanku?" Alvaro balik bertanya, seolah ia tak terima jika Rania meremehkan kemampuannya menyetir.


"Baiklah." Rania pasrah meskipun tangannya merasa sedikit berkeringat. Ia mencoba yakin dengan ucapan Alvaro barusan.


Tak lama kemudian, sebuah kendaraan bermotor menyalip di depan mereka, membuat Alvaro langsung terkejut dan sontak melepaskan genggaman tangan Rania. Pria tersebut membanting setirnya menghindari motor yang ada di depannya. Ia pun langsung mengerem mendadak dan hampir saja menabrak sebuah pohon besar yang ada di hadapannya.


"Sudah ku duga, kemampuan berkendara mu memang cukup mengagumkan," cecar Rania yang mendadak sarkas. Ia terkejut dan panik karena ulah Alvaro yang seakan-akan menganggap nyawa orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut remeh.


Di belakang, Bima menangis karena terkejut. Rania yang melihat hal tersebut langsung beralih ke kursi belakang dan menenangkan Bima. Alvaro juga panik, dan menoleh, melihat kondisi anaknya. Ia beberapa kali menanyai Bima, akan tetapi anak laki-laki tersebut hanya bisa mengangguk dan masih menangis tersedu.


Alvaro kembali melajukan mobilnya melihat Rania yang sudah berada di belakang, berusaha menenangkan Bima. Alhasil, Alvaro duduk sendirian di depan dan mendapatkan tatapan tajam pula dari kekasihnya itu.


Bersambung ...


Enak bang dipelototi? Lagian bucinnya sih nggak kira-kira😆