Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 164. Keluhan Emak-Emak


Rania menghampiri para kumpulan ibu-ibu yang tengah berbincang-bincang. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Rania dan mempersilakan ibu hamil tersebut duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Sudah berapa bulan, Bu?" tanya salah satu wanita yang ada di sana.


"Memasuki enam bulan," ucap Rania seraya mengembangkan senyum.


"Hamilannya besar sekali ya," celetuk ibu-ibu yang lainnya.


"Hehe ... iya, Bu. Anak saya kembar," balas Rania.


"Wah, kembar! Selamat ya Bu Dokter," ujar mereka memberikan selamat pada Rania.


"Iya, makasih Bu. Kebetulan ayah Bima juga kembar. Jadi, tidak heran kalau hamilan saya juga kembar karena keturunan," jelas Rania.


"Iya juga sih. Kalau misalkan ada keturunan kembar, kemungkinan juga anak kita kembar. Melihat Bu Dokter hamil anak kembar, aku juga ingin memiliki anak kembar," celetuk wanita bertubuh gempal.


"Semoga saja, nanti dikasih anak kembar ya, Bu." Rania menimpali begitu pula dengan ibu-ibu yang lainnya.


"Oh iya, anak saya kemarin mau ke klinik. Ternyata Bu Dokter sudah tidak lagi bekerja di sana," ucap ibu-ibu berambut pendek.


"Iya, Bu. Saya ingin istirahat dulu," ujar Rania.


"Kenapa? Sayang loh sis. Sekolah dokter mahal-mahal malah jadi pengangguran," celetuk ibu-ibu bertubuh gempal.


"Husstt ... jangan bicara seperti itu," tegur wanita yang ada di sebelahnya.


Rania hanya bisa tersenyum mendengar ucapan itu. Ia tak memperlihatkan kemarahannya atau merasa tersinggung atas kalimat yang baru saja ia dengar.


"Yang ibu katakan memang benar. Kenapa saya harus berhenti padahal sekolahnya mengeluarkan biaya cukup besar."


"Namun, prinsip saya, ketika saya menikah, saya ingin menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak saya. Kemarin saya masih mempertahankan pekerjaan saya. Tetapi ... Bima sedikit terlantar, yang berarti saya tidak bisa mengurusnya dengan baik. Dan bahkan, terkadang ia menunggu saya dengan waktu yang cukup lama, sementara saya masih sibuk melakukan scaling dan hal yang lainnya."


"Saya juga tahu, suami saya menikahi saya bukan untuk menjadikan saya sebagai pembantu yang hanya sibuk mengurus keperluan mereka atau mengurus rumah. Namun, tugas seorang wanita yang sudah menikah kan memang seharusnya begitu. Ketika tangan kanan bekerja, maka tangan kiri lah yang beristirahat. Maka dari itu, saya memilih untuk beristirahat," papar Rania panjang lebar. Wanita itu menjelaskan secara detail, agar ibu-ibu yang ada di sana mengerti, Rania mengambil keputusan itu pasti sudah dipikir secara matang-matang.


"Bu dokter juga meskipun tidak bekerja, suaminya kan kaya, keruk saja harta papanya Bima," sambung salah satu di antara mereka dengan maksud hanya sekedar bercanda. Rania menanggapi hal tersebut sembari terkekeh geli.


"Sudah, berhenti membicarakan itu. Lebih baik kita membicarakan hal yang lain saja."


Dan pada akhirnya, mereka pun membahas tentang hal lain. Mulai dari keseharian anak, dan bahkan beberapa ibu-ibu lainnya mengeluh karena anaknya yang sangat malas belajar.


"Anakku kalau di rumah susah sekali di suruh belajar. Apalagi suara lato-lato anak tetangga sudah saling bersahutan, pasti langsung keluar dan melupakan waktu belajarnya." ujar salah satu ibu-ibu tersebut. Dan pada akhirnya, kursi itu pun menjadi sedikit panas karena mendengar curhatan para ibu-ibu.


"Sama Sis, anakku juga. Jujur saja, aku sangat membenci suara lato-lato yang terlalu memekakan telinga. Terkadang anakku sudah di tegur saja tetap tidak dengar. Mereka lebih menyayangi lato-latonya dari pada gendang telinga ibunya yang hampir pecah," celetuk yang lainnya.


"Anakku yang kecil udah ikut abangnya main lato-lato. Baru sebentar, langsung menangis dan berteriak karena tangannya yang terkena pantulan dari lato-lato, sampai membiru loh," ujar yang satunya lagi.


Sementara Rania, ibu hamil tersebut hanya duduk sambil mendengarkan curhatan para emak-emak. Sesekali ia tertawa saat mendengar pembahasan mereka yang mengatakan hal-hal lucu.


.....


Jam belajar anak-anak pun telah habis . Kali ini waktunya untuk mengadakan acara perpisahan untuk melepas Nana.


Nana sengaja, memesan beberapa camilan serta nasi kotak untuk acaranya. Ia ingin menciptakan momen yang indah di hari terakhirnya berada di sekolah ini.


"Saya ucapkan terima kasih kepada para wali murid yang menyempatkan untuk hadir memenuhi undangan dari saya. Sudah hampir dua tahun lamanya saya mengajar di sekolah ini, tentunya banyak sekali hal-hal yang tak bisa saya lupakan. Kenangan manis bersama anak-anak dan para wali murid."


Setelah memberikan kata sambutan tersebut, Nana pun memilih untuk mengadakan semacam permainan kecil untuk ibu dan anak. Menghabiskan waktu terakhirnya di sekolah itu dengan bersenang-senang.


Permainan yang dimainkan oleh ibu dan anak. Yang bermaksud membantu kekompakan dalam belajar. Setelah acara tersebut selesai, mereka pun melakukan sesi foto bersama, untuk mengakhiri acara tersebut.


"Bu guru, ibu adalah guru terhebat kami. Dimana pun Bu guru berada, kami akan selalu mendoakan Bu Guru agar selalu sehat," ucap Bima yang membuka suara.


Murid yang lainnya pun membenarkan ucapan Bima.


"Bu Guru, jangan lupakan kami ya. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi."


"Iya, Bu Guru. Bu Guru harus tetap semangat. Terima kasih telah membimbing kami dengan penuh rasa sabar."


Nana mencoba tegar sedari tadi, berusaha untuk menekankan pada dirinya agar tak menangis. Namun, mendengar ucapan tulus dari anak didiknya itu, membuat Nana tidak bisa membendung air matanya. Ia benar-benar sedih harus berpisah dari mereka.


"Iya, Nak. Terima kasih atas doa kalian untuk Bu Guru. Bu Guru juga berharap, kalian jangan nakal ya. Nanti dengan guru baru harus patuh, dan jangan membangkang," ujar Nana di sela-sela tangisnya.


Saat hendak kembali membuka suara, Nana merasa benar-benar tak sanggup. Air matanya mengalir dengan deras.


"Nak, coba hampiri Bu Nana, peluk dia dan berikan pelukan kasih sayang pada Bu Nana," bujuk Rania pada putra sambungnya.


Bima mengangguk, ia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Nana. "Bu Guru, jangan menangis lagi ya. Bima akan memberikan pelukan kasih sayang pada Bu Guru," ucap anak laki-laki tersebut.


Nana membalas pelukan anak didiknya yang satu itu. Sesaat kemudian, satu persatu teman-teman Bima mulai beranjak dari tempat duduknya dan ikut memeluk Nana. Hal tersebut tentunya membuat Nana bahagia. Setidaknya ia bisa merasakan ketulusan dari anak-anak didiknya.


"Terima kasih banyak, Nak. Terima kasih banyak atas waktu dan juga pelukan kasih sayangnya. Bu Guru sangat bahagia bisa menjadi guru kalian. Semoga saja di lain waktu kita bisa berkumpul lagi. Nanti kita main-main bersama atau pun makan-makan bersama," ujar Nana dengan nada yang sedikit bergetar.


"Siap, Bu Guru!" ujar mereka serentak.


.....


Acara pun telah selesai, satu persatu mereka pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Rania menyempatkan dirinya untuk mengobrol sejenak dengan Nana.


"Nana, terima kasih banyak ya. Selama ini kamu sudah membimbing Bima, dan bahkan lebih sering menemani Bima disaat saya terlambat menjemputnya," ujar Rania.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula sudah bagian dari tugas saya seperti itu," ucap Nana.


Rania memberikan pelukan pada Nana, sebagai ucapan terima kasih atas jasa yang tak ternilai harganya.


Bima kembali meraih punggung tangan Nana dan menciumnya. "Bu guru hati-hati di jalan ya. Nanti Bima pasti akan sangat merindukan Bu Guru," ujar Bima.


"Bu guru juga nantinya akan sangat merindukan Bima," balas Nana seraya mengusap puncak kepala Bima.


" Bima harus nurut kata orang tua ya, rajin-rajin belajar dan jangan bermalas-malasan," lanjut Nana.


" Oke, Bu Guru."


"Janji?" tanya Nana sembari memperlihatkan jari kelingkingnya.


"Iya, Bu Guru. Bima janji." Bima menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nana. Ketiga orang tersebut saling melempar senyum dan mengucapkan salam perpisahan dengan cara yang manis.


Bersambung ....