
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di rumah. Pria tersebut turun dari mobil, dan kemudian menggendong putranya yang tengah tertidur pulas di pangkuan Rania.
"Kita perlu bicara!" ujar Rania berkata pelan akan tetapi dengan penuh penekanan. Tampaknya gadis itu masih marah karena kecerobohan yang diperbuat oleh Alvaro tadi.
Alvaro hanya menimpali ucapan Rania dengan sebuah anggukan pelan. Pria itu mengikuti langkah kaki Rania yang telah lebih dulu berjalan di depannya. Saat berada di dalam lift, Rania hanya terdiam, menunggu pintu baja tersebut terbuka.
Tingg ...
Lift pun terbuka, mereka pun keluar dari ruangan sempit tersebut secara bersamaan. Rania telah berdiri lebih dulu di depan pintu unit Alvaro. Mengisyaratkan pada pria tersebut untuk segera membuka kuncinya karena gadis itu akan bertamu ke apartemennya.
Alvaro tampak kesusahan mengambil kunci dalam saku celana yang ia kenakan. Dengan cepat, Rania pun mengambil alih tugas tersebut. Gadis itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana Alvaro, mencoba membantu kekasihnya mengambil kunci yang ada di dalamnya.
Alvaro terkejut dengan perlakuan Rania. Bukan karena tak berterima kasih Rania telah membantunya, akan tetapi lebih tepatnya Alvaro sedikit takut tangan Rania nantinya tanpa sengaja menyentuh tingkat sakti kebanggaan yang sudah dikeramatkan lima tahun lamanya dan juga hampir karatan.
Namun, setelah beberapa detik menahan napas karena perlakuan dari kekasihnya. Akhirnya Rania pun menemukan kunci tersebut dan membuka pintu. Alvaro langsung bernapas dengan lega.
Alvaro mempersilakan Rania duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sementara dirinya mengantarkan jagoan kecilnya ke dalam kamar, menidurkannya di atas kasur. Setelah menidurkan anaknya, Alvaro pun kembali ke ruang tengah, menemui Rania yang sudah sedari tadi menunggunya.
Ia melihat Rania yang tengah duduk di sofa single, sementara sofa yang bermuatan lebih dua orang ada terlihat kosong melompong. Dan tebakan Alvaro tak meleset, gadis itu benar-benar marah dengannya.
Alvaro pun menjatuhkan bokongnya di sofa. Lalu menatap ke arah sang kekasih yang sedari tadi sudah melayangkan tatapan tajamnya.
"Ada apa?" tanya Alvaro.
"Aku ingin menyelesaikan yang tadi secara dewasa. Aku tidak mau masalah yang seperti ini membuatku marah berlarut-larut. Kamu tahu kan, yang kamu lakukan tadi merupakan sesuatu yang berakibat fatal. Bukan nyawaku saja, nyawamu dan nyawa putramu," tukas Rania.
"Maafkan aku," ujar Alvaro pelan, pria itu tertunduk dan merenungi kesalahannya.
"Jangan diulangi lagi, aku tahu kamu sangat mencintaiku dan aku juga begitu. Namun, meskipun kita sedang dibutakan oleh cinta, tetap saja keselamatan yang menjadi hal utama," oceh Rania lagi.
Alvaro mengangguk patuh. Tak lama kemudian, Rania mengulurkan tangannya, Menadahkan seperti yang dilakukan oleh Alvaro saat di dalam mobil tadi.
Alvaro ragu-ragu meletakkan tangan tersebut di atas tangan sang kekasih. Dan Rania pun menggenggam tangan pria itu dengan erat.
"Begini saja, lebih aman tanpa harus berpegangan saat menyetir," ucap Rania seraya mengembangkan senyumnya. Alvaro pun menarik kedua sudut bibirnya,
"Tapi kita tidak bisa berlama-lama seperti ini terus," celetuk Alvaro yang juga menggenggam tangan Rania.
"Kenapa?" tanya gadis tersebut.
"Apartemen ku sepi dan kita hanya berdua di tempat ini. Aku takut nanti orang ke tiganya adalah setan panci," ujar Alvaro.
Mendengar sang kekasih yang sudah memiliki pemikiran seperti itu, membuat Rania dengan cepat langsung menarik tangannya kembali. Ia takut Alvaro akan khilaf mengingat gadis itu bukanlah berpacaran dengan seorang perjaka, melainkan seorang duda yang pastinya sudah lama tak melakukan sesuatu yang bisa dikatakan yang iya-iya (tidak-tidak Thor😏).
"Ya sudah, kalau begitu aku lebih baik pulang saja," ujar Rania yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Alvaro.
"Takut nanti ada setan panci," celetuk Rania yang mengikuti ucapan Alvaro sebelumnya.
Pria itu langsung tertawa mendengar perkataan kekasihnya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, mengantarkan kepulangan Rania sampai ke depan pintu.
"Istirahat lah, lagi pula kamu lelah seharian berkeliling menemani Bima," ujar Alvaro.
"Iya, kamu juga, beristirahatlah!" Rania mengembangkan senyumnya. Gadis itu melambaikan tangannya sejenak, lalu masuk ke dalam unitnya.
Alvaro kasih menatap pintu yang telah tertutup rapat tersebut sembari terkekeh geli. Tingkah Rania benar-benar membuatnya gemas. Ia pun menutup pintunya, memilih untuk beristirahat juga.
.....
Rania baru saja selesai mandi, ia terlihat segar dengan mengenakan piyama bersiap untuk tidur. Gadis itu mengecek ponselnya, melihat beberapa panggilan tak terjawab dengan nomor baru.
Rania mengernyitkan kening, entah siapa yang menghubunginya hingga belasan kali seperti ini. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering, nomor yang sama lagi-lagi meneleponnya. Ia pun mengangkat panggilan tersebut, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, ..." terdengar suara wanita dari seberang telepon.
"Iya, halo."
"Benarkah ini dengan Rania?" tanyanya.
"Iya, benar. Saya sendiri. Maaf ini siapa?" Rania balik bertanya.
"Saya Tika, istrinya Dion."
Rania langsung terkejut saat mengetahui siapa yang tengah meneleponnya. Batinnya bertanya-tanya, bagaimana istri Dion mendapatkan kontak nya dan mengapa ia menghubungi Rania?
"Ada apa?" tanya Rania yang tanpa berbasa-basi. Ia tak ingin terlihat ketakutan seperti yang dikatakan oleh Alvaro. Rania telah move on, ia sudah memiliki kekasih dan bisa lepas dari bayang-bayang Dion.
Tentu saja hal tersebut membuat Rania terkejut. Apakah telinganya tidak salah dengar? Bukankah selama ini Dion yang selalu mengusik hidupnya. Seharusnya Rania lah yang berkata seperti itu untuk suaminya.
"Sebaiknya kamu menceramahi suamimu, karena dia lah yang selalu saja mengikutiku seperti seorang penguntit," ujar Rania membalas perkataan wanita yang ada di seberang telepon.
"Suamiku tidak akan berbuat nekat seperti ini jika kamu tidak menggodanya! Kenapa? Kamu belum bisa move on darinya, hah?! Apakah kamu ingin jika Dion kembali kepadamu lagi?" cecar wanita tersebut dari seberang telepon.
Dada Rania serasa bergemuruh. Amarahnya rasa panas akan amarahnya sudah mencapai ke ubun-ubun. Rania tidak pernah memaki-maki wanita ini di saat ia merebut Dion dulu. Bahkan, Rania lebih membenci Dion ketimbang menyalahkan wanita tersebut. Namun, mengapa ketika Dion kembali mengusik kehidupannya, justru Rania lah yang di salahkan?
"Aku tidak pernah sedikit pun berniat kembali bersama dengan laki-laki yang telah mengkhianati ku. Dan aku tidak menggoda suamimu karena pria itu bukanlah levelku lagi. Seharusnya kamu lah yang lebih menjaga dan memperhatikan suamimu. Dan berhentilah menyalahkan ku!" Gadis itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia juga bahkan menonaktifkan ponselnya karena merasa geram terus diteror tentang Dion.
"Dikit-dikit Dion ... dikit-dikit Dion ... Apa tidak ada lagi pria di muka bumi ini selain dirinya? Cukup sabar selama ini aku menghadapi pria itu. Jika bertemu, lihat saja! Akan ku patahkan batang hidungnya!" geram Rania.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah mencari kontak Rania. Pria tersebut hendak menghubungi sang kekasih hanya sekedar mengucapkan selamat malam padanya. Namun, terdengar suara operator yang menyambut panggilannya.
"Nomornya tidak aktif?" gumam Alvaro sembari kembali menutup panggilannya.
"Mungkin dia sedang mengisi daya ponselnya atau pun tidak ingin di ganggu waktu istirahatnya," ujar Alvaro yang menduga-duga.
Pria tersebut menatap langit-langit kamarnya. Mengingat bagaimana peristiwa lucu saat bermain ice skating, yang membuat keduanya jatuh terpeleset. Sesekali Alvaro tertawa mengingat hal itu.
Tak lama kemudian, rasa kantuk menyerangnya. Alvaro pun perlahan mulai memejamkan matanya dan larut ke dalam alam mimpi.
.....
Keesokan harinya, Rania tengah memeriksa salah satu pasien yang datang. Tak lama kemudian, lagi dan lagi ia mendapati pria bernama Dion ini datang ke kliniknya.
Biasanya, Rania memilih menghindar dari pria tersebut. Namun, kali ini Rania menemui Dion secara langsung.
"Apa maumu?" tanya Rania yang seakan penuh kilatan dendam di matanya.
"Aku ingin berbicara denganmu," ujar Dion.
"Sepenting apakah pembicaraanmu? Aku sedang sibuk!" tegas Rania yang berjalan meninggalkan Dion.
"Aku akan menunggumu hingga pulang," ujar Dion yang masih tertangkap oleh indera pendengaran Rania.
"Apakah dia tidak ada kerjaan lain? Bukankah seharusnya dia orang yang sibuk," ketus Rania kembali ke ruangannya.
Rania kembali mengurus pasien yang lainnya. Gadis itu sengaja menyibukkan diri agar Dion segera pergi. Namun, rupanya pria tersebut benar-benar menunggu Rania hingga pulang.
"Sepertinya memang ada hal yang penting yang ingin ia bicarakan. Sebaiknya selesaikan secara baik-baik, mungkin terasa berat, akan tetapi lebih lega lagi jika masalahnya sudah benar-benar kelar," ujar Hilda memberikan masukan kepada Rania.
Rania mencoba mendengarkan Hilda, gadis itu pun menemui Dion. Pria tersebut terlihat senang, dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Jika memang ingin berbicara, ayo! ikut aku!" ajak Rania yang memilih untuk masuk ke mobilnya lebih dulu.
Keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing. Dion membuntuti mobil Rania, mengikuti mantan kekasihnya itu hendak mengajaknya kemana.
Mobil Rania terhenti di sebuah taman. Gadis itu keluar dari mobil tersebut dan memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Dion mengikutinya dari belakang, ia pun duduk di taman itu.
"Katakanlah!" ujar Rania yang tak ingin berbasa-basi lagi.
"Aku minta maaf karena dulu pernah mengkhianati mu," ujar Dion.
"Bisakah kamu memaafkan aku dan kita kembali seperti dulu lagi?" tanya pria tersebut.
Rania cukup tercengang dengan ucapan Dion, " Kamu bilang apa? Apakah telingaku tidak salah dengar?"
"Rania, aku sadar aku salah. Aku egois karena telah memilih menikah bersama dengan wanita lain. Aku lelah selalu diperlakukan seperti seorang budak, yang mengharuskan aku untuk melakukan semuanya dengan sempurna. Aku ingin seperti dulu, seperti kamu yang memperlakukan aku dengan lembut. Kamu yang selalu menyemangati ketika aku jatuh," papar pria tersebut.
"Kamu gila, Dion! Ingat anak dan istrimu!" cecar Rania.
"Tidak masalah, jika aku bisa kembali bersamamu, maka akan ku ceraikan istriku saat ini juga."
Plakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dion. Tak lama kemudian, Dion melihat keberadaan istrinya yang muncul secara tiba-tiba.
"Sekarang kamu sudah melihatnya dengan jelas, bukan? Siapa yang sebenarnya patut di salahkan!" ujar Rania.
Setelah mempertemukan Dion dengan istrinya, Rania memilih pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia sengaja, memancing Dion untuk mengikutinya dan memilih berbicara di taman. Ia juga memberitahukan kepada Tika saat di mobil tadi, bahwa Dion ingin mengatakan sesuatu. Dan wanita itu pun mengirimkan alamat yang tak jauh dari posisinya saat ini. Setelah mendapatkan alamat dari Tika, Rania langsung menuju lokasi, membuat jebakan untuk Dion supaya pria itu jera.
"Aku harap, setelah ini dia tidak akan menggangu ku lagi," gumam Rania melajukan mobilnya menuju ke apartemen.
Bersambung ...