Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 71. Benar-Benar Terjadi


Hari Minggu pun telah tiba. Alvaro dan keluarganya bersiap-siap untuk datang ke rumah Rania yang berada di desa, dengan maksud dan niat yang baik untuk meminta restu serta meminang Rania secara resmi.


Bima terlihat sangat senang sekali bisa ikut bersama, sementara Alvira diminta untuk tinggal karena memang usia kandungan wanita tersebut sudah memasuki bulan ke 9.


Mobil yang dikendarai Alvaro melaju meninggalkan rumah utama. Dengan modal keberanian serta keyakinan yang kuat untuk memantapkan niat baiknya, pria itu pun melaju, menempuh jalanan yang sedikit berliku dan terjal.


Fahri menghidupkan pemutar musiknya karena merasa sedikit sunyi. Sementara radio manualnya hanya berdiam duduk di belakang menutup mulut serta hidungnya.


"Stop!! stop!! stop!!" seru Arumi memerintahkan putranya untuk berhenti.


Alvaro pun dengan segera menepikan mobilnya. Tak butuh waktu yang lama, Arumi keluar dari mobil tersebut, memuntahkan semua isi perut yang sedari tadi ia tahan.


"Nenek, ... nenek kenapa?" tanya Bima melihat neneknya.


"Nenekmu mabuk perjalanan, Bima. Kepala Bima pusing tidak?" tanya Fahri.


"Tidak, Kakek."


"Pa, kita sebentar lagi sampai di rumah mama kan?" tanya Bima yang saat ini sudah memanggil Rania dengan sebutan mama.


"Tidak lama lagi kita sampai, Nak." Alvaro menimpali ucapan putranya sembari mengulas senyum.


Tak lama kemudian, Arumi kembali masuk ke dalam mobil. Wanita itu terlihat lemas seusai mengeluarkan isi perutnya tadi.


"Biasanya aku tidak pernah mabuk perjalanan seperti ini. Bisa jadi ini karena faktor usia," gumam wanita itu.


"Berikan ini pada nenekmu," ucap Fahri menyodorkan minyak angin kepada Bima.


"Nenek, pakai ini biar tidak muntah-muntah lagi," ujar Bima memberikan botol minyak angin tersebut.


"Terima kasih, cucuku sayang." Arumi mengambil minyak angin yang diberikan oleh Bima.


"Sama-sama, Nek."


Alvaro kembali melajukan mobilnya, melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2 siang, yang berarti perjalanan yang mereka tempuh sudah tiga jam lamanya.


Setelah kembali menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Alvaro pun tiba di kampung yang tak lain adalah tanah kelahiran tempat sang kekasih tercinta.


Alvaro melambatkan laju mobilnya, merogoh ponsel lalu kemudian menelepon Rania, bahwa Alvaro sudah memasuki perkampungan yang disebutkan oleh gadis itu.


"Aku baru saja melewati gapura. Lokasi rumahmu ada di mana?" tanya Alvaro.


"Maju lagi sedikit, nanti ada bangunan dengan tulisan 'Warung Laris Manja' , nah rumahku ada di sampingnya, bercat warna abu-abu," tutur Rania dari seberang telepon.


"Baiklah," ucap Alvaro dengan panggilan yang masih terhubung.


Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah bangunan yang memiliki plang dengan nama 'Warung Laris Manja'.


"Aku sudah menemukan warung laris manja," ucap Alvaro.


"Iya maju lagi."


Sesaat kemudian, Alvaro pun melihat Rania sedang melambaikan tangannya di depan rumah.


"Ketemu," ujar Alvaro yang langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Nama warungnya lucu, dimana-mana biasanya laris manis, tali di sini laris manja," protes Arumi. Sepertinya radio manual yang satu ini sudah merasa tidak mual lagi. Dilihat bagaimana cara ia menyinggung sesuatu yang sedikit aneh, tertangkap oleh indera penglihatannya.


"Mungkin pemiliknya suka bermanja-manja," celetuk Fahri.


Alvaro terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan kedua orang tuanya yang memang sedikit mengundang tawa.


"Selamat datang di rumah kami yang sederhana," ucap pria dengan rambut yang sudah banyak ditumbuhi oleh uban.


"Ini papaku, beliau memang tidak pernah berkunjung ke apartemen," ujar Rania memperkenalkan ayahnya.


"Rumah yang asri, bahkan kami lebih nyaman berada di sini," celetuk Fahri menimpali ucapan dari ayah Rania.


"Kalau begitu, ayo silahkan masuk!" ajak Pak Hendra, yang tak lain adalah ayah Rania.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Rania. Terlihat jamuan makanan telah memenuhi meja. "Silakan dinikmati makanan kami inilah seadanya," ucap Bu Isna.


Arumi tersenyum, ia mengambil makanan tersebut dan mencicipinya. "Wah, ini benar-benar enak sekali. Bu Isna masak sendiri?" tanya Arumi.


Bu Isna pun menganggukkan kepalanya.


"Enak ini loh, Bu."


"Ah, Bu Arumi bisa saja."


Mereka pun mengobrol ringan sembari melepas lelah sejenak, hingga pembicaraan kedua keluarga itu pun masuk ke dalam pembicaraan inti.


"Di sini, maksud dari kedatangan kami, ingin meminta restu sekaligus meminang anak gadis dari Pak Hendra. Seperti yang diketahui, putra kami ini bukanlah pria lajang, melainkan duda beranak satu," ujar Fahri mewakili anaknya untuk berucap demikian.


"Saya sebenarnya agak sedikit minder mengutarakan niat ini, Pak. Tapi bagaimana pun juga, saya memberanikan diri saya, membawa kedua orang tua saya, dan menghadap langsung kepada Bapak dan Ibu untuk meminta restu, sekaligus menyatukan dua keluarga dalam ikatan yang lebih dekat lagi," tutur Alvaro yang juga ikut membuka suara.


"Terima kasih atas niat baiknya, Nak Alvaro beserta keluarga. Saya sangat menghargai niat dan ketulusan dari Nak Alvaro serta keluarga untuk datang secara resmi dan meminta izin kepada kami."


"Di sini, kami juga perlu menjelaskan sedikit, bahwa anak gadis kami bernama Rania ini, masih sangat banyak memiliki kekurangan. Selain pemalas, Rania juga tidak pandai memasak. Hal yang sekecil ini, perlu kami sampaikan juga kepada besan, agar tak terkejut saat mengetahui kebenarannya," papar Pak Hendra.


"Tenang saja, Pak. Untuk masalah sekecil itu tidak perlu dirisaukan. Semua ada jalan keluarnya. Asalkan kedua belah pihak masing-masing bisa memahami kekurangan tersebut," ujar Fahri.


"Baiklah, jika memang keputusannya begitu, kami tentu menerima pinangan dari Nak Alvaro."


Mendengar kalimat tersebut, Alvaro bernapas lega. Setidaknya ia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Rania.


"Kalau begitu, kira-kira menurut Pak Hendra dan Bu Isna, tanggal berapa akan dilangsungkan pernikahannya?" tanya Fahri.


"Kalian maunya kapan, Nak?" Pak Hendra menatap anak gadisnya dan calon menantunya secara bergantian.


"Kami hanya mengikut saja," ucap keduanya serentak.


"Baiklah, kalau begitu kita adakan bulan depan saja. Kalau terlalu berlama-lama, juga tidak baik untuk mereka," ujar Fahri.


"Baiklah, kami juga menyetujuinya," timpal Pak Hendra dan Bu Isna.


Setelah mengutarakan semuanya, mereka pun melanjutkan pembicaraan ke tahap saling mengenal antar dua keluarga sembari menyantap hidangan yang telah di suguhkan.


Rania tersenyum menatap Alvaro. Akhirnya, setelah berbagai umpatan yang di lontarkan kepada pria itu, besar gengsi dan saling mencemooh satu sama lain, mereka pun berakhir dengan sebuah ikatan pernikahan yang tak akan lama lagi dilangsungkan.


Arumi menyenggol lengan Alvaro, membuat si empunya langsung mengarahkan pandangannya kepada sang ibunda.


"Bagaimana? Sumpah mama benar-benar terjadi bukan?" tanya Arumi seraya meninggikan dagunya.


Setelah dipikir-pikir, menang benar. Dulu Alvaro pernah disumpahi oleh ibunya sendiri agar bisa berjodoh dengan tetangganya. Dan kini, sumpah itu pun benar-benar terwujud.


"Itulah kekuatan dari ucapan seorang ibu," lanjut Arumi seraya terkekeh geli.


Bersambung ....