Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 116. Kebun Teh


Keesokan harinya, Alvaro beserta keluarga kecilnya pun bersiap untuk berangkat ke tempat mertuanya. Mereka bertiga keluar dari kediamannya. Di depan, sudah ada Pak Darman menunggu mereka. Saat melihat Alvaro beserta anak dan istrinya keluar dari rumah, Pak Darman segera membuka pintu dan membantu barang-barang yang hendak di bawa.


"Pak Darman sudah sarapan?" tanya Rania sembari menyunggingkan senyumnya ke arah pria yang umurnya berkisar 50 tahunan itu.


"Sudah, Nyonya." Pak Darman menimpali.


"Saya kira belum sarapan. Kalau belum sarapan, lebih baik sarapan saja dulu. Soalnya perjalanan kita lumayan memakan waktu," ucap Rania.


"Tidak Nyonya, saya benar-benar sudah sarapan tadi," jawab Pak Darman yang langsung membantu Alvaro membawa barang-barang yang ada di tangannya untuk diletakkan di bagasi mobil.


"Sudah siap semuanya?" tanya Alvaro memastikan agar tidak ada perlengkapan yang tertinggal.


"Siap!!" sahut Rania dan juga Bima secara bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat!" ucap Alvaro mempersilakan anak dan istrinya duduk di bangku belakang, sementara Alvaro duduk di bangku depan menemani Pak Darman.


Mereka pun telah menempati kursi mereka masing-masing. Perlahan Pak Darman melajukan mobilnya, membelah jalanan pagi hari.


Saat di perjalanan, Bima tampak sangat senang karena diajak jalan-jalan. Bukan berarti anak laki-laki itu tidak pernah keluar, melainkan saat mendengar mereka akan pergi ke kebun teh, membuat Bima tertarik ingin mengunjungi tempat tersebut.


"Nanti kita ke rumah nenek dulu ya, Ma?" tanya Bima.


"Iya, Nak. Kita istirahat sebentar di rumah nenek, terus kita pergi ke kebun teh. Tapi tempatnya sedikit terjal, apakah tidak apa-apa?" tanya Rania pada putra sambungnya.


"Tentu saja tidak apa-apa, Ma. Kalau kita perginya bersama-sama, perjalanan seperti apapun akan terasa menyenangkan," jawab Bima yang sangat antusias untuk pergi ke kebun teh tersebut.


Rania tersenyum, mengusap rambut ikal Bima. Bima pun memeluk ibu sambungnya. Seolah ikatan keduanya adalah ibu dan anak kandung.


Alvaro melihat kejadian tersebut dari spion tengah. Pria itu tersenyum melihat interaksi keduanya yang begitu saling menyayangi.


Perjalanan memakan waktu selama empat jam, akhirnya mereka pun tiba di desa yang tak lain adalah tanah kelahiran Rania.


"Patokannya di dekat toko laris manja kan?" tanya Alvaro mengingat tempat dengan nama yang unik tersebut.


"Iya," timpal Rania singkat sembari menganggukkan kepala.


"Kenapa toko itu dinamakan laris manja? Apakah pemilik toko itu adalah wanita yang ingin dimanja-manja?" tanya Alvaro yang merasa penasaran asal usul dari nama toko itu.


"Aku tidak tahu masalah itu. Mungkin saja yang Mas Varo katakan benar, pemiliknya ingin dimanja-manja. Tetapi satu hal yang harus Mas ketahui, pemiliknya bukanlah seorang wanita," ujar Rania.


"Berarti pemilik toko tersebut pria?" tanya Alvaro lagi.


"Lebih tepatnya waria."


Alvaro tertegun, sementara Pak Darman langsung terkekeh mendengar ucapan Rania barusan. Sementara Bima bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ibunya itu.


"Ma, waria itu apa?" tanya Bima memperlihatkan wajah polosnya.


"Waria itu adalah laki-laki yang berpenampilan seperti wanita," jelas Rania.


"Oh ...." Bima menganggukkan kepalanya paham.


Pak Darman memberhentikan mobil yang ia kendarai tepat di depan rumah Rania. Mereka pun turun dari mobil, disambut hangat oleh ayah dan ibu Rania.


Alvaro dan Rania menyalami kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Bima yang langsung menyambar tangan kakek dan neneknya.


"Padahal baru beberapa bulan nenek tidak melihat Bima. Tetapi Bima sudah tumbuh tinggi dan juga terlihat lebih tampan," puji Bu Isna seraya mengusap puncak kepala cucunya.


"Nenek juga semakin cantik," balas Bima yang juga memuji neneknya, hingga mengundang gelak tawa orang-orang yang ada di sana.


"Ayo masuk dulu! Kalian pasti lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh," ajak Pak Hendra, yang tak lain adalah ayah Rania.


Mereka pun masuk ke dalam rumah kedua orang tua Rania. Pak Darman juga dipersilakan oleh Pak Hendra untuk ikut masuk ke dalam.


Kedatangan mereka disuguhkan dengan berbagai jamuan yang dibuat oleh Bu Isna. Bu Isna mengajak mereka untuk mengisi perut terlebih dahulu, mencicipi menu yang dibuat oleh Bu Isna.


Bu Isna juga membuat brownies yang merupakan kue kesukaan Bima. Ia mengetahui hal tersebut dari putrinya yang pernah bercerita pada Bu Isna secara langsung.


"Nenek juga buat brownies untuk Bima," ucap Bu Isna.


"Wah, kue coklat. Bima mau, Nek. Bima sangat menyukainya," ujar Bima dengan mata berbinar.


"Tetapi janji dulu sama nenek, Bima harus makan nasi dulu dan setelah itu baru makan kue," ucap Bu Isna.


Alvaro tersenyum, mendengar sang mertua dan putranya membahas brownies, Alvaro pun mengingat sesuatu. Semuanya berawal dari brownies. Ketukan pintu Bu Isna serta senyum ramahnya saat memberikan makanan tersebut dan memperkenalkan diri pada dirinya, serta menitipkan padanya bahwa putrinya tinggal sendirian di sebelah. Saat itu, Alvaro belum mengetahui bagaimana rupa Rania sama sekali. Dan tak disangka, bahwa saat ini gadis yang dititipkan oleh Bu Isna telah menjadi istri sahnya.


Alvaro tersenyum membayangkan hal itu. Sementara Rania, wanita itu mengerutkan keningnya melihat sang suami yang senyum-senyum sendiri bak orang yang tengah kehilangan akal.


"Mas, kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Rania menyenggol lengan suaminya.


"Tidak apa-apa, hanya saja brownies buatan mama mertua, mengingatkan aku tentang kejadian yang lalu," jelas pria tersebut.


Rania hanya merespon ucapan suaminya dengan gelengan kepala. "Mas mau makan? Aku siapkan," tawar Rania.


"Boleh juga, kebetulan Mas lagi lapar," ujar Alvaro seraya mengusap perutnya.


Rania langsung menyiapkan suaminya nasi serta lauk pauk. Sementara Bu Isna menyiapkan untuk Bima. Berulang kali Bima menolak, agar mengambil makanannya sendiri karena tidak ingin merepotkan neneknya, akan tetapi Bu Isna tetap kekeuh dan tidak mendengar ucapan Bima.


Mereka makan bersama-sama. Tak terkecuali Pak Darman yang juga ikut makan satu meja dengan mereka. Di meja makan, Bu Isna lebih aktif berbincang pada cucunya. Menanyakan kesehariannya di sana dan tentang pelajarannya di sekolah.


Sementara Pak Hendra, mengajak menantunya itu mengobrol. Terkadang ia juga memancing Pak Darman untuk masuk ke dalam perbincangan mereka.


Setelah menikmati makanan, dan juga beristirahat, mereka pun mulai melanjutkan perjalanannya menuju ke kebun teh.


Kali ini, mobil terasa lebih ramai dari sebelumnya, karena kedua orang tua Rania juga ikut bersama mereka menuju ke kebun teh yang tak lain adalah milik orang tua Rania sendiri.


Sesekali mereka sedikit terhenyak di dalam mobil karena jalanan yang cukup terjal untuk menuju ke tempat yang indah. Sama hal nya seperti takdir yang harus menempuh pahitnya terlebih dahulu sebelum mengecap manisnya.


Setelah menghabiskan waktu selama 30 menit, mereka pun telah tiba di tempat tujuan. Bima menatap kebun teh tersebut dari luar jendela dan anak laki-laki itu langsung bersorak gembira.


"Hore kita sudah sampai di kebun teh. Tempatnya benar-benar indah," ujar Bima.


Alvaro memberhentikan mobilnya setelah Pak Hendra memberikan instruksi pada menantunya. Kali ini Alvaro lah yang menyetir, karena mengingat tadi Pak Darman cukup lama menyetir. Alvaro membiarkan Pak Darman beristirahat sejenak.


Mereka bergegas turun dari mobil. Bima langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan. Luka yang ada di kakinya telah sembuh dan tak lagi terasa perih.


Melihat hamparan daun teh yang menghijau, membentang di depan matanya. Membuat pikiran Alvaro sedikit tenang dan rileks dari pekerjaan kemarin. Tempat seperti ini memang benar-benar pilihan yang tepat untuk mencari ketenangan dan menghilangkan stres akibat masalah dunia yang tak ada habisnya.


Rania tentu saja tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Ia mengeluarkan ponsel yang ada di dalam sling bag-nya. Wanita tersebut mengabadikan momen itu dengan membuat video yang berdurasi beberapa menit. Tak lupa, ia juga mengambil gambar potret mereka dengan pose yang berbeda.


Mereka dapat melihat dengan jelas aktivitas yang ada di kebun teh tersebut. Ada beberapa orang yang merupakan buruh harian bekerja dengan Pak Hendra untuk memetik pucuk daun teh.


Bima mudah berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya. Ia mengajak orang yang bekerja di sana berbincang-bincang dan melemparkan beberapa pertanyaan. Tak heran, karena Bima masih sangat aktif dan ingin mengetahui banyak hal yang ada di sekitarnya.


"Bibi ... Bibi ... kenapa memetik daun tehnya harus dibagian pucuknya saja? Kenapa tidak langsung diambil cukup panjang beserta batangnya?" tanya Bima yang sedari tadi memperhatikan pemetik teh tersebut.


"Memetik daun teh yang bagus itu bagian pucuknya saja. Jika kita memetik sampai bagian batangnya, hal tersebut akan berakibat lambatnya pertumbuhan pucuk yang baru dan juga memperlambat masa panennya," jelas wanita paruh baya tersebut.


"Berarti hanya boleh mengambil pucuknya saja ya?" tanya Bima lagi.


Wanita tersebut menganggukkan kepalanya.


"Bi, Bima bantu memetiknya ya," ucap Bima.


"Tidak usah, Nak. Di sini panas, nanti kamu sakit," ujar wanita tersebut.


Bima mengabaikan ucapan si pemetik teh. Ia mengambil pucuk daun teh dan memasukkannya ke dalam ambul, yang merupakan keranjang anyaman yang digunakan untuk meletakkan daun teh yang telah dipetik.


Wanita tersebut merasa tidak enak karena pekerjaannya di bantu. Ia juga tidak ingin kepala Bima kepanasan karena nekat menolongnya. Wanita itu meminjamkan caping (topi berbentuk kerucut yang dibuat dari anyaman bambu, biasa digunakan oleh petani).


Bima tertawa saat dipakaikan caping ke kepalanya. Ia merasa menjadi keren seketika, dan memanggil kedua orang tuanya hanya ingin memperlihatkan topi yang ia pakai.


"Mama ... Papa ... Coba lihat Bima!" serunya memanggil kedua orang tuanya.


Rania dan juga Alvaro pun menoleh ke arah sumber suara. Seketika keduanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putranya memakai benda tersebut di atas kepalanya.


"Ma, Pa, bolehkan Bima bantu bibi sebentar untuk memetik daun teh?" tanya Bima yang meminta izin kepada kedua orang tuanya.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya, Nak. Nanti Bima lelah, karena besok Bima harus ke sekolah," ujar Rania.


"Siap, Ma." Bima kembali mendekat pada wanita pemetik teh tersebut, membantunya untuk memetik pucuk daun teh.


Sementara Rania dan Alvaro, mereka sibuk berbincang-bincang dengan ibu dan ayahnya. Mendengar cerita mengenai hasil panen dan pengolahan teh tersebut.


Bersambung ....