
"Aku ... Aku adalah istri simpanan suamimu, Andre."
Mendengar hal tersebut, Alvira menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh temannya itu.
Arumi baru saja keluar dari kamarnya. Saat dia melihat Yeni, ia langsung mengenali wanita yang merupakan teman dari putrinya semasa sekolah dulu.
Arumi hendak menyapa, akan tetapi ia sedikit heran melihat Yeni yang duduk bersimpuh di depan Alvira. Sementara anaknya itu menatap wajah temannya dengan penuh kekecewaan.
"Alvira, kenapa Yeni berlutut di depanmu. Dan ... ada apa dengan ekspresimu itu?" tanya Arumi.
Alvira mengabaikan pertanyaan ibunya, memilih untuk menatap Yeni dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu, ..." Suara Alvira tercekat, bak tersedak sebuah batu besar di kerongkongannya. Tangannya yang hendak menampar wajah Yeni, akan tetapi hanya sebatas mengudara saat melihat putra kecil dari wanita yang merupakan jallang dari suaminya tengah menatapnya dengan ketakutan.
"Seharusnya kamu tidak membawa putramu ke sini, karena dia pastinya akan menjadi tamengmu di saat aku hendak menghajarmu!" ketus Alvira.
Yeni hanya tertunduk, sementara Arumi masih sibuk menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Ia benar-benar tidak tahu, apa yang sebenarnya membuat putrinya begitu murka.
"Aku akan bercerai, dan kamu boleh memilikinya. Aku membuangnya ke sampah yang paling kotor, dan kamu ... memungut sisa yang telah ku buang," pungkas Alvira.
Arumi terkejut, ia dapat menangkap maksud dari ucapan putrinya itu. "Jadi ...."
"Iya, Ma. Wanita jallang ini lah yang selama ini kita cari. Sungguh luar biasa, bukan?" cecar Alvira menatap temannya dengan penuh kebencian.
Arumi langsung menutup mulutnya yang sedikit menganga. Ia syok mendengar ucapan putrinya. Wanita itu sangat mengenal Yeni. Alvira juga sangat akrab dengan Yeni ketika semasa sekolah dulu. Namun, entah mengapa Yeni dengan sangat tega menyakiti Alvira yang notabenenya adalah temannya sendiri.
"Anak ini ...."
"Iya, dia anak dari Mas Andre," jawab Yeni yang membenarkan pemikiran Arumi.
Arumi menatap anak yang ada di gendongan Yeni secara seksama. Mata, wajah, dan bentuk bibir sangat mirip dengan Andre.
"Kenapa kamu tega, Yeni! Tante sungguh tak percaya kamu bersikap seperti ini. Tak punya hati merebut suami temanmu sendiri," ujar Arumi mengusap dadanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar adanya keributan di bawah, membuat Fahri pun langsung menuju ke ruang tengah. Ia melihat istrinya tengah menitikkan air mata, sedangkan putrinya tampak berapi-api, dan seorang wanita sembari menggendong anaknya tengah bersimpuh di depan Alvira.
"Ada apa ini?" tanya Fahri berjalan menghampiri.
"Mas, ..." Arumi langsung menghambur ke pelukan Fahri. Ia tak kuasa menahan tangisnya, menangis sejadi-jadinya di dada bidang suaminya.
"Ada apa?" Fahri kembali bertanya. Ia berada di tengah-tengah situasi yang cukup membingungkan.
"Kenapa nasib putri kita sangat malang, Mas. Kenapa putri kita harus menanggung semua ini," ujar Arumi sesegukkan. Hati ibu mana yang tak teriris melihat anaknya menderita. Dalam posisi hamil, suaminya berselingkuh dan bahkan memiliki anak dari hasil perselingkuhannya. Dan sekarang, teman dekatnya mengaku bahwa dialah wanita yang telah menghancurkan rumah tangga putrinya itu.
Setelah berucap demikian, Arumi jatuh pingsan. Ia benar-benar tak kuat menerima kenyataan pahit yang dialami oleh putrinya itu.
"Istriku, ..." Fahri mencoba menepuk pipi Arumi beberapa kali, akan tetapi hal tersebut tak membuat Arumi sadar.
Alvira dan Fahri panik. Fahri pun langsung menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar. Sementara Alvira, masih menatap Yeni dengan tatapan membunuh.
"Aku bisa saja menjebloskanmu ke penjara juga, supaya kalian sama-sama menikmati karma kalian di balik jeruji besi."
"Namun, aku masih punya hati. Aku masih merasa kasihan dengan anakmu yang harus menyaksikan kedua orang tuanya berada di dalam sel tahanan. Sekarang kamu lihat, bagaimana kondisi keluarga kami karena perbuatan keji kalian. Puas kamu Yeni? Hah?! Puas kamu sudah membuat keluarga kami seperti ini. Sebaiknya kamu pergi dan jangan muncul dari hadapanku lagi!" ketus Alvira yang kemudian memilih untuk menyusul ke kamar, melihat kondisi ibunya.
.....
Di kantor, Alvaro mendapatkan kabar bahwa ibunya jatuh pingsan akibat wanita selingkuhan Andre datang ke rumah. Pria tersebut memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Bagaimana tidak? Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Alvaro mengemban tanggung jawab yang cukup banyak. Mulai dari urusan kantor, anaknya, dan keluarganya.
Melalui sambungan telepon, Alvaro hanya bisa menanyakan kabar ibunya serta menasehati adiknya agar tidak terlalu memikirkan keadaannya saat ini dan fokus untuk menjaga kesehatannya saja. Karena saat ini, pria tersebut harus mengurus urusan kantor. Apalagi saat ini kantor cabang juga menjadi tanggung jawabnya, membuat Alvaro super sibuk. Bahkan, untuk menjemput anaknya saja, ia menyuruh salah satu supir yang bekerja di rumah utama untuk menggantikannya.
Setelah sambungan telepon terputus, Alvaro kembali menatap layar monitor yang ada di hadapannya. Bergelut dengan setumpuk dokumen penting yang harus ia tinjau. Membaca dokumen tersebut satu persatu.
Tak terasa, waktu berjalan dengan begitu cepat. Alvaro tak sadar jika saat ini telah menunjukkan pukul 9 malam. Pria itu pun bersiap-siap untuk ke rumah utama, menjemput anaknya sekaligus memastikan kondisi saudara kembar serta ibunya yang sempat pingsan siang tadi.
Di lain tempat, Shinta tengah mengemasi barang-barangnya. Gadis itu memilih untuk kembali ke rumahnya karena merasa sudah aman.
Rania berdiri di ambang pintu. Bibirnya sedikit mengerucut saat mendengar ucapan Shinta tadi sore yang ingin kembali ke rumahnya malam ini.
"Jangan-jangan ia kembali ke rumahnya hanya alasan saja. Lagi pula, aku tidak melihat Alvaro pulang. Apakah mereka akan benar-benar menginap di hotel?" batin Rania bertanya-tanya.
"Bisakah kamu tinggal lebih lama lagi di sini," ujar Rania memasang raut wajah sedihnya, mencoba membujuk Shinta agar tetap di sini.
"Apakah kamu sangat sedih karena aku akan kembali?" tanya Shinta.
Rania menganggukkan kepalanya, "Iya, aku sedih membayangkan kalian akan bermalam di hotel dan hal itu yang membuat aku sedikit gila," batin Rania.
"Lain kali, aku akan mampir lagi ke sini," bujuk Shinta.
"Tidak usah! Tidak perlu! Karena aku merasa tersaingi jika kamu terus menerus di sini. Aku seperti ini hanya dalam waktu dekat saja, tidak ingin jika kalian menghabiskan waktu hanya berdua saja," ujar Rania dalam hati.
Shinta telah selesai berkemas, gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya, dan bersiap untuk pergi. Namun, ia memeluk Rania terlebih dahulu.
"Terima kasih karena telah memberikan tumpangan untukku. Aku pamit ya," ucap Shinta.
Rania hanya terdiam. Ia sudah kehabisan akal untuk mencegah agar Shinta tidak pergi. Gadis itu hanya bisa pasrah, dan berharap jika yang terlintas saat ini di dalam pikirannya merupakan hal yang salah.
"Hati-hati di jalan," ujar Rania.
"Hmmm ...." Shinta mengangguk, lalu kemudian menyeret kopernya untuk keluar dari apartemen milik Rania.
Rania mengantarkan Shinta hingga sampai di depan pintu. Ia melihat Shinta yang melirik sejenak ke arah pintu Alvaro, membuat Rania semakin curiga.
"Ada apa?" tanya Rania yang merasa penasaran.
"Ah, tidak apa-apa." Shinta tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.
Saat gadis tersebut masuk ke dalam lift, Rania pun menghentakkan kakinya, merasa kesal rencananya gagal total.
"Bagaimana jika dia memang bermalam di hotel?" gumamnya.
"Argghhh ... ini sangat membuatku frustasi," keluh Rania sembari mengacak-acak rambutnya.
Bersambung ....