
Shinta baru saja keluar dari kantor. Kali ini ia harus pulang sendiri karena Daren, pria itu sudah bukan lagi kekasihnya. Dan sejak kejadian tadi pagi, Daren sepertinya tidak masuk bekerja. Entahlah, mungkin karena pria tersebut masih merasa sakit hati karena hubungannya dengan Shinta kandas begitu cepat.
Pintu lift yang mengantarkan Shinta ke lantai bawah telah terbuka. Gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari gedung pencakar langit. Ia meraih ponselnya, berencana pulang dengan menaiki ojek online.
Baru saja ia hendak memesan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan gadis tersebut. Hal itu tentu saja membuat Shinta langsung terperanjat kaget.
Gadis tersebut melihat sosok yang amat ia kenal keluar dari mobil tersebut. "Masuklah! Pulang bersamaku saja!" ujar Juni.
"Tapi aku ...."
"Aku tidak menerima bantahan apapun. Masuklah!" Juni sedikit memaksa membujuk agar Shinta ikut bersamanya.
"Aku tidak mau. Lagi pula aku tidak enak dengan Daren nantinya," ucap Shinta.
"Aku yang akan berbicara padanya nanti. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, dan ini penting. Ku harap kamu bisa ikut bersamaku," tutur Juni.
Mau tak mau, Shinta pun mengiyakan ajakan Juni. Gadis tersebut mengurungkan niatnya untuk memesan ojek, lalu kemudian masuk ke dalam mobil yang telah dibuka pintunya oleh Juni.
Setelah Shinta masuk, Juni pun juga masuk ke dalam kendaraannya, menempati kursi pengemudi. Pria tersebut melajukan mobilnya menuju ke jalanan.
Shinta meremas jemarinya saat suasana canggung menyelimuti keduanya. Tak ada pembicaraan apapun di dalam mobil itu. Baik Shinta ataupun Juni. Shinta pun berinisiatif untuk membuka suaranya terlebih dahulu, mengingat Juni yang memang sebelumnya mengajaknya untuk ikut karena ada sesuatu yang hendak dibicarakan oleh pria tersebut.
"Tadi ... kamu ingin bicara apa?" tanya Shinta yang mulai membuka obrolan.
"Nanti saja, kita bicara di atap saja," timpal Juni.
Shinta mengangguk paham. Gadis itu pun memilih menatap ke arah luar jendela tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi. Di dalam hati kecilnya, ia merasa tidak enak pada Daren jika nanti pria tersebut melihatnya bersama dengan Juni.
Setelah cukup lama di perjalanan yang penuh dengan keheningan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Juni pun tiba di apartemen. Mata Shinta melirik mobil milik mantan kekasihnya, akan tetapi mobil tersebut tidak berada di sana. Yang berarti, Daren memang tidak pulang ke apartemen.
"Tenang saja, kekasihmu tidak berada di sini," celetuk Juni.
Pria tersebut turun dari kendaraannya, begitu pula dengan Shinta. Keduanya langsung masuk ke dalam lift, dan menuju ke atap. Entah apa yang ingin dikatakan oleh Juni, hingga ia membawa Shinta ke atas sana. Mungkin saja ia ingin mendorong Shinta dari ketinggian gedung tersebut karena telah menilai penampilan pria itu buruk.
Sesampainya di atas, ia melihat sebuah tenda serta alat pemanggang yang ada di tempat itu. Tak lupa juga ia menyiapkan minuman kaleng di sana.
"Kenapa kita kemari? Dan ini ...." ucapan Shinta terputus saat melihat semua yang telah dipersiapkan oleh Juni.
"Kita sudah lama tidak melakukan ini. Menyantap daging panggang serta berbincang ringan seperti yang pernah kita lakukan dulu," tutur Juni berjalan menuju ke sebuah kursi bambu, menarik salah satu kursi tersebut untuk Shinta.
Shinta pun tersenyum, gadis itu menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. "Terima kasih," ucap Shinta.
Juni mulai mengambil daging yang ia simpan di kotak pendingin. Pria itu pun mulai menyiapkan semua peralatan untuk memanggang daging tersebut.
"Sini biar aku bantu," ujar Shinta beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak apa-apa, biar aku saja. Kamu duduk di sana dan tunggu sampai dagingnya matang. Setelah itu baru aku akan mengatakan tujuanku mengajakmu kemari," ucap Juni yang sedikit terdengar pelan di ujung kalimatnya. Namun, ucapan pria tersebut masih tertangkap oleh telinga Shinta.
Juni meletakkan daging tersebut di atas pemanggangan. Sementara Shinta, ia memilih untuk membuka salah satu minuman kaleng yang ada di hadapannya. Sesekali ia melirik ke arah Juni, lalu kemudian tersenyum samar.
Daging pun mulai matang. Juni menghidangkan daging panggang tersebut di atas piring saji. Lalu membawanya pada Shinta.
Shinta pun mulai mencicipi daging yang ada di piring tersebut. Pupil matanya sedikit membesar, mendapati bahwa daging tersebut terasa lebih nikmat dari sebelumnya. Dulu Juni selalu memberikan bumbu yang kurang, sehingga rasa dagingnya sedikit hambar.
Namun, kali ini semuanya terasa sempurna. Dan bahkan Shinta kembali mengambil beberapa potongan lagi di atas piring tersebut. Kebetulan saja saat ini perutnya sedang ingin minta diiisi.
"Yang ini jauh lebih nikmat dari sebelumnya. Maaf ya jika kamu akan merasa tersinggung dengan ucapanku. Sebelumnya, rasa daging yang biasa kamu panggang terasa hambar. Dan kali ini, kamu memiliki kemajuan," jelas Shinta. Tangannya kembali mengambil daging panggang yang ada di hadapannya. Lalu kemudian mendorong daging tersebut dengan minuman soda yang ada di hadapannya.
Syukurlah jika kamu menyukainya. Aku sangat senang mendengarnya," ujar Juni seraya tersenyum.
"Lalu ... Apa yang hendak kamu katakan padaku?" tanya Shinta yang sedari tadi menagih hal tersebut dari Juni.
"Baiklah, aku ingin mengatakan semuanya dengan berterus terang. Bukankah kamu bilang masakanku memiliki kemajuan?" tanya Juni. Shinta menimpali ucapan pria tersebut dengan anggukan kepala.
"Sama halnya seperti kamu dan aku. Aku ingin memiliki sedikit kemajuan denganmu. Mungkin ini terdengar brengs*k, dimana aku yang memintamu untuk menjalin hubungan denganku disaat dirimu memiliki kekasih. Namun, aku tidak bisa menundanya lagi untuk mengatakan hal ini," tutur Juni panjang lebar.
Di bawah meja, ia meremas jemarinya dengan kuat. Entah mengapa ia menjadi gugup sekaligus takut, jika pada akhirnya ia mendapatkan jawaban yang mengecewakan dari wanita idamannya itu.
Shinta meletakkan garpu yang ada di tangannya. Ia menunduk sembari berucap, " Aku sudah putus dengan Daren," gumamnya pelan.
Suara yang tertangkap oleh indera pendengaran Juni sangat pelan. "Bisakah kamu mengulangi ucapanmu barusan? Aku tidak isa mendengarnya dengan jelas," ucap Juni.
Shinta menghirup napasnya dengan dalam, lalu kemudian mengeluarkannya secara perlahan. "Aku sudah putus dari Daren." Shinta pun mengulangi lagi ucapannya.
"Benarkah?" tanya Juni seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya, aku memilih untuk mengakhiri semuanya karena ku pikir, jika aku paksakan terus menerus hubungan ini, maka kami berdua akan saling tersakiti," jelas Shinta.
Raut wajah Juni setelah mendengar kabar tersebut, tentu saja berubah. Namun, perubahan itu bukan karena sedih dan merasa ikut prihatin atas kandasnya hubungan kedua orang tersebut, melainkan karena pria ini memiliki peluang untuk mendapatkan hati Shinta.
"Aku turut prihatin dengan kandasnya hubungan kalian berdua. Apakah aku ada kesempatan untuk mengisi ruang kosong tersebut?" tanya Juni.
"Apakah kamu bersungguh-sungguh akan hal itu? Bukankah ini caramu yang hanya ingin menang dari Daren tanpa benar-benar memiliki niat yang tulus? Bukankah sebelumnya kamu menganggap kita adalah sebatas teman? Mengapa tiba-tiba ...."
"Aku tulus, Shin. Jika aku tidak tulus, aku tidak akan memilih seperti ini. Malam itu, aku ingin mengutarakan semuanya padamu. Namun, saat kamu berkata bahwa kalian sudah berpacaran, membuatku memilih mundur. Aku mengira bahwa daren adalah pilihanmu, dan bersamanya kamu kan merasa bahagia. Maka dari itu, aku hanya bisa memendam semuanya, menghargai pilihan yang telah kamu buat sebelumnya."
"Namun, saat melihat kegusaran Daren, membuatku mengerti, bahwa sebenarnya kamu tidak mencintai pria itu. Maka dari itu, mulai saat ini aku tetapkan untuk mengejarmu, tak peduli jika kamu memiliki pasangan atau tidak," ujar Juni panjang lebar. Akhirnya uneg-uneg yang selama ini tersimpan akhirnya berhasil ia utarakan pada Shinta.
"Sekarang ... Apakah berarti kamu menerimaku?" tanya Juni dengan sangat berhati-hati.
Cukup lama Juni menunggu jawaban tersebut dari bibir Shinta. Hingga akhirnya, gadis itu pun memberanikan diri menatap mata pria yang ada di hadapannya, lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Maafkan aku, Jun."
Bersambung ....
Ape nih shinta? Jangan ngadi-ngadi ya😌 kemarin berharap, lah kenapa sekarang minta maaf😏
Untuk sementara slow update dulu ya bestie, othor lemes bgt kurang vitamin. Mau liat yang ganteng-ganteng dulu biar seger😆