
Keesokan harinya, Shinta baru saja bersiap-siap untuk pergi bekerja. Gadis tersebut tampak rapi dengan setelan kantornya. Ketika ia keluar dari unitnya, gadis tersebut cukup terkejut karena ada dua pria yang berdiri di depan pintu.
"Wow, ada apa ini? Kenapa kalian berdua berdiri di sini?" tanya Shinta menatap Juni dan Daren secara bergantian.
"Aku ingin mengajakmu ke kantor bersamaku," ucap kedua pria tersebut secara bersamaan.
Benar saja, sebelum Shinta keluar dari unitnya. Kedua pria tersebut seperti tengah berlomba untuk mengajak Shinta ikut bersamanya. Bahkan, sempat terjadi saling sindir menyindir diantara keduanya. Dan mereka menghentikan adu mulut itu setelah melihat Shinta yang baru saja keluar dari huniannya.
Shinta mengerjapkan matanya beberapa kali. Entah mengapa kedua pria ini terlihat sangat kompak. Sedari semalam, keduanya bahkan mengirimkan pesan singkat dengan isi yang sama. Dan kali ini, kedua pria tersebut berucap dengan serentak dan juga melontarkan kalimat yang sama.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Shinta keheranan dengan sikap kedua pria tampan itu.
Juni berdecak sebal sembari menatap Daren dengan tajam. Daren juga melakukan hal yang sama dengan Juni.
"Ikutlah bersamaku!" ajak Juni menarik bagian lengan blazer yang dipakai Shinta.
"Tidak! Kamu ikut denganku!" ucap Daren yang tak mau kalah. Pria tersebut menarik tas selempang yang melekat di tubuh Shinta, membuat gadis tersebut lebih bergeser ke arahnya.
Melihat hal tersebut, Juni kembali menarik lengan blazer Shinta. Daren juga membalasnya dengan menarik sling bag milik Shinta agar gadis itu lebih mendekat ke arahnya. Terjadilah aksi saling tarik menarik yang membuat Shinta merasa pusing karena kedua orang tersebut ribut-ribut.
"Stop!" tegas Shinta membuat kedua orang tersebut menghentikan aksi gila mereka.
"Untuk kedepannya, aku tidak akan ikut bersama Juni ...." Pandangan gadis tersebut mengarah ke Juni.
"Dan juga Daren," lanjutnya menatap Daren.
"Aku akan berangkat naik taksi saja, dan berhenti bertingkah seperti anak kecil!" tegas Shinta yang kemudian memilih untuk meninggalkan kedua pria tersebut.
Juni dan Daren saling berpandangan, lalu sesaat kemudian membuang muka. Mereka berdua langsung mengekor di belakang Shinta.
Saat ini, mereka sudah berada di luar gedung. Dan benar saja, Shinta langsung berangkat menggunakan taksi, tidak ikut bersama mereka.
"Sekarang ... puas kamu seperti ini? Kamu lah tang lebih dulu bertingkah kekanak-kanakan dibandingkan dengan aku," tukas Juni.
"Aku? Bukankah kamu duluan yang memancingku?" Daren tak mau kalah, ia terus saja membalas ucapan Juni hingga pria tersebut memilih untuk diam dan meninggalkan Daren dari tempat itu.
Shinta yang berada di dalam taksi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mengingat bagaimana sikap dua pria yang merupakan tetangganya itu.
Mungkin Shinta sudah bisa menebak, jika Daren memang sedikit memperhatikannya bukan sekedar teman. Namun, bagaimana dengan Juni? Pria tersebut seakan mengikat simpul yang tak kasat mata pada Shinta.
"Apakah sikap yang kamu tunjukkan sama dengan tujuan Daren. Jika memang benar begitu, aku sangat senang, berarti diriku tak bertepuk sebelah tangan," gumam Shinta.
"Namun, jika ini semua kamu lakukan hanya sekedar menganggap diriku sebagai teman, sepertinya ini terlalu berlebihan." Gadis itu kembali bergumam.
"Entahlah! Aku sudah tidak ingin terlalu banyak berharap padamu. Sepertinya sudah cukup," lanjutnya.
Ia menurunkan jendela kaca mobil tersebut, mencoba menghirup oksigen dengan rakusnya. Mencoba untuk menghilangkan semua beban pikiran yang selama ini memenuhi isi kepalanya.
Di waktu yang bersamaan, Rania dan Alvaro menikmati sarapannya bersama dengan keluarga besar di rumah utama.
Sesekali Rania melirik Alvira yang sedari tadi mengembangkan senyum. Entah apa yang membuat janda anak satu itu teramat bahagia.
"Vira, kamu tidak salah minum obat kan?" tanya Alvaro memperhatikan saudara kembarnya sedari tadi.
"Husstt ... Mas, kamu ini ...." Rania menegur suaminya sembari menyenggol lengan pria tersebut.
"Saudara kembarmu lagi kasmaran, Varo. Tolong mengertilah," celetuk Arumi.
"Kasmaran itu apa, Nek?" tanya Bima yang tidak mengerti dengan kata tersebut.
"Nanti setelah Bima dewasa, Bima akan mengetahuinya. Sekarang, habiskan sarapannya," ujar Fahri.
"Baik, Nek." Bima pun kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Ah iya, aku lupa. Mas, hari ini aku akan ke sekolah Bima. Soalnya ada acara perpisahan di sekolah Bima," ucap Rania.
"Perpisahan apa?" tanya Alvaro.
"Bu Guru mau pindah, Pa. Dia tidak lagi mengajar di sekolah Bima," jelas anak laki-laki tersebut.
"Nana?" tanya Alvaro lagi.
"Iya, Mas. Kemarin Nana menghubungiku, bahwa dia akan mengadakan acara kecil-kecilan di sekolah untuk kepindahan dia. Soalnya setelah ini ia akan ikut dengan suaminya," papar Rania.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan," ucap Alvaro.
"Sebaiknya Rania diantar dengan Pak Dadang saja. Jangan berkendara saat sedang hamil," ujar Arumi memberikan saran pada menantunya itu.
"Iya, Ma."
Kedua mobil tersebut melaju dengan berlainan arah. Rania sedari tadi melihat Bima yang selalu menundukkan kepalanya.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu terlihat bersedih?" tanya Rania.
"Bima sedih, Ma. Perlahan orang-orang akan meninggalkan Bima. Dulu Bima harus berpisah dengan Febby. Dan sekarang, Bima juga harus berpisah dengan Bu guru," ujar anak laki-laki tersebut.
Rania mengulas senyumnya, ia pun merangkul tubuh mungil putra sambungnya. "Sayang, begitu lah kehidupan. Ada beberapa orang yang akan meninggalkan kita. Dan setelah itu, kita kembali dipertemukan dengan orang-orang baru," jelas Rania memberikan pengertian pada putranya.
"Contohnya nanti, saat Bima masuk sekolah SD, Bima akan berpisah dari teman-teman yang ada di TK dan bertemu dengan orang-orang baru. Setelah Bima lulus SD, maka Bima akan bertemu orang baru lagi saat masuk SMP, dan begitu seterusnya,"lanjut ibu hamil tersebut.
"Orang-orang akan datang dan pergi. Ini satu contoh lagi. Seperti mama, dulu nenek membesarkan mama dari bayi hingga mama dewasa. Setelah mama menikah, maka mama ikut bersama papamu dan meninggalkan nenek. Setelah itu, nenek akan dipertemukan dengan orang baru, seperti Bima dan juga adik bayi yang ada di perut mama," papar Rania.
"Oh, begitu ya, Ma. Berarti setelah Bima dewasa nanti, Bima juga akan berpisah mama?" tanya Bima memperlihatkan wajah polosnya.
"Iya, Nak. Adik bayi yang ada di perut mama juga seperti itu nanti. Intinya setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, dibalik perpisahan itu, tentunya akan ada pertemuan lagi. Suatu hari nanti, Bima akan kembali bertemu Febby, Bima juga akan kembali bertemu Bu Guru Nana jika Tuhan mengizinkannya. Dan itu lah yang disebut takdir," ucap Rania panjang lebar.
Bima menganggukkan kepalanya, ia paham setelah mendengar penjelasan dari ibu sambungnya. Mungkin perpisahan adalah sesuatu yang menyakitkan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika suatu hari mereka kembali dipertemukan.
Tak terasa, mereka pun telah tiba di sekolah. Perbincangan di dalam mobil tadi, membuat perjalanan terasa lebih cepat dari sebelumnya.
Rania turun dari mobil bersama dengan putranya. Ibu hamil itu tampak cantik menggunakan terusan berwarna mocca, serta riasan wajah yang terlihat lebih natural.
Rania dan Bima bergandengan tangan, mengantarkan putranya menuju ke kelas. "Mama sudah lama tidak mengantarmu seperti ini," ujar Rania sembari mengulas senyum.
"Kata papa, perut mama itu berat, maka dari itu yabg bertugas mengantarkan Bima digantikan oleh Papa," ucap Bima.
Mendengar hal tersebut, Rania pun langsung terkekeh geli. "Papamu memang ada-ada saja," gumam ibu hamil tersebut.
"Tapi ... menurut Bima, apa yang dikatakan menang benar. Mana terlihat sangat susah berjalan dan perut mama juga besar. Apalagi adik bayi yang ada di perut mama itu dua orang," ucap Bima.
"Iya, memang lumayan berat." Anak dan ibu itu pun terkekeh.
Sesaat kemudian, mereka pun tiba di ruang kelas. Rania mengusap puncak kepala Bima dengan penuh kasih sayang.
"Masuklah, Nak. Mama akan bergabung dengan mama dari teman-teman mu yang ada di sana," ujar Rania seraya menunjuk ke arah perkumpulan wali murid yang tengah berbincang.
"Iya, Ma." Bima mengangguk, lalu kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas tersebut. Rania melambaikan tangannya saat melihat Bima yang sudah duduk di kursinya.
Saat hendak menuju ke kumpulan para wali murid, Rania berpapasan dengan Nana yang sudah membawa perlengkapan untuk mengajar.
"Bu Rania," ujar Nana menyapa Rania.
"Eh, Bu Nana." Rania mengulas senyumnya,
"Wah, si Bima sebentar lagi punya adik nih. Kembar ya?" tanya Nana.
"Iya, Bu. Tahu dari mana?" tanya Rania.
"Bima pernah bercerita, kalau dia akan memiliki adik kembar," ujar Nana.
Rania mengulas senyumnya, menatap Nana yang sedari tadi mengusap perutnya dengan lembut.
"Tadi pas di perjalanan, Bima sedih harus berpisah dengan Bu Nana," tutur Rania yang menceritakan tentang kejadian tadi.
"Sebenarnya saya juga sedih, Bu. Bagi saya, anak didik yang ada di sini sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Tetapi mau bagaimana lagi, aku akan menikah dan setelah ini akan menetap dengan suami di luar kota," jelas Nana.
"Iya, aku mengerti akan hal itu."
"Maka dari itu, Bu. Saya berinisiatif mengumpulkan para wali murid dan berencana membuat acara perpisahan saya. Ya ... untuk kenang-kenangan nanti," papar Nana.
Rania menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum. " Kami pasti nantinya akan merasa sangat kehilangan Bu Nana."
Mata Nana berkaca-kaca, ia cukup terharu dengan ucapan Rania yang baru saja di dengarnya.
Bel tanda masuk pun berbunyi, mengharuskan Nana segera ke kelas untuk memberikan materi pada anak didiknya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu. Bersiap untuk mengajar," ucap Nana.
Rania menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian, Nana pun berlalu dari hadapannya. Rania memandangi punggung wanita tersebut. Tak terasa, air matanya menetes, mengingat bagaimana Nana yang selalu ada untuk Bima disaat dirinya terlambat menjemput Bima sekolah.
"Ternyata aku juga merasa sedih karena kepergiannya," gumam Rania yang kembali melanjutkan langkah kakinya.
Bersambung ....
Gengs, akhir bulan nih. Kita gas poll ya. Jangan lupa saweran gift sama votenya biar makin ngebutš¤£š¤