Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 30. Buaya Rawa-Rawa


Andre melangkah pergi meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempatnya berlindung. Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena telah mengkhianati Alvira.


Pria tersebut menghadang taksi yang baru saja lewat, memilih meninggalkan semuanya termasuk kendaraan yang biasa ia gunakan sehari-hari.


Cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya taksi tersebut berhenti di tempat tujuan. Andre pun melangkahkan kakinya sembari menyeret koper yang ada di tangannya.


Pria tersebut mengetuk pintu, seorang wanita pun membukakan pintu tersebut.


"Mas?"


Andre tersenyum, "Mereka sudah mengetahui semuanya," lirih pelan pria tersebut.


"Apakah Vira tahu jika aku adalah ...."


"Tidak. Ku harap dia tidak mengetahui jika wanita yang telah ku nikahi diam-diam adalah dirimu," ucap Andre.


Di lain tempat, Alvira menatap langit malam melalui jendela kamarnya. Pikirannya kalut, hatinya masih sangat sakit mendapati kenyataan bahwa suaminya tidak hanya berselingkuh, bahkan secara diam-diam sudah menikah lagi tanpa sepengetahuannya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Alvira hanya menoleh sejenak, melihat Alvaro yang datang menghampirinya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Alvaro.


"Apakah aku terlihat baik-baik saja saat ini?" sindir Alvira.


"Namun, bagaimana pun juga aku berterima kasih karena Tuhan telah menunjukkan betapa bejatnya pria yang ku nikahi. Dan aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, karena kamu telah membongkar semua kebusukan Andre," ujar Alvira yang berusaha untuk mengembangkan senyumnya, mencoba menyembunyikan seribu luka.


"Jika kamu ingin menangis, menangislah! Kamu tidak sendirian, ada aku saudara kembarmu yang akan menghapus air matamu. Akan ku pinjamkan pundakku untukmu bersandar," tutur Alvaro dengan tulus. Ia tidak ingin jika saudara kembarnya itu akan merasa kesepian dan menangis sendirian.


Alvira tersenyum, ia langsung merangkul tubuh Alvaro, menangis sesegukan di dada bidang saudara kembarnya itu.


"Terima kasih banyak karena sudah membantuku," lirih Alvira di sela tangisnya.


"Tidak perlu sungkan, kita adalah saudara, sudah sepantasnya aku membantumu," timpal Alvaro.


Di waktu yang bersamaan, Arumi menangis meratapi nasib putrinya yang harus menelan pil pahit. Di saat putrinya tengah mengandung, dengan tidak tahu malunya menantunya itu berkhianat.


"mas, aku rasa inilah karma yang ku dapatkan. Aku pernah merebutmu dari Sifa dengan cara yang keji, akan tetapi kenapa harus Alvira yang menanggung dosaku, harusnya Tuhan menghukumku bukan putri kita," ujar Arumi tersedu.


Tubuh renta Fahri langsung memeluk tubuh istrinya. "Ini bukan karma, bukan juga salahmu. Aku sangat bersyukur kamu hadir di dalam hidupku. Meskipun dengan cara yang salah, akan tetapi tujuanmu baik," tutur Fahri mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


"Saat ini, Tuhan sedang menguji putri kita.," lanjut Fahri.


Setelah selesai mendengarkan keluh kesah dari saudara kembarnya, Alvaro memilih untuk berjalan menuju ke kamar tempat Bima berada.


Alvaro mengetuk pintu sejenak, lalu kemudian membuka pintu tersebut. Ia melihat pelayan yang sedari tadi menjaga Bima tengah membenarkan posisi tidur putra semata wayangnya itu.


"Dia sudah tertidur?" tanya Alvaro.


"iya, Tuan Muda." Pelayan tersebut menimpali.


"Biarkan saja dia tidur di sini, kalian menginaplah!" celetuk Alvira dari belakang membuat Alvaro langsung mengarahkan pandangannya pada saudara kembarnya.


"Kami pulang saja," ujarAlvaro.


"Jika kamu ingin pulang, pulanglah! Biarkan Bima di sini menemaniku malam ini, ku mohon." Alvira memperlihatkan wajah memelasnya, membuat alvaro pun menyerah. Mungkin kesedihannya akan sedikit berkurang jika ia membiarkan Bima untuk menemaninya.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, besok aku akan ke sini lagi untuk menjemput Bima," ucap Alvaro.


....


Setelah menerima makanannya, Rania menatap tetangganya yang tampaknya belum pulang juga sedari tadi.


"Hampir jam setengah sepuluh, tapi dia belum pulang juga," gumam Rania.


Tak lama kemudian wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Kenapa aku harus memikirkan dia pulang atau tidak? Terserah dia saja mau pulangnya jam berapa," ujar Rania bermonolog, merutuki dirinya karena trelah memikirkan sesuatu yang tidak penting. Gadis itu pun memilih untuk menutup pintunya, menikmati makanannya sebelum benar-benar dingin.


20 menit kemudian ....


Rania kembali keluar rumah. Namun, kali ini alasan wanita itu adalah membuang sampah. Ia membawa plastik yang berisi sampah. Saat keluar rumah, ia masih menyempatkan diri untuk melirik unit yang ada di sebelahnya.


"Dia masih belum pulang juga?" gumam Rania sembari melangkah masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, Rania mengingat-ingat bahwa sebelumnya Alvaro pergi dengan penampilan yang cukup rapi.


"Apakah dia memang pergi kencan buta?" Rania kembali bermonolog.


"Atau ... Jangan-jangan mereka saling tertarik dan melakukan cinta satu malam bersama dengan gadis tersebut." Rania membelalakan matanya sembari menutup mulutnya terkejut akan tebakannya.


"Tunggu, atau mungkin yang ia kencani adalah seorang janda?" masih dengan pemikirannya sendiri.


Pintu lift terbuka, Rania pun melangkahkan kakinya menuju ke pembuangan tempat sampah. Ia memasukkan plastik yang ada di tangannya ke dalam sebuah tong sampah yang berukuran cukup besar.


Tak lama kemudian, Rania melihat mobil Alvaro yang baru saja datang memasuki area parkiran. "Nah, itu dia!" celetuk gadis tersebut.


Alvaro turun dari mobilnya, ia melihat Rania yang kedapatan menatap ke arahnya. Dengan cepat gadis tersebut langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ternyata kamu sedang mencuri-curi pandang ke arahku," gumam Alvaro yang membawa langkah kakinya, berjalan menyusul Rania yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Kenapa kamu berada di luar malam-malam begini?" tanya Alvaro mensejajarkan langkahnya dengan Rania.


"Apakah kamu tidak melihat? Aku baru saja membuang sampah," ketus Rania,


Gadis itu masuk ke dalam lift, begitu pula dengan Alvaro. " Membuang sampah atau menungguku pulang?" celetuk Alvaro, entah keberanian dari mana hingga Alvaro tak merasa canggung lagi jika berhadapan dengan Rania.


"A-apa kamu bilang? Menunggumu? A-aku tidak menunggumu, tidak usah terlalu percaya diri!" Timpal Rania gugup dengan nada yang terbata-bata.


"Benarkah? Tapi aku sempat melihat kalau kamu tadi memandangiku saat di parkiran," celetuk Alvaro yang membuat wajah Rania semakin memerah karena malu.


"Haha ... Ternyata kamu sangat percaya diri sekali. Mataku ini memang ku gunakan untuk melihat ke segala arah. Tadi itu hanya kebetulan saja." Rania masih menyangkal.


"Lagi pula kurang kerjaan sekali menunggumu pulang, Kamu bukan siapa-siapa, jadi ... Aku tidak peduli akan hal itu," lanjut Rania.


"Kalau begitu berkencanlah denganku, supaya kamu lebih leluasa mengawasiku nanti," celetuk Alvaro.


Rania ternganga, menatap Alvaro dengan tatapan tak percaya. "Apakah kamu baru saja menembakku?" tanya Rania.


"Anggaplah begitu."


Bughhh ...


Rania menendang tulang kering ALvaro, membuat pria tersebut meringis kesakitan. "Dasar buaya rawa-rawa!" cecar Rania yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Alvaro.


"Ku rasa wanita itu memang sudah tidak waras!" ujar Alvaro seraya memegangi bagian kakinya yang sakit.


Bersambung ....


Habis tutup panci terbitlah buaya rawa-rawa. Besok dapet julukan apalagi nih dari Rania?😂