Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 183. Pindah Kamar


Alvaro berjalan menuju ke kamar Bima. Ia melihat istrinya tengah menyuapi putra semata wayangnya untuk sarapan. Bima awalnya menolak, akan tetapi Rania terus memaksa ingin memanjakan putranya yang sedang sakit. Melihat Alvaro baru saja masuk, pandangan keduanya pun teralihkan pada pria tampan yang telah berpenampilan rapi dengan setelan kantor berwarna navy.


"Bima masih sakit, Nak?" tanya Alvaro duduk di sisi ranjang putranya.


"Sudah agak mendingan, Pa. Bima sudah bilang pada mama untuk tidak usah menyuapi Bima. Namun, mama masih ingin menyuapi Bima," jelas anak berambut ikal tersebut. Ia tahu, ayahnya pasti akan menegur dirinya karena sudah merepotkan Rania.


"Biarkan saja, Mas. Lagi pula aku ingin memanjakan anakku sendiri. Apakah ada yang salah dengan hal itu?" protes Rania.


Alvaro tersenyum, Rania berucap demikian. Seakan menekankan pada Alvaro untuk tidak membatasi kedekatan Bima dan Rania. Walaupun bukan ibu kandung, Rania tetaplah ibu bagi Bima. Begitu pula Bima, yang merupakan anak bagi Rania.


"Mas sudah sarapan?" tanya Rania yang sadar karena hari ini ia lebih fokus ke Bima dibandingkan dengan Alvaro.


"Mas sarapan di kantor saja. Lagi pula hari ini Mas harus segera ke kantor karena ada rapat penting," ucap Alvaro.


"Tapi jangan sampai lupa sarapan ya, Mas. Atau mau aku bawakan makanan saja untuk Mas bawa ke kantor nanti?" tawar Rania.


"Tidak usah, Sayang. Biar Mas cari makan sendiri saja," tolak Alvaro yang memang tidak ingin membuat sang istri repot. Apalagi mengingat perut Rania yang sudah sangat besar.


Rania meletakkan piring yang ada di tangannya ke atas meja. Lalu kemudian wanita itu beranjak dari tempat duduknya.


"Nak, mama tinggal dulu ya, mau antar papamu sampai ke depan," ucap Rania pada putra sambungnya.


"Iya, Ma."


"Tidak usah, Sayang. Lagi pula aku bisa berpamitan dari sini saja," ujar Alvaro.


"Mas, ...." Rania langsung mendelik mendapatkan larangan tersebut dari suaminya.


Alvaro hanya bisa menghela napasnya. Ia melakukan hal ini karena tidak mau jika Rania terlalu sering naik turun tangga. Apalagi dalam kondisi hamil besar seperti ini. Tentunya akan membuatnya kesulitan berjalan.


Mau tak mau, Alvaro pun tetap mengalah, membiarkan sang istri mengantarnya sampai ke depan. Ia memapah istrinya, melangkah lebih kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan sang istri. Tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan jika Rania mencoba menirukan langkah Alvaro yang sangat lebar.


"Sayang, sebaiknya untuk sementara kita tidur di kamar bawah saja. Aku tidak ingin kamu terlalu sering naik turun tangga," ujar Alvaro yang mencoba memberikan saran pada sang istri.


"Tapi bagaimana dengan Bima, Mas? Kasihan Bima sendirian di atas," ucap Rania yang mengkhawatirkan putra sambungnya.


"Kalau begitu Bima nanti kita suruh pindah ke bawah juga. Lagi pula kamar di bawah kan ada dua. Jadi, kita semua pindah ke bawah sampai kamu melahirkan," ujar Alvaro.


Rania pun tampak menimbang-nimbang ucapan suaminya, lalu kemudian menganggukkan kepala, menyetujui pendapat sang suami. Lagi pula dirinya juga merasa mudah lelah saat naik turun tangga seraya membawa perut yang sudah sebesar sekarang ini.


Setelah cukup lama menuruni anak tangga, akhirnya mereka pun tiba di tingkat paling akhir. Tentunya membutuhkan kesabaran yang ekstra, apalagi Alvaro juga harus segera tiba di kantor.


Keduanya berjalan ke depan, hingga langkah mereka pun terhenti saat berada di teras rumah.


"Mas berangkat dulu ya, Sayang. Hati-hati di rumah. Tidak usah naik turun tangga, nanti aku akan menyuruh bibi untuk membersihkan kamar bawah dan memindahkan beberapa barang keperluanmu," ucap Alvaro.


"Iya, Mas. Mas juga hati-hati di jalan," ujar Rania.


Alvaro menganggukkan kepalanya, pria tersebut mengecup kening sang istri. Lalu kemudian mengusap perut Rania yang buncit.


"Jangan nakal ya, Nak. Jangan buat mama kelelahan," ucap Alvaro pada anak kembar yang masih berada di dalam rahim sang istri.


"Iya, Papa." Rania menirukan suara anak kecil, menimpali ucapan Alvaro seolah suara itu adalah suara sahutan dari si kembar yang ada di dalam perut tersebut.


Rania meraih punggung tangan sang suami, lalu kemudian mengecupnya. "Mas nanti pulangnya malam ya?" tanya Rania.


"Mas belum tahu, Sayang. Tapi ... mas akan usahakan untuk pulang secepatnya," ujar Alvaro.


Alvaro pun mulai berjalan menjauh dari sang istri. Pria tersebut masuk ke dalam mobil. Mulai melajukan kendaraan tersebut dengan menekan klakson, seolah kembali berpamitan pada sang istri dan mendo'akannya agar selamat sampai tujuan.


Setelah mobil tak lagi terlihat, Rania kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia tertegun, melihat beberapa pelayan yang masuk ke kamar bawah sembari membawa beberapa peralatan untuk bersih-bersih.


"Loh, ada apa, Bi? Apakah kamarnya mau dibersihkan sekarang?" tanya Rania.


"Iya, Nyonya. Tuan Alvaro meminta untuk segera di bersihkan dan memindahkan beberapa peralatan yang di atas untuk diletakkan di bawah. Tuan menyuruh kami untuk tidak memperbolehkan Nyonya naik ke atas lagi," jelas salah satu pelayan tersebut.


"Kapan Tuan memerintahkan hal tersebut pada kalian?" tanya Rania heran. Karena baru saja ia membahas hal ini dan semua pelayan langsung bergerak cepat untuk membersihkan semuanya.


"Baru saja, Nyonya."


"Hah?!" Rania langsung tercengang. Ia tidak tahu jika rencana pindah ke kamar bawah akan dilaksanakan secepat ini. Bahkan beberapa menit yang lalu Rania menyetujui hal tersebut, dan beberapa menit kemudian semuanya langsung terlaksana.


"Baiklah kalau begitu. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Rania yang hendak naik lagi ke atas, menemui putranya di kamar.


"Maafkan saya jika bersikap lancang, Nyonya. Tetapi tadi Tuan berpesan untuk tidak memperbolehkan Nyonya naik tangga lagi," ujar salah satu pelayan yang langsung menghadang Rania.


"Tapi Bima ada di atas. Aku harus menemui Bima," bantah Rania.


"Mama, ...." Bima memanggil Rania. Anak laki-laki itu menuruni anak tangga digendong oleh Pak Darman.


"Mama tidak usah naik ke atas lagi, Ma. Bima akan turun ke bawah untuk menemui mama. Bima merasa bosan jika terus menerus berada di dalam kamar," ucap anak laki-laki tersebut.


"Pak Darman, setelah sampai di bawah nanti, tolong turunkan Bima," ujar Bima berbicara pada Pak Darman.


"Tetapi kan Nak Bima belum benar-benar pulih," ucap Pak Darman.


"Yang terluka hanya kepala Bima, kaki Bima masih bisa dipakai untuk berjalan," sanggah Bima.


Setibanya di bawah, Pak Darman pun langsung menurunkan Bima. Perlahan, Bima berjalan menghampiri ibu sambungnya.


"Ma, Bima merasa bosan. Maukah mama menemani Bima menonton televisi?" tanya Bima.


Rania memeluk anaknya dan mengusap puncak kepala Bima. " Tentu saja, Nak. Ayo!" ajak Rania yang tampak antusias menuruti permintaan putra sambungnya itu.


Bima menggenggam tangan ibunya, berjalan menuju ke ruang keluarga untuk menuruti permintaan putranya, yaitu menonton bersama.


Setibanya di sana, Rania dan Bima menjatuhkan bokongnya di sofa. Rania mengambil remote yang ada di atas meja, memberikannya pada Bima untuk mencari channel mana pun yang hendak ia tonton. Hingga akhirnya, pilihannya pun tertuju pada kartun yang terkenal dengan kantong ajaibnya itu.


"Bima tadi sudah minum obatnya?" tanya Rania.


"Sudah, Ma. Selesai menghabiskan makanan yang ada di piring, Bima langsung minum obatnya, supaya cepat sembuh dan bisa kembali menjaga mama," tutur anak laki-laki berambut ikal tersebut.


Rania tersenyum, tangannya kembali mengusap puncak kepala Bima dengan penuh kasih sayang. Bima adalah sosok anak dengan hati yang hangat. Semua ucapan yang ia lontarkan selalu manis dan terasa enak di dengar.


"Terima kasih ya, Nak. Karena telah hadir di dalam hidup mama," ucap Rania.


"Bima juga berterima kasih pada mama, karena mama telah menjaga Bima dengan baik," balas Bima mengulas senyumnya.


Rania mengangguk, ia merangkul Bima, membiarkan anak laki-laki tersebut bersandar padanya. pandangan keduanya kembali tertuju pada layar televisi yang menampilkan kartun kesayangan Bima.


Bersambung ....