Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 59. Penyembuh Luka


Setelah menikmati makan malam, Alvaro memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Menghabiskan waktu di taman yang tak jauh dari restoran tersebut. Saat Alvaro mengajak Rania untuk melihat-lihat taman, menghabiskan waktu bersama, tentu saja membuat Rania dengan cepat menyetujuinya.


Saat ini, keduanya tengah duduk di bangku panjang yang ada di taman tersebut. Sementara Bima, pria itu sibuk berlari ke sana dan kemari di sekitar taman tersebut.


"Masalah yang kemarin ...." Rania mulai membuka suara, membuat Alvaro mengarahkan pandangannya pada gadis yang ada di sebelahnya.


"Aku minta maaf. Aku selalu berkata kasar kepadamu," ucap Rania.


"Kenapa tiba-tiba minta maaf? Dan kenapa tiba-tiba menyesalinya?" pancing Alvaro sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Aku awalnya mengira bahwa kamu adalah laki-laki brengs*k. Aku juga mengira kamu tidak ingin menggunakan akun utama saat mengikuti akunku, karena kamu memiliki banyak wanita."


"Jujur, aku membuka semua postinganmu sampai habis. Aku menemukan fakta baru. Kamu menduda karena istrimu meninggal bukan karena kalian bercerai hidup," tutur Rania yang menjelaskan semuanya kepada Alvaro.


"Lantas ... sekarang kamu juga menjadi penguntit?" goda Alvaro sembari tersenyum tipis.


"Ya, anggaplah saja aku begitu." Rania menimpali ucapan Alvaro dengan sedikit malas, mengingat pria tersebut mengatainya seorang penguntit.


Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing . Alvaro menghirup napasnya dengan dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Tidak semua laki-laki sama b*jingannya seperti mantanmu," ujar Alvaro.


Mendengar ucapan dari pria yang ada di sampingnya, membuat Rania langsung menoleh. Ia menatap Alvaro dengan seksama.


"Kamu bisa menyembuhkan luka lamamu dengan menerima pria yang baru. Namun, kamu juga harus siap terluka jika suatu saat nanti, pria itu kembali mengkhianatimu."


"Namanya juga berusaha, yang pasti ya begitulah. Takdir tidak selalu berjalan mulus seperti apa yang kita mau. Namun, setidaknya kamu pernah berjalan ke depan dan mencobanya sebelum menyerah," papar Alvaro.


"Lantas, bagaimana denganmu?" celetuk Rania.


Alvaro menundukkan pandangannya, seolah hamparan bebatuan yang ada di hadapannya lebih menarik dari pada hal yang lain.


"Cukup sulit untukku menerima wanita baru. Ada hal yang aku pikirkan sebelum membuka hatiku," ucap Alvaro yang mengangkat pandangannya, menoleh ke arah Bima.


"Aku bukanlah seorang pria lajang yang tidak memiliki tanggungan. Aku memiliki seorang putra yang harus aku jaga. Jika aku menerima wanita baru, apakah dia bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu kandung? Tidak cukup hanya mencintaiku saja, tetapi mencintai putraku juga." Alvaro menjelaskan semuanya pada Rania. Sementara Rania mendengarkan ucapan pria tersebut dengan seksama.


"Bisakah kamu menjadi penyembuh lukaku?" tanya Rania dengan tiba-tiba. Alvaro membeku, pria tersebut menatap manik mata gadis tersebut.


"Ke-kenapa ...." Alvaro merasa kerongkongannya diganjal oleh batu besar, tercekat tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa?" tanya Rania melihat ekspresi keterkejutan dari pria tersebut.


Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar, seolah merasa frustasi dengan kalimat yang diucapkan oleh Rania tadi.


"Seharusnya kamu jangan menyela ucapanku terlebih dahulu. Tadi ... aku belum selesai berbicara," gerutu Alvaro.


"Y-ya sudah, kalau begitu lanjutkan kata-katamu yang belum selesai," ucap Rania terbata-bata.


"Bagaimana aku hendak mengatakannya, jika ucapanku selanjutnya adalah kalimat yang baru saja kamu lontarkan padaku," ujar Alvaro.


"Yang mana?"


"Penyembuh luka. Aku ingin menjadi penyembuh lukamu, akan tetapi kamu mengucapkannya terlebih dahulu membuatku sedikit kehilangan muka," jelas Alvaro mengusap tengkuknya karena merasa malu.


Rania mengulum senyumnya. Kali ini, ia benar-benar bahagia dan tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Pria yang ia sukai, akhirnya membalas perasaannya.


"Anggap saja yang berucap tadi adalah kamu, karena kalimat yang kita lontarkan memiliki makna yang sama," ucap Rania tersipu malu.


"Hahaha iya." Alvaro tertawa renyah. Pria tersebut sesekali mencuri pandang ke arah Rania. Rania juga melakukan hal yang sama, hingga mata mereka saling bertemu, lalu kemudian menunduk dan tersipu malu.


"Berati kita ...."


"Maukah kamu menjadi kekasihku? Maaf jika aku mengatakannya sedikit terlambat. Aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat."ujar Alvaro.


Tanpa berpikir lama-lama, Rania pun tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Iya, aku mau."


Alvaro menendang-nendang pasir, seakan menumpahkan rasa bahagianya karena Rania yang menerimanya. Sementara Rania, gadis itu menyelipkan rambut di telinganya. Lalu kemudian meremas kedua tangannya sembari mengulum senyum.


"Sementara kamu menyembuhkan lukaku, aku akan mencoba memantaskan diriku. Apakah aku bisa memberikan kasih sayang seperti yang kamu maksudkan tadi untuk putramu? Kamu bisa menyeleksi ku dengan hal itu,"ujar Rania.


Tak lama kemudian, Bima berlari menghampiri kedua manusia yang tengah berbunga-bunga itu. Anak laki-laki tersebut langsung menyandarkan kepalanya di pangkuan ayahnya.


"Papa ayo pulang!" rengek Bima sembari mengusap-usap matanya.


"Kamu sudah mengantuk, Boy?" tanya Alvaro.


Bima menganggukkan kepala, menanggapi ucapan ayahnya itu.


"Ayo kita pulang! Bima besok mau sekolah, dan kamu juga besok harus bekerja, begitu pula denganku," ajak Rania yang sudah beranjak terlebih dahulu dari tempat duduknya.


Alvaro pun langsung menggendong anaknya dan beranjak dari tempat duduknya. Alvaro dan Rania berjalan beriringan menuju ke mobil. Keduanya sesekali saling melirik lalu kemudian melemparkan senyum, layaknya dua pasangan remaja yang baru saja mengenal cinta. Anggap saja ini adalah masa pubertas kedua bagi Alvaro.


Rania membantu Alvaro membuka mobil, sementara pria itu memasukkan putranya ke dalam mobil tersebut.


"Aku duduk di belakang saja sembari menjaga Bima. Kamu duduk sendirian di depan tidak apa-apa kan?" tanya Rania.


"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih," ucap Alvaro.


"Sama-sama." Rania pun langsung masuk ke dalam mobil, menduduki kursi belakang. Memangku kepala Bima agar mendapatkan posisi yang nyaman.


Melihat hal tersebut, membuat Alvaro mengulas senyum. Pemandangan manis yang seakan mereka adalah satu keluarga utuh. Namun, ia tak melupakan sosok Diara. Meskipun saat ini dirinya telah memiliki hubungan dengan Rania, akan tetapi Diara tetap ada di hati Alvaro dengan porsi yang berbeda. Diara adalah cinta pertama Alvaro, dan Rania jika berjodoh akan menjadi cinta terakhir untuk pria itu.


Alvaro melajukan mobilnya, membelah jalanan malam kota itu. Saat di tengah perjalanan, sesekali ia melirik kekasihnya melalui kaca mobil. Rania juga ketahuan mencuri pandang Alvaro, keduanya lagi-lagi saling melempar senyum.


"Fokuslah menyetir, aku masih ingin hidup lebih lama dan menghabiskan waktu bersama denganmu," tegur Rania dengan kalimat manisnya.


Alvaro hanya menanggapi dengan anggukan disertai senyuman manis yang menghias wajah tampannya. Pria tersebut menjadi murah senyum setelah resmi memiliki hubungan dengan Rania beberapa menit yang lalu. Bahkan, raut wajah datar Alvaro seakan menghilang begitu saja.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun tiba di lokasi. Alvaro memarkirkan mobilnya, lalu bergegas turun dari mobil, membantu Rania yang terlihat kesusahan untuk menggendong Bima yang memang cukup berat.


"Tidak usah menggendong Bima, biar aku saja. Kamu hanya perlu merindukanku saja," celetuk Alvaro yang tak segan-segan menggoda Rania.


Rania tersenyum, tangannya mencubit pelan lengan Alvaro karena merasa gemas dengan kekasihnya itu.


"Kamu lebay!" cecar gadis tersebut yang tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Keduanya berjalan menuju ke lift, Bima masih terlelap dalam gendongan ayahnya meskipun kedua orang dewasa tersebut saling melemparkan candaan.


Kini mereka sudah berada di depan pintu masing-masing. Rania menatap Alvaro, begitu pula dengan Alvaro yang masih berdiri di depan pintunya.


"Masuklah!" ujar Rania.


"Kamu masuklah terlebih dahulu," ucap Alvaro.


"Baiklah. Kalau begitu ... selamat malam," ujar Rania seraya melemparkan senyum.


Alvaro hanya mengangguk pelan, memperhatikan kekasihnya yang mulai masuk dan menutup pintu. Rania mengintip Alvaro dari lubang kecil yang ada di pintunya. Melihat tetangganya yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu mulai masuk dan menutup pintunya.


Setelah pintu milik tetangganya tertutup rapat, gadis itu pun berjalan menuju ke kamarnya sembari menari-nari karena rasa bahagia yang membuncah di hatinya.


"Cintaku ... tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih, dari apa adanya dirimu, selalu ...." Rania menari-nari dan bersenadung saat berjalan menuju ke kamar. Senyumnya sedari tadi selalu menghiasi wajah cantiknya.


Gadis itu pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama kemudian ia berteriak karena kegirangan. "Argghh ... akhirnya aku bisa menjadi kekasihnya!" seru Rania yang heboh sendiri di dalam kamarnya.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro baru saja membaringkan putranya di atas kasur, melepaskan sepatu yang dikenakan oleh anak laki-laki itu, lalu kemudian memakaikan selimut untuk Bima dan memberikan kecupan singkat di kening putranya.


"Semoga mimpi indah, Jagoan Papa."


Alvaro mematikan lampu, menyisakan lampu tidur sebagai pencahayaan di kamar Bima. Pria itu melangkah menuju ke kamarnya, lalu kemudian mulai merebahkan tubuh, dengan pandangan yang menatap langit-langit kamarnya. Tangannya meraih bingkai foto berukuran kecil yang ada di atas meja nakas.


"Diara, aku telah menemukan wanita baru. Namun, aku tidak akan pernah melupakanmu. Tolong restui hubungan kami," gumam Alvaro seraya mengembangkan senyumnya.


Bersambung ....


Ciecie yang lagi berbunga-bunga 🤭