Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 33. Jatuh Cinta


Suasana di kantor cabang pun menjadi tenang. Semua orang kembali mengerjakan tugasnya masing-masing. Alvaro dapat menghela napasnya dengan lega karena telah berhasil mengatasi kekacauan akibat perbuatan iparnya itu.


Tak lama kemudian, Alvira ditemani oleh Arumi datang ke kantor. Sementara Fahri, saat ini tengah berada di kantor pusat.


"Mama, Alvira, ..." Alvaro beranjak dari tempat duduknya saat melihat kedua wanita tersebut masuk.


"Apakah masalahnya sudah selesai?" tanya Arumi.


"Aku sudah berhasil mengatasinya, Ma. Upah mereka sudah mulai di bayar hari ini," timpal Alvaro.


"Syukurlah kalau begitu." Arumi mengelus dadanya, merasa lega karena keributan telah mereda.


"Aku sudah melaporkan Andre kepada polisi, pria bajingan itu akan segera di tangkap," celetuk Alvira. Tak lama kemudian, dia memegangi perutnya seraya mengernyitkan kening, membuat Arumi dan Alvaro pun langsung panik.


"Kenapa? Apakah kamu merasakan sesuatu?" tanya Alvaro.


"Tidak apa-apa, aku merasa bayiku saat ini tengah menendang-nendang, karena aku baru saja mengumpat ayahnya," celetuk Alvira membuat Arumi dan juga Alvaro tertawa mendengarnya.


"Aku serahkan semuanya padamu. Tolong kamu urus dulu sampai aku benar-benar bisa aktif kembali," ucap Alvira.


"Tenang saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkan akan hal tersebut. Sebaiknya kamu beristirahat di rumah, tidak usah banyak berpikir yang macam-macam karena urusan kantor biarlah aku yang menanganinya. Akan ku pastikan semuanya aman terkendali," ujar Alvaro yang ditanggapi sebuah anggukan kecil oleh Alvira.


"Kalau begitu, aku dan mama pamit dulu," ucap Alvira.


"Ayo Ma, temani aku berbelanja. Aku ingin mencuci mata di saat pikiranku sedang kalut seperti ini," lanjut Alvira menatap ke arah Arumi.


"Tentu saja! Ayo kita pergi!" ajak Arumi yang langsung menggandeng tangan anaknya, karena bagi Arumi, Alvira tetaplah gadis kecilnya.


Kedua wanita tersebut meninggalkan ruangan. Alvaro menatap punggung Alvira, ia merasa sedih akan nasib yang dijalani oleh saudara kembarnya itu.


Masalah perselingkuhan suaminya yang bahkan sudah memiliki anak hasil hubungan gelap tersebut, belum lagi masalah perusahaan yang juga hasil dari perbuatan Andre, apalagi mengingat kondisi Alvira yang saat ini tengah mengandung, tentunya wanita tersebut merasa sangat sensitif dengan keadaan sekitar. Hanya saja Alvira memendamnya tanpa ingin memperlihatkan kesedihan.


Ponsel Alvaro berbunyi, dering alarm tanda bahwa dia sudah harus menjemput putranya di sekolah. Pria itu pun bersiap, lalu kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Saya keluar sebentar karena ada urusan," ucapnya pada sekretaris baru yang dipekerjakan oleh Andre baru-baru ini.


"Baik, Pak." wanita tersebut menimpali sembari menundukkan kepalanya.


Alvaro pun berlalu dari meja sekretaris tersebut. Ia berjalan menuju keluar untuk menjemput jagoan kecilnya.


"Semoga dia tidak lagi merajuk," gumam Alvaro.


....


Rania baru saja selesai menangani pasiennya yang terakhir sebelum jam istirahat. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat saat mengingat kejadian tadi pagi.


Dimana ia tanpa sengaja jatuh ke pelukan Alvaro, lalu kemudian saat di lift, ia memberanikan diri menatap pria tampan tersebut.


Masih tercetak jelas diingatnya saat melihat rahang Alvaro yang tegas, hidungnya yang lancip, serta bibirnya yang .... argghhh!! Membayangkan hal tersebut tentunya membuat Rania semakin gila.


"Aku menarik ucapanku yang sempat mengatainya tutup panci," batin Rania.


Hilda melihat Rania dengan tatapan bingungnya. Bagaimana tidak? Rania sedari tadi hanya tersenyum sendiri sembari melamun..


"Bu Dokter, ..." Hilda melambaikan tangannya di depan wajah Rania. Sementara masih asyik dengan pikirannya yang melalang buana.


"Ayo ngaku ... Bu Dokter sedang memikirkan siapa?" goda Hilda yang mengetahui ekspresi jatuh cinta dari Rania.


"Aku tidak memikirkan siapa-siapa," elak Rania.


"Mengakulah Bu Dokter, tercetak jelas tulisan di keningmu bahwa saat ini Bu Dokter sedang jatuh cinta," celetuk Hilda.


Sontak Rania pun memegang keningnya, "Mana ada! Aku tidak jatuh cinta pada siapapun!" Rania masih kekeuh mengelak praduga dari Hilda.


Hilda terkekeh geli melihat Rania yang terus saja mengelak. "Tanpa harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya, semua orang sudah bisa menebak bahwa Bu Dokter sedang jatuh cinta. Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi, aku sudah lapar, Bu Dokter mau pesan apa?" tanya Hilda mengeluarkan ponselnya, siap untuk memesan makanan.


"Seperti biasa." Rania menimpali sekenanya. Gadis itu masih memikirkan tentang ucapan yang baru saja Hilda katakan tadi padanya.


"Apakah benar aku sudah jatuh cinta padanya?" batin Rania bertanya-tanya.


....


Alvaro tiba di sekolah Bima. Ia melihat jagoan kecilnya itu tengah menunggu sembari menaiki ayunan, ditemani oleh Nana.


"Papa!" seru Bima yang langsung berlarian menghampiri Alvaro.


Alvaro mengulas senyumnya, melihat buah hatinya kembali bersemangat lagi. Ia pun langsung menggendong Bima, menciumi kedua pipi gembul itu secara bergantian.


"Papa, maafin Bima ya. Bima nakal karena sempat merajuk dengan Papa. Bima janji, Bima tidak akan lagi merajuk," tutur pria kecil tersebut.


"Janji?" tanya Alvaro sembari menjulurkan jari kelingkingnya.


"Janji, Pa." Kelingking mungil milik Bima pun mengait kelingking ayahnya, pertanda bahwa ia berjanji untuk tidak merajuk lagi.


Alvaro mengarahkan pandangan pada Nana yang sedari tadi mihat keduanya dari kejauhan. Pria tersebut menurunkan Bima dari gendongannya, lalu kemudian berjalan menghampiri Nana.


"Terima kasih karena telah menjaga Bima dan membuatnya bersemangat kembali," ucap Alvaro dengan tulus.


"Iya, sama-sama. Lagi pula sudah menjadi tugas kami," balas Nana yang juga ikut tersenyum.


"Kalau begitu ... saya permisi dulu," ucap Alvaro, dan ditimpali anggukan kecil oleh Nana.


Kedua pria berbeda generasi itu pun langsung melangkah pergi meninggalkan Nana yang masih mematung di sana. Gadis itu hanya menatap punggung keduanya yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.


"Seorang anak memang tidak pernah cukup mendapatkan kasih sayang dari ayahnya saja. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, pasti akan ada saatnya ia membutuhkan hangatnya kasih sayang dari seorang ibu."


"Andaikan waktu itu aku tidak ceroboh, mungkin Pak Alvaro akan bersikap baik padaku dan mempertimbangkan untuk memilih ku. Sayangnya, aku sudah terlanjur malu dan kehilangan muka," lirih Nana.


Sore itu, sebelum pulang ke rumah, Rania singgah di supermarket. Wanita tersebut mendorong trolinya, melihat-lihat bahan yang hendak di belinya untuk mengisi kulkasnya yang kosong melompong.


Rania berjalan menuju ke deretan mie instan, karena dirinya yang memang malas untuk memasak, tentu saja produk yang satu itu adalah hal utama yang harus ia beli.


Setelah itu, ia beralih menuju ke makanan ringan. Rania mengambil beberapa makanan ringan yang menjadi favoritnya. Saat ia hendak mendorong kembali trolinya, matanya langsung terbelalak saat melihat siapa tengah berada di depannya.


Bersambung ....


Kira-kira siapa tuh yang dilihat Rania🤔