
Alvaro tiba di kantor. Seperti biasa, kehadirannya akan disambut oleh sang asisten yang sudah berjaga di pintu masuk.
Alvaro memperhatikan seksama wajah asistennya. "Sepertinya wajahmu telah bertambah beberapa kerutan baru," celetuk Alvaro yang terlalu mendetail, menunjuk bagian kerutan yang baru saja ia lihat.
Juni terkejut, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Pria tersebut langsung meraba wajahnya. Entah mengapa ia benar-benar panik pada kerutan di wajahnya yang dikomentari oleh atasannya itu.
"Beberapa hari terakhir, kamu terlihat sedikit kaku. Wajahmu kusut seperti pakaian yang belum disetrika," ujar Alvaro.
Juni hanya diam sembari mengikuti langkah Alvaro yang berjalan di depannya. Bagaimana wajahnya tak terlihat kusut. Saat ini selain beban pekerjaan, ia juga memiliki alur percintaan yang cukup rumit. Di tambah lagi dengan Shinta yang secara terang-terangan selalu berdua dengan Daren, seakan hendak menambah beban di pikiran Juni.
"Berkas yang kemarin, sudah diinput ulang?" tanya Alvaro.
"Sudah saya serahkan pada Shinta, Pak." Juni menimpali ucapan atasannya.
"Sebenarnya ada apa dengan kamu dan Shinta. Jika diperhatikan kalian benar-benar kaku, tidak seperti biasanya yang selalu mengusik saya dengan tingkah konyol kalian berdua," ujar Alvaro sembari bersedekap.
"Shinta, saya perhatikan sering sekali membuat kesalahan. Sementara kamu, lebih kaku dari biasanya. Ayolah! Berbaikan jika itu akan membuat pekerjaan kalian menjadi terganggu. Jika memang tidak ingin, bisalah untuk bersikap lebih profesional dan tak memperlihatkannya secara jelas," lanjut Alvaro berucap panjang lebar.
"Maafkan saya, Pak. Saya akan memperbaiki kesalahan saya," jawab Juni yang hanya mendapatkan respon anggukan dari Alvaro.
Kedua pria tampan tersebut berjalan menuju ke ruangan CEO. Dilihatnya Shinta yang sudah berdiri tepat di depan pintu tersebut, untuk menyapa Alvaro serta memberikan dokumen yang diminta oleh atasannya.
"Selamat pagi, Pak." Shinta menyapa sembari menundukkan pandangannya.
Alvaro menatap ke arah sang asisten sejenak, Juni yang melihat hal tersebut sedikit heran dengan tatapan yang diberikan Alvaro.
Pria itu pun masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh dua orang bawahannya yang berjalan di belakang. Alvaro menjatuhkan kursinya di kursi kebesarannya.
Shinta maju, gadis itu menyerahkan dokumen tersebut pada sang atasan.
"Sudah dipastikan tidak ada kesalahan lagi?" tanya Alvaro.
"Sudah saya periksa semua, Pak." Shinta menjawab pertanyaan atasannya.
Alvaro pun mulai membuka dokumen tersebut, membacanya satu persatu. Lalu kemudian menutup kembali dokumennya, beralih memperhatikan Shinta dan juga Juni.
"Shinta, kamu bisa kan lebih fokus ke pekerjaan? Saya tidak mau kamu selalu salah mengetik dokumen. Apalagi kalau dokumen penting," ujar Alvaro.
"Baik, Pak. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi," ucap Shinta.
"Berapa kali kamu berjanji dan akhirnya kamu mengulangi kesalahan yang sama. Apakah ini semua karena pria yang ada di sebelahmu?" tanya Alvaro menatap curiga.
Juni dan Shinta saling menatap sejenak, lalu kemudian Shinta pun membantah hal tersebut dengan menggunakan gerak tubuhnya.
"Ah itu ... itu tidak benar, Pak. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan asisten Juni," sanggah Shinta.
"Benarkah? Aku kira ini semua karena pria di sebelahmu. Aku harap saat di kantor, kalian fokus bekerja dan jangan membawa masalah pribadi ke kantor yang akhirnya membuat kalian kehilangan fokus," tegas Alvaro.
"Baik, Pak." Keduanya menjawab dengan serentak.
"Kalau begitu kalian boleh pergi," lanjut Alvaro.
Keduanya langsung menundukkan kepalanya sejenak, lalu kemudian pamit undur diri dari hadapan Alvaro. Sesampainya di luar, Shinta kembali menundukkan kepalanya sebelum berlalu dari hadapan Juni.
"Ada apa, Pak?" tanya Shinta.
"Apakah kamu kehilangan konsentrasi karena ku?" Juni balik bertanya.
Shinta menggelengkan kepala," Kehilangan konsentrasi saya bukan karena Pak Juni," ujarnya yang memanggil Juni dengan embel-embel 'Pak' tidak seperti biasanya.
Shinta berbohong karena telah berucap demikian. Sebenarnya ia memang terganggu akan Juni, karena otaknya telah terisi penuh oleh nama pria tersebut. Namun, Shinta berusaha menampiknya dengan mengatakan hal sebaliknya. Ia tak ingin lagi membuat masalah karena ucapannya.
Juni hanya mengangguk paham. Pria tersebut berlalu meninggalkan Shinta begitu saja. Dalam hati kecilnya, ia berharap jika Shinta merasa terganggu olehnya. Dengan begitu, Juni memiliki harapan bahwa Shinta merasakan hal yang sama dengannya.
Sikap kaku yang diperlihatkan oleh Juni, hanya untuk menutupi kegundahan di hati. Kini Juni pun telah berasumsi, bahwa Shinta lebih nyaman akan sikap dingin yang diperlihatkan Juni dan tidak berharap akan kembali seperti semula.
Waktu makan siang pun telah tiba. Shinta meregangkan otot-ototnya, merasa pegal pada bagian punggungnya. Tak lama kemudian, terdengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Shinta pun meraih benda pipih tersebut dan membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Daren.
Apakah kamu mempunyai waktu untuk makan siang bersamaku?
Shinta membaca rentetan pesan tersebut. Ia ragu hendak menyetujuinya karena saat ini Shinta hendak memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Melihat setumpuk dokumen yang harus ia kerjakan.
Mungkin lain kali saja. Saat ini pekerjaanku belum terselesaikan.
Shinta membalas pesan singkat tersebut, lalu kemudian kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ayo Shinta, kamu pasti bisa menghindari kesalahan itu. Jangan karena seorang pria, hidupmu berantakan," ujarnya bermonolog.
Gadis itu kembali memegang mouse, lalu kemudian menatap layar komputer yang ada di hadapannya.
Berselang beberapa waktu kemudian, salah satu office girl menenteng satu kantong plastik menuju ke meja Shinta.
"Maaf, Mba Shinta. Ini ada titipan," ujar wanita tersebut sembari menyodorkan kantong plastik berisi makanan serta kopi.
"Titipan dari siapa, Mba?" tanya Shinta menerima plastik tersebut dari tangan si office girl.
"Saya dilarang menyebutkan namanya, tetapi dia berpesan agar Mba Shinta menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan," tutur wanita tersebut.
"Baiklah, katakan padanya bahwa aku berterima kasih," ujar Shinta.
"Baik, Mba." Office girl tersebut melangkah pergi dari tempat itu.
Sementara Shinta, gadis itu mengerutkan keningnya mendapatkan makanan dari seseorang yang tak ia ketahui. Tak lama kemudian, ia pun menatap layar ponselnya. Satu pesan dari Daren tak terbaca olehnya. Shinta membuka isi pesan tersebut.
Aku akan mengirimkan makanan untukmu. Ku harap kamu menghabiskannya terlebih dahulu, lalu kembali menyelesaikan pekerjaan mu.
Shinta membaca pesan tersebut dan mengangguk paham. " Oh, ternyata makanan ini dari Daren." Jemari Shinta kembali mengetikkan pesan balasan untuk Daren.
Terima kasih, makanannya sudah sampai.
Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Shinta membuka plastik tersebut, memeriksa makanan yang ada di dalamnya. Sesaat kemudian, kening wanita itu berkerut.
"Bukankah ini semua makanan dan kopi kesukaanku? Ternyata Daren sangat pintar dalam menebaknya," gumam Shinta langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Bersambung ....