Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 141. Kesakitan


Arumi langsung terkikik geli mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh cucunya. Sementara Rania dan Alvaro hanya bisa saling melemparkan pandangan.


"Bagaimana Varo? Apakah kamu bisa menjawabnya?" tanya Fahri sembari mengulum senyum.


"Bima sepertinya menyamakan ucapan kita layaknya rumus matematika," ujar Alvaro sembari mengendikkan bahunya.


Rania menatap Bima dengan seksama. Terlihat jelas jika putra sambungnya itu memang membutuhkan sebuah jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan tadi.


"Bima, ..."


Sang pemilik nama pun langsung mengarahkan pandangannya pada seseorang yang baru saja memanggilnya. Orang tersebut tak lain adalah ibunya sendiri.


"Iya, Ma." Anak laki-laki itu menimpali.


"Sini dulu, duduk dekat mama." Rania menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya. Bima pun melangkahkan kaki mendekat pada Rania, dan mendudukkan dirinya tepat di samping ibu sambungnya.


"Untuk pertanyaan yang tadi, mama akan memberikan jawaban pada Bima," jelas Rania.


"Tante Alvira dan juga Om Juna, mereka bukan hanya sekedar berteman saja, akan tetapi memiliki sebuah rencana ke depannya akan menikah," tutur Rania lembut mencoba menjelaskan pada putra sambungnya.


"Menikah itu seperti mama dan papa kemarin? Papa meletakkan cincin di jari mama?" tanya Bima.


"Iya, Nak."


"Oh, Bima paham Ma. Berarti Om Juni tidak boleh dipanggil papa karena tidak akan menikah dengan mama?" tanyanya lagi.


"Betul sekali. Jadi, jangan panggil 'papa' pada Om Juni ya Nak. Nanti papa Bima marah," ucap Rania sembari melirik Alvaro.


"Nah, seharusnya begitu, Varo. Menjawab pertanyaan anak itu harus dengan sabar," celetuk Arumi.


Alvaro hanya bisa tersenyum sembari mengusap tengkuknya. Dia mengakuinya, bahwa yang barusan dilakukannya adalah hal yang salah. Apalagi Bima bukanlah tipe orang yang masa bodo dengan jawaban yang didapatkan.


" Pa, maafkan Bima ya ... Bima tidak akan memanggil Om Juni dengan sebutan 'papa'." Bima langsung meminta maaf pada ayahnya, karena ucapan sebelumnya, mungkin menyakiti hati Alvaro.


"Iya, Nak. Papa juga minta maaf karena telah menjawab pertanyaanmu dengan asal-asalan," ucap Alvaro.


Semua orang di sana tersenyum. Kehangatan sebuah keluarga pun begitu terasa. Mereka kembali memperbincangkan hal yang lainnya. Sesekali terdengar gelak tawa memenuhi ruangan tersebut.


Tak terasa hari sudah mulai larut. Fahri dan yang lainnya hendak pulang ke rumah utama. Namun, Alvaro melarangnya.


"Ma, Pa, sesekali tidur di sini. Lagi pula mama dan papa belum pernah menginap di rumah ini," ucap Alvaro.


"Iya, yang diucapkan Mas Varo memang benar. Sebaiknya mama dan papa menginap saja dulu. Hari sudah larut, jalanan juga pasti sepi," sambung Rania dengan wajah yang memelas sembari memegangi lengan Arumi, bertingkah layaknya seorang anak kecil.


"Bagaimana Pa? Tidak apa-apa kan kita menginap di sini?" tanya Arumi meminta persetujuan pada sang suami.


"Kita menginap saja dulu, Pa." Kini Alvira juga ikut angkat bicara, mencoba membujuk sang ayah.


Fahri menghela napasnya, lalu kemudian menganggukkan kepala. "Baiklah, kita menginap di sini, tapi ingat! Hanya semalam saja!" tegas Fahri. Ia tidak ingin merepotkan Alvaro dan Rania dengan kehadiran mereka.


Alvira, Arumi, dan Rania pun langsung memeluk satu sama lain. Tak lama kemudian, Rania sedikit mengernyitkan keningnya, lalu kemudian memegangi perutnya.


"Awww ...." Rania meringis membuat semua yang ada di sana ikut panik.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alvaro.


"Kamu kenapa, Nak? Mana yang sakit?" Kali ini Arumi yang memberikan pertanyaan.


Rania menatap satu persatu orang yang ada di sana, memperlihatkan raut wajah cemas. Ia menekuk bibir bawahnya ke dalam seraya mengusap perutnya yang membuncit.


"Rania, katakan Nak, apa yang sakit? Biar kami panggilkan dokter," ucap Fahri dengan lembut.


Rania menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Pa. Tidak perlu panggil dokter," sergah Rania dengan gerakan tangannya.


Sesaat kemudian, ia sedikit menarik sedikit kaos yang dikenakan oleh Alvaro, tepatnya di bagian lengan. Wanita itu pun perlahan mendekatkan dirinya dan berbisik.


"Mas, buatkan aku sup kepiting jagung," ucap Rania mengulum senyumnya.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Rania.


"Jantungku hampir loncat dari tempatnya, Mbak. Aku kira Mbak kenapa, tidak tahunya hanya merasa lapar," celetuk Alvira.


"Varo, buatkan sup kepiting untuk istrimu. Kalau tidak dilaksanakan, nanti setelah lahir, liur anakmu menetes terus-menerus karena ibunya yang mengidam tetapi tidak kesampaian," ucap Arumi.


"Baik, Ma. Kalau begitu, aku antar dulu mama ke kamar," ujar Alvaro.


"Aku tidur di kamar Bima saja ya." Alvira mengacungkan tangannya.


"Ayo, aku antar." Rania menawarkan diri untuk mengantarkan adik iparnya ke kamar Bima.


Mereka pun berjalan berlainan arah. Fahri dan Arumi di ajak menuju ke kamar tamu yang ada di bawah. Sementara Alvira dan Rania menuju ke kamar Bima yang ada di atas.


Setibanya mereka di kamar Bima, Rania melihat putranya yang sudah tertidur lelap, menyisakan hanya lampu tidur saja yang menyala.


"Si Bima sepertinya kelelahan bermain bersama Abian. Lihatlah! Abian juga tertidur bahkan mendengkur," ujar Alvira.


Rania tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala Abian yang ditumbuhi rambut yang masih agak tipis dan halus.


"Tidurlah! Kamu juga pasti sangat lelah," ucap Rania.


Alvira menganggukkan kepalanya, lalu kemudian menidurkan Abian dengan sangat hati-hati. Abian sedikit menggeliat, lalu kemudian memiringkan tubuhnya ke arah Bima.


"Mbak, terima kasih karena telah menjadi ibu yang baik untuk Bima," ujar Alvira dengan tulus.


Alvira awalnya menyangka bahwa semua ibu tiri di dunia ini sangat kejam. Namun, beda halnya saat ia bertemu dengan Rania. Wanita itu bahkan menunjukkan rasa kasih sayang yang begitu besar pada anak sambungnya, membuat Alvira pun menepis ketakutannya.


Baik atau buruknya seseorang tergantung dari watak dan perilakunya masing-masing. Tidak bisa hanya karena menyandang nama ibu tiri maka wanita tersebut dianggap kejam.


"Seharusnya mbak yang berterima kasih, karena kalian sudah menerima mbak dalam keadaan apapun. Memberikan kehangatan dan arti sebuah keluarga yang sangat kental tanpa membedakan status sosial orang lain. Dari keluarga Alvaro, aku mendapatkan banyak hal yang berharga," tutur Rania mengulas senyumnya. Alvira juga membalas senyum yang ditunjukkan oleh kakak iparnya.


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Rania dan Alvira mengarahkan pandangannya ke sumber suara.


"Sayang, kamu mau tunggu di sini atau menemaniku di dapur?" tanya Alvaro, kepalanya menyembul keluar dari balik pintu.


"Ya sudah, aku ikut Mas aja," ujar Rania.


Rania mengarahkan pandangannya pada Alvira. "Mbak tinggal dulu ya. Kalian beristirahat lah dengan tenang. Kalau ada apa-apa, nanti langsung saja temui mbak di kamar," ucap Rania yang kemudian di jawab dengan sebuah anggukan pelan.


Rania pun langsung menyusul Alvaro, menemani sang suami memasak di dapur.


Bersambung ....