Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 90. Gara-Gara Diet


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di sekolah. Bima mencium tangan ayahnya sebelum turun dari kendaraan tersebut.


"Bima berangkat dulu ya, Pa." Bima berucap seusai mencium punggung tangan ayahnya.


"Iya, belajar yang rajin ya, Nak." Alvaro mengusap puncak kepala putranya.


Rania melepaskan sabuk pengaman, lalu kemudian turun dari kendaraan tersebut untuk mengantarkan Bima ke kelasnya.


"Nak, ..."


"Iya, Ma." Bima mendongakkan kepalanya.


"Jadi teman yang kamu ceritakan semalam adalah Febby?" tanya Rania yang kembali membuka obrolan tentang cerita Bima semalam.


"Iya, Ma. Yang Bima maksud semalam adalah dia," timpal Bima.


"Mama bisa melihatnya. Dia benar-benar tidak menyukaimu bahkan menunjukkan ekspresinya secara terang-terangan. Apa kamu buat salah?" tanya Rania lagi.


"Tidak, Ma. Bima tidak pernah jahat sama dia," jawab Bima.


"Setiap Bima ingin mendekat, Febby terus saja menjauh dari Bima. Padahal Bima hanya ingin berteman,"lanjut Bima.


Obrolan mereka terhenti saat tiba di depan kelas. Nana menghampiri keduanya dan langsung mengembangkan senyumnya.


"Sudah siap belajar, Bim?" tanya Nana.


"Siap, Bu Guru." Bima menimpali dengan semangat.


Rania tersenyum melihat antusias putranya dalam belajar. Wanita itu menatap gadis yang ada di hadapannya.


"Saya titip Bima ya ...." Rania mengembangkan senyum.


Nana menimpali ucapan Rania dengan anggukan pelan. Rania duduk berjongkok tepat di hadapan putra sambungnya.


"Mama pulang dulu ya, Nak. Belajar yang rajin, nanti mama akan jemput Bima pulang sekolah," ucap Rania.


Bima mengangguk, lalu meraih punggung tangan ibunya dan mengecupnya. "Hati-hati di jalan ya, Ma."


"Iya, Sayang."


Rania melangkah pergi dari tempat itu dan kembali berjalan menuju ke mobil. Alvaro tengah menunggu dirinya di dalam kendaraan tersebut sembari mengotak-atik ponselnya. Pandangannya teralihkan dari benda pipih tersebut saat melihat istrinya yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Ayo jalan!" ucap Rania setelah memasang sabuk pengamannya.


Di perjalanan, Alvaro menatap Rania,"Sayang, ku rasa tetangga kita agak sedikit aneh," ucap Alvaro.


Rania mengarahkan pandangannya pada sang suami. "Maksudnya?" tanya Rania.


"Iya, aku melihat dia sedikit aneh. Apalagi melihat anaknya yang menatap Bima dengan tatapan tidak suka," jelas Alvaro.


Rania setuju dengan ucapan suaminya. Apalagi mendengar cerita Bima semalam yang menurutnya memang agak sedikit aneh.


"Coba untuk tidak berpikiran negatif dulu, Mas. Mungkin memang mereka orangnya agak tertutup," ucap Rania yang mencoba untuk tidak menaruh curiga pada tetangganya.


"Ya, semoga saja."


Pandangan Alvaro tertuju pada gerobak bubur ayam yang ada di pinggir jalan. "Sayang, kamu mau bubur ayam?" tanya Alvaro.


"Mau, Mas." Rania menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.


"Tapi ... berat badanku sepertinya bertambah, sebaiknya tidak jadi saja." Rania mengingat kejadian tadi pagi, saat dirinya menatap seluruh tubuhnya di pantulan cermin.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku lebih menyukai badanmu yang berisi," tukas Alvaro yang langsung menepikan mobilnya.


Rania memajukan bibirnya dua centi. Perutnya lapar, tetapi ia tidak ingin goyah dengan niatnya untuk diet. Melihat Alvaro turun dari mobil, membuat Rania pun juga ikut turun dari kendaraan tersebut.


"Pak, bubur ayamnya ...." Ucapan Alvaro terhenti, lalu menatap ke arah sang istri.


"Kamu mau tidak?" tanya Alvaro.


Rania menggelengkan kepalanya. Baiklah, ia tidak boleh tergoda oleh aroma sedap bubur ayam tersebut. Masih dengan pendiriannya untuk melakukan program diet.


"Makan di sini atau dibungkus?" tanya penjual bubur ayam tersebut.


"Makan di sini saja," jawab Alvaro sembari menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana. Rania juga melakukan hal yang sama, ia memilih duduk di samping sang suami, menunggui Alvaro yang hendak menyantap sarapannya.


Aroma sedap dari bubur ayam tercium begitu menggoda. Tak bisa dipungkiri, bahkan perut Rania sedari tadi berbunyi, hanya saja, ia masih ingin tetap teguh pada pendiriannya, tidak ingin tergoda oleh Alvaro.


Alvaro mengulum senyum, ia tahu jika sang istri tampak sesekali menelan salivanya saat melihat Alvaro yang makan begitu lahap.


"Pak, satu porsi lagi, tidak pakai seledri," ujar Alvaro kepada penjual bubur ayam tersebut.


Saat mendengar kata 'tidak pakai seledri' Rania pun membelalakkan matanya. Tentu saja Alvaro memesankan bubur ayam tersebut untuk dirinya juga.


"Tidak. Aku tidak usah!" sergah Rania sembari menggerakkan kelima jarinya.


"Buatkan saja, Pak." Alvaro menimpali, hingga penjual bubur itu pun kembali membuatkan satu porsi lagi tanpa seledri.


Sesaat kemudian, susulan pesanan itu pun telah di hidangkan di atas meja. Rania melihat dengan seksama bubur ayam tersebut. Sesekali ia meneguk liur karena bubur ayam itu sangat menggugah selera.


"Kalau mau makan ya silakan, tetapi jika masih tetap kekeuh mau diet, cukup dilihat saja," ujar Alvaro sembari tersenyum penuh arti.


Rania mendengkus kesal karena ide licik dari sang suami. Namun, mau bagaimana lagi? Ia juga tak bisa menolak kenikmatan dari bubur tersebut. Jika hanya dilihat saja, bukankah lebih mubazir? Ini bukanlah kesalahan dirinya yang tak bisa memegang teguh niat awalnya. Salahkan saja Alvaro yang sudah terlanjur memesankan semangkuk bubur untuk dirinya.


"Ya sudah, aku akan memakannya, dari pada membuang-buang makanan," ujar Rania yang mulai memegang sendok, lalu kemudian memasukkan satu suapan bubur ke dalam mulutnya.


"Berarti tidak jadi diet?" tanya Alvaro terkekeh.


"Ini karena salah Mas yang membelikan aku makanan," timpal Rania dengan mulut yang penuh oleh makanan.


"Ya ... ya ... ya ... aku tahu itu. Bukankah wanita memang selalu benar," celetuk pria tersebut membuat Rania mendelik kesal. Namun, ia tetap menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan sangat lahap.


Setelah menikmati sarapan tadi, Alvaro dan Rania pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


.....


Di lain tempat, hari ini Fahri datang ke kantor untuk mengawasi kinerja di perusahaan.m untuk sementara waktu, karena putra semata wayangnya tengah menikmati waktu berbulan madu.


Hari ini Fahri kedatangan Arjuna, salah satu anak dari Samuel, mantan asisten sekaligus temannya dulu.


"Bagaimana kabar Samuel? Apakah dia masih sering beradu argumen dengan Elena?" tanya Fahri.


"Semakin tua tingkah mereka sama saja seperti anak-anak, tak ada perubahan sama sekali," timpal Arjuna sembari menyeruput tehnya.


"Lalu ... Bagaimana denganmu? Kapan kamu akan melepaskan masa lajangmu itu?" tanya Fahri sembari memperlihatkan senyum penuh arti.


Arjuna meletakkan kembali gelas tehnya. Ia sedikit tertunduk malu karena pertanyaan dari Fahri yang membahas tentang pernikahan.


"Mungkin nanti, Om." Hanya kalimat itu lah yang bisa Arjuna lontarkan untuk menjawab pertanyaan pria yang ada di hadapannya.


"Nantinya kapan? Apa masih mau menunggu Alvira?" celetuk Fahri.


Sesaat kemudian, Arjuna cukup terkejut. Bagaimana tidak? Ayah dari wanita yang sangat ia cintai mengatakan hak demikian, tentu saja membuatnya sedikit terkejut dan ... Malu!.


Arjuna hanya bungkam sembari mengulum senyumnya. Ia bingung hendak berkata apa jika sudah seperti ini kejadiannya.


"Jika kamu masih menunggu Alvira, sebaiknya dipikir-pikir dulu saja, Jun. Alvira sudah mengalami kegagalan satu kali dalam pernikahannya. Statusnya seorang janda beranak satu. Sementara kamu, pria lajang yang memiliki menarik, tampan, dan rupawan. Om yakin, banyak wanita di luar sana berlomba-lomba untuk mendapatkan kamu," tutur Fahri yang mencoba memberikan masukan kepada Arjuna.


"Jika Alvaro bisa mendapatkan seorang gadis, kenapa Alvira tidak bisa mendapatkan pria perjaka seperti diriku?" celetuk Arjuna.


Fahri tertegun, ia cukup terkejut dengan jawaban Arjuna yang menyangkut-pautkan masalah ini dengan kehidupan Alvaro.


"Maaf, jika om terkejut dengan ucapan Juna barusan . Akan tetapi, Juna juga punya pilihan. Juna tak peduli dengan status Alvira. Juna juga bisa mencintai Alvira sekaligus putranya," tegas pria itu.


Fahri mengerjapkan matanya beberapa kali. Awalnya ia ingin menasihati, akan tetapi ia melihat sebuah kemantapan dari cara Arjuna bertutur kata maupun sikap yang ditunjukkan oleh pria tersebut.


"Maaf, jika kamu sedikit tersinggung dengan ucapan om tadi. Om tidak melarang Alvira dekat denganmu, menurut Om sah-sah saja dia dekat dengan siapapun. Om hanya ingin memberitahukan padamu, membuka matamu, sampai kapan kamu akan melajang? Jika memang pada akhirnya kamu berjodoh dengan Alvira, om juga akan merasa sangat senang bisa berbesan dengan Samuel" tutur Fahri panjang lebar.


Mendengar ucapan dari Fahri, membuat Arjuna pun mengulas senyumnya. Kali ini, ia seakan mendapatkan sebuah lampu hijau dari Fahri. Hanya saja ... Arjuna harus lebih mengerahkan banyak tenaga, membuat Alvira jatuh hati kepadanya.


Bersambung ....