
Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Pria tersebut melangkah menuju ke lari pakaian, dan memakai baju tidurnya.
Sesekali Alvaro tersenyum saat mengingat kejadian barusan. Ia yang selalu melakukan tingkah bodoh hanya demi seorang wanita.
"Apakah aku sudah benar-benar gila?" gumam pria tersebut seraya terkekeh geli.
Alvaro telah mengenakan pakaian lengkap. Pria tersebut keluar dari kamarnya, berjalan menuju ke kamar putra semata wayangnya. Ia mengetuk sejenak sebelum masuk ke dalam kamar jagoan kecilnya itu.
Alvaro menghampiri Bima. Pria kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya. Alvaro membenarkan selimut yang dipakai oleh putranya, lalu kemudian memberikan kecupan singkat di kening Bima.
"Selamat malam, semoga bermimpi indah," bisik Alvaro dengan sangat lembut.
Alvaro melangkah pergi dari kamar Bima. Mematikan lampu yang hanya menyisakan lampu tidur, lalu kemudian menutup kembali pintu kamar dengan rapat.
Pria itu memilih berjalan ke dapur. Membuat kopi untuk menemaninya di malam hari. Alvaro menunggu setetes demi setetes kopi yang keluar dari mesin pembuat kopi itu. Setelah gelasnya terisi, pria tersebut mengambil cangkir kopinya, lalu kemudian memilih kembali ke kamar, menikmati kopinya di balkon.
Alvaro menjatuhkan bokongnya di kursi, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Pria tersebut merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya, membuka akun sosial media yang baru ia buat beberapa hari yang lalu.
Tangannya mengetikkan nama username dari tetangga sebelahnya. Namun, sesaat kemudian keningnya berkerut saat tak menemukan akun tersebut.
"Kenapa akunnya hilang?" gumam Alvaro.
Ia kembali mencoba mengetikkan username tersebut, akan tetapi hasilnya tetap sama. Akun Rania tak dapat dilihat oleh Alvaro.
"Apakah dia memblokir akun ku?" ujar pria tersebut bertanya-tanya.
"Ck, wanita itu benar-benar ...." Alvaro tak melanjutkan ucapannya. Pria tersebut meminum kopinya seteguk, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dengan derap langkah yang lebar, pria itu keluar dari rumahnya. Lalu kemudian berdiri di depan pintu yang tak lain adalah unit tempat Rania tinggal.
Alvaro memencet bel pintu tersebut. Sesekali mengetuknya seraya menyerukan nama Rania. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Ia melihat Bu Isna dengan wajah bantalnya, membukakan pintu untuk Alvaro.
Dan sialnya, Alvaro lupa jika malam ini Bu Isna akan menginap di rumah Rania.
"Gawat, imageku bisa langsung buruk di mata Bu Isna," batin Alvaro.
Alvaro mengusap tengkuknya, menundukkan kepalanya sembari meminta maaf pada Bu Isna karena telah mengganggu waktu tidurnya.
"Maafkan saya Bu karena telah mengganggu waktu tidur Bu Isna," ucap Alvaro sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Memangnya ada apa, Nak?" tanya Bu Isna.
"Anu, Bu ... Saya ada perlu dengan Rania,"timpal Alvaro seadanya.
"Tunggu sebentar, ibu panggilkan Rania," ujar Bu Isna.
Bu Isna berjalan menjauh dari pintu, memanggil putrinya yang sudah berada di dalam kamar. Selang beberapa saat kemudian, Rania yang baru saja selesai membersihkan wajahnya pun langsung menghampiri Alvaro.
"Ada perlu apa menemuiku malam-malam begini?!" ketus Rania pada Alvaro.
"Kamu, ...."
"Apa?!" tanya Rania mengernyitkan keningnya. Ia bingung dengan apa yang hendak dikatakan oleh duda anak satu itu.
"Kenapa kamu memblokir akunku?" tanya Alvaro.
"Akun? Akun apa? Akun yang mana?" balas Rania yang berpura-pura tidak mengetahuinya. Padahal, ia sengaja memblokir akun tersebut hanya untuk membuktikan, apakah benar akun itu milik tetangganya atau bukan. Dan sekarang, Rania sudah menemukan jawabannya.
"Kamu jangan berpura-pura tidak tahu. Ini ... aku cari nama akunmu tetapi tidak muncul," ujar Alvaro memperlihatkan ponselnya, mengetikkan nama Rania di kotak pencarian tersebut.
Rania mengulum senyumnya. Ia melihat di bagian bawah, terlihat foto profil yang sempat membubuhkan komentar di salah satu postingannya. Dan akun itu pula lah yang telah ia blokir beberapa saat yang lalu.
Wajah Alvaro langsung memerah. Pria tersebut bertindak terlalu ceroboh sampai-sampai ketahuan oleh Rania.
Alvaro hanya bisa mengusap tengkuknya. Ingin mengelak, dirinya sudah kalah telak. Kedok yang sebenarnya dia sendirilah yang membukanya.
"Akun yang itu, memang aku blokir," ujar Rania dengan santai.
"Kenapa diblokir?" protes Alvaro.
"Akunmu itu tidak ada pengikutnya sama sekali. Bisa dikatakan akun palsu atau akun keduamu. Untuk apa menggunakan akun kedua? Kenapa tidak langsung menjadi mengikutiku menggunakan akun utamamu saja?" tanya Rania seraya melipat kedua tangannya di depan.
"Aku tidak bisa menggunakan akun utama untuk mengikutimu," jawab Alvaro.
"Kenapa? Apakah kamu takut jika kekasihmu mengetahuinya?" tanya Rania dengan tatapan penuh selidik.
"Bukan itu. Terlalu sulit untuk bisa menjelaskannya," lirih Alvaro.
"Ya sudah, kalau begitu,.kamu tidurlah! Selamat malam." Alvaro memilih pergi dari hadapan Rania. Pria tersebut langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rania tercengang, entah mengapa tiba-tiba Alvaro langsung pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan yang lebih mendetail lagi.
"Tadi sibuk bertanya kenapa akunnya diblokir. Setelah aku yang bertanya balik, dia memilih pergi tanpa memberikan penjelasan apapun. Dasar pria aneh!" tukas Rania yang juga memilih untuk masuk ke dalam rumah.
Rania melihat ibunya yang tengah mengambil air minum di dapur. Wanita paruh baya itu pun langsung menanyai putrinya.
"Alvaro kenapa? Apakah dia datang hendak menemuimu karena ia merindukanmu?" tanya Bu Isna.
"Rindu apanya! Dia pria aneh yang hanya bisa mengusik kehidupan orang lain saja, dan setelah itu pergi tanpa memberikan penjelasan," gerutu Rania yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Bu Isna mengerutkan alisnya. Ia melihat ada sedikit pertengkaran diantara kedua manusia yang sudah sama-sama dewasa, akan tetapi bersikap layaknya seperti anak-anak.
"Tidak apa-apa. Bertengkar itu merupakan bumbu cinta. Bertengkar juga bisanya mempererat sebuah hubungan. Semoga saja kali ini Rania benar-benar menikah dengan pria itu. Aku sudah tidak sabar ingin menggendong anak dari putriku. Membayangkan memiliki seorang cucu saja, sudah membuatku merasa senang," papar Bu Isna panjang lebar. Wanita itu pun kembali masuk ke dalam kamarnya setelah meminum air yang ada di tangannya.
Rania memberengut kesal. Gadis itu masih merasa dongkol dengan sikap Alvaro yang selalu saja berubah-ubah dengan cepat.
"Ada apa dengannya? Apakah ucapanku tadi salah? Apakah aku sedikit menyinggungnya? Jika memang dia memiliki pasangan, kenapa dia berniat untuk datang dan mendekati ku lagi. Aku menghindar, tapi dia yang selalu menempel padaku bak perangko." Rania menumpahkan semua isi hatinya pada boneka yang ada di hadapannya.
Bahkan, sesekali gadis itu memukul-mukul boneka tersebut, seolah-olah benda itu adalah Alvaro.
"Dasar buaya! Duda gila! Awas saja jika kamu berusaha mendekatiku lagi!" tukas gadis itu berbicara sendirian.
Sementara di lain tempat, Alvaro kembali duduk di atas balkon. Ia menyesap kopinya yang sudah terasa dingin, pandangannya menatap ke arah langit yang dihiasi bintang-bintang.
Sesaat kemudian, pria tersebut kembali memainkan ponselnya. Membuka sosial medianya dan login ke akun utama yang sudah sangat jarang ia gunakan.
Akun tersebut terbuka. Alvaro memiliki jumlah pengikut yang sangat banyak, akan tetapi yang ia ikuti cuma satu akun. Tak lain adalah akun Diara, milik mendiang istrinya terdahulu.
Di akun Diara, banyak sekali postingan-postingan foto kebersamaan mereka terdahulu. Dari hanya sekedar berteman, sampai mereka menikah. Diara selalu membagikan kesehariannya melalui unggahan video. Melihat semua itu, membuat Alvaro kembali bernostalgia sejenak. Kepingan kenangan yang singgah di pikirannya walau sesaat.
Alvaro menonton salah satu video unggahan Diara, kala itu mereka tengah berada di pantai. Menikmati waktu libur yang dimiliki Alvaro.
Sekarang kita lagi ada di pantai. Jalan-jalan sama suami tercinta. Memanfaatkan waktu luang untuk mencari udara segar, iya kan sayang?
Alvaro mendengar suara Diara dari unggahan tersebut. Tanpa sadar, pria itu meneteskan air matanya. Dulu, Alvaro sangat jarang memiliki waktu untuk Diara. Namun, Diara tak mempermasalahkan semua itu. Wanita tersebut sangat mengerti dengan keadaan suaminya.
Senyum yang dimiliki Diara begitu manis. Namun, senyum itu mengingatkannya akan senyum yang dimiliki oleh Rania. Benar saja, Rania memang terlihat mirip seperti Diara disaat mereka tersenyum.
Bersambung ...
Tolong ya pak duda, jangan suka bikin Rania kesel! Ditinggal sama yang lain langsung panik ente😏