Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 233. Narsis Di Usia Dini


"Ma ... Mama, ...."


Rania dan Alvaro langsung membenarkan posisi mereka. Rasa canggung pun menyelimuti tatkala mengetahui bahwa kelakuan mereka tadi menjadi tontonan ibunya.


"Kalian ini ...." Arumi mengusap dadanya, mencoba sabar menghadapi kedua pasangan ini.


"Pintu dibiarkan terbuka begitu saja. Kalian sibuk cium-cium tanpa tahu bahwa kondisi di rumah ini sedang ada mama," gerutu Arumi menghela napasnya.


Pandangan Arumi mengarah kepada Alvaro yang hanya sesekali melirik, setelah itu kembali tertunduk.


"Kamu juga, Varo! Kamu lihat ini ...." Arumi menunjuk Dilan dan juga Delani yang masih terlelap.


"Anakmu masih sekecil ini, masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang penuh. Lantas kamu berbuat seperti itu. Apakah kamu ingin menyuruh mereka memiliki adik lagi?" tanya Arumi.


Alvaro menggaruk-garuk kepalanya. Ia sedikit menyenggol lengan istrinya. Dan sontak, Rania pun langsung menggelengkan kepala.


"Kenapa sayang?" bisik Alvaro.


"Yang benar saja, Mas! Jahitan kemarin saja masih belum kering," tukas Rania yang sedikit kesal dengan pertanyaan sang suami.


"Tuh, kamu dengar sendiri kan apa kata istrimu," ujar Arumi.


"Tapi kan cuma cium-cium saja tidak akan membuat Rania hamil, Ma." Alvaro masih saja membalas ucapan ibunya.


"Cium-cium kalau kebablasan nanti gimana? Istrimu juga yang sengsara. Sudahlah tidak usah membantah ucapan mama! Biarkan istrimu beristirahat. Apakah kamu tidak melihat kantung matanya?" tukas Arumi.


"Iya-iya." Alvaro memperlihatkan wajah cemberutnya. Namun, sesaat kemudian ia kembali mencuri ciuman sang istri. Hal tersebut membuat Arumi geram melihatnya.


"Astaga, anak itu! Memang benar-benar ...." Arumi langsung kehabisan kata-kata menghadapi putranya.


Rania hanya terkekeh geli melihat kelakuan sang suami dengan ibu mertuanya yang selalu beradu argumen di setiap saat.


Arumi menunduk, membersihkan pecahan gelas yang sempat terlepas dari genggamannya tadi. Melihat hal tersebut, membuat Rania pun ikut membantu membersihkan pecahan gelas tadi.


Ucapan itu membuat hati Rania menghangat. Serial drama yang sering ia nonton di televisi, memperlihatkan ibu mertua yang sangat bengis dan kejam. Rania bersyukur, ia mendapatkan sebuah keluarga yang menganggap dirinya juga berharga.


Arumi bukanlah tipe-tipe mertua seperti yang ia lihat di drama televisi. Wanita itu amat menyayangi Rania, dan bahkan terkadang melimpahkan perhatiannya lebih ke Rania dari pada Alvaro, yang notabenenya anak kandungnya sendiri.


Keduanya membersihkan pecahan kaca itu dengan sangat berhati-hati. Tak lama kemudian, pelayan datang. Ia pun langsung membersihkan sisanya.


"Istirahat lah, Nak. Mama sebentar lagi mau jemput Bima," ujar Arumi.


"Bima biarkan dijemput sama pak supir saja, Ma." Rania menimpali ibu mertuanya .


"Tidak apa-apa, Nak. Lagi pula mama sudah berjanji akan menjemput Bima di sekolah. Tadi dia tidak mau ke sekolah karena hari ini ada upacara. Mama membujuk Bima, berjanji akan menjemputnya saat sepulang sekolah nanti," jelas Arumi.


"Lagian Bima ada-ada saja. Malas sekolah karena tidak mau ikut upacara," gerutu Rania seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Kalau yang itu tidak heran, Nak. Sifatnya menurun dari ayahnya. Dulu Alvaro juga seperti itu. Dia tidak mau berangkat ke sekolah karena upacara. Kamu tahu alasannya apa?" tanya Arumi.


"Memang alasannya apa, Ma?" tanya Rania yang merasa penasaran akan alasan Alvaro yang tidak mau mengikuti upacara.


"Dia takut kena matahari. Katanya nanti tidak tampan lagi," ujar Arumi seraya terkekeh geli.


"Hah? Yang benar saja, Ma."


"Iya, mama tidak bohong, Sayang."


"Ternyata Mas Al memang sudah narsis sejak usia dini," batin Rania.


Bersambung ....


Tinggalkan jejak di kolom komentar ya ....