
"Kami buru-buru, lagi pula banyak angkutan umum atau pun kendaraan yang bisa kalian tumpangi. Atau perlukah aku memesankan ojek online untuk kalian?" tanya Alvaro. Sontak Rania pun langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Alvaro barusan.
"Mas, jangan berbicara seperti itu," bisik Rania dengan nada yang penuh penekanan.
Alvaro mengabaikan ucapan istrinya. Ia langsung menggenggam tangan anak serta sang istri untuk pergi dari tempat itu.
"Maaf ya, Mbak Mila. Maafkan tingkah suami saya," ujar Rania yang merasa tidak enak akan sikap yang ditunjukkan oleh Alvaro.
"Iya, tidak apa-apa," timpal Mila yang sebisa mungkin masih mengukir senyumnya.
Ketiga orang tersebut langsung masuk ke dalam pintu lift. Alvaro melepaskan tangan anak dan istrinya, dan langsung menekan tombol lift tersebut hingga pintu baja itu tertutup.
"Mas, kamu kenapa sih? Tidak seharusnya kamu bersikap kasar pada tetangga kita!" tukas Rania.
"Rania ... Rania ... dengar! Kamu jangan terlalu dekat-dekat dengannya. Dia wanita yang berbahaya," ucap Alvaro.
"Mas, aku tahu kamu tidak menyukai tetangga baru kita. Mungkin alasan itu juga kamu ingin pindah rumah, bukan?" tanya Rania yang masih berdebat dengan Alvaro.
"Iya, itu memang tujuan utamaku. Wanita itu berbahaya, Sayang. Aku ...."
"Stop Mas! Kamu selalu saja berucap seperti itu. Mengatakan bahwa dia berbahaya lah, atau aneh lah. Tapi setidaknya kamu jangan memperlihatkan ketidaksukaan itu secara langsung, Mas. Kamu bisa menolaknya dengan halus." Rania ikut tersulut emosi. Bagaimana pun juga, ia merasa tak enak hati atas sikap yang ditunjukkan oleh Alvaro.
"Ma, Pa, ...." Bima mendongak, menatap ibu dan ayahnya bergantian. Keduanya seakan lupa keberadaan Bima di tengah-tengah mereka.
Rania dan Alvaro pun menatap putranya. Mereka berjongkok dan saling meminta maaf di hadapan Bima.
"Maafkan Papa ya, Nak. Sikap papa lah yang membuat mamamu marah," ujar Alvaro yang mengakui kesalahannya.
"Maafkan Mama juga ya, Sayang. Mama terlalu terbawa emosi sampai-sampai berkata seperti itu terhadap papamu," ucap Rania dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Bima menganggukkan kepalanya. "Sekarang mama dan papa harus berbaikan," ujar anak laki-laki tersebut.
Pintu lift terbuka, Rania dan juga Alvaro saling bertatapan. "Mas, maafkan aku karena sudah terbawa emosi tadi," ucap Rania.
"Maafkan aku juga, karena aku memang bersalah," ujar Alvaro.
Bima mengembangkan senyumnya melihat kedua orang tuanya yang sudah berbaikan. Anak laki-laki tersebut menggenggam kedua tangan orang tuanya, laku kemudian pergi dari ruangan sempit itu.
....
Mila mendengkus kesal saat mendapatkan penolakan dari Alvaro. Wanita itu mengepalkan tangannya, dengan mata yang memerah karena amarah.
"Awas saja dia! Aku akan pastikan bahwa kamu akan memujaku kelak, lihat saja nanti!" tukas Mila dengan tekad yang kuat.
Sesaat kemudian, ia mengarahkan pandangannya pada putrinya yang sedari tadi bungkam. "Kamu juga! Sudah mama bilang kemarin, kalau kamu harus bersikap ramah pada Bima. Di sekolah nanti, tegur Bima! Awas saja kamu kalau masih membantah!" ancam Mila pada putrinya.
Wanita itu menarik kasar tangan anaknya. Membawa gadis tersebut masuk ke dalam lift."Ingatkan ucapan mama tadi. Mama akan mengawasimu!" tukas Mila.
Febby tetap bungkam, tak menjawab ucapan ibunya. Mila pun kembali mencengkram tangan Febby, membuat gadis itu mengeluarkan suara, "Awww ... sakit, Ma."
"Kamu punya mulut kan? Jawab perkataan mama tadi!" tukas Mila.
Febby perlahan menganggukkan kepalanya. Cengkraman tangan ibunya pun terlepas seiring anggukan tersebut.
.....
Rania kembali masuk ke dalam mobil seusai mengantarkan Bima ke dalam kelas. Alvaro pun perlahan melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.
"Istriku, maaf jika aku membahas masalah ini lagi. Yang aku katakan padamu adalah kebenarannya. Kamu lebih baik tidak terlalu akrab dengan Mila," ujar Alvaro sembari mengendalikan setirnya.
"Mas, berikan alasan yang lebih spesifik lagi. Jika mas selalu saja berbicara seperti itu, jujur saja aku sedikit bingung," balas Rania.
"Mila sepertinya tertarik padaku." Alvaro menatap istrinya sekilas dengan memperlihatkan ekspresi seriusnya.
Satu detik ... Dua detik ... dan di detik ketiga, tawa Rania pun langsung pecah. "Yang benar saja, Mas. Ku rasa kamu yang terlalu percaya diri akan hal itu," ujar Rania terkekeh.
Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. "Memang ini sedikit terlalu percaya diri, akan tetapi yakinlah. Aku tahu bagaimana wanita memiliki ketertarikan kepadaku," jelas Alvaro setengah frustasi.
"Yayaya ... anggap saja aku mempercayai hal itu. Mas memang menawan sehingga banyak wanita yang tertarik pada ketampanan seorang Alvaro," ujar Rania yang masi menganggap ucapan suaminya itu hanya sekedar lelucon belaka.
"Baiklah, anggaplah aku sedang bergurau. Akan tetapi, aku sudah memperingatkanmu sebelumnya untuk lebih berhati-hati," tukas Alvaro dengan ekspresi wajah yang langsung berubah datar.
"Mas, kalau memang begitu. Bukankah itu ada pada diri mas sendiri? Dia menyukai Mas Varo, sejauh apapun ia mengejar Mas Varo, jika Mas tidak merespon sama sekali, dia akan berhenti." Rania menatap suaminya, mencoba berbicara dengan nada yang lembut.
Tak ada jawaban dari pria itu, pertanda bahwa Alvaro sedang marah saat ini. Rania pun mencoba membujuk suaminya kembali.
"Mas, ... Mas Varo marah? Bukankah tadi kita sudah saling meminta maaf di depan Bima, jadi jangan marah lagi ya," bujuk Rania memperlihatkan wajah lucunya.
"Tetap saja, meskipun begitu aku ingin kamu tetap berhati-hati," ujar Alvaro pelan.
"Iya, Mas. Iya ...."
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di klinik. Rania berpamitan dengan sang suami, mencium punggung tangan Alvaro sebelum turun dari kendaraan tersebut.
Setelah Rania turun, Alvaro kembali melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Sementara Rania, menatap mobil Alvaro yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.
"Ku rasa yang diucapkan Mas Varo memang benar adanya. Aku harus berhati-hati, memasang siaga 1 untuk tetangga ku yang akan mengambil suamiku," ujar Rania yang terlihat sangat bertekad.
Tak lama kemudian, dirinya dikejutkan oleh seseorang dari arah belakang. Membuat Rania langsung terlonjak kaget.
"Astaga, kamu lagi-lagi mengagetkanku," gerutu Rania mengusap dadanya karena debaran jantungnya yang semakin meningkat.
"Jangan sering-sering berbicara sendiri, nanti dikata gila sama yang lain," ucap Hilda sembari terkekeh geli.
"Iya, aku memang gila. Maksudku tergila-gila dengan suamiku," ejek Rania.
"Ya ... aku tahu, kamu adalah pasangan yang sudah menikah. Tapi berhentilah untuk menyombongkan dirimu, Rania bucin!" tukas Hilda sembari menghentakkan kakinya.
"Tidak apa-apa bucin, kalau bucinnya sama suami sendiri, makanya segera menikahlah!" ejek Rania lagi yang melangkahkan kakinya lebih dulu ke dalam klinik.
"RANIA!!" geram Hilda menyusul Rania.
Bersambung ...