Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 149. Terlihat Jelas


Sudah tiga hari lamanya hubungan antara Shinta dengan pria baru yang diketahui namanya adalah Daren semakin dekat. Bahkan, beberapa kali juga Juni melihat keduanya tampak berangkat bekerja bersama dan pulang juga bersama.


Pagi ini, hal tersebut kembali lagi terulang. Saat Juni baru saja hendak menuju ke mobilnya, mobil yang dikendarai Daren pun tiba di tempat tersebut. Pria berperawakan tinggi dengan sedikit kumis tipis itu turun dari kendaraannya. Ia menyapa Juni.


"Pak Juni, tinggal di apartemen ini juga?" tanya Daren sembari mengulas senyumnya.


Juni berbalik, lalu kemudian membalas senyum pria tersebut. "Iya," timpalnya singkat.


"Wah, sepertinya asik jika bertetangga seperti itu. Kira-kira ... apakah masih ada unit yang koso ...."


"Semua unit sudah terisi penuh." Juni langsung menyela ucapan Daren. Ia tahu, jika pria tersebut memiliki maksud pembicaraan yang akan mengarah ke sana.


"Oh ...." Daren hanya bisa menganggukkan kepalanya paham. Ia tak lagi bertanya pada asisten yang akhir-akhir ini lebih terlihat dingin dari biasanya.


Selang beberapa saat kemudian, Shinta pun muncul. Juni mengarahkan pandangannya sejenak ke arah gadis tersebut, lalu kemudian memilih untuk meninggalkan keduanya. Pria itu masuk ke dalam kendaraannya, lalu kemudian melajukan mobil tersebut ke jalanan.


Shinta menatap kepergian Juni dengan sendu. Gadis itu masih berharap, jika Juni akan menanyakan keadaannya seusai terkena tumpahan kopi panas kemarin.


Namun, setelah mengajukan pertanyaan di lift, Juni tak lagi menyapanya. Seolah mereka memasang jarak, saling menjauh satu sama lain.


"Apakah kita bisa berangkat sekarang?" tanya Daren memperhatikan Shinta yang sibuk melamun.


Seketika lamunan Shinta pun menjadi buyar setelah mendengar suara pria yang ada di sebelahnya. Shinta menganggukkan kepala, menimpali ucapan Daren.


Daren tersenyum, ia membukakan pintu untuk gadis tersebut. Setelah Shinta masuk ke dalam mobil, Daren menduduki kursi kemudi, menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


Di perjalanan, Daren mulai membuka obrolannya. Melihat sedari tadi Shinta yang hanya berdiam diri sembari menatap ke luar jendela.


"Kalian sudah lama bertetangga?" tanya Daren yang merasa penasaran akan hal tersebut.


"Maksudku ... kamu dan Juni. Aku tidak sengaja berpapasan dengannya saat di depan tadi," lanjut Daren yang memperjelas kalimatnya.


Shinta mengarahkan pandangannya pada Daren sekilas, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku dan Daren sudah lama menjadi tetangga. Bisa dikatakan beberapa bulan yang lalu," jawab Rania.


"Oh." Daren mengangguk paham, tersenyum beberapa detik lalu kemudian kembali fokus menatap jalanan.


Suasana kembali hening. Hingga akhirnya, Daren pun kembali membuka suara. "Aku sempat mendengar gosip yang ada di kantor. Tentangmu dan juga Juni. Apakah itu benar?" tanya Daren.


"Untuk yang satu ini, ku mohon agar tidak membahasnya. Aku dan Juni tidak ada hubungan apapun. Kami menjadi tidak baik-baik saja sejak adanya gosip tersebut," ujar Shinta yang merasa sedikit geram akibat gosip di kantor.


"Maafkan aku." Daren merasa bersalah karena telah membahas hal tersebut.


"Tidak apa-apa, untuk lain kali aku mohon agar tidak termakan gosip apapun," ujar Shinta memperingatkan. Daren pun menimpalinya dengan anggukan pelan.


Setelah perbincangan tadi, Daren memilih untuk diam sejenak. Mencari topik pembicaraan yang lain agar tak merasa terlalu canggung.


"Apakah kamu sudah sarapan?" tanya Daren mengalihkan topik pembicaraan.


"Emmm ... kalau begitu, apakah nanti siang kita bisa makan bersama?" tanya Daren yang berusaha agar semakin dekat dengan gadis yang ada di sampingnya.


Jujur saja, ia merasa tertarik pada Shinta. Mendengar jika Shinta dan Juni tak memiliki hubungan apapun, membuat Daren merasa lega. Tentunya ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, mendekati Shinta dan mencoba mencuri hati gadis tersebut.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa janji untuk menepatinya karena aku takut jika nanti pekerjaanku menumpuk dan harus segera di selesaikan," ujar Shinta.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Daren.


Tak terasa, mobil yang dikendarai oleh pria tersebut telah tiba di depan gedung pencakar langit, yang tak lain adalah tempat mereka bekerja.


Daren menunjukkan perhatian lebih pada Shinta. Membukakan pintu untuk gadis tersebut dan tak henti-hentinya menampilkan senyum terbaik di wajahnya.


Keduanya langsung masuk ke dalam gedung tersebut. Melihat kedekatan Shinta dan juga Daren, tentu saja mencuri banyak opini dari beberapa staf yang melihat hal tersebut. Mereka mengira bahwa Shinta adalah kekasih Juni.


Mereka masuk ke dalam lift bersama dengan beberapa staf yang lainnya. Terkadang telinga Shinta menangkap pembicaraan ketiga wanita yang ada di belakangnya, yang tengah membicarakan dirinya.


Namun, Shinta berusaha untuk menulikan telinganya. Mencoba untuk menerapkan peribahasa 'masuk ke telinga kiri, keluar ke telinga kanan' yang berarti mencoba untuk tidak mengingat apapun yang telah dilontarkan oleh orang-orang. Seolah hal tersebut merupakan angin yang berlalu begitu saja.


Setelah pintu lift terbuka, mereka pun keluar dari ruangan sempit tersebut. Daren menyamping menatap Shinta sembari mengepalkan tangannya dengan sedikit mengangkatnya ke atas.


"Semangat," ucapnya pelan, berusaha untuk menyemangati gadis yang mampu membuatnya tertarik.


Shinta tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepala. Mereka pun berpisah karena berbeda arah. Menuju ke meja kerjanya masing-masing.


Setibanya di meja kerja, Shinta melihat Juni yang sudah melipat kedua tangannya ke depan, menunggu Shinta yang belum juga datang.


Shinta pun langsung tergopoh-gopoh berlari kecil dan menghadap sang asisten. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Shinta berhati-hati. Dilihat dari raut wajahnya, keadaan saat ini sepertinya tak bersahabat. Terlihat jelas mimik wajah Juni yang terlihat suram.


"Biasakan untuk datang lebih awal. Bagaimana pun juga kita harus tetap menjaga peraturan. Jangan bersikap semena-mena apalagi datang kesiangan karena sibuk berpacaran," tegas Juni.


"Maafkan saya, Pak. Saya akan pastikan setelah ini tidak terlambat lagi," ujar Shinta.


Juni mengambil dokumen yang ada di hadapannya, lalu kemudian memberikan berkas tersebut pada Shinta dengan sedikit membantingnya.


"Pastikan untuk segera menyelesaikannya, karena laporan tersebut setelah ini akan diberikan oleh Pak Alvaro," ucap Juni.


"Baik, Pak." Shinta menunduk patuh. Ia sedikit menajamkan telinganya, mendapati suara sepatu Juni yang perlahan meninggalkannya.


Shinta menghela napasnya, gadis itu menjatuhkan bokongnya sembari meniup-niup anak rambut yang menutupi keningnya.


"Akhir-akhir ini dia lebih sering memarahiku. Apakah tidak menyukaiku harus memperlihatkannya sejelas itu?" lirih Shinta. Gadis tersebut meletakkan sling bagnya di kursi.


Shinta mulai menghidupkan komputer, melihat berkas yang diberikan oleh Juni tadi dan langsung mengerjakannya. Shinta melirik jam tangannya, yang pertanda bahwa sebentar lagi atasannya itu akan tiba, dan Shinta pun harus dengan segera menyelesaikan dokumen tersebut.


Bersambung....