Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 166. Keputusan Yang Sulit


Setelah cukup lama berpikir dan merenung, akhirnya Juni pun memutuskan untuk berterus terang. Dilihat dari kegigihan Daren yang selalu saja membuat dirinya kesal. Apalagi saat mengetahui bagaimana perasaannya ketika Shinta sering kali berjalan berdua dengan Daren. Membuat Juni pun menyadari, bahwa dirinya benar-benar menginginkan Shinta. Ia tak rela, jika Shinta harus bersama dengan pria lain selain dirinya.


Dan kini, keputusan yang Juni buat sudah bulat. Ia akan mengungkapkan isi hatinya pada Shinta sebelum gadis itu lebih dulu direbut oleh pria lain. Tak peduli dengan status duda yang disandangnya, Juni akan tetap bersikukuh untuk mendapatkan Shinta. Setidaknya ia berusaha terlebih dahulu.


Juni dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin mengutarakan semuanya pada Shinta setelah mereka pulang.


Awalnya Juni tak bersemangat menatap dokumen yang berserakan di atas meja. Kini pria itu bak robot yang baru saja di isi baterai, berfungsi kembali mengerjakan tugasnya.


"Ayo Juni! Kembali bersemangat dan katakan semuanya pada Shinta. Persetan dengan statusmu menjadi seorang duda. Pak Alvaro saja bisa mendapatkan Bu Rania yang merupakan seorang gadis. Kenapa dirimu tidak bisa?" gumamnya dengan jemari yang sibuk menari di atas keyboard.


Setelah menghabiskan waktu selama 45 menit untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda, Juni meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sudut bibirnya terangkat ke atas, tak bisa membayangkan bagaimana saat dirinya akan berterus terang pada wanita yang selama ini ia anggap sebagai sahabat.


Juni membereskan berkas yang berserakan di atas meja, dan menumpuknya menjadi satu kesatuan. Pria itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian melirik ke arah meja kerja Shinta.


Namun, sesaat kemudian keningnya berkerut, melihat si sekretaris cantik itu sudah tidak ada lagi di meja kerjanya. "Apakah dia sudah pulang duluan?" gumam pria tersebut.


Juni meraih ponsel yang ada di saku jasnya. Pria itu langsung mencari kontak Shinta, dan segera menghubunginya.


"Halo ...." Terdengar suara gadis tersebut dari seberang telepon.


"Shinta, apakah kamu sudah pulang?" tanya Juni.


"Ini ... aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah," jawab Shinta dari seberang telepon.


"Sendirian?" tanya Juni.


"Tidak, aku bersama dengan Daren," timpal gadis tersebut.


Lagi dan lagi, Juni keduluan oleh Daren. Namun, ia juga tak ingin jika Daren akan lebih dulu merebut Shinta.


"Apakah kita bisa berbicara setelah aku tiba di rumah?" tanya Juni.


"Baiklah. Kabari aku jika kamu sudah tiba di rumah," timpal Shinta.


Juni menutup panggilannya. Pria tersebut langsung bergegas untuk pulang. Ia berlari menuju pintu lift, Menekan tombol lift dengan terburu-buru, untuk mengantarkannya ke lantai dasar.


Dengan langkah yang lebar, Juni berjalan keluar dari gedung pencakar langit tersebut. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil, membawa kendaraannya membelah jalanan di malam hari.


Di waktu yang bersamaan, Shinta meletakkan ponselnya ke dalam tas. Ia menghela napasnya dengan kasar, menatap ke arah luar jendela.


"Ada apa?" tanya Daren.


"Tidan apa-apa," jawab Shinta.


"Siapa yang menelepon mu tadi? Apakah Juni?" tanya Daren penuh selidik.


"Iya." Shinta menimpali akan tetapi pandangannya tak menatap ke arah lawan bicara. Gadis memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.


Sementara Daren, pria itu memilih untuk memfokuskan pandangannya menuju ke jalanan. Ia sangat tidak menyukai Juni yang masih saja mengganggu Shinta.


Jalanan malam itu tampak sunyi, terdengar suara angin serta suara mesin kendaraan yang tertangkap oleh indera pendengaran.


Shinta kembali membuka matanya. Melihat lampu-lampu yang menerangi jalanan malam itu. Ia telah membuat keputusan beberapa jam yang lalu. Keputusan terberat, akan tetapi harus ia coba. Karena mencintai itu harusnya timbal balik, bukan hanya memberi saja.


Beberapa jam yang lalu, tepatnya di saat makan siang tadi. Dion menuntut jawaban pasti dari Shinta. Dengan setengah keraguan yang menerpa, Shinta pun membuat keputusan tersebut walau sedikit berat.


"Apakah masih ada harapan untukku bisa memiliki hatimu?"


"*A-aku ...."


"Kenapa? Apakah kamu masih meragukanku setelah mengetahui alasan kepindahanku? Shinta, aku menyukaimu sejak awal pertemuan kita. Tidakkah itu cukup untukku membuka pintu hatimu?"


"Aku masih ragu, Daren. Aku tidak bisa mengiyakan ucapanmu sementara hatiku masih terpaut dengan yang lainnya."


"Tidak masalah bagiku, Shinta. Tolong* ... *biarkan aku membuktikan cintaku. Dengan begitu, kamu bisa menilainya."


Percakapan itu masih saja terngiang di ingatan Shinta. Dan benar saja, saat ini dirinya telah memiliki Daren yang menjadi kekasihnya. Jika menunggu Juni, mungkin akan sangat mustahil. Tembok pertemanan mereka tampaknya sangat kokoh dan tak dapat dirobohkan . Juni mengunci hatinya dengan sangat kuat, hingga Shinta pun tak dapat menembus ke dalam ruang itu, meskipun ia telah melakukan cara yang terbaik.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Daren pun tiba di apartemen. Gadis tersebut langsung turun dari kendaraan sang kekasih.


Daren mengulas menarik kedua sudut bibirnya, memperlihatkan senyum terbaiknya untuk wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu. Rasa senang Daren bukan kepalang saat mendapatkan jawaban dari Shinta. Meskipun terlihat jelas gurat keraguan di wajah cantik itu, akan tetapi hal tersebut tak membuat semangat Daren memudar. Ia akan membuktikan pada Shinta, bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik untuk gadis tersebut.


"Ayo kita naik ke atas!" ajak Daren dengan bersemangat.


"Kamu duluan saja ke atas. Aku akan menunggu Juni di sini. Ia ingin bertemu dan berbicara empat mata padaku," ucap Shinta.


"Kalau begitu, aku akan menemanimu menunggu di sini. Setelah dia tiba, aku akan pergi. Aku janji!" ujar Daren sembari memperlihatkan jemarinya membentuk huruf 'V'.


Shinta pun berpikir sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Membiarkan kekasihnya itu menemaninya hingga Juni tiba.


Di tempat lain, Juni masih sibuk mengendarai mobilnya. Ia menginjak pedal gas mobil, mencoba untuk menambah kecepatan laju kendaraannya.


"Shinta ... tunggu aku, Shinta. Ku harap apa yang ku pikirkan sedari tadi adalah sesuatu yang tidak benar," gumam Juni yang sudah mendapatkan firasat tidak enak. Namun, ia mencoba untuk tetap berpikir positif.


Selang beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Juni pun tiba. Saat mencari tempat parkir, Juni melihat Shinta yang tengah duduk di depan bersama dengan Daren. Hal itu membuat Juni merasa dongkol dan ingin mencabik-cabik wajah rivalnya itu.


Juni memarkirkan mobilnya. Pria itu menarik spion tengah, merapikan rambutnya dan sedikit memperbaiki penampilannya. Ia mengambil parfum yang selalu ia bawa di dalam mobil, menyemprotkan parfum tersebut ke beberapa titik tubuhnya.


"Sepetinya ini sudah cukup," gumam Juni yang bersiap keluar dari kendaraannya.


Saat ia hendak membuka pintu mobil, Juni kembali mengurungkan niatnya. "Tunggu sebentar! Setidaknya aku harus latihan pengucapannya terlebih dahulu supaya tidak terlalu kaku," ujar pria tersebut bermonolog.


"Shinta ... tolong terima aku."


"Argh! Itu terdengar terlalu memohon," ujarnya yang mengomentari ucapannya sendiri.


"Shinta ... jadilah pacarku!"


"Shinta, aku menyukaimu!"


"Shinta, aku menyukaimu dan jadilah pacarku!"


"Ya ... ku rasa yang terakhir tidak buruk karena aku bisa mengatakannya dengan satu helaan napas.


Juni pun berdeham, mempersiapkan suaranya agar tidak serak saat berbicara. Pria itu memantapkan dirinya, membuka pintu mobil dan turun dari kendaraannya.


Pria itu menghampiri Shinta dan juga Daren yang berada di tempat tersebut. Juni mengulas senyumnya saat melihat Shinta. Namun, saat melihat Daren, pria itu justru memperlihatkan tatapan tak suka.


Shinta beranjak dari tempat duduknya, melangkah mendekat ke arah Juni. Daren juga ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Shinta menatap Juni dengan seksama.


"Aku ingin mengatakan bahwa ...." Pandangan Juni mengarah ke Daren. Pria tersebut masih setia berdiri di samping Shinta, padahal Juni hanya ingin berbicara empat mata pada gadis tersebut tanpa adanya Daren di sampingnya.


"Bisakah kamu meninggalkan kami berdua? Aku ingin mengatakan sesuatu pada Shinta. Melihatmu yang masih berada di sini, membuatku sangat terganggu," cecar Juni yang tak tanggung-tanggung melontarkan kata-kata yang sedikit sarkas. Mengeluarkan uneg-uneg yang sedari siang tadi mengganggunya.


"Baiklah," ucap Daren pasrah. Pria tersebut mulai melangkahkan kakinya hendak pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba Shinta memanggilnya yang membuat Daren langsung berbalik menatap sang kekasih.


"Sebelum kamu membicarakan apa yang ingin kamu bicarakan, izinkan aku yang berbicara terlebih dahulu," ujar Shinta, meminta agar Daren lebih mendekat ke arahnya.


"Ya sudah, kalau begitu bicaralah!" ucap Juni yang membiarkan Daren berada di sana.


Sesaat kemudian, mata Juni langsung membulat sempurna saat melihat Shinta yang tiba-tiba menggenggam tangan Daren.


"Aku ingin memberitahukan padamu, bahwa aku dan Daren sudah berpacaran," ucap Shinta dengan tegas.


"Apa?!" Juni langsung terkejut, matanya membulat sempurna melihat pemandangan yang ada di hadapannya serta kalimat yang baru saja di dengarnya .


Bersambung....