
Alvaro dan Juni baru saja tiba di kantor cabang. Para pegawai yang berpapasan dengan mereka pun langsung menundukkan kepalanya, mendapati atasan dari kantor pusat berkunjung langsung ke tempat tersebut.
Selangkah demi selangkah Juni mengikuti Alvaro. Ia menggenggam tangannya dengan kuat, entah bagaimana nantinya saat dirinya bertemu dengan Shinta nanti.
Kedua pria gagah tersebut memasuki lift. Alvaro melirik ke arah Juni, mendapati ekspresi tak biasa dari asistennya itu.
"Loh Jun, ada apa? Kenapa wajahmu agak tegang seperti itu?" tanya Alvaro keheranan.
"Tidak apa-apa, Pak." Juni menimpali ucapan atasannya itu.
Alvaro terkekeh geli, lalu kemudian pria tersebut merangkul pundak asistennya itu.
"Tidak usah tegang, aku tahu rindumu sudah menggunung. Santai saja, nanti kamu boleh menatap Shinta lama-lama. Tenang saja, aku akan sedikit mengulur waktu untukmu," ucap Alvaro menaik turunkan alisnya.
Juni hanya tersenyum. Ia tak menceritakan tentang yang terjadi sebenarnya, bahwa dirinya sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Shinta.
Tringggg ....
Pintu lift terbuka. Alvaro kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Juni yang berada di belakangnya. Kedua orang tersebut berjalan menuju ke ruangan Alvira. Di depan ruangan Alvira, Juni melihat Shinta yang baru saja keluar dari tempat itu. Jantungnya berdegup dengan kencang, akan tetapi ia mencoba untuk memperlihatkan ekspresi yang biasa-biasa saja.
Shinta menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Alvaro. Alvaro tampaknya sengaja senyum-senyum sembari melirik Juni yang ada di belakangnya.
"Jun ... Jun ...," ujar Alvaro.
Juni tersenyum tipis, lalu kembali memperlihatkan wajah yang biasa saja. Hal tersebut tentu saja membuat Alvaro berdecak.
"Ck! Jauh jadi pikiran, saat dekat bertingkah sok jual mahal," cibir Alvaro.
Alvaro kembali melemparkan pandangannya pada Shinta. "Alviranya ada?" tanya Alvaro.
"Ada di dalam, Pak." Shinta menimpali dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya, Juni ... kamu tidak perlu masuk!" titah Alvaro.
"Baik, Pak."
"Iya, Pak." Shinta menganggukkan kepalanya. Alvaro pun langsung masuk ke ruangan Alvira, meninggalkan dia sejoli itu di luar.
Baik Juni maupun Shinta tampaknya bertingkah sedikit canggung. Juni merasa tak nyaman seperti ini. Sebagai seorang pria, ia memberanikan diri mengajak mantan pacarnya itu berbicara.
"Apakah kamu sibuk?" tanya Juni.
"Tidak." Shinta menimpali hanya dengan sepatah kata, membuat Juni tampak sedikit kecewa.
"Kalau begitu ... tidak apa-apa kan aku mengganggu waktumu sejenak, sementara Pak Alvaro berada di sini," ucap Juni yang terdengar sangat sopan.
Shinta tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Dunia Juni kembali jungkir balik saat melihat senyuman itu, senyuman yang hampir tak pernah ia lihat lagi.
....
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah memeriksa beberapa dokumen yang diperlihatkan oleh Alvira. Terlihat sekali saudara kembarnya itu berharap agar dirinya tak membuat kesalahan.
"Bagaimana?" tanya Alvira.
"Semuanya sudah cukup bagus," timpal Alvaro menganggukkan kepalanya seraya meletakkan kembali dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.
"Ah iya, aku boleh sedikit berlama-lama di sini?" tanya Alvaro.
"Biarkan Juni menghilangkan rasa rindunya sejenak dengan Shinta. Sejak Shinta aku pindahkan ke kantor pusat, Juni tampak tak bersemangat. Siapa tahu setelah ini semangat kerjanya kembali lagi seusai mendapatkan vitamin cinta dari Shinta," tutur Alvaro.
Mendengar hal tersebut, membuat Alvira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja dengan tingkah saudara kembarnya itu.
"Lagi pula kenapa harus mengirim Shinta ke sini? Toh, aku juga bisa mencari sekretaris sendiri," ujar Alvira.
"Aku hanya mempercayakan Shinta padamu. Dengan begitu, aku bisa mengawasimu dari kejauhan," ucap Alvaro.
"Tetap saja, tindakanmu itu sedikit jahat, Varo!"
"Maka dari itu, aku sedikit menebus dosaku dengan mempertemukan mereka seperti ini," balas Alvaro terkekeh geli.