Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 161. Rival Yang Menyebalkan


Siang ini Arumi, Alvira, dan juga Rania tengah bersantai sembari menikmati rujak buah. Karena permintaan Rania yang ingin makan dengan rasa sedikit asam dan pedas, membuat Arumi pun langsung meminta pelayan membuatkan rujak tersebut.


Rujak dengan buah mangga muda, jambu, serta kedondong pun membuat ketiga wanita tersebut tak berhenti mengunyah. Apalagi sambal kacang dengan rasa pedas, manis, dan sedikit asin menjadi pelengkapnya, membuat ketiga wanita itu menikmatinya sembari sedikit berkeringat.


"Ma, kita sudah seperti Mbak Rania saja, wanita yang sedang mengidam," celetuk Alvira.


"Jika mama memang mengidam, papamu pasti akan terkejut. Dan tentunya Alvaro juga," balas Arumi yang memancing tawa orang-orang yang ada di sana.


"Nanti saat lahir, anaknya bingung. Ini nenek atau ibuku," tambah Alvira yang kembali membuat semua orang tergelak.


"Ku rasa tidak, Vira. Lihatlah mama mertua yang terlihat awet muda. Apalagi setelah rambutnya dicat berwarna coklat," celetuk Rania.


"Menantu ku memang selalu ada di pihakku," ujar Arumi langsung memperlihatkan ibu jarinya pada Rania.


"Oh iya, kemarin malam, Alvaro memarahimu tidak?" tanya Arumi merasa penasaran.


Rania yang baru saja memasukkan potongan mangga muda ke dalam mulutnya pun langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Sepertinya Mas Varo lupa kalau dia ingin memarahiku. Saat di kamar, aku langsung ke kamar mandi dan dia berkata ingin menungguku. Namun, setelah aku keluar, ternyata Mas Varo sedang berbincang dengan papa. Ya sudah, aku tinggalkan tidur saja," papar Rania menceritakan kejadian kemarin malam.


"Syukurlah kalau begitu. Mama takut dia akan marah besar padamu," ujar Arumi.


"Tidak, Ma. Suamiku selalu memperlakukan aku dengan lembut," ucap Rania.


"Cieee ... yang punya suami," celetuk Alvira.


"Makanya, buruan cari suami supaya tidak iri sama kita-kita yang punya suami," sindir Arumi seraya tertawa.


"Nanti, Ma. Sabar dulu," balas Alvira.


"Sabar sampai kapan? Kencan sana dengan Arjuna. Sesekali keluar, jangan di dalam rumah terus," protes nenek berambut coklat itu.


"Terus bagaimana dengan Abian?" tanya Alvira.


"Ah, masalah Abian tidak usah dipikirkan. Titipkan saja dengan mama. Mama pasti akan menjaga anakmu dengan baik," ucap Arumi.


"Atau titipkan denganku saja. Aku akan menjaganya dan Bima pasti akan senang," tambah Rania.


Alvira pun mengulas senyumnya sembari menganggukkan kepala. "Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi," ucap janda satu anak.


"Bi, masih ada buahnya tidak?" tanya Arumi pada pelayan.


"Kalau mangga mudanya habis nyonya. Tinggal buah pir dan apel saja," timpal pelayan tersebut.


"Tidak apa-apa, tolong kupas dan bawa ke sini ya Bi," ujar Arumi.


"Kalian kalau mau tambah rujaknya, kupas sendiri saja buahnya. Ambil di kulkas, tidak usah malu-malu," lanjut Arumi.


"Baik, Nyonya." Pelayan tersebut menimpali, ia langsung menuju ke dapur untuk mengupas kembali buah-buahan atas permintaan majikannya.


.....


Alvaro baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia bersiap untuk pulang, mengambil jas yang digantung tak jauh dari tempat duduknya.


Pria tersebut berjalan keluar, kali ini ia menemukan sang sekretaris yang masih berkutat dengan tugas kantornya. Dan dari kejauhan, ia juga melihat Juni yang masih menatap layar komputernya.


"Kalian belum pulang!" tanya Alvaro pada Shinta.


"Kalian?" Shinta tertegun dengan pertanyaan Alvaro, hingga pria tersebut mengarahkan pandangannya pada sang asisten. Shinta pun mengikuti arah pandang Alvaro.


"Oh, Pak Juni juga belum pulang. Aku masih belum menyelesaikan tugasku, Pak. Mungkin Pak Juni juga," ucap Shinta.


"Kalian berpacaran?" celetuk Alvaro yang langsung membuat Shinta membulatkan matanya.


"Tidak, Pak. Mana mungkin saya berpacaran dengan Pak Juni," ucap Shinta dengan menggerakkan sepuluh jarinya.


"Oh, aku kira kalian berpacaran. Terkadang saling menjauh, terkadang terlihat akrab. Ya sudah, kalau begitu saya pulang lebih dulu," ujar Alvaro yang mulai meninggalkan sekretarisnya.


"Iya, Pak. Hati-hati di jalan," balas Shinta sembari menundukkan kepalanya.


Sepeninggal Alvaro, gadis tersebut melirik ke arah Juni sejenak. Melihat Pria tersebut yang teramat fokus menatap layar komputernya.


"Apakah kami terlihat seperti orang yang sedang berpacaran? Ku rasa tidak! Karena pria tersebut hanya menganggapku sebatas teman," gumam Shinta pelan. Gadis itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah Shinta kembali terpaku pada tumpukan dokumen yang ada di atas meja. Kini Juni lah yang melirik gadis tersebut. Pria itu menyingkap lengan bajunya, melihat arloji yang ada di pergelangan tangan.


"Apakah pekerjaannya masih banyak?" gumam Juni menatap Shinta dengan seksama.


Pria itu sedari tadi menatap layar komputernya bukan karena sibuk oleh pekerjaan, melainkan sibuk bermain game untuk menunggu Shinta yang belum juga beranjak dari tempat duduknya.


Sedari tadi ia berpura-pura sibuk sendiri, padahal semua pekerjaannya telah terselesaikan sedari tadi. Bagi Juni, ini adalah sebuah kesempatan emas karena tak ada lagi si pengganggu yang bernama Daren tersebut.


Ia akan memanfaatkan waktu mulai dari sekarang untuk lebih dekat dengan gadis yang masih menatap dokumen di belakang meja kerjanya itu.


"Setidaknya, aku sudah lega karena tak memiliki rival lagi. Dan ini kesempatanku untuk mendekatkan diri pada Shinta. Jangan gegabah, mulai dari awal saja," batin Juni dengan mantap. Ia tersenyum, membayangkan bahwa dirinya akan lebih sering bersama Shinta nantinya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Shinta pun terlihat membereskan meja kerjanya. Tanda bahwa gadis itu bersiap hendak pulang.


Melihat hal tersebut, tentu saja Juni juga ikut bersiap-siap. Pria tersebut membereskan beberapa dokumen yang sengaja ia letakkan di atas meja agar terlihat bahwa dirinya sibuk bekerja sedari tadi, padahal hanya bermain game sembari menunggu Shinta selesai.


Di waktu yang bersamaan, ia melihat Juni yang juga baru saja hendak pulang. "Lembur juga?" tanya Shinta.


"Iya, pekerjaanku baru saja selesai," timpal Juni berbohong.


"Kamu mau langsung pulang ke rumah?" tanya Juni pada gadis yang ada di hadapannya.


"Iya." Shinta menganggukkan kepala.


"Kalau begitu ... ayo! Sekalian pulang bersamaku saja," tawar Juni.


Shinta mengulas senyumnya, lalu kemudian mengangguk, tanda bahwa ia menerima tawaran dari Juni.


Juni mempersilakan pada Shinta untuk berjalan terlebih dahulu, sementara pria tersebut mengekor di belakang.


Saat berada di belakang Shinta, Juni diam-diam mengepalkan tangannya dan berkata "YESS!!" tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Keduanya kini berada di parkiran. Juni dan Shinta masuk ke dalam kendaraan roda empat itu. Ketika Shinta hendak memasang sabuk pengamannya, tiba-tiba cacing di perut Shinta berbunyi. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sembari memegangi perutnya. Di dalam hati, ia merutuki cacing di perutnya yang tak sabar minta diisi.


"Bisakah untuk menahannya hingga sampai di rumah nanti? Kejadian ini mengingatkan aku dengan kejadian maskara waktu itu," batin Shinta menjerit.


"Kamu lapar?" tanya Juni.


"Ah tidak. Perutku hanya ingin berbunyi saja," ujar Shinta mencoba untuk mencari alasan. Namun, lagi-lagi perutnya berbunyi. Membuat Shinta benar-benar merasa malu sampai ingin menenggelamkan dirinya ke dasar lautan.


"Kalau begitu, sebelum pulang kita cari makan dulu," ucap Juni.


"Tidak usah!" tolak Shinta.


"Tidak apa-apa, tidak usah malu seperti itu. Kebetulan aku juga merasa lapar," ucap Juni seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan menolaknya," gumam Shinta yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran Juni. Pria itu tersenyum melihat tingkah Shinta yang sedikit lucu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, mereka pun tiba di salah satu rumah makan Padang yang ada di kota tersebut. Juni sengaja memilih tempat ini, mengingat bahwa Shinta sangat menyukai masakan Padang, apalagi dengan daging rendangnya.


Keduanya turun dari mobil, lalu kemudian masuk ke dalam rumah makan tersebut. Shinta tampak bersemangat saat pelayan tersebut menghidangkan berbagai macam masakan.


Shinta tampak bersemangat mengambil beberapa masakan tersebut, menyantapnya dengan nasi panas.


"Enak?" tanya Juni.


"Iya. Setiap rumah makan Padang pasti masakannya terasa nikmat," ucap gadis itu.


Juni tersenyum, ia senang Shinta kembali bersikap santai seperti sedia kala. Tidak seperti saat datangnya isu masalah mereka berpacaran padahal Juni baru saja merasa kehilangan sang istri.


Setelah mengisi perut, mereka pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, mereka pun kembali membicarakan obrolan-obrolan tentang kejadian di kantor. Shinta kembali menjadi gadis cerewet yang menceritakan segala hal pada Juni.


Sementara Juni, pria tersebut dengan tenang mendengarkan cerita dari gadis yang ada si sebelahnya. Sesekali ia juga menimpali ucapan Shinta di saat gadis tersebut mengajukan pertanyaan padanya.


Tak terasa, mereka pun telah tiba di apartemen. Saat Juni hendak memarkirkan mobilnya, kening pria itu berkerut melihat mobil yang amat dikenalnya. Mobil tersebut tak lain merupakan mobil Daren. Karena terlalu jeli dalam berbagai hal, Juni bahkan mengingat nomor plat mobil rivalnya itu.


Juni turun dari kendaraan tersebut, tak mengalihkan pandangan pada mobil Fortuner berwarna hitam tersebut.


"Ada apa?" tanya Shinta keheranan melihat Juni sedari tadi menatap mobil tersebut.


"Kenapa? Apakah kamu tahu pemilik mobil ini?" tanya Shinta.


Juni tertegun, pandangannya teralihkan pada gadis dengan tubuh yang sedikit berisi itu. " Kamu tidak mengetahuinya ini punya siapa?" Juni balik bertanya pada gadis itu.


"Aku tidak tahu," timpalnya sembari mengendikkan bahu.


"Syukurlah, berarti kamu tidak terlalu memperhatikan pria itu," ucap Juni pelan.


"Tadi kamu bilang apa? Aku tidak dengar," tanya Shinta yang memang tidak mendengar dengan jelas ucapan pria yang ada di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Ayo kita ke atas," ajak Juni.


Di dalam lift, Juni melontarkan sumpah serapahnya untuk Daren, akan tetapi pria itu hanya berucap di dalam hati. Ia tidak ingin Shinta mendengar ucapan kasarnya nanti.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, kedua krang tersebut keluar dari ruangan sempit itu. Shinta tertegun, saat melihat unit yang berada di sebelahnya tampak terisi.


"Apakah kita kedatangan tetangga baru?" gumam Shinta menatap pintu yang sedikit terbuka itu. Begitu pula dengan Juni.


Tak lama kemudian, terlihat seseorang yang keluar dari unit tersebut. Ia mengembangkan senyumnya saat melihat kedua orang yang masih memakai setelan kerjanya.


"Kalian baru pulang?" tanya Daren.


"Kamu ...."


"Iya, aku adalah tetangga baru kalian," ucap Daren yang langsung memotong pembicaraan Juni.


Bersambung ....