Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 147. Salah Lirik


Bima baru saja selesai mandi. Anak laki-laki itu hendak mengenakan seragamnya sembari bernyanyi balonku ada lima.


"Merah, kuning, kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau ...." Bima menghentikan nyanyiannya. Ia menggaruk-garuk kepalanya sembari memperlihatkan wajah kebingungan.


"Merah, kuning, kelabu. Merah muda, dan biru. Terus kenapa yang meletus balon hijau? Berarti balonnya ada enam?" gumamnya yang mulai memikirkan lagu dengan lirik yang salah.


"Tapi kan judulnya balonku ada lima, bukan balonku ada enam." Ia kembali bergumam sembari menghentikan aktivitasnya akibat memikirkan warna balon dalam lagu tersebut.


Bima menggelengkan kepalanya. Terlalu dini untuk memikirkan hal tersebut yang berakibat menghambat segala aktivitasnya. Pria itu kembali mengenakan seragamnya dengan segera. Ia juga merapikan rambutnya, dan kemudian keluar dari kamarnya. Rasa penasaran itu terlalu mendominasi, hingga akhirnya Bima pun berinisiatif untuk bertanya pada kedua orang tuanya.


Bima melihat ayahnya baru saja keluar dari kamar. Alvaro tampak rapi dengan setelan kantornya. Bima pun segera menghampiri sang ayah, untuk menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Pa, Bima mau bertanya," ucap Bima berlari menuju Alvaro.


"Bertanya apa, Nak?" tanya Alvaro.


"Dengarkan Bima menyanyi dulu," ucapnya yang mulai menyanyikan bait yang menjadi pro dan kontra.


"Kenapa yang meletus balon hijau, Pa? Bukankah balonnya hanya ada lima? Sedangkan yang Bima nyanyikan tadi tidak ada yang berwarna hijau," lanjut Bima sembari memperlihatkan kelima jarinya.


Alvaro pun terdiam dan tampak berpikir, membenarkan ucapan anaknya barusan. Bahkan beberapa kali ia ikut menyanyikan bagian bait lagu yang menyebutkan kelima warna balon tersebut.


"Iya juga ya. Di mana balon warna hijaunya, kok tiba-tiba meletus?" gumamnya dengan pelan.


"Sudah lah, Nak. Tidak usah dipikirkan masalah balon hijau itu. Sekarang kita sarapan yuk!" ajak Alvaro menggandeng tangan putranya.


Sementara Bima, ia mengerucutkan bibirnya karena tak kunjung mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya. Setibanya di dapur, ia melihat ibunya yang tengah menyiapkan makanan di atas meja.


"Mama ... mama ...." Bima menghampiri ibunya, bertanya akan hal tersebut. Hadapannya begitu besar, mendapatkan sebuah jawaban dari permasalahannya melalui ibu sambungnya, karena ayahnya sendiri pun tak mengetahuinya.


"Iya, Sayang. Ada apa, Nak?" tanya Rania.


Bima kembali menyanyikan lagu tersebut, hingga akhirnya ia pun menanyakan keberadaan di balon hijau.


"Kalau di dalam lagunya meletus balon hijau, tetapi kenapa tidak disebutkan ada balon berwarna hijau? Apakah yang benar adalah balonku ada enam?" tanya Bima.


"Coba tanya ke papa," ujar Rania.


"Papa juga tidak mengetahuinya, Ma." Bima menimpali, membuat Rania langsung mengerutkan keningnya.


"Kamu sungguh tidak mengetahuinya, Mas?" tanya Rania.


"Iya. Sewaktu kecil aku tidan terlalu memperhatikan hal itu. Hanya menunggu waktu istirahat agar bisa memakan bekal yang dibawakan oleh mama, hanya itu saja." Alvaro menjawab sembari mengendikkan bahunya membuat Rania menggelengkan kepala.


"Nak, lirik lagu yang Bima nyanyikan salah. Yang benar adalah hijau, kuning, kelabu." Rania menjelaskan hal tersebut kepada anaknya.


"Oh, sekarang Bima mengerti. Terima kasih atas penjelasannya, Ma." Bima tersenyum memeluk ibunya.


"Iya, Sayang. Sama-sama. Ya sudah, kalau begitu kita sarapan yuk!" ajak Rania.


Bima menganggukkan kepalanya, mulai menempati kursi yang biasa ia duduki. Ketiganya pun menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan tenang.


Setelah selesai menikmati sarapannya, Alvaro dan juga Bima berpamitan untuk berangkat. Rania mengantarkan kepergian suami dan anaknya. Saat mobil Alvaro sudah tak terlihat lagi, Rania memutuskan untuk masuk ke dalam.


Rania memilih menyibukkan dirinya dengan membaca novel yang ada di salah satu aplikasi berwarna biru. Sesekali ia tertawa saat membaca novel yang bergenre komedi tersebut.


"Ternyata ceritanya tidak buruk. Aku sangat terhibur dengan cerita yang ada di sini," gumam Rania kembali menggeser layar ponselnya.


Tak lama kemudian, fokusnya terganggu dengan Sura dering ponselnya. Di bagian jendela atas layar tersebut menampilkan nama Hilda. Rania pun langsung menggeser layar ponselnya, mengangkat panggilan dari teman sekaligus rekan kerjanya dulu.


"Bu Dokter di mana?" tanya Hilda langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Di rumah. Memangnya ada apa?" Rania balik bertanya.


"Maksudku rumah Bu Dokter ada di mana? Sekarang bukan tinggal di apartemen lagi kan?"


"Nanti saja aku ceritakan setelah bertemu. Segera kirimkan alamatnya!"


Hilda langsung menutup teleponnya, membuat Rania pun menggerutu karena tingkah temannya yang satu itu. Rania langsung mengirimkan alamat rumahnya kepada Hilda melalui pesan singkat. Ibu hamil itu kembali melanjutkan bacaannya sembari menunggu datangnya Hilda.


Rania mulai menguap membaca novel yang ada di ponselnya. Wanita itu melirik jam, sudah hampir satu jam lamanya ia mengirimkan alamat pada Hilda, akan tetapi wanita itu tak kunjung datang juga.


"Di mana Hilda? Apa dia tersesat mencari alamatnya?" gumam Rania seraya mengusap matanya yang mulai berat.


"Mungkin Hilda masih lama. Sebaiknya aku tidur dulu sejenak, mengistirahatkan mataku yang mulai lelah," lanjut Rania bermonolog.


Wanita itu mulai mengatur posisinya berbaring, lalu kemudian merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Baru saja dirinya hendak tertidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang membuat Rania langsung mendengkus kesal.


Rania beranjak dari tempat tidur, mengusap matanya sejenak, lalu kemudian membuka pintu kamarnya. Terlihat pelayan tengah berdiri di depan pintu tersebut.


"Ada apa?" tanya Rania.


"Ada tamu, Nyonya. Namanya ...."


"Hilda?" tanya Rania menyela ucapan pelayanannya.


"Iya, benar Nyonya." Pelayan tersebut membenarkan tebakan Rania.


"Ya sudah, aku akan segera turun. Oh iya, Bi. Tolong buatkan minuman untuknya," ujar Rania.


"Baik, Nyonya."


Rania pun menyisir sedikit rambutnya yang terlihat berantakan. Mengikat rambut tersebut dengan sembarang. Setelah selesai, ia pun langsung keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga untuk menemui tamunya.


Saat itu, Hilda tengah menyeruput jus jeruk yang dibuatkan oleh pelayan. Telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, membuat Hilda pun mengarahkan pandangannya pada sumber suara.


"Bumil cantik," ujarnya yang langsung beranjak dari tempat duduk dan memeluk Rania.


"Wah si calon pengantin. Sudah lama tidak bertemu," ucap Rania sembari mengulas senyumnya.


Hilda melepaskan pelukannya. Menatap Rania dari atas hingga ke bawah. "Semenjak hamil, Bu Dokter kelihatan lebih cantik dari sebelumnya. Tubuh yang terlihat seksi serta kedua pipi yang mulai chubby," ujar Hilda mencubit kedua pipi Rania.


"Benarkah semakin cantik? Aku rasa kamu ingin berkata sebaliknya, hanya saja takut aku tersinggung," ucap Rania sembari terkekeh.


"Hahaha ... aku serius, Rania!" Hilda mengangkat kedua jarinya membentuk huruf'V'.


"Silakan duduk!" ucap Rania mempersilakan Hilda. Keduanya pun menjatuhkan bokongnya ke sofa secara bersamaan.


Hilda kembali menyeruput jus jeruk yang ada di gelasnya. "Minumnya boleh nambah?" celetuk gadis tersebut.


"Boleh, tunggu sebentar," ujar Rania yang langsung memanggil pelayan yang bekerja di rumahnya. Melihat hal tersebut, membuat Hilda pun menghentikannya.


"Bu dokter, aku hanya bercanda." Hilda tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Ah iya, ini ...." Hilda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya berupa amplop berwarna coklat. Lalu kemudian menyodorkan amplop tersebut pada Rania.


"Apa ini?" tanya Rania mengerutkan keningnya.


"Titipan dari pria yang kemarin," timpal Hilda.


"Pria kemarin? Siapa?" tanya Rania yang merasa penasaran. Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Hilda barusan.


"Itu ... yang pernah menemui Bu Dokter kemarin. Kalau tidak salah si Dion."


"Dion?" Rania bergumam sembari mengernyitkan keningnya. Matanya menatap amplop berwarna coklat yang diberikan oleh Hilda.


Bersambung ....