Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 68. Istimewa


Nana melihat Rania bersama dengan Bima. Anak laki-laki itu tampak tersenyum sembari bersenda gurau, berjalan menuju ke kelas.


"Selamat pagi, Bu Guru." Bima menyapa.


"Selamat pagi, Bima." Nana menimpali dengan mengembangkan senyumnya. Ia melirik Rania yang saat itu tengah tersenyum padanya.


"Bima belajar yang rajin ya, jangan nakal!" ujar Rania mengusap puncak kepala Bima. Anak laki-laki itu pun mengangguk patuh dengan ucapan gadis yang ada di hadapannya.


Melihat interaksi antara Bima dan juga Rania, membuat Nana berpikir bahwa Bima tampak nyaman dengan gadis itu.


Rania mengarahkan pandangannya kepada Nana, " Saya titip Bima ya, Bu guru." Dan Nana pun menimpali ucapan gadis itu dengan sebuah anggukan pelan.


Rania melambaikan tangannya kepada Bima, lalu kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan anak laki-laki itu. Bima juga melambaikan tangannya, hingga lambaian itu terhenti saat Rania sudah tak terlihat lagi.


"Dia siapa, Bim?" Nana memberanikan dirinya untuk bertanya, setelah sekian lama pertanyaan itu hanya ia pendam saja.


"Bu Dokter, temannya papa." Bima menimpali ucapan Nana.


"Bu Dokter juga tinggal di dekat rumah Bima, Bu Guru." anak laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.


Nana hanya bisa mengangguk paham. Melihat dari gerak-gerik Rania, Nana bisa menyimpulkan bahwa wanita itu bukanlah sekedar teman biasa, bisa dikatakan teman spesial, dan mereka bertetangga.


"Ada apa, Bu Guru?" tanya Bima mendongakkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, ayo kita masuk!" ajak Nana. Bima mengangguk, berjalan bersama dengan Nana menuju ke ruang kelasnya.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah dalam perjalanan bersama dengan Rania. Rania menatap Alvaro dengan seksama, membuat pria itu pun bertanya.


"Ada apa?" tanya Alvaro.


"Apa yang dibisikkan oleh Bima tadi?" tanya Rania menodongkan pertanyaan yang menuntut jawaban.


Alvaro tertawa melihat Rania yang sangat penasaran dengan ucapan putranya tadi. "Dia bilang, Bu Dokter cantik!"


Blushhh ...


Rona merah kembali menghiasi wajah Rania. Wanita tersebut tersipu malu, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alvaro. Sementara Alvaro, pria itu kembali tersenyum dan merasa gemas dengan tingkah kekasihnya. Alvaro memilih berbohong dengan berkata demikian, agar Rania tak kembali bertanya-tanya.


BMW berwarna hitam itu pun tiba di klinik. Rania turun dari mobil yang dikendarai oleh kekasihnya itu.


"Terima kasih," ucap Rania.


"Sama-sama," balas Alvaro.


Sepersekian detik kemudian, Rania kembali berucap terima kasih, membuat kening Alvaro berkerut. "Sayang, tadi kan sudah berterima kasih, kenapa harus berterima kasih lagi," protes Alvaro.


"Ya kan biar bisa sama-sama terus," celetuk Rania yang mampu membuat Alvaro sedikit, Baper!.


"Sudah, berangkat lah sana. Nanti kamu terlambat," ujar Rania.


Alvaro pun tersenyum, pria itu kembali melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Rania melihat kepergian kekasihnya. Gadis itu terlihat senang, air mukanya selalu menampakkan semburat bahagia yang tak bisa lagi diungkapkan.


Dari jauh, Hilda melihat Rania. Ia ikut bahagia melihat temannya yang kembali ceria. Pertemuannya dengan pria kemarin, serta masalah akan masa lalunya telah terselesaikan dengan sempurna. Dan kini, waktunya Rania untuk berjalan melangkah ke depan, bersama dengan lelaki yang sudah sepatutnya ia puja.


"Cerah sekali wajahnya Bu Dokter, aroma bahagianya terendus sampai ke negeri seberang," celetuk Hilda disertai dengan iringan tawa kecil.


"Hahaha ... kamu bisa saja. Ayo masuk!"ajak Rania yang sesaat kemudian merangkul pundak Hilda.


....


Di kantor, pikiran Alvaro teralihkan tentang ucapan Bima tadi. Alvaro ingin melamar Rania dengan cara yang romantis dan tidak terkesan alay seperti sebutan anak-anak jaman sekarang.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk. Alvaro pun mempersilakan masuk. Sang sekretaris muncul dari balik pintu sembari membawa map berwarna coklat yang ada di tangan kanannya.


"Ini laporan yang Bapak minta tadi pagi," ujar Shinta seraya menyodorkan berkas tersebut kepada atasannya.


Alvaro membuka map tersebut, lalu kemudian menganggukkan kepalanya, " Baik, terima kasih."


"Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu, Pak." Shinta menundukkan sedikit kepalanya, hendak meninggalkan pria yang sibuk berkutat di kursi kebesarannya.


Langkah Shinta tertahan saat mendengar Alvaro memanggil namanya. "Iya, Pak. Ada apa?" tanya Shinta.


"Saya ingin meminta pendapatmu sebagai seorang wanita," ujar Alvaro.


"Sepertinya pertanyaan seputar tentang kisah asmara," batin Shinta.


"Bapak mau meminta pendapat saya tentang apa?" tanya Shinta.


"Emmm ... begini ... seorang wanita itu akan senang dan merasa kekasihnya romantis jika melakukan hal apa?" tanya Alvaro.


"Manis seperti apa? Bisakah memberikan penjelasan yang lebih spesifik lagi?" tanya Alvaro yang masih terasa ambigu. Ia tidak ingin nantinya kembali salah kaprah dan dinilai oleh sang kekasih kekanak-kanakan.


"Sikap manis seperti memberikan sebuah perhatian, memberikan sebuah kejutan kecil, dan masih banyak lagi. Termasuk Pak Alvaro yang membuatkan sarapan untuk Rania, itulah bentuk dari sebuah perhatian," jelas Shinta.


"Intinya, wanita itu sangat senang jika diperlakukan secara istimewa," tambah gadis itu.


"Istimewa," sungut Alvaro sembari manggut-manggut.


"Baiklah, terima kasih atas pendapatmu. Saya akan menambahkan bonus pada gajimu bulan ini karena telah sedikit membantu menyelesaikan masalah saya," ujar Alvaro.


Mata Shinta langsung berbinar, mendengar bonus yang dikatakan oleh atasannya itu. "Terima kasih banyak, Pak. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya karena saya sangat senang dengan pertanyaan yang bapak ajukan kepada saya apalagi itu seputar kisah asmara," ucap Shinta sembari memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Dan ... terima kasih atas bonusnya," ujar Shinta. gadis itu pun melangkah pergi dari ruangan Alvaro dengan perasaan senang membayangkan sebuah bonus besar dari atasannya.


Sementara di dalam sana, Alvaro sedikit mendapatkan gambaran atas rencana ia akan melamar Rania nanti. Dan jawaban dari Shinta memang benar-benar membantunya.


...****************...


Hari itu merupakan hari di mana Alvaro hendak menghadiri pesta pernikahan anak dari Samuel. Pria itu sudah rapi dengan setelan batik yang melekat di tubuhnya. (bayangin aja, babang ichang pake batik😂).


Begitu pula dengan Bima, putra kecilnya itu juga memakai baju dengan warna yang sama, karena sebelumnya mereka sekeluarga ingin terlihat seragam saat hadir ke kondangan nanti.


"Pa, nanti nenek, kakek, sama Tante juga ikut ya?" tanya Bima.


Alvaro menganggukkan kepalanya menimpali ucapan putranya itu.


"Mereka juga pakai baju seperti kita?" tanya Bima lagi.


"Kakek yang akan memakai baju yang sama juga seperti kita. Sementara Nenek dan Tante, akan memakai dress yang sama seperti dress yang dipakai Bu Dokter," jelas Alvaro.


"Bu Dokter?" tanya Bima lagi.


"Iya."


"Berarti Bu Dokter juga ikut bersama kita ya, Pa?"


"Tentu saja." Alvaro menimpali.


"Asik! Bima senang Bu Dokter bisa ikut. Nanti Bima mau sama-sama Bu Dokter," celetuk Bima.


"Iya, Sayang. Ya sudah, kalau begitu bersiap-siaplah. Mungkin nenek dan yang lainnya sudah menunggu kita," ujar Alvaro.


Setelah merasa penampilannya sudah oke, mereka pun keluar dari kamar tersebut secara bersamaan. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Alvaro membukakan pintu tersebut, melihat ayah, ibu, serta saudara kembarnya sudah tampak rapi.


"Ayo berangkat! Mana Rania?" tanya Arumi.


Ceklekk ...


Pintu unit yang berseberangan dengan Alvaro baru saja terbuka. Memperlihatkan seorang gadis cantik yang membuat Alvaro terpana. Lagi dan lagi, Alvaro seakan terhipnotis seketika saat melihat kekasihnya dengan riasan make up yang membuat gadis tersebut tak bosan di pandang mata.


"Ma, dia pacarnya Varo?" tanya Alvira menyenggol lengan Arumi.


"Iya, gimana? Cantik kan?" tanya Arumi.


"Iya, Ma. Cantik!" Alvira ikut berdecak kagum melihat wajah ayu calon kakak iparnya itu.


Saat keduanya menatap Alvaro, Alvira dan Arumi langsung mencebikkan bibirnya. Arumi pun memukul lengan Alvaro, hingga membuat putranya itu sadar dari lamunannya.


"Mata kamu tidak perih, Varo? Sedari tadi melihat Rania tidak berkedip. Padahal kan ketemu terus setiap hari," celetuk Arumi.


Alvaro mengusap tengkuknya, mencoba mengusir rasa canggung akibat teguran dari ibunya tadi.


"Sudah-sudah, sekarang kita berangkat. Tidak enak kalau sampai di sana tidak mengikuti serangkaian acara malah langsung makan," tegur Fahri.


"Ayo Rania!" ujar Arumi langsung mengajak Rania.


"Kamu cantik, perkenalkan aku saudara kembarnya Alvaro, Alvira." Vira memperkenalkan dirinya. Rania sempat berkedip beberapa detik.


"Saudara kembar?" tanya Rania.


Alvira mengangguk seraya menggandeng tangan Rania, langsung mengakrabkan diri dengan calon kakak iparnya itu.


"Jadi, Alvaro punya saudara kembar?" tanya Rania yang seakan kurang yakin. Apalagi melihat Alvira dan Alvaro yang tidak mirip seperti anak kembar kebanyakan.


"Iya, kami kembar. Wajahku dan wajahnya tak terlalu mirip, karena aku lebih cantik dan dia lebih tampan," ujar Alvira yang langsung memancing gelak tawa semua orang.


Bersambung ....