
Usia kehamilan Rania memasuki tiga bulan. Pagi ini, ia dan suaminya pun berangkat untuk melakukan USG, memastikan bayi yang ada di dalam perutnya kembar atau tidak.
Di sepanjang perjalanan, Alvaro tampak berseri-seri, meyakinkan diri bahwa anak yang dikandung oleh sang istri merupakan anak kembar. Harapan Alvaro besar karena mengingat bahwa dirinya dan Alvira kembar, biasanya jika ada keturunan kembar mungkin bisa jadi keturunan dari mereka juga demikian.
Di sepanjang perjalanan, Alvaro selalu mengulum senyumnya, seakan hari ini benar-benar menjadi hari bahagia untuk pria itu.
Rania sedari tadi melirik suaminya. Wanita itu terkekeh mendapati Alvaro yang tersenyum sedari tadi.
"Kamu kenapa, Mas? Sedari tadi aku perhatikan sepertinya kamu senyum-senyum sendiri. Apakah ada sesuatu yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Rania.
"Aku tidak sabar ingin melihat hasil USG nanti apakah anak kita kembar atau tidak. Kali ini sudah bisa dilihat kan hasilnya?" tanya Alvaro sesekali melirik ke arah istrinya.
"Harusnya sih sudah kelihatan, Mas. Apakah kamu benar-benar ingin anak kembar?" tanya Rania.
Alvaro mengangguk," Tentu saja, tetapi jika tidak kembar pun tidak apa-apa. Mendengar kabar kehamilanmu saja, aku sudah merasa sangat bersyukur," ucap Alvaro.
Alvaro meraih tangan Rania, mengendalikan setir dengan tangan sebelahnya. "Terima kasih Sayang, karena kamu sudah hadir dalam hidupku," lanjut Alvaro dengan tulus.
"Sama-sama. Tapi bisakah Mas fokus saja menyetir? Aku tidak mau nanti yang kejadian yang kemarin kembali terulang lagi," ucap Rania yang mengingatkan saat mereka hampir kecelakaan karena Alvaro sibuk memegang tangannya.
"Siap, Sayang." Alvaro melepaskan tangan Rania dan kembali mengendalikan setirnya dengan kedua tangan .
Tak lama kemudian, keduanya pun tiba di rumah sakit. Rania dan Alvaro segera menemui dokter obgyn. Dokter berparas cantik itu pun menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.
Rania di arahkan untuk berbaring di atas brankar. Dokter tersebut mulai menyiapkan peralatan, menempelkan gel khusus pada kulit di area pemeriksaan.
"Sudah sarapan Bu?" tanya dokter tersebut sembari mengoleskan gel di atas kulit Rania.
"Baik kita mulai Bu ya," ucap dokter tersebut.
Rania menganggukkan kepalanya. Dokter tersebut mulai menempelkan transducer di area tertentu. Terlihat di layar monitor pergerakan janin yang ada di dalam rahim Rania.
"Wah, selamat Bu, Pak, kalian memiliki anak kembar. Ini terlihat ada dua kantung bayi," ucap dokter tersebut.
Alvaro langsung tersenyum lebar. Kini dugaannya memang benar, bahwa Rania tengah mengandung anak kembar. Rasa kebahagian yang membuncah menyelimuti kedua pasangan suami istri yang saling melirik. Alvaro menggenggam tangan istrinya, melemparkan senyum terbaik serta rasa syukurnya karena diberikan anak dua sekaligus.
"Terima kasih, Tuhan." Alvaro membatin, tangannya menyeka air mata Rania yang menetes begitu saja.
Setelah melakukan pemeriksaan, kini keduanya tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Rania dan Alvaro tersenyum senang. Tangan Rania masih saja memegang foto hasil USG-nya tadi.
"Mas, kira-kira nanti dia akan kembar identik atau kembar non identik seperti kamu dan Alvira?" tanya Rania masih memandangi foto yang ada di tangannya.
"Kita lihat saja nanti. Sungguh! Aku benar-benar bahagia saat mendengar anak kita kembar. Aku memang sedari awal mempunyai firasat bahwa anak kita kembar. Dari pola makanmu yang sangat banyak, serta perut yang terlihat lebih besar. Sewaktu Diara hamil dulu, tidak sebesar itu," ucap Alvaro.
Rania langsung terkekeh, bisa-bisanya suaminya itu membandingkan perutnya dengan perut istrinya terdahulu.
"Ternyata memori di otakmu merekam dengan sempurna ya, Mas. Bahkan ukuran perut Mba Diara saja masih kamu ingat sampai sekarang," ujar Rania tertawa.
"Maaf, tapi itu memang benar adanya," ucap Alvaro sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal.
Bersambung ....