Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 80. Gagal


TOKKK ... TOKKK ... TOKKK ...


"Pa, Ma, buka pintunya! Bima ingin tidur bersama mama dan papa!"


Suara ketukan pintu dari luar, suara teriakan Bima, sontak membuyarkan segalanya. Alvaro menghela napasnya dengan berat, ketukan itu benar-benar membuat Alvaro frustasi.


"Kenapa harus sekarang, Nak." Pria itu menggerutu, akan tetapi mau bagaimana lagi, ini memang salahnya. Kesalahan yang tidak menitipkan Bima ke rumah utama agar tak mengganggu malam pertama mereka.


"Pakailah bajumu dulu, Mas. Tidak enak jika di lihat Bima nantinya," ujar Rania menyarankan agar sang suami untuk mengenakan bajunya.


Alvaro mengacak-acak rambutnya. Tentu saja hal tersebut membuat pria itu benar-benar frustasi. Niat hati ingin berlayar mengarungi samudera, serta mendaki puncak Himalaya, akan tetapi kini semua harapannya musnah sudah.


Ketukan pintu itu semakin lama semakin terdengar nyaring, membuat Alvaro pun harus mengalah dengan rasa egonya, memendam hasratnya sejenak dan bisa dikatakan, kali ini ia akan melewati malam pertama dengan tidur bertiga.


Alvaro mengambil setelan piyama yang akan ia kenakan, lalu kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi lagi, menidurkan si adik kecil yang sempat terbangun dari tidurnya. Ketukan Bima tentu saja membuat kepala atas dan bawahnya menjadi pusing.


Di waktu yang bersamaan, Rania membuka pintunya. Wanita itu tersenyum melihat Bima yang sudah membawa bantal dan gulingnya, bersiap untuk tidur di kamar pengantin tersebut.


"Mama, Bima boleh kan tidur di sini, sama mama dan papa?" tanya Bima meminta izin kepada Rania.


Rania tidak mungkin menolak putranya hanya demi Alvaro. Gadis itu menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui permintaan Bima.


Anak laki-laki itu sangat senang. Ia langsung berlari menuju ke atas tempat tidur, lalu kemudian merebahkan dirinya di tengah-tengah.


Alvaro keluar dari kamar mandi. Ia melihat putranya beserta istrinya sudah terbaring di atas tempat tidur. Keduanya telah tertidur pulas dengan saling memeluk satu sama lain.


Melihat pemandangan tersebut, membuat Alvaro menyunggingkan senyumnya. Pria itu menghampiri keduanya, menaikan selimut menutupi tubuh istri dan anaknya. Alvaro pun mencium kening keduanya itu. Kali ini, ia bisa mengerti, lagi pula istrinya itu terlihat sangat kelelahan seusai pesta.


Alvaro juga ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu ikut serta memeluk putranya, lalu kemudian memejamkan matanya dan larut ke dalam alam mimpi.


....


Keesokan harinya, Rania terbangun dari tidur dengan sedikit meregangkan tubuhnya. Wanita itu menguap sembari menggaruk-garuk kepalanya. Ia mendengar suara berisik berasal dari dapur.


"Apakah mama berkunjung?" ujarnya.


Namun, sesaat kemudian, Rania sedikit linglung karena merasa rumahnya tak seperti rumah yang dihuninya. Wanita tersebut menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal.


"Kamu sudah bangun?"


Telinga Rania mendengar suara bariton milik Alvaro. Rania mengerjapkan matanya beberapa kali. Tampaknya saat bangun tidur tadi, nyawanya belum terkumpul semua, hingga ia lupa, bahwa dirinya kini sudah menikah.


Rania menoleh ke samping, terdapat lemari kaca yang ada di sebelah kirinya. Ia bisa melihat penampilannya dari lemari kaca tersebut. Rania langsung membelalakkan matanya, penampilannya benar-benar kacau. Ia terlihat layaknya seperti orang gila.


Dengan cepat, Rania kembali ke kamar. Mencuci mukanya, menggosok giginya, lalu kemudian menyisir rambut panjangnya yang sedikit kusut.


"Astaga, bagaimana bisa aku lupa kalau aku adalah wanita yang telah bersuami," rutuk wanita itu.


Setelah penampilannya lebih baik dari pada yang tadi, Rania pun memberanikan dirinya keluar dari kamar menyusul suaminya yang sedari tadi sibuk di dapur.


"Sini, biar aku bantu," ucap Rania yang sudah berdiri di belakang Alvaro.


Alvaro menoleh, lalu tersenyum melihat oenamy sang istri lebih baik dari sebelumnya. "Tadi kenapa tiba-tiba pergi begitu saja?" tanya Alvaro.


"Aku malu, aku juga lupa kalau aku sudah menikah," timpal Rania sembari memainkan tomat yang ada di sana.


"Kamu melupakan aku sebagai suamimu?" tanya Alvaro sedikit terkejut.


"I-iya, tapi tidak lama, hanya beberapa menit saja. Lagi pula itu juga karena aku yang baru saja bangun tidur, dan nyawaku belum sepenuhnya terkumpul," tutur wanita itu.


"Berarti kamu juga lupa kejadian semalam?" goda Alvaro.


"Semalam? Bukankah tidak terjadi apa-apa? Bima kan meminta untuk tidur bersama," ujar Rania.


"Bima sudah aku titipkan ke rumah mama," timpal Alvaro.


"Titipkan ke rumah mama? Kapan?" tanya Rania.


"Sebelum kamu bangun tadi," jawab Alvaro.


Rania cukup terkejut. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Alvaro dan langsung membelalakkan matanya.


"Astaga, aku bangun jam 10," ujarnya terkejut.


"Tidak apa-apa, kamu lelah karena duduk seharian pas waktu pesta," ucap Alvaro yang mencoba memahami istrinya.


"Tapi, kenapa Bima dititipkan?" tanya wanita itu.


Alvaro mengerlingkan matanya kepada Rania, membuat Rania bergidik ngeri.


"Apakah kamu masih tidak mengerti?"goda Alvaro.


"T-tapi?"


"Kenapa? Apakah kamu masih ingin menundanya?" tanya Alvaro.


"Bukan seperti itu, hanya saja ...."


"Sudah ditonton?" tanya Alvaro yang menanyai tentang video yang dikirimkan padanya.


Perlahan, Rania pun menganggukkan kepalanya, membuat Alvaro mengembangkan senyumnya.


"Berarti teorinya sudah, sekarang tinggal prakteknya saja," ucap Alvaro yang mulai mendekat ke arah Rania.


"T-tapi ... tidak sekarang juga, Mas." Rania sedikit terbata-bata menimpali ucapan suaminya itu.


Alvaro seolah tak mendengarkan ucapan Rania. Membuat wanita itu pun mengedarkan pandangannya. Ia mencari alasan apa yang tepat. Tidak mungkin melakukan hal tersebut di siang hari seperti ini?


"Kompornya ...."


"Apakah kamu pikir kompor ini menghalangiku?"" Tangan Alvaro sebelah langsung mematikan kompornya. Senyuman licik pun tersungging di bibirnya.


"Mas, nanti malam saja. Kita kan lagi masak," ucap Rania yang mencoba untuk bernegosiasi.


"Kenapa harus nanti malam jika sekarang bisa?"


"Kita lagi masak, Mas."


"Mudah, masaknya kita pending saja, tapi yang satu ini, aku tidak ingin menundanya lagi." Alvaro mulai melepaskan apron yang melekat di tubuhnya.


Sesaat kemudian, ia langsung merengkuh pinggang ramping Rania, membuat wanita itu menabrak dada bidang Alvaro. Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat Alvaro semakin tampan jika dipandang dari jarak yang cukup dekat.


Alvaro semakin mendekatkan wajahnya, hembusan panas dari napas suaminya menerpa wajahnya. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Alvaro, ia langsung mengecup bibir ranum yang membuatnya resah semalaman. Alvaro menyentuh bibir itu dengan lembut, ia melepaskannya saat Rania mulai kehabisan napas.


Pria itu tersenyum, napas mereka tersengal sementara kening mereka saling bertaut. Alvaro kembali menyesap bibir yang akan menjadi candunya itu.


"Untung saja aku sudah sikat gigi," batin gadis itu.


Rania sedikit terkejut saat Alvaro tiba-tiba menggendongnya, membawa istrinya menuju ke kamar.


"Mari kita bermain di arena yang seharusnya," ucap Alvaro.


Bersambung ....


Akhir bulan cuy, jadi kita main aman dulu aja ya🤣 takutnya kalo udah bab yang gerah-gerah di akhir bulan, takut diunpublish lagi sama entun. Kayak si Fahri, hampir terancam tidak gajian kemarin gara-gara ada bab yang nakal dikit🙈