Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 202. Sikap Dewasa


Malam itu, Arumi dan Fahri pun bersiap-siap hendak menuju ke rumah Alvaro. Arumi melihat penampilannya di pantulan cermin. Setelah memastikan penampilannya sudah cukup, ia pun berjalan keluar. Namun, saat sampai di bibir pintu, Arumi memberhentikan langkahnya dan menatap sang suami yang masih sibuk menyisir rambutnya.


"Pa, aku ke kamar Alvira dulu. Alvira tidak bisa ikut bersama kita. Jadi, aku mengajak Abian saja untuk ikut bersama kita," jelas Arumi.


"Loh, memangnya Alvira kenapa tidak ikut?" tanya Fahri.


"Si Juna mau datang ke sini," timpal Arumi.


"Suruh saja si Juna ikut ke sana," balas Fahri.


"Alvira malu, katanya ada orang tuanya Rania. Biarkan saja, Pa. Lagi pula mungkin dia ingin berdua saja dengan Juna." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arumi pun langsung keluar dari kamar tersebut menuju ke kamar Alvira.


"Si papa jangan mencoba menggagalkan rencana mama. Jangan membuat harapan mama mendapat tas mewah langsung pupus begitu saja," gerutu Arumi masuk ke dalam kamar Alvira.


Dilihatnya Alvira yang tengah bersama bayinya di atas kasur. Sesekali Abian berceloteh, dan tertawa saat melihat wajah lucu yang diperlihatkan oleh Alvira.


"Mama sudah mau berangkat?" Alvira menatap ibunya yang baru saja masuk ke kamar.


"Iya, buruan ganti baju Abian," ucap Arumi berjalan mendekati anak dan cucunya. Menjatuhkan bokongnya tepat di ranjang.


Alvira pun beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju ke lemari pakaian milik Abian, mengambilkan pakaian hangat untuk bayinya itu.


"Mama tidak akan pulang malam kan?" tanya Alvira kembali berjalan menuju ke tempat tidur, memakaikan anaknya dengan baju yang diambilnya tadi, dibantu oleh Arumi.


"Tidak akan terlalu malam. Lagi pula mama tahu batasan bertamu. Tetapi ... Rania perasaan mama lama sekali ya melahirkannya. Soalnya mama juga tidak sabar menunggu cucu kembar mama lahir," ucap Arumi.


"Ya kalau sudah waktunya, pasti akan lahir, Ma. Lagi pula perkiraan dokter kan bulan ini. Jadi, kita tunggu saja," ujar Alvira mengancingkan pakaian putranya. Setelah selesai, ia pun menggendong bayinya itu dan menciumi Abian beberapa kali.


"Iya. Mama juga jadi agak parno, apalagi si Varo sering kali bercerita bahwa ia takut. Mama juga jadi ikutan takut," ucap Arumi.


"Mama juga harusnya jangan buat Varo semakin takut, Ma. Dengan mama ikutan takut seperti itu, tentunya membuat Alvaro juga akan semakin ketakutan. Toh, lagi pula kan takdir orang tidak selalu sama. Mbak Diara berbeda dengan Rania. Yang penting, kita harus berdoa semoga ibu dan anak semuanya sehat," ujar Alvira.


"Iya, mama juga berharap seperti itu," balas Arumi sembari membawa cucunya itu ke dalam gendongannya.


"Ma, ... Ayo!" Terdengar suara Fahri dari arah luar, membuat Arumi pun langsung bersiap-siap.


"Iya, Pa. Tunggu sebentar," ujar wanita tersebut sembari membenarkan posisi gendongan cucunya itu, agar Abian merasa lebih nyaman.


Setelah selesai, Arumi pun langsung berjalan keluar dari kamar diikuti oleh Alvira yang ada di belakangnya.


Fahri sudah menunggu sang istri di ruang tengah. Saat mendengar suara langkah kaki yang menuruti anak tangga, pria dengan rambut yang sudah mulai memutih itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.


"Kamu tidak ikut?" tanya Fahri pada putrinya.


"Tidak, Pa. Aku tidak enak dengan Juna. Soalnya dia akan datang ke sini nanti," timpal Alvira.


"Ajak saja Juni ke rumah Alvaro, kan bisa tanpa harus bertemu di rumah," balas pria tersebut.


"Vira malu, Pa. Nanti dilihat sama mertuanya Varo. Lagi pula papa tidak usah berpikiran macam-macam. Di rumah kan Vira tidak sendirian. Ada bibi yang nantinya menemani Vira di rumah," ucap ibu anak satu tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu papa dan mama berangkat dulu. Terima tamunya di luar saja, soalnya di dalam tidak ada mama dan papa." Fahri memberikan peringatan pada anaknya itu.


"Iya Pa. Papa dan mama hati-hati di jalan," ujar Vira melambaikan tangannya saat kedua orang tuanya mulai berjalan menjauh darinya.


Arumi dan Fahri masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadinya. Arumi menurunkan jendela kaca mobil, lalu kemudian membiarkan Abian melihat ibunya sejenak.


....


Di lain tempat, Rania dan juga yang lainnya menyiapkan makanan yang mereka buat, menaruhnya di atas meja. Para lelaki sedari tadi hanya sibuk mengisi mulutnya dengan makanan tersebut. Apalagi Pak Hendrawan, saat kembali mengambil makanan yang ada di atas meja, langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


"Masih belum kenyang juga, Pa?" sindir Bu Isna pada suaminya.


"Kan banyak, Ma." Pak Hendrawan membalas ucapan sang istri sembari tangannya kembali mengambil dua buah lagi pempek yang sudah digoreng itu.


Setelah berhasil mendapatkan pempek tersebut, Pak Hendrawan pun langsung melarikan diri. Sengaja bergabung dengan Alvaro dan juga Bima agar tak mendapatkan ocehan dari sang istri.


"Ckckck! Memang benar-benar dia. Sudah tua tapi kelakuannya masih sama seperti anak kecil," keluh Bu Isna.


Rania hanya bisa terkekeh geli melihat ibu dan juga ayahnya yang masih sering bertengkar kecil seperti ini. Ia membayangkan hidup menjadi seperti kedua orang tuanya, menua bersama dan berkumpul dengan anak dan cucu.


"Ada apa?" tanya Bu Isna melihat Rania mengulum senyum sembari menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa, Ma. Hanya merasa lucu saja melihat mama dan papa seperti tadi. Rania sedang membayangkan hidup menua seperti mama dan papa," ujar Rania menimpali ucapan ibunya.


"Ya tentu saja kalian akan menua bersama nantinya. Mama juga dulunya seperti kamu, serasa lama sekali mengandung kamu dan melihat kamu tumbuh dewasa. Tetapi, setelah kamu menikah, mama justru berpikir. Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah mendewasakan putriku, dan sekarang aku juga melihat cucuku. Dan tentunya, perasaan semua orang tua akan sama. Merasa terharu seiring berjalanannya waktu."


"Melihat anak mereka sudah membesarkan anak, dan pada akhirnya juga akan terlintas di pikiran kami. Ternyata perjalanan hidupku seperti ini. Dan hingga saat itu tiba, kami juga mulai mempersiapkan diri," papar Bu Isna panjang lebar.


"Ma, jangan berkata seperti itu. Aku belum siap mendengarnya," ujar Rania yang langsung memeluk ibunya. Ia bahkan menitikkan air mata mendengar perkataan Bu Isna barusan.


"Kan nanti, lagi pula urusan hidup dan mati itu hanya Tuhan yang menentukan," ucap Bu Isna sembari mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Tetap saja. Mama jangan berbicara lagi seperti itu. Rania belum siap dengan semua itu, Ma. Rania masih ingin melihat mama bahagia dulu. Rania belum puas betul membahagiakan mama," ujar Rania di sela tangisnya. Ibu hamil itu bahkan sampai sesegukkan setelah mendengar ucapan Bu Isna yang seakan hendak pergi meninggalkannya saat itu juga.


"Astaga! Kamu ini cengeng sekali. Mama hanya bercerita saja. Sudahlah jangan menangis, nanti mertuamu datang langsung heran melihat menantunya yang tiba-tuba bersedih seperti ini," titah Bu Isna membujuk putrinya.


Bima berjalan menuju ke meja makan sembari membawa mangkuk kecil yang diwadahi dengan kuah cuko. Anak berambut ikal tersebut hendak mengambil pempek lagi. Namun, melihat ibunya yang menangis di pelukan sang nenek, membuat Bima bertanya-tanya.


"Mama kenapa menangis?" tanya Bima meletakkan mangkuk kecil tersebut di atas meja, lalu kemudian menghampiri ibunya.


"Tidak apa-apa, Sayang." Rania menimpali Bima seraya menyeka air matanya.


"Mama hanya menangis karena merasa kepedasan memakan kuah cukonya," lanjut Rania berbohong, menatap anak sambungnya dengan tersenyum.


"Kuah cukonya tidak terlalu pedas, Ma. Bima menyukainya," balas anak laki-laki tersebut.


Bu Isna tersenyum, mengusap puncak kepala cucunya dengan lembut. "Berarti tandanya Bima sudah mulai tumbuh besar, tidak takut lagi dengan makanan yang pedas," tambah Bu Isna, sengaja memberi penjelasan kepada Bima tentang hal itu agar anak laki-laki tersebut tak lagi merasa penasaran.


"Wah, benarkah Nek? Berarti Bima sudah mulai besar. Asyik! Bima sudah mulai dewasa," ujarnya sembari bersorak senang.


"Kedewasaan seseorang itu tidak bisa diukur dari segi umur, Cucuku. Melihat sikap kepedulianmu yang tinggi, menandakan bahwa kamu sudah dewasa. Dan nenek sangat bangga pada Bima," lanjut Bu Isna mengacungkan ibu jarinya untuk Bima.


"Benarkah, Nek? Wah! Bima sangat senang sekali," ucap Bima dengan mata yang berbinar.


"Ya sudah, ayo kita ke ruang tengah, adik Abian sebentar lagi akan sampai," ajak Rania.


Bima pun menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan Bu Isna. Ketiga orang tersebut berjalan bersama menunggu kedatangan Arumi dan juga yang lainnya di ruang tengah.


Bersambung ....