
Shinta baru saja tiba di apartemen. Ia melirik ke arah unit milik sang kekasih. Gadis berdiri di depan pintu tersebut, hendak menekan bel. Namun, tangannya hanya mengudara. Shinta berpikir, jika Juni sudah terlelap, dan gadis itu tidak ingin mengganggu waktu sang kekasih untuk beristirahat.
"Biarkan saja, besok aku akan menemuinya," gumam Shinta yang memilih untuk melangkah pergi dari depan pintu unit Juni, dan langsung masuk ke dalam unitnya.
Shinta meletakkan tasnya, lalu kemudian merebahkan tubuhnya. Gadis itu baru ingat, ponselnya yang masih berada di dalam tas dan belum dikeluarkan.
Ia pun beranjak lagi dari posisinya, merogoh tasnya dan mengambil benda pipih yang ada di dalam sana. Shinta baru menyadari, jika ponselnya dalam kondisi nonaktif.
"Sepertinya baterai ponselku habis," gumam Shinta yang langsung menghubungkan benda pipih tersebut ke charger.
Setelah mengisi daya ponselnya, Shinta kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia benar-benar merasa letih karena baru pertama kembali bekerja di kantor cabang. Selain menempuh perjalanan yang cukup jauh, ia juga memiliki banyak tugas yang harus segera diselesaikan. Hal itu lah yang membuat Shinta merasa benar-benar lelah.
Hingga akhirnya, rasa letih itu pun langsung mendatangkan rasa kantuk yang luar biasa. Mata Shinta perlahan tertutup, dan terlelap dalam alam mimpinya.
Di waktu yang bersamaan, Juni tampak gelisah. Pria itu tak tenang, memikirkan Shinta yang saat ini sudah tak bisa lagi dihubungi.
"Ini baru sehari, Shin! Bagaimana jika satu bulan nanti. Mungkin kamu sudah benar-benar melupakanku!" keluh Juni sembari mengacak rambutnya.
Ia merasa kesal, Shinta yang seolah mengacuhkan dirinya. Apalagi saat pertama kali mendapatkan pemberitahuan bahwa gadis itu akan dipindahkan ke kantor cabang, Shinta sama sekali tak memberitahukan hal itu padanya. Kekasihnya itu justru bercerita saat dimana ia sudah harus pindah tugas keesokan harinya.
"Terserahlah apa maunya! Sepertinya mulai sekarang, kami sudah bertingkah masa bodo. Jika memang itu yang ia mau, baiklah. Aku akan ikuti bagaimana alurnya nanti," geram Juni yang memilih untuk meletakkan ponselnya di atas kasur dengan sedikit membanting benda pipih itu.
....
Di lain tempat, Alvaro menatap kedua anak kembarnya yang tengah tertidur lelap di dalam box bayi. Rasa senang selalu menghinggapi dirinya tatkala melihat kedua bayi mungil yang tak lain adalah darah dagingnya itu.
Bayi mungil itu sesekali menggeliat, dan hal itu tentu saja membuat Alvaro kembali mengulas senyumnya. Ia tak pernah menyangka, akan kembali dikaruniai kedua anak kembar yang lucu-lucu. Sebelumnya, Alvaro sangat takut membayangkan Rania melahirkan. Ia masih trauma saat kehilangan Diara dulu.
Namun, karena orang-orang terdekat selalu meyakinkan dirinya, terutama Rania. Wanita itu selalu menasihati sang suami, bahwa takdir seseorang itu berbeda-beda.
Dan kini, lahirlah si kembar yang cantik dan tampan. Kedua anak lucu yang dinamai Dilan dan Delani.
"Sedang apa, Mas?" tanya Rania menepuk bahu sang suami dengan lembut. Alvaro sedikit terkejut, karena ia tak tahu jika Rania ada di belakangnya.
"Istriku, kamu mengagetkanku saja. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap si tampan dan si cantik yang sedang tertidur pulas," jelas Alvaro seraya menatap ke arah lawan bicaranya.
"Mereka sangat lucu ya, Mas." Rania ikut menatap kedua anak kembarnya dengan rasa bahagia yang membuncah.
Wanita ini tak pernah menyangka, akan memiliki anak dengan pria yang pernah ia benci dulunya, pria yang menjadi tetangganya dulu.
"Lucu ya?" tanya Alvaro menatap istrinya penuh arti .
"Hmmm ...." Rania menimpali sembari menganggukkan kepala.
"Mau tambah?" goda Alvaro seraya menaik-turunkan alisnya.
"Mas, jangan mengada-ada! Jahitan kemarin saja masih belum kering, sekarang kamu sudah menawar untuk minta ditambah," balas Rania seraya mengerucutkan bibirnya.
"Mas hanya bercanda, Sayang. Tidak usah cemberut," ujar Alvaro.
"Lagi pula, Mas juga bercandanya seperti itu."
"Iya ... iya, mas minta maaf. Sekarang kita tidur yuk!" ajak Alvaro.
"Mas tidur saja duluan," ucap Rania.
"Kamu takut?" tanya Alvaro.
Rania langsung mendelik, menatap sang suami dengan tatapan yang sedikit horor. "Takut kenapa?"
"Takut Mas gigit. Hehehe ... Rawrrr ...." Alvaro menggeram, menirukan suara singa.
Hal tersebut membuat Rania menggeleng-gelengkan kepala. Memang kelakuan suaminya ini ada-ada saja, membuat Rania yang awalnya merajuk, menjadi tertawa. Mengulum senyum dan berusaha meredam suaranya, takut jika si kembar akan terbangun karenanya.
"Sudah ah, Mas! Kamu bikin aku geli saja!" tukas Rania.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita tidur! Kamu butuh istirahat yang cukup," ajak Alvaro segera merangkul sang istri, dan membawa wanitanya menuju ke kasur yang berukuran king size tersebut.
Keduanya berbaring di atas benda empuk itu. Mereka saling memandang satu sama lain. Tangan Alvaro terulur mengusap puncak kepala Rania dengan lembut.
"Terima kasih, Istriku. Karenamu ... aku bisa lepas dari rasa trauma itu. Karenamu ... aku bisa kembali membangun sebuah keluarga dan kamu menghadiahkan aku dua anak kembar yang cantik dan tampan. Dan terima kasih pula, karena kamu sudah bersedia mengurus Bima layaknya anak kamu sendiri," papar Alvaro menatap sang istri dengan penuh cinta. Ia tak menampik, jika rasa cinta yang ia punya amatlah besar untuk wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Mas, ... trauma yang kamu alami bukan hilang karena ku, melainkan karena kamu yang juga berusaha meyakinkan dirimu sendiri. Si kembar itu adalah hadiah dari Tuhan, dan aku sebagai perantaranya. Bima, aku menyayangi putramu bukan karena semata aku menikah denganmu."
" Putramu itu mampu membuat hatiku luluh. Mampu membuat aku bersikap layaknya seperti seorang ibu. Saat bersama Bima, aku merasa benar-benar beruntung. Selain Tuhan menghadiahi pria tampan sebagai suamiku, Tuhan juga memberikan bonus berupa seorang pria kecil yang memiliki hati yang hangat," jelas Rania.
Sontak, mendengar ucapan Rania, membuat Alvaro pun langsung mengecup kening sang istri dengan lembut dan dalam. Seolah mengisyaratkan bahwa wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang sangat berharga. Wanita yang memiliki hati seluas samudera.
"Intinya, aku sangat beruntung memilikimu, Istriku." Alvaro kembali mendekap tubuh sang istri dengan erat.
"Aku juga beruntung memilikimu, Suamiku." Rania menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman yang begitu indah. Wanita itu juga membalas pelukan sang suami. Semakin merapatkan tubuhnya ke dada bidang milik sang suami.
Perlahan, rasa kantuk pun mulai menyerang mereka. Hingga akhirnya, mereka tertidur dengan posisi yang saling berpelukan.
Berbeda dengan pasangan satunya lagi yang berada di lain tempat. Siapa lagi jika bukan Juni dan juga Shinta. Juni yang sedari tadi tampak gelisah, tak bisa tertidur karena memikirkan Shinta. Sementara Shinta, ia terlalu pulas tidur, hingga tak mendengar suara bel yang berulang kali berbunyi, ditekan oleh kekasihnya itu.
Juni kesal, ia memilih untuk kembali ke dalam unitnya dengan perasaan dongkol yang menghinggapi dirinya.
"Selain gila karena cinta, aku juga gila karena Shinta," tukas Juni menutup pintu apartemennya dengan sedikit membanting benda tersebut hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Bersambung ....