
Malam ini, Rania memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ia mencari udara segar sekaligus menghilangkan kebiasaan mengintip di saat tetangga sebelahnya belum pulang.
Saat tengah fokus menyetir, Rania melihat penjual sate yang ada di pinggir jalan. Aroma dari sate tersebut tampak nikmat terendus oleh hidungnya, memberikan sinyal pada lambungnya untuk segera minta diisi.
Rania pun memutuskan untuk singgah membeli sate tersebut. Gadis itu memarkirkan mobilnya, lalu kemudian turun dan segera menuju tenda penjual sate.
"Pak, satenya satu porsi," ujar Rania kepada penjual sate tersebut.
"Baik, Neng."
Rania menduduki salah satu kursi panjang yang ada di tempat tersebut. Ia melihat penjual sate itu tengah memanggang dagingnya. Gadis itu memainkan ponselnya sejenak sembari menunggu satenya siap untuk dihidangkan.
Tak lama kemudian, penjual sate itu pun menyajikan makanan tersebut di atas meja. Wajah Rania langsung berbinar, ia pun mulai menyantap sate tersebut dengan tenang.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro dan Bima dalam perjalanan pulang ke rumah. Bima saat itu tengah menatap ke luar jendela. Pandangannya tertuju pada mobil yang terparkir tak jauh dari tenda penjual sate.
"Papa, itu mirip seperti mobil Bu Dokter," ujar Bima berbicara kepada ayahnya.
Alvaro yang mendengarkan ucapan Bima langsung memperlambat laju kendaraannya. Pria tersebut menatap sekilas ke arah yang ditunjuk oleh putranya itu. Benar saja, itu adalah mobil Rania karena Alvaro hafal dengan plat mobil milik tetangganya itu.
"Bima mau makan sate, Nak?" tanya Alvaro.
"Tidak, Pa. Bima sudah kenyang. Tadi di rumah nenek, Bima sudah makan malam," timpal pria kecil tersebut.
"Kebetulan papa lapar, kita singgah beli sate dulu," ujar Alvaro yang ingin sekali mampir di tempat tersebut karena ada Rania.
"Baiklah, Pa."
Alvaro pun menepikan mobilnya. Pria tersebut memarkirkan kendaraan tepat di samping mobil milik tetangganya itu. Kedua pria tampan tersebut turun dari mobil. Melangkah masuk ke dalam tenda penjual sate.
Rania yang sedang tampak menikmati satenya langsung membelalakkan mata saat melihat siapa yang juga singgah di tempat itu.
"Bagaimana mereka bisa di tempat ini juga?" gumam Rania pelan.
Alvaro melirik ke arah Rania, mata keduanya saling bertemu. Pria itu pun tersenyum dan kemudian mengajak anaknya untuk duduk di dekat Rania.
"Apakah kita berjodoh? Ini sungguh pertemuan yang tak terduga," celetuk Alvaro yang mulai sedikit banyak berbicara, menuruti saran yang diberikan oleh sekretarisnya tadi.
"Sejak kapan dia pandai berbicara seperti itu? Bukankah selama ini dia selalu kaku?" batin Rania.
"Tadi Bima lihat mobil Bu Dokter, terus Papa ikut ke sini, mau lihat Bu Dokter," celetuk Bima.
Alvaro memalingkan wajahnya, mencoba untuk membuang rasa malunya di depan Rania akibat ucapan putra kecil itu.
Sementara Rania, tak bisa menahan tawanya mendengar alasan kenapa Alvaro juga ada di tempat tersebut.
"Akhirnya kamu tertawa juga," batin Alvaro.
Tak lama kemudian, pesanan pria itu datang. Alvaro pun mulai menyantap makanannya. Sesekali mencuri pandang ke wajah cantik milik Rania.
"Ada apa?" tanya Rania sadar akan tatapan yang diberikan oleh Alvaro.
Alvaro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu kemudian kembali menyantap makanan yang ada di depannya.
Rania telah menyelesaikan makannya. Gadis tersebut meraih tissu yang ada di depannya, lalu kemudian beranjak dari tempat duduk, hendak membayar makanannya itu.
"Tidak perlu! Aku sudah membayarnya," ujar Alvaro.
Sebelum pria itu menempati kursinya, Alvaro memang sudah membayar makanannya terlebih dahulu beserta makanan yang disantap oleh Rania.
"Ini, aku bayar saja padamu," ucap Rania memberikan uang cash pada Alvaro.
"Ambilah! Jika kamu membayarnya padaku, maka aku terlihat seperti pria yang menyedihkan," balas Alvaro seraya mengembalikan uang Rania.
Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu ia pun mengambil kembali uang tersebut. "Kalau begitu terima kasih," ujar Rania.
"Hmmm, ...."
"Tapi, sebagai gantinya, kamu berhutang padaku," sambung Alvaro.
"Berhutang?"
Rania cukup tercengang mendengar penuturan dari Alvaro. Demi membayar hutangnya, gadis itu harus ikut sarapan bersama dengan pria tersebut.
"Apakah kamu sedang menggodaku?" tanya Rania blak-blakan.
Alvaro yang tengah memakan lontong sate tersebut langsung tersedak. Pria itu memukul-mukul dadanya dengan pelan, lalu kemudian mengambil es teh yang ada di hadapannya.
"Papa kenapa?" tanya Bima yang khawatir.
"Tidak apa-apa, Nak. Potongan lontongnya kebesaran," jawab Alvaro mencari alasan.
Rania memalingkan wajahnya, lalu kemudian tersenyum melihat tingkah Alvaro yang bisa dikatakan sedikit lucu.
"Oh iya. Apakah kamu tahu Tante mengunjungimu?" tanya Alvaro yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan, menutupi rasa malu akibat ucapan Rania beberapa saat lalu.
"Mama? Kapan dia datang?" tanya Rania panik.
"Tadi pagi, saat kamu telah lebih dulu berangkat ke klinik," ucap Alvaro.
Rania langsung bersiap untuk segera pulang ke rumahnya. Ia tidak tahu jika ibunya datang. Ibunya pun tak memberikan kabar padanya tentang kedatangannya itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Alvaro.
"Pulang," timpal Rania singkat. Gadis itu pun segera meninggalkan Alvaro begitu saja.
Melihat Rania yang langsung pergi dari tempat itu, Alvaro langsung menyudahi makannya. Pria tersebut menyeka bibirnya dengan tisu, lalu kemudian mengajak anaknya untuk pergi dari sana.
"Papa kenapa tidak menghabiskan makannya?" tanya Bima.
"Papa sudah kenyang, Nak." Alvaro menimpali putranya.
Cinta memang membuatnya sedikit kekanak-kanakan. Makan tak kenyang, tidur tak nyenyak, dan bahkan ada saja hal-hal yang sedikit menyimpang darj kebiasaan yang sebelumnya.
Alvaro masuk ke dalam mobil bersama dengan Bima. Pria tersebut langsung melajukan kendaraannya, menyusul Rania yang sudah terlebih dahulu membelah jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Rania pun tiba di tempat tujuannya. Gadis itu memarkirkan mobilnya, lalu kemudian turun dari kendaraannya.
Selang beberapa saat kemudian, Rania melihat Alvaro yang juga baru tiba di tempat tersebut. Gadis itu langsung mengernyitkan keningnya, melihat Alvaro yang juga tiba di waktu yang hampir bersamaan.
"Kamu mengikutiku?" tanya Rania setelah pria tersebut turun dari mobil.
"Mengikutimu? Ehemm ... anggap saja begitu. Sebenarnya aku tidak mengikutimu, karena aku juga tinggal di sini," ucap Alvaro.
"Hah! Terserah kamu saja!" tukas Rania yang memilih untuk tidak meladeni Alvaro. Gadis itu berjalan masuk ke dalam lift. Alvaro pun menggendong Bima, menyusul masuk ke dalam lift yang sama dengan gadis tersebut.
"Jika boleh jujur, aku sebenarnya melihatmu seperti seorang penguntit. Kamu selalu saja mengikuti aku kemana pun aku pergi," gerutu Rania dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.
"Kita ini tinggal di apartemen yang sama, bertetangga, jadi dari segi mana aku menguntitmu?" balas Alvaro.
Rania memutar kedua bola matanya dengan jengah. Percuma berbicara pada Alvaro karena menurutnya membuang-buang tenaga saja.
Tinggg ...
Lift terbuka, dengan dagu yang sedikit terangkat, Rania keluar lebih dulu dari ruangan sempit itu. Pria tersebut masih mengekor di belakang Rania sembari menggendong anaknya.
"Pa, papa kenapa?" tanya Bima yang sedikit berbisik . Pria kecil tersebut menyadari tingkah laku ayahnya yang sedikit berbeda.
"Tidak apa-apa, Nak." Alvaro menimpali anaknya dengan singkat.
Pintu Rania tiba-tiba terbuka. Gadis tersebut melihat sang ibu yang tengah menatap ke arahnya. Wanita tua itu mengembangkan senyumnya.
"Wajar saja jika kamu pulang terlambat. Ternyata kalian berkencan," celetuk Bu Isna.
"Kencan?" Rania mengarahkan pandangannya pada Alvaro. Semoga Alvaro lebih memilih untuk menyapa orang tua Rania dengan mengulas senyum.
"Kami tidak berkencan, Bu. Sungguh!" ujar Rania berucap pada ibunya.
Alvaro tersenyum samar, ini adalah salah satu alasan kenapa ia ingin pulang bersama dengan Rania. Setidaknya memperlihatkan kepada Bu Isna bahwa keduanya benar-benar akrab walaupun kenyataannya saat saling berhadapan mereka terdengar berisik.
Bersambung ...