Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 143. Muka Masam


Semua orang berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan. Pagi ini Bima lebih bersemangat karena mendapati Abian yang tidur di kamarnya. Bima menyukai suasana rumah yang ramai dan hangat. Maka dari itu, ia menginginkan seorang adik untuk menemaninya di rumah agar tidak merasa terlalu bosan.


Semenjak di kursi paling sudut, Alvaro sedari tadi hanya berdiam diri. Ia seakan tak memiliki semangat sama sekali di pagi ini.


"Kamu kenapa, Varo?" tanya Arumi sembari menyendokkan makanannya, lalu memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


"Tidak apa-apa, Ma." Pria tersebut menimpali ucapan ibunya. Namun, sempat terdengar helaan napas kasar sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu lebih banyak diam? Tidak seperti biasanya." Arumi menatap putranya dengan curiga.


Di bawah meja, Rania langsung menyenggol kaki suaminya. Wanita tersebut memberikan kode pada Alvaro agar memasang wajah seperti biasanya. Tidak perlu memperlihatkan raut wajah yang masam meskipun tidak mendapat jatah.


"Mas Varo sepertinya kurang tidur, Ma. Makanya raut wajahnya agak sedikit muram seperti itu," ucap Rania yang mencoba untuk mencari alasan.


Wanita itu kembali melirik pria yang ada di hadapannya. Pria berwajah masam itu sepertinya tak mengindahkan ucapan Rania, sehingga Rania kembali menendang pelan kaki Alvaro.


Namun, Alvaro tetap tak merespon apapun, membuat Rania tampak frustasi dibuatnya.


"Ada apa, Rania? Sedari tadi kamu menyenggol kaki papa," tegur Fahri.


Jedderr ...


Bak mendengar petir di siang hari saat mendengar ucapan dari ayah mertuanya. Rania mengintip di bawah meja, dan benar saja sedari tadi kakinya bersenggolan dengan kaki Fahri. Sementara kaki Alvaro tampak terlihat menyamping.


Jika memiliki jurus menghilang, Rania ingin menghilang saat itu juga. Ia benar-benar kepalang malu dan ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar lautan yang paling dalam.


Semua orang memasang wajah heran. Tak terkecuali dengan Alvaro yang memberikan kode mata pada sang istri.


"Ada apa, Nak?" tanya Fahri lagi.


"Iya, ada apa? Katakan saja dengan kami," imbuh Arumi.


"Tidak apa-apa, Ma." Rania hanya bisa menunduk malu sembari memandangi makanannya. Ia benar-benar merasa kehilangan muka akibat ulah suaminya.


Sementara Alvaro, sedari tadi ia menatap sang istri. Sesekali Rania melihat ke arahnya, akan tetapi saat mata mereka bertemu pandang, tampaknya Rania menghindari tatapan suaminya.


"Sepertinya dia marah padaku," batin Alvaro.


Setelah menyelesaikan sarapan, mertua Rania beserta Alvira berpamitan untuk pulang ke rumah. Bima memilih ikut pergi bersama dengan neneknya. Sementara Alvaro belum pergi ke kantor karena ingin mengantarkan kepulangan kedua orang tuanya.


"Mama dan papa pulang dulu ya," ujar Arumi.


"Iya, Ma. Hati-hati di jalan," timpal Rania mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.


"Aku pulang dulu ya, Mbak." kali ini Alvira lah yang bersuara.


Rania menganggukkan kepalanya," Lain kali menginap lagi di sini," ujar Rania menawarkan.


"Iya, Mba."


"Bima berangkat dulu ya, Ma." Bima menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Bima tidak berangkat ke sekolah bersama papa saja?" tanya Alvaro.


"Bima mau berangkat ke sekolah bersama Abian, Pa." Anak laki-laki berambut ikal tersebut menimpali.


Setelah berpamitan, mereka pun masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil yang dikendarai oleh Alvira pun melaju, membelah jalanan pagi hari.


"Sayang, kamu marah sama Mas?" tanya Alvaro mengejar sang istri yang meninggalkannya.


Rania tak menimpali, ia tetap melenggang berjalan tanpa menghiraukan ucapan suaminya. Alvaro kembali menghela napasnya. Kali ini ia harus membutuhkan kesabaran ekstra. Terlihat sangat jelas kemarahan terpancar nyata di wajah sang istri.


"Sayang," panggil Alvaro, tetap saja tak ada jawaban dari Rania.


"Sayang, tolong jangan seperti ini." Alvaro kembali memanggil istrinya, dan hal itu sukses membuat Rania menghentikan langkah kakinya.


Wanita tersebut berbalik, menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Kamu bilang aku jangan seperti ini? Lantas bagaimana sikapmu tadi, Mas? Kamu terang-terangan memperlihatkan wajah masammu di depan mama dan papa. Aku benar-benar merasa malu, Mas!" geram Rania.


"Iya, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku," ucap Alvaro.


"Terus saja kamu minta maaf," gerutu Rania.


"Kamu tahu, dari sikapmu yang seperti itu, tentu saja membuat kedua orang tuamu merasa tersinggung. Mereka baru pertama kali menginap di rumah ini. Aku tidak ingin kita berdebat yang ujung-ujungnya menambah kesalahpahaman. Seharusnya kamu mikir di situ, Mas!"


Rania benar-benar emosi dengan tingkah kekanak-kanakan Alvaro. Entah mengapa Rania merasa bahwa Alvaro benar-benar sangat menyebalkan. Bersikap tak dewasa seperti biasanya.


"Baiklah, aku akui bahwa aku salah. Tolong jangan marah lagi ya," bujuk Alvaro.


"Entahlah, Mas! Terserah kamu saja. Cuma gara-gara tidak diberikan jatah, kamu merajuk seperti ini." Rania kembali melanjutkan langkah kakinya, ia menaiki anak tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kamar tersebut dengan sedikit keras.


Alvaro hanya bisa mengusap tengkuknya. Ingin sekali ia tertawa saat mendengar ucapan Rania barusan. Namun, setelah dipikir-pikir memang dirinya patut disalahkan atas kejadian tadi.


"Dia pasti sangat malu karena tak sengaja menyenggol kaki papa," gumam Alvaro.


"Ya ... tapi mau bagaimana lagi. Aku benar-benar pusing. Ditambah lagi dengan Rania merajuk seperti ini, membuat kepala atas bawahku terasa nyut-nyutan," lanjut Alvaro memijat keningnya.


Alvaro menyusul Rania, mencoba meminta maaf dengan cara yang baik-baik. Sesampainya di depan kamar, Alvaro memutar kenop pintu. Namun, ternyata kamar tersebut dikunci oleh sang istri.


"Sayang, buka pintunya sebentar." Alvaro mengetuk pintu, mencoba membujuk sang istri agar tidak marah lagi.


Tak ada sahutan dari dalam. Tampaknya Rania benar-benar emosi dengan tingkahnya tadi. Beberapa kali Alvaro mengetuk pintu, tak kunjung dibukakan oleh Rania.


Pria tersebut menyerah, ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Jika seperti ini terus aku akan terlambat," gumamnya.


"Sayang, Mas berangkat ke kantor dulu ya," ucap Alvaro mencoba berpamitan meskipun terhalang oleh pintu.


"Nanti saja, aku akan membujuknya setelah pulang dari kantor. Tunggu kemarahannya agak sedikit reda," lanjutnya yang kemudian melangkah pergi dari tempat itu.


Di waktu yang bersamaan, Rania menutup wajahnya dengan bantal. Ia menangis sesegukkan di bawah bantal tersebut.


"Dasar suami egois!" ujar Rania sesegukkan.


Ia menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Menyeka air mata yang sempat menetes membasahi pipinya.


Rania bangkit dari pembaringannya, lalu kemudian berjalan menuju ke jendela, mengintip mobil sang suami yang sudah melaju.


"Pergi saja tidak berpamitan," gerutunya kembali menutup tirai jendela. Padahal Alvaro sudah berpamitan tadi, hanya saja mungkin Rania tidak mendengar ucapan suaminya.


Rania kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Mengambil ponsel yang tak jauh dari jangkauannya, membuka aplikasi langganan tempat ia menonton drama korea.


"Lihat yang tampan-tampan dulu, supaya badmood-nya hilang," celetuknya sembari memiringkan ponsel, menjadikannya layar landscape. Rania pun mulai menonton drama tersebut dari ponselnya. Sesekali ia tertawa melihat adegan lucu yang ada di dalam drama yang ia tonton.


Bersambung ....