
"Apakah pertunjukannya sudah selesai?" tanya Juni dengan rahang yang mengeras.
Shinta menjadi panik. Di satu sisi, ia merasa kasihan pada Daren. Di sisi lain, ia juga salah karena tidak meminta izin terlebih dahulu pada kekasihnya. Apalagi pria yang saat ini bersamanya adalah mantan kekasihnya dulu.
"Maafkan karena aku lancang membawa kekasihmu tanpa meminta izin terlebih dahulu padamu," ucap Daren.
Shinta tertegun, entah bagaimana bisa ia tahu jika Daren dan Shinta saat ini tengah menjalin hubungan. Lagi pula pria itu tidak ada di apartemen beberapa hari ini. Dan Shinta juga tidak menunjukkan kemesraan mereka di depan orang lain. Berhubungan dengan cara yang sembunyi-sembunyi.
"Dari mana kamu tahu jika kami berpacaran? Apakah Juni mengatakannya padamu?" tanya Shinta yang menunjuk ke arah Juni.
"Aku tidak mengatakan apapun padanya," ujar Juni.
Daren juga menggelengkan kepala, pria tersebut tersenyum sembari mengendikkan bahunya. Ia berjalan menghampiri Juni, dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan rivalnya itu.
"Berjanjilah padaku untuk selalu membuatnya bahagia," ucap Daren seraya menepuk pundak Juni beberapa kali.
"Ck! Apakah kamu akan mengusik hubungan kami?" tanya Juni yang tampaknya geram dengan sikap Daren. Pria itu memang selalu saja memancing kemarahan Juni.
"Mungkin tidak, mungkin juga iya. Atau mungkin ada pria lainnya lagi yang akan memperjuangkannya. Sebaiknya kamu jaga dia baik-baik, karena sesuatu yang berkilau akan banyak peminatnya," ujar Daren.
Setelah berucap demikian pada Juni, Daren mengarahkan pandangannya pada gadis yang ada di belakangnya.
"Aku pamit dulu. Silakan kalian nikmati waktu kalian," ucap Daren sembari mengerlingkan matanya menatap Shinta, seolah tengah menggoda gadis tersebut. Juni yang melihat hal itu tentu saja ia merasa panas dan langsung memasang badan, berdiri di depan kekasihnya agar Daren tak lagi jelalatan.
Melihat tingkah konyol Daren, membuat Shinta terkekeh karena telah berhasil membuat Juni merasa cemburu.
Daren pun kembali melangkahkan kakinya, raut wajahnya yang tadi ceria langsung berubah kembali muram. Memendam rasa sakit itu tidak mudah, dan hak tersebut sangat menyiksa.
Namun, tampaknya Daren sudah merasa sedikit kebal. Apalagi saat hari dimana hubungannya dengan Shinta kandas, ia mendapati bahwa malamnya gadis itu meresmikan hubungannya dengan Juni, yang membuat hatinya menjadi serpihan.
Ya, benar saja. Malam itu Daren ada di apartemen. Pria itu pulang ke apartemen sejenak. Saat ia memarkirkan mobilnya, Daren melihat mobil Juni yang sudah terparkir di sana.
Awalnya Daren hendak memberikan pelajaran pada Juni. Karena Juni selalu saja muncul dipikiran Shinta, hingga gadis itu tak bisa membuka hatinya untuk Daren.
Beberapa kali Daren menekan bel unit Juni, akan tetapi si pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu. Setelah merasa lelah menekan bel dan bahkan menggedor-gedor unit Juni, Daren pun memutuskan untuk mencari udara segar. Pria itu berjalan menuju ke atap, mencari udara segar agar bisa sedikit membuatnya tenang.
Saat sesampainya di sana, justru Daren mendapatkan hal yang lebih menyesakkan dada. Dimana Juni dan Shinta tengah tertawa bersama dan saling menatap dengan penuh cinta.
Sakit yang dirasakan oleh Daren seakan menjadi berlipat ganda. Pria itu mengepalkan tangannya, ia memilih untuk pergi dari tempat tersebut.
Derap langkah yang lebar, seakan ia ingin segera menghilang saja saat ini. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Pria itu memilih untuk kembali masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke rumah kedua orang tuanya .
Sesampainya di sana, Daren melihat kedua orang tuanya tengah bersama seorang gadis, yang merupakan tetangga di sebelah rumah kedua orang tuanya. Daren mengenal gadis itu sedari kecil. Ia sudah menganggap gadis tersebut sebagai adiknya.
Namun, tiba-tiba saja kedua orang tuanya sepakat untuk menjodohkan dirinya dengan gadis bernama Lisa itu. Daren langsung menolaknya mentah-mentah, dan menjelaskan pada Lisa bahwa ia mencintai gadis lain. Dan mulai dari situlah, Daren memilih untuk menyewa apartemen di samping Shinta, berniat untuk mengejar gadis tersebut.
Setelah semuanya terjadi, Shinta yang sebenarnya tak menginginkan dirinya dan lebih memilih Juni, membuat Daren pun langsung menghampiri kedua orang tuanya. Pria itu menggenggam tangan gadis yang dianggapnya sebagai adik itu, dan menyerukan bahwa dirinya akan menikahi Lisa seperti keinginan kedua orang tuanya.
Tentu saja Lisa terkejut, sementara kedua orang tua Daren terlihat sangat senang. Mereka pun langsung pergi ke rumah sebelah, menemui kedua orang tua Lisa untuk memberitahukan kabar baik ini pada kedua orang tua Lisa.
Tinggal lah Daren dan Juga Lisa di depan teras tersebut. Lisa memberikan nasihat pada Daren untuk tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Lisa juga bisa memaklumi jika kenyataannya Daren mencintai wanita lain. Namun, melihat Daren yang tampak kekeuh untuk tetap melanjutkan pernikahan, membuat gadis yang dianggap adik oleh Daren memiliki harapan. Karena gadis itu memang menyukai Daren sejak lama. Hanya saja ia tidak ingin mengatakannya secara gamblang. Ia juga menghargai keputusan apapun yang dibuat oleh Daren.
Di situlah awal mula bagaimana Daren memilih untuk mengambil keputusan tersebut. Menikahi Lisa, gadis pilihan kedua orang tuanya untuk menutupi rasa sakit yang diakibatkan oleh cintanya yang sepihak.
Juni berbalik badan, ia menatap kekasihnya dengan raut wajah tak bersahabat. "Bagaimana kamu bisa bersikap seperti itu padaku? Diam-diam bertemu dengan mantan kekasihmu," ucap Juni merajuk.
"Maafkan aku, Jun. Tadi dia hanya meminjam waktuku sebentar saja. Hanya sebentar saja," ujar Shinta sembari menjentikkan jemarinya.
"Baiklah, sebagai hukumannya, waktumu saat ini dan sampai nantinya harus kamu berikan padaku. Tidak boleh diberikan pada pria lain," tegas Juni yang memberikan hukuman pada kekasihnya.
"Baiklah, jika hukumannya seperti itu, maka aku akan dengan senang hati mematuhinya. Waktuku saat ini dan untuk ke depannya hanya ku berikan padamu. Pastikan untuk kamu mempergunakannya dengan baik," ujar Shinta yang mulai memberikan kode pada Juni.
Juni mengulum senyum sembari mengusap tengkuknya. "Harusnya kamu tidak usah mengatakan hal itu. Biarkan aku saja yang mengatakannya," ucap Juni yang langsung menjadi kikuk.
"Kapan kamu akan mengatakannya?" tanya Shinta bersedekap.
"Mungkin nanti, tunggu waktu yang tepat," ujar Juni seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Huh, memang selalu saja begitu." Shinta menggerutu pelan, akan tetapi masih tertangkap oleh indera pendengaran Juni, membuat pria itu hanya bisa menunduk sembari mengulum senyum.
"Oh iya, kira-kira Daren tahu dari siapa kalau kita berpacaran? Bukankah kita selalu menjaga jarak?" tanya Shinta yang merasa penasaran akan hal tersebut.
"Jangan-jangan ...."
Juni kembali mengingat-ingat, malam itu, saat dimana ia tengah berbincang dengan Shinta di atap, tepatnya saat mereka meresmikan hari jadi. Juni melihat mobil Daren yang pergi meninggalkan area apartemen tersebut. Namun, Juni tak mengatakan hal itu pada Shinta. Takut jika nantinya Shinta akan kembali menarik ucapannya dan memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan Juni.
"Jangan-jangan apa?" tanya Shinta yang merasa penasaran.
"Jangan-jangan dia hanya menebak saja," ucap Juni asal. Memilih untuk menyembunyikan semuanya.
"Ya mungkin, bisa jadi karena melihatmu yang marah-marah tadi," ujar Shinta.
"Lagi pula, kamu tidak usah cemburu lagi dengan Daren. Dia ingin menikah," jelas gadis itu, agar kekasihnya tak salah paham atas pertemuannya tadi dengan pria lain.
"Menikah? Cepat sekali move on nya," celetuk Juni.
"Apa kamu masih menginginkan Daren mengejarku?" tanya Shinta.
"Tentu saja tidak!" Juni langsung menjawabnya dengan lantang.
"Lalu kapan kamu mengambil langkah seperti Daren?" tanya Shinta lagi.
"Apa? Mengakhiri hubungan denganmu?"
"Ck! Bukan Juni! Maksudku adalah menikah, M-E-N-I-K-A-H," ujar Shinta yang sengaja menekankan kalimatnya.
"Iya, nanti. Tunggu gajiku naik dua kali lipat dari Pak Alvaro," celetuk Juni.
"Dasar! Asisten Matre!! Ku rasa gajimu itu sudah lebih dari cukup," ketus Shinta.
"Masih kurang, aku belum terlalu kaya."
Keduanya pun terkekeh. Mereka memilih menghabiskan malam itu dengan menatap langit yang dihiasi bintang-bintang.
Bersambung .....